bc

Kepicut Cinta Petinju Seksi

book_age18+
446
IKUTI
2.5K
BACA
HE
arranged marriage
arrogant
badboy
sporty
doctor
heir/heiress
sweet
bxg
mystery
genius
loser
like
intro-logo
Uraian

Lotta Elanor Sampraz saat berusia 2 tahun harus menjadi yatim piatu akibat kedua orang tuanya tewas dalam sebuah tragedi mengerikan yang juga merenggut nyawa adik dari William Esvanza. Dia dibesarkan oleh Sueb Jamaludin ayah dari mendiang ibunya, dan William sahabat mendiang ayahnya. Namanya pun menjadi Lotta Jamaludin agar keberadaannya tidak diketahui oleh Emma istri mendiang adiknya William tersebut.

23 tahun berlalu, dia tumbuh menjadi gadis cantik bertubuh sintal seksi, jago kungfu, dan bekerja sebagai pengantar paket di sebuah perusahaan ekspedisi jasa pengantar barang di mana juga merupakan outlet yag menjual perhiasan mewah untuk kaum billionaire.

Satu ketika dia menolong Kelvin pria tampan berusia 30 tahun-dokter spesialis bedah syaraf yang baru patah hati dari begal, berakibat dia kehilangan seperangkat perhiasan yang hendak di antar ke customer, lantas terbeban pula membayar hutang Sueb ke rentenir. Maka untuk mengatasi semua itu, dia menjadi petinju wanita. Namun Kelvin yang kesemsem sama dia terus mendekatinya di mana bersikap mereka sepasang kekasih membuatnya kesal sehingga selalu bertengkar dengan pria itu.

Sementara William ayah asuhnya ternyata paman kandung Kelvin mengetahui keadaan yang dialami sepasang manusia itu segera merealisasikan rencananya menjodohkan keduanya dalam pernikahan tanpa memberitahu bahwa keduanya sudah terlibat hubungan baik di masa kecil. Dengan terpaksa Kelvin dan Lotta mau dipertemukan William, lantas saat itu mereka terkejut karena sudah saling mengenal. Kelvin menjadi bahagia berusaha keras menghilangkan kearoganannya demi mendapat cinta gadis petinju itu.

Lambat laun Lotta mulai luluh dengan sikap tulus Kelvin, tetapi betapa kagetnya dia ketika Emma ibunda sang dokter mengatakan bahwa William hanya memanfaatkan Kelvin untuk membalas dendam ke Lotta putri mendiang Agung yang membuat Arman adik William sekaligus ayahnya Kelvin tewas dalam tragedi meninggalnya Agung dan Arini.

Apa yang terjadi selanjutnya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 Mimpi
Lotta, gadis berparas blasteran yang cantik tidur tidak tenang di ranjangnya luas. Sepertinya dia kembali bermimpi hal yang sama, saat terjadi tragedy mengerikan yang merenggut nyawa orangtuanya dan menghancurkan rumah mereka. Terpaksalah sang ajudan membawa Lotta kecil ke bawah tempat tidur, bersembunyi di sana. Dia tetap memasang telinganya untuk mengetahui apa yang akan terjadi atas Arini, ibu Lotta. Arini menelan salivanya melihat Arman masuk ke dalam kamar bersama beberapa pria. Dia pun bergidik melihat sorot mata Arman yang tampak ingin menerkamnya. “Ternyata nyonya seksi ini bersembunyi di kamar ajudan putrinya.” Arman terdengar suaranya yang bikin Arini kian bergidik, di dekati perlahan perempuan cantik bertubuh langsing seksi dengan kulit putih bersih seperti sebutir mutiara. “Nyonya, serahkan kunci brangkas tersebut ke saya, maka saya akan membiarkan anda dan putri anda tetap hidup.” Dia meminta kunci brangkas milik Agung yang berisi semua dokumen penting Loani Company yang diinginkan. “Kunci itu tidak ada di aku.” sahut Arini memberanikan diri bersuara, “Meski kamu menghabisiku dan keluargaku, tanpa semua dokumen-dokumen itu, kamu tidak akan pernah memiliki Loani Company.” “Hais, perempuan ini kurangajar seperti suaminya!” Arman mendengar perkataan tadi menjadi kesal, “Baik, kita lihat apakah kamu akan tetap bersikeras tidak menyerahkan kunci brangkas tersebut?” imbuhnya kemudian dengan gesit meraih pinggang Arini. “Akhh!” terdengar pekikan Arini karena pinggangnya berhasil diraih pria itu yang terlihat sangat berhasrat menerkamnya. “Lepasin Arman! Lepasin aku!” dia pun meronta-ronta saat si pria menariknya ke tempat tidur, “Akhh!” terdengar lagi jeritannya karena dilempar kasar ke atas tempat tidur, “Akhh!” sekali lagi dia menjerit sebab diterjang si pria, bahkan pakaiannya dirobek-robek kasar. Dadan mendengar semua ini, segera membekap kedua telinga Lotta dengan kedua tangannya, agar si nona kecil tidak mendengar sehingga bertambah ketakutan. Dia memejamkan kedua matanya, air mata kepedihan meleleh dari kedua matanya sebab suara jeritan-jeritan Arini terus terdengar di mana sudah dibayangkan olehnya sang nyonya sedang dinikmati Arman. Peluh mulai membasahi wajah Lotta yang masih tidur dengan gelisah di tempat tidur. Bibirnya gemetaran dengan raut muka ketakutan. Dalam benak dia masih terlihat peristiwa tragedy tersebut. “Hentikan itu!” terdengar suara lantang Agung, ayah Lotta, dari arah pintu kamar, lantas tampak sosoknya yang sudah babak belur penuh hiasan red liquid, ditangan pria itu terpegang sebilah senjata tajam. “Hais!” Arman memandang Agung dengan sarkas, “Kuat juga kamu ternyata, Tuan Agung?” kekehnya mengerikan karena setahu dia, Agung sudah mereka rubuhkan dengan peluru-peluru timah dan juga sabetan-sabetan senjata tajam. Agung tidak memberi jawaban hanya bergerak cepat dengan mengayunkan senjata tajam ditangannya, kemudian menghabisi para pria yang menggagahi sang istri. Lantas dia bertarung dengan Arman, digiring keluar dari kamar ini. Arini segera menyambar sehelai selimut yang tergeletak di bufet, dibungkus tubuh polosnya dengan selimut tersebut, lantas segera turun dari tempat tidur, merunduk ke kolong ranjang. “Dadan!” serunya pelan, “Dan, lekas kamu bawa Lotta pergi dari rumah ini, mumpung mas Agung bertarung sama Arman.” Dadan segera membawa Lotta keluar dari kolong tempat tidur, bergegas ke lemari, mengambil kaos dan celana katun, lantas kembali ke Arini. “Nyonya, lekas pakai dulu baju Saya.” Diserahkan kaos dan celana tersebut ke Arini. Arini tidak ada pilihan, memakai baju tersebut di balik pintu lemari, setelah itu kembali ke Dadan dan Lotta. Dadan cepat meraih tangan sang nyonya. “Nyonya, anda ikut kami.” “Tidak Dan, tidak. Aku tetap di sini menemani Mas Agung.” Arini bersikeras tetap tinggal di sini bersama Agung sambil melepas tangan sang ajudan, lantas tergesa ke pintu untuk melihat situasi yang ada. Tampak olehnya sang suami masih bertarung kungfu dengan Arman di tangga rumah ini, “Dadan! Lekas kamu bawa Lotta pergi!” dihardik ajudannya ini. Dadan tidak ada pilihan, digendongnya Lotta, lantas berlari keluar dari kamar langsung menuju tangga lain di rumah ini, tetapi langkahnya terhenti sebab ternyata di tangga itu ada beberapa pria yang dibawa Arman. Terpaksalah dia melakukan perlawanan di mana Lotta tetap dalam gendongannya. Pria ini jago kungfu seperti Agung, karena murid dari Sueb Jamaludin, ayah Arini sang master kungfu yang tinggal di Pecinan Jakarta Barat. Arini yang berdiri di pintu menjadi semakin panik, apalagi kedua mata dia melihat sebuah peluru timah melesat cepat segera mengenai Lotta. Perempuan ini cepat berlari, lantas menjadikan dirinya tempat mendarat peluru tersebut. “Nyonya!” terdengar jeritan Dadan, cepat pria itu melempar sebilah belati ditangannya ke pria yang meledakan peluru tersebut, sejurus kemudian si pria ambruk jatuh dengan belati bersarang di jantungnya. Setelah itu dia meraih pinggang Arini dengan satu tangannya, “Nyonya bertahanlah. Saya akan membawa anda dan nona keluar dari rumah ini.” “Tidak Dadan,” Arini bicara lirih dengan napas tersendat-sendat, “Lekas bawa anakku keluar dari sini. Dia satu-satunya harapan kami untuk mengambil kembali Loani Company.” Setelah itu sang nyonya rubuh jatuh ke lantai, berangkat ke alam abadi. “Nyonya!” Dadan merasa sakit sekali hatinya, lantas terdengar suara Agung berteriak lantang memintanya segera melarikan Lotta. Dia segera berlari dengan Lotta dalam gendongan, dituruni cepat anak tangga. Dia bahkan dengan tangkas menyikat para pria yang menghadang agar tidak mencapai pintu belakang di depan tangga. Agung yang sangat parah babak belur melesat cepat membantu Dadan, sehingga si ajudan berhasil mencapai pintu, lantas keluar dari rumah ini. Pria itu juga terus bertarung saat Arman mengejar Dadan yang berada di halaman sayap kanan rumah ini. Dadan dengan tangkas melayangkan badan ke udara, lantas bersalto sekali agar melalui batas atas tembok halaman, kemudian menjejakan kedua kakinya di atas aspal. Kemudian dia lantas berlari cepat meninggalkan rumah Agung. Tidak lama terdengar ledakan kuat dari rumah itu, lantas membumbung tinggi asap hitam berbaur kobaran api. “Ayah-!” Lotta menjerit sambil terlonjak bangun. “Ibu-!” Napasnya memburu dengan sorot mata ketakutan. Setelah tragedy itu, dia dibesarkan oleh Sueb dan Dadan, dan ditopang hidup sama William sahabat mendiang Agung. “Ayah, Ibu,” sayup Lotta kembali bersuara, “Meski Tuan Arman sudah tiada, tapi masih ada keluarga beliau. Mengapa Kakek, Paman Dadan dan Om Will, tidak mau mengatakan siapa keluarga Tuan Arman?” Sebab, William adalah kakak kandung Arman. William tidak mau Lotta membalas dendam ke dia, juga ke Emma istri Arman dan Kelvin putra sang adik. Pria itu membesarkan Lotta sesuai amanah dari Agung dan mengelola Loani Company sampai si gadis dewasa. Dia pun berencana menjodohkan sang nona dengan Kelvin, agar perselisihan antara keluarga Esvanza dan keluarga Sampraz selesai. Kedua mata gadis ini mulai berlinang air mata, dikepalkan kedua tangan kuat-kuat dan raut wajah terlihat penuh luka dan dendam. Dia sudah dewasa, jago kungfu seperti Sueb, tapi sampai sekarang tidak diperbolehkan sang kakek dan William menemukan keluarga Arman untuk balas dendam. *** Kalida istri William bergegas jalan saat melihat Kelvin, keponakan sang suami, turun dari mobil yang berhenti di halaman depan teras rumah suaminya di Jakarta ini. Dia sudah mendengar mengenai Riana, tunangan sang keponakan, yang menikah hari ini di Jasinga, Bogor. Bersama Kelvin ada Emma ibu pria itu dan Peter asisten tuan muda tersebut. “Kelvin.” Ditegur keponakannya itu yang tampak lesu berbaur kesal, “Gimana? Benar kah calon mempelaimu itu menikah hari ini?” tanyanya penasaran sekaligus cemas. “Maaf, Tan,” terdengar suara sang keponakan, “Tante tanya ke Mama dan Peter saja soal itu. Vin mau berangkat praktek dulu.” ujarnya lantas mencium pucuk tangan kanan sang bibi ini, kemudian kembali masuk ke dalam kabin kemudi mobil mewahnya. “Emma!” Kalida menegur Emma, “Jelaskan ke saya semuanya?” Emma hendak bicara, tetapi terdengar raungan mesin mobil yang dikeber oleh Kelvin. “Kelvin!” dia tersadar si anak hendak pergi, segera mengetuk kaca mobil sambil melihat ke anaknya yang menarik tuas rem tangan, “Kelvin, jangan praktek dulu! Kamu masih emosi! Bisa celaka di jalan!” dia menjadi panik diketuk terus kaca itu, “Astaga!” pekiknya karena mobil dilajukan cepat oleh putranya ini, “Peter!” dijeritin Peter, “Lekas kamu susul anak itu! Dia ke Dallas Hospital dengan emosi, bisa celaka di jalan, atau mencelakai pasiennya!”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

TERNODA

read
199.5K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.7K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
72.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook