HAVEN - Part 19

1115 Kata
Senyuman yang muncul di wajah Selene seketika memudar saat melihat tidak adanya Haven di dalam ruangan itu. Wajahnya seketika berubah datar dengan kedua mata yang memutar. Dengan perasaan yang kesal ia keluar dari sana dan membanting pintu besar itu hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Bahkan sekretaris Haven reflek berdiri dari duduknya saat mendengar suara itu. "Haven belum datang?" tanya Selene ketus kepada wanita yang berdiri di balik meja, mungkin jarak mereka sekitar 2 meter. "Belum nona." Aura menakutkan nampak terpancar di diri Selene. Bahkan sekretaris Haven tidak mau untuk sekadar menatap wajahnya. Selene mengambil ponselnya yang ada di dalam tas. Ia mengotak-atik benda itu dengan sangat serius. "Dia tidak mengatakan apapun kepadamu?" Selene kembali bertanya dengan wajah yang fokus kepada ponselnya. "Bapak bilang akan terlambat datang nona." "Hanya itu?" Selene menatap tajam wanita itu. "I—iya nona," ucapnya tiba-tiba menjadi gugup. Selene tidak bertanya lagi. Ia simpan ponselnya ke dalam tas lalu pergi dari sana. Di depan lift, Selene kembali mengenakan kacamata hitamnya. Kau pikir dengan cara mengajarkannya maka itu akan bisa menyelamatkannya? Selene tersenyum miring. Kau terlalu mudah untuk dibaca, Haven. Selene masuk ke dalam lift. Kekesalannya seketika hilang, berganti dengan rasa puas yang entah muncul darimana. *** Mobil sport milik Haven memasuki area kantor. Ia yang bersetelan rapi keluar dari mobil mewah itu. "Pagi, pak." sapa seorang petugas valet. Haven mengangguk lalu menyerahkan kunci mobilnya kepada petugas itu. Langkahnya yang lebar membawanya masuk ke dalam gedung—tempat kekayaan keluarga Sachdev berasal. Tubuhnya yang besar dan atletis membuatnya sering menjadi pusat perhatian para karyawan di sana. Mereka menatap memuja Haven setiap kali pria itu tiba. Haven melirik jam tangan bermerk yang melingkar di lengannya. Ia sudah sangat terlambat untuk datang ke kantor. Padahal satu jam lagi ia akan ada rapat di luar nanti. Langkah Haven semakin cepat. Ia sudah berada di lantai tempat ruangannya berada. "Pak," Haven menoleh ke arah sekretarisnya. Ia sudah berdiri di depan ruangannya. "Aku sudah sangat terlambat?" Wanita itu menggeleng, "bukan tentang pekerjaan pak," ucapnya dengan pelan. Sebelah alis Haven naik ke atas, "lalu?" "Nona Selene datang pak," Kedua mata Haven mengedip. Tangannya yang sudah menyentuh gagang pintu seketika turun. "Sekitar 30 menit yang lalu. Tapi karena bapak belum datang, jadi nona pergi—" "Lain kali kau tidak perlu memberitahukan tentang itu," "Y—ya?" "Aku dan dia sudah tidak memiliki hubungan apapun." Haven masuk ke dalam ruangannya. *** Rasa bosan nampak jelas di wajah Fiona saat ini. Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Dan dari pagi ia hanya di rumah. Tidak melakukan aktivitas apapun karena semuanya sudah ada pelayan yang melakukannya. Ia berdiri di tengah-tengah ruangan dan tampak kebingungan. Dulu, ia yang mengerjakan semua pekerjaan rumah. Namun sekarang semua sudah ada yang membantunya untuk mengerjakan pekerjaan itu. "Aku bosan," Fiona melangkah menuju pintu. Ia buka kedua pintu itu dan matanya langsung bertemu dengan James dan Ronald. "Ada yang bisa dibantu nona?" Fiona menghela nafas dengan berat. "Apa kalian tidak lelah berdiri di sini saja?" Fiona berdiri di antara mereka. Kedua matanya menatap sekitar. "Apa karena rumahnya besar jadi penjaganya juga harus banyak?" "Ya?" Ronald menatap bingung Fiona. James tersenyum simpul. Ronald masih dengan wajah bingungnya. Earpiece milik James mengeluarkan suara—itu berasal dari penjaga yang memantau area pagar rumah. "Nona Victoria datang," "Persilahkan dia masuk," Fiona menoleh ke arah James, "ada yang datang?" "Nona Victoria datang nyonya," "Benarkah?" wajah Fiona langsung berbinar. Kendaraan yang Victoria tunggangi masuk ke dalam halaman rumah itu. Senyuman Fiona semakin lebar saat Victoria turun dari kendaraannya. "Vicky!!!" "Kakak!!!" Teriak mereka bersamaan. Mereka berdua berlari lalu berpelukan dengan sangat erat. "Aku merindukan mu kak, padahal baru beberapa hari tidak bertemu," "Aku juga. Aku bosan terus di rumah saja," ucap Fiona melepaskan pelukan mereka. "Berarti kedatangan ku ke sini tidak sia-sia." Victoria menggenggam kedua tangan Fiona. "Ayo kita melakukan sesuatu yang menyenangkan hari ini." *** "Apa maksud dari kata menyenangkan yang kau ucapkan itu Vicky?" mulut Fiona menganga saat melihat lapangan yang begitu luas terhampar di depan matanya. Victoria yang berdiri di sebelahnya langsung menyerahkan anak panah miliknya pada Fiona. Kedua mata Fiona mengedip menatap benda itu. "Apa ini?" "Panah," jawab Victoria dengan semangat. "Vicky, aku tidak bisa menggunakan benda ini. Lagi pula aku ke sini bukan untuk menyentuh benda berbahaya—" "Apa nya yang berbahaya kak?" Victoria menarik sebelah tangan Fiona agar memegang anak panah beserta busurnya. "Lagi pula, aku membawamu ke sini agar kita bebas menghabiskan waktu bersama." Victoria mulai mengarahkan anak panahnya ke target butt. Dan dengan mudah anak panah itu menancap di sana tepat di tengah-tengah yang mana itu poin tertinggi yang ada di sana. Sekali lagi Fiona menganga melihat itu, sedangkan Victoria tersenyum lepas ke arah wanita itu. "Pakai perlengkapannya. Kita akan latihan memanah," "Apa?!!!" 2 jam kemudian, keringat sudah membasahi tubuh Fiona. Setelah memanah, Victoria mengajaknya untuk berkuda. Sungguh, bukan kegiatan yang seperti ini yang ia inginkan! Ini terlalu menyiksa bagi dirinya yang orang awam dan belum terbiasa dengan kegiatan yang seperti ini. Tidak salah, jika mansion Simon begitu besar dan luas. Alasannya karena ingin membuat anaknya lebih leluasa dalam berlatih dengan senjata masing-masing sekaligus meminimalisir untuk diketahui oleh musuh. "Aku lelah," ucap Fiona yang duduk di atas kuda. "Lelah?" wajah bingung Victoria muncul. "Yang berlari kan kudanya kenapa kakak yang lelah?" "Walaupun cuma duduk, tanganku membawa benda yang berat ini." Victoria menatap busur panah yang Fiona pegang. Ia terkekeh, "nanti juga terbiasa," "Nanti?" "Kita akan sering latihan kak," ucap Victoria menatap sekeliling lapangan. Mereka sedang berlatih memanah sembari menunggangi kuda. Untuk Fiona yang pemula, latihan itu terdengar sangat tidak masuk akal. Fiona yang tidak terbiasa dengan semua yang Victoria kuasai angkat tangan karena wanita itu mengajarkan cara memanah dengan begitu cepat tanpa tahu kalau Fiona sangat kesulitan dalam mempelajarinya. "Sering?" Victoria menatap Fiona, "ini untuk keamanan mu," ucapnya dengan pelan. "Haven memintaku untuk melatih mu menggunakan anak panah," Deg! "H—Haven yang memintamu? Bukan paman?" Victoria menggeleng, "Haven sendiri yang meneleponku tadi pagi. Makanya aku langsung menemui mu. Dan ternyata tubuhmu sangat kaku." Victoria tersenyum lebar, "seharusnya kita pemanasan dulu tadi. Tapi tak apa, latihan ini akan kita lanjutkan besok. Hari ini cukup sampai di sini dulu," ucap Victoria pergi dari sana bersama kudanya. Fiona terdiam. Apa Haven sedang mengkhawatirkannya? Fiona menyentuh d**a kirinya. Tiba-tiba dadanya langsung berdebar saat Victoria menyebut nama Haven. Ia pikir ini ide dari Simon, tapi tebakannya salah. Ini semua adalah permintaan dari Haven. Fiona tersenyum malu. Ia menggigit bibirnya. Walaupun pria itu selalu menunjukkan wajah kesal dan bicara ketus kepadanya tapi dibalik itu semua ternyata Haven masih memikirkan keselamatan untuknya. "Aku harus pulang, dan menceritakan hari ini kepadanya." ucap Fiona dengan kedua pipi yang memerah. Ia pergi dari sana bersama kuda jantan yang ia beri nama Rocky.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN