HAVEN - Part 18

793 Kata
"Mereka sudah membunuh Severus," Bibir yang dibalut lipstik merah itu tersungging. Matanya yang bak mata kucing ikut tersenyum juga. "Setidaknya kita sudah berhasil membuat mereka waspada," jari lentiknya menjangkau gelas wine yang ada di depannya. Ia teguk minuman itu dengan sangat elegan, "mereka tidak akan bisa jauh dari jangkauan kita. Kita hanya kehilangan satu orang. Jangan lemah," ia melirik pria itu melalui bahunya. Rambutnya yang hitam dan lurus tergerai di punggungnya. Pria itu hanya bisa menundukkan kepala. "Siapkan upacara untuk menghormati temanmu itu," Pria itu langsung mengangkat kepalanya. Kedua matanya berbinar saat mendengar kalimat itu keluar dari bibir orang yang ada di depannya. Ia tersenyum, "terima kasih boss." Bibir merah itu kembali tersungging. Ia letakkan gelasnya kembali ke atas meja, lalu berbalik dan menepuk pundak pria itu lalu pergi dari sana. *** Fiona menatap canggung James dan Ronald. "Apa kita jawab jujur saja?" bisik Ronald dengan suara yang sangat pelan. Ia melirik James yang di sampingnya. James tersenyum ke arah Fiona. "Kami berdua tidak mendengar apa pun nyonya. Kami datang saat Tuan sudah pergi," Ronald menatap James dengan kedua alis yang bertaut. Ia tahu kalau pria itu sedang berbohong. "B—begitu kah?" James mengangguk, "nikmati waktu pagi Anda. Kami permisi," James menarik tubuh Ronald untuk pergi dari sana dan tak lupa menutup pintu rumah. Fiona tahu kalau kedua pria itu mendengar perdebatannya dengan Haven. Ditutupi juga percuma, toh mereka yang ada di sini sudah mengetahui bagaimana hubungannya dengan Haven. Fiona melangkah menuju meja makan dengan gontai. Sepertinya ini hari pertama dan untuk seterusnya ia akan makan sendiri tanpa adanya Haven. Pria itu tidak menyukainya. Lagi pula pernikahan ini terjadi tanpa adanya cinta. Dan Fiona sadar akan itu. Ia juga tidak akan meminta Haven untuk makan bersamanya di satu meja yang sama. Haven keluar dari kamarnya dengan setelan yang cukup rapi. Sepertinya ia akan ke kantor hari ini. Langkahnya yang lebar membawanya menuju lantai dasar. Kedua kakinya terus bergerak hingga suara Fiona menghentikannya. "Kau mau kemana?" Fiona berdiri di depan pintu penghubung antara ruang tengah dan ruang makan. Haven menatap wanita itu dengan jengah. Ekspresi tidak suka di wajahnya nampak terlihat sangat jelas. "Aku tahu. Kau tidak perlu mengatakannya lagi," Fiona mengerti akan ekspresi yang Haven tunjukkan kepadanya. "Tapi ini masih setengah tujuh pagi. Kau sudah mau pergi ke kantor? Tidak mau sarapan dulu?" Fiona tahu Haven meneruskan bisnis keluarganya. Victoria banyak cerita tentang keluarganya. Walaupun ia sudah mengingatkan diri, tapi Fiona mau mencobanya dulu. Mungkin Haven mau makan di meja yang sama dengannya. "Tidak." Ya, satu kata itu keluar dari bibir Haven. Bahkan tanpa mendengar Fiona lebih dulu, ia pergi begitu saja. Fiona menutup kedua matanya sejenak. Helaan nafasnya terdengar sangat berat. "Bagaimana cara untuk meluluhkan hatinya?" bisiknya lalu kembali masuk ke dalam ruang makan. Mobil Haven meninggalkan area rumah. Semua anak buahnya berjaga di setiap sudut rumah. Setelah berhasil menghabiskan satu penyusup milik Wrathborn. Haven menambah pengawasan untuk kediamannya. Setiap menit mereka diperintahkan untuk melaporkan kondisi di rumah selama Haven berada di luar termasuk memantau gerak-gerik Fiona. Wanita itu bisa saja menjadi target utama dari Wrathborn. Mengingat wanita itu , membuat Haven memikirkan satu hal. Di dalam mobilnya Haven terus memikirkan solusi itu bahkan saat ia berolahraga tadi pagi. Ia terus memikirkan cara agar Fiona bisa tetap aman dari jangkauan Wrathborn. Haven menghubungi Victoria. Di deringan pertama teleponnya sudah diangkat. Haven terkejut, tidak biasanya adik bungsunya itu merespon teleponnya dengan cepat. "Apa?" Haven terkekeh mendengar kalimat pertama yang Victoria ucapkan. "Aku butuh solusi," "Solusi?" "Menurutmu, apa kita harus mengajarkan dia menggunakan senjata?" *** Kesibukkan nampak jelas di perusahaan yang kini jatuh ke tangan Haven. Perusahaan milik keluarga itu semakin lama semakin berkembang. Cabangnya sudah ada dimana-mana, bahkan sampai ke luar benua Amerika. Semenjak Haven menjabat sebagai CEO, perusahaan dengan cepat naik dan mengalahkan pesaingnya, bahkan beberapakali menang tender. Di luar gedung, sebuah mobil Mercedes-Maybach Exelero mencuri perhatian para pegawai kantor yang ada di luar gedung. Mobil mewah itu berhenti tepat di depan pintu masuk. Dan pemilik dari kendaraan itu adalah Selene. Wanita cantik itu turun dari mobilnya. Ia mengenakan kacamata hitam yang dipadukan dengan gaun berwarna biru tua yang membalut tubuhnya dengan pas, serta rambut yang lurus hitam terurai dengan cantik. Ia memberikan kunci mobilnya kepada petugas valet. Langkahnya yang anggun membawanya masuk ke dalam gedung besar dan tinggi itu. Tanpa ragu, Selene masuk ke dalam lift—menekan tombol lantai yang dituju. Kedua tangannya ia lipat di depan d**a dengan jari telunjuk yang mengetuk-mengetuk lengannya. Lift berdenting. Selene keluar dari sana. Kedua kakinya tampak sudah tahu dimana letak ruangan yang akan ia tuju. Selene berhenti di depan sebuah ruangan dengan pintu yang cukup besar dan tinggi bercat putih. Ia lepaskan kacamatanya, lalu ia mulai tersenyum sembari membuka pintu besar itu. "Good morning, honey." ucapnya masuk ke dalam ruangan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN