HAVEN - Part 20

955 Kata
"Sesibuk itu kah, sampai tidak bisa menjawab telepon ku?" Selene menatap sendu Haven yang duduk di depannya. Saat ini mereka berada di kafe yang tidak jauh dari kantor Haven. Mereka duduk di dekat jendela, sehingga Haven lebih memilih menatap keluar daripada menatap wajah cantik Selene. Selene meneguk Americano nya, "kau marah karena aku menolak bertemu dengan orang tuamu?" ucapnya setelah menaruh kembali gelasnya ke atas meja. Haven masih diam. Tidak tertarik dengan topik pembahasan yang Selene katakan. "Aku minta maaf," Haven menarik nafasnya dengan panjang saat mendengar kalimat itu. "Aku minta maaf Haven," "Sudah terlalu sering kau melakukan ini kepadaku," Selene meneguk ludah. Sepertinya Haven sangat marah kepadanya. Haven mengarahkan tatapannya pada Selene. "Sudah lebih dari 10 kali aku memintamu untuk bertemu dengan mereka. Dan kau selalu melakukan hal yang sama," "Honey—" "Aku belum selesai!" Selene kembali menelan ludah saat melihat wajah Haven yang datar. "Aku bosan mendengar kata maaf yang selalu kau ucapkan itu!" "Apa?" wajah Selene tampak tak percaya jika Haven mampu mengucapkan kalimat itu untuknya. "Hubungan ini tidak bisa dilanjutkan lagi. Sepertinya pekerjaanmu terlalu menyita waktu sehingga kau tidak bisa bertemu dengan orang tuaku," "Haven—" "Kita putus. Percuma hubungan ini ada jika salah satunya tidak mau diajak untuk menikah!" Haven berdiri lalu pergi dari sana. Meninggalkan Selene yang terlihat panik dan marah. "Kenapa jadi seperti ini?! Ini tidak sesuai dengan rencanaku!" Selene memukul meja kafe sehingga orang-orang yang ada di sana menatapnya dengan keheranan. Tatapan Selene berubah tajam, "semuanya harus berjalan sesuai yang aku rencanakan! Jika hubungan ini berakhir, jangan salahkan aku kalau wanita itu yang akan menjadi targetku selanjutnya!" kilatan amarah nampak jelas di kedua mata Selene. "Lihat, apa yang bisa aku lakukan kepadanya Haven! Kekejaman ku akan membuatmu berpikir. Betapa berbahayanya aku," *** Di suatu ruangan dengan lemari kaca yang dipenuhi oleh minuman beralkohol dan meja bar. Haven duduk di sana dengan sebotol alkohol di depannya. Bertemu dengan Selene dan mengakhiri hubungan mereka membuat perasaan Haven tidak tenang. Ia sedih saat harus mengucapkan kata perpisahan itu. Ia sangat mencintai Selene, tapi wanita itu selalu membuatnya merasa jika hubungan ini tidak layak untuk menuju ke jenjang pernikahan. Hubungan sudah berjalan selama 5 tahun. Dan tidak ada perkembangan. Setiap kali Haven meminta Selene untuk bertemu dengan kedua orang tuanya, Selene selalu menolak dengan alasan pekerjaan. Haven pun bingung pekerjaan apa yang dimaksud oleh Selene. Setahu dirinya, Selene tidak memiliki pekerjaan. Uang yang ia miliki itu adalah kiriman dari orang tuanya yang tinggal di luar negeri. Selama 5 tahun itu pula, Haven tidak pernah bertemu dengan orang tua Selene. Bahkan ia tidak tahu, apa Selene memiliki saudara atau tidak. Selene sangat merahasiakan kehidupan pribadinya dari Haven. Pertemuan mereka yang terjalin secara tidak sengaja membuat Haven berpikir 100x. Apa ia akan mampu melupakan Selene? Hubungan yang sudah terjalin selama 5 tahun itu akhirnya berakhir sia-sia. Haven kecewa dengan Selene, dan itu sudah tidak bisa ia maklumi lagi. Lebih baik ia akhiri hubungan yang tidak ada ujungnya ini daripada harus mendapatkan penolakan untuk kesekian kalinya dari Selene. Lagi pula ia tidak akan memikirkan masa depannya bersama Selene lagi. Ia sudah menikah. Haven menatap cincin pernikahannya. Bisa-bisanya ia memakai benda itu kemanapun ia pergi. Bahkan Selene tidak sadar kalau ia memakai benda ini. Haven tersenyum miris. Ia kembali meneguk minuman beralkohol itu. "Sebenarnya kau mencintai aku atau tidak?" kedua mata Haven berubah sendu. Mata hazel itu tampak sangat sedih. "Aku hanya ingin hidup bersama denganmu, Selene." gumamnya sebelum kepalanya jatuh ke meja. Haven tertidur. Itu adalah bar pribadinya. Ruangan itu berada di dalam unitnya. Akses untuk masuk ke sana hanya Haven yang tahu. *** Fiona duduk di anak tangga lantai bawah rumah mewah miliknya dengan Haven. Ia terus menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dan hingga sekarang Haven belum menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Padahal Fiona sudah bersemangat untuk menceritakan semua kegiatan yang hari ini ia lakukan bersama Victoria. Fiona menatap kedua tangannya. Jari-jari tangannya terbalut plester. Jari tangannya lecet karena memegang anak panah dan busur. Ternyata tidak semudah ketika melihat Victoria menggunakan alat itu. Fiona menarik nafas dengan panjang. "Sepertinya dia tidak akan pulang," ia menatap pintu rumah yang tertutup dengan rapat. Ia berdiri dari duduknya lalu naik ke lantai 2. Pagi harinya, Fiona terbangun dengan energi yang cukup bersemangat. Ia membersihkan dirinya dan berpenampilan rapi. Karena hari ini adalah hari pertamanya ia mengajar setelah libur semester. Fiona sangat bersemangat, ia tidak sabar untuk bertemu dengan mahasiswa yang mengambil kelasnya. Fiona memakai kemeja warna coklat dipadukan dengan rok hitam selutut miliknya. Dan rambut blondenya yang digulung hingga memperlihatkan lehernya yang jenjang. Ia memoles wajahnya dengan make up sehingga penampilannya tampak berbeda dari kemarin. Fiona turun ke lantai dasar. Dan bersamaan dengan itu Haven muncul dari luar dengan penampilan yang 360 derajat berbeda dengan Fiona. Haven tampak kacau dan berantakan. Fiona terdiam di dekat tangga. "Kau baru pulang?" tanya Fiona namun Haven tidak menggubrisnya. Haven melewati Fiona. Bahkan untuk menatap wajahnya saja tidak. "Semalam tidur dimana?" Fiona terus mencoba untuk berbicara dengan Haven. Ia mengikuti pria itu dari belakang. "Ada yang ingin ku ceritakan semalam. Tapi kau tidak pulang jadi—" Fiona menggantung kalimatnya karena melihat Haven yang menatapnya dengan datar. Fiona tersenyum canggung. "Pergi," Hanya satu kata itu yang Haven ucapkan. Namun, itu tidak mampu membuat Fiona menyerah. Ia kembali mengikuti Haven. "Semalam kau tidur dimana? Kau pergi kemana? Hari ini aku berencana akan membeli ponsel baru, kalau boleh aku ingin meminta nomormu untuk aku simpan—" kening Fiona berbenturan dengan punggung Haven. "Siapa yang mengizinkanmu untuk mengikuti ku hingga ke lantai 3!!!!" bentak Haven sekeras mungkin. Tubuh Fiona tersentak karena bentakan itu. Haven memutar tubuhnya menghadap Fiona. Amarah menguasai dirinya. Gerakkan yang cepat membuat Fiona terkejut. Sebelah tangan Haven sudah berada di lehernya. Haven mencekik Fiona.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN