Bab 8 - Bukan Mimpi Sang Dokter

1756 Kata
Dokter Samuel mengamati Kelvin yang sama sekali tidak menyentuh seporsi tekwan super lezat menu andalan restoran Naga Emas di salah satu pusat perbelanjaan terkemuka di Jakarta. Lantas juga dia melihat sahabatnya ini di rumah sakit hanya duduk diam di kursi desk para medis di IGD. Si sahabat tidak tergerak untuk memeriksa pasien yang datang di IGD, padahal hari ini jadwal tugas sang sahabat. Terpaksalah dokter Samuel yang menangani pasien. Kemudian saat dibawanya untuk lunch, ditanya mau makan di mana, Kelvin hanya menjawab, “Lotta!” Membuatnya terkesiap mendengar ini, lantas bertanya, “Lotta? Rumah makan baru itu? Di mana lokasinya? Di sana menjual makanan apa saja?” Namun Kelvin memberi jawaban tidak sesuai dengan semua pertanyaan sahabatnya itu. “Kamu di mana? Kemana aku harus menemukanmu? Haruskah itu kulakukan? Lotta, kenapa sih kamu menolongku?” Dokter Samuel melongo mendengar semua perkataan Kelvin. Lantas sekarang sang sahabat hanya diam membisu tidak menyentuh tekwan. “Vin!” dicoba menegur Kelvin, “Kelvin! Kelvin!” serunya lagi dengan suara sedikit lebih lantang, bahkan sambil mengeplak lengan si sahabat. Kelvin terkesiap, mengarahkan pandangan ke dokter Samuel, “Ada apa, Sam?” tanyanya memandang sang sahabat dengan heran, “Kita udah sampai ke resto kah?” Dokter Samuel melongo mendengar ini, baru kali ini dia mendapati Kelvin limbung. Apa sang sahabat tidak sadar diri saat mereka meninggalkan Dallas Hospital, lantas sekarang duduk manis di depan tekwan? Atau kah si sahabat masih patah hati? “Samuel!” “Loe memang saat ini duduk di mobil kah?” Kelvin terheran mendengar pertanyaan ini, lantas mengecek dirinya duduk di mana saat ini, kemudian mengalihkan pandangan ke dokter Samuel, “Loe saat ini duduk di mobil kah?” sang sahabat memberi pertanyaan lagi. “Ngga.” Sahut Kelvin polos banget, “Gue duduk di bangku, seperti bangku resto.” “Memang loe duduk di bangku restoran, Kelvin!” “Kok bisa? Perasaan gue masih di mobil.” “Astaga!” dokter Samuel terkejut mendengar ini, langsung meraih tangan Kelvin, dicek sejenak denyut nadi di pergelangan tangan sang sahabat. “Loe ngapain, Sam?” “Denyut nadi loe normal.” Terdengar suara dokter Samuel yang tidak menyambung dengan pertanyaan Kelvin, lantas dia pindah duduk ke sisi sang sahabat, dicek kepala dokter arogan itu sejenak, “Kepala loe masih normal, tidak ada benjol terbentur, atau lainnya.” Kelvin mendengar ini mengeplak gemas kening dokter Samuel, “Loe ngapain sih aneh banget dari tadi.” “Loe yang aneh, Vin. Loe di IGD hanya duduk melamun. Lantas di mobil pas gue tanya pengen makan apa , loe memberi jawaban yang tidak berhubungan dengan pertanyaan gue. Kemudian saat ini, loe tidak sadar loe ada di sini.” Kelvin terkesiap mendengar semua ini, lantas menghela napas. Dia merasa dirinya terpusat ke Lotta berikut seluruh penyesalannya ke gadis itu. Namun dia tidak bisa mengatakan ini ke dokter Samuel, meski itu sahabatnya sendiri. Dia takut menjadi malu karena bisa jadi kepicut cinta ke dewi penolongnya. “Kelvin, ada apa sebenarnya?” terdengar suara dokter Samuel menegur Kelvin yang tampak menyalakan sebatang cigarette. “Loe menjadi aneh sejak dicegal begal.” Kelvin terkesiap mendengar perkataan ini, lantas menghela napas sambil memalingkan pandangan dari dokter Samuel. Dia tidak mau memberi jawaban apa pun ke sahabatnya ini. Mendadak matanya melihat ke arah sepasang manusia yang baru datang dan duduk di salah satu meja makan. Tidak lama dia mengucek kedua matanya bergantian dengan satu tangan, ingin memastikan yang dilihatnya itu kenyataan atau halusinasinya. Dokter Samuel melihat semua ini, mengarahkan pandangan ke arah yang dilihat Kelvin. Dia menemukan sepasang manusia duduk di salah satu meja makan sedang memesan makanan yang ditawarkan waiter. Lantas dia memutar pandangan ke Kelvin, terlihat sahabatnya ini terus mengamati ke arah sepasang manusia itu, tepatnya ke yang perempuan. Kemudian terlihat bibir sang sahabat bergerak-gerak mengucapkan beberapa kata yang antara lain adalah “Kamu kah itu?” Kelvin segera berdiri, lantas duduk di bangku resto yang bisa melihat jelas siapa perempuan itu. Dokter Samuel terheran melihat ini, segera menyusul sambil membawa dua mangkuk berisi tekwan. Dia duduk di sebelah dokter ganteng tersebut, lantas ikut memperhatikan apa yang sedang diamati sahabatnya itu. Sesekali dia melihat ke sang sahabat, di mana tampak sorot mata si dokter terpesona mengamati perempuan itu. ‘Hais si Kelvin cepat aja hilang patah hati,’ bisik hati dokter Samuel, ‘Tapi memang sih perempuan yang diamati Kelvin sangat cantik dengan melon yang bulat padat.’ Hais dokter Samuel kenapa fokusnya ke melon milik perempuan itu yang memang adalah Lotta, ya? Karena memang yang terlihat saat ini si melon saja, yang lain dihalang meja makan. Sedang pria yang bersama Lotta adalah Dellon. Adik Mirna ini bertanya si gadis ingin maksi apa setelah berlatih dasar-dasar teknik bertinju. Lotta memberi jawaban pengen tekwan, karena itu makanan kegemarannya dari kecil. Setelah itu pria tersebut membawa mereka maksi tekwan di resto Naga Mas ini. ‘Tuhanku,’ bisik hati Kelvin merasa baru kali ini melihat dengan jelas wajah cantik Lotta. “Syukurlah dia memang Lotta yang menolongku.” Dia merasa lega yang dilihatnya tadi ternyata benar Lotta, ‘Tuhanku,’ bisik hatinya lagi,’Ternyata masih ada gadis pendekar secantik ini di dunia.’ Dia menamai Lotta dengan gadis pendekar. ‘Tuhanku,’ dia masih berbisik dalam hatinya, ‘Bodynya bagus banget gadis pendekar ini. Tampak dari kedua melonnya yang bulat padat.’ Hais ini Kelvin mengapa terfokus ke melon Lotta sih? Tidak bisa disalahkan, si gadis memang tercipta memiliki melon yang indah di mata pria, selain wajah yang cantik alami. ‘Tuhanku,’ Kelvin masih bicara dalam hatinya, ‘Bibirnya mungil dengan bentuk yang bagus, lantas terolesi lipgloss pink segar. Astaga ranum sekali ini.’ Dia menilai bibir si gadis indah, merasa pasti ranum saat dinikmati. Ternyata sang dokter mendapat anugerah dari Tuhan, karena tidak perlu berlama-lama patah hati, langsung dibikin kepicut sama Lotta si pendekar yang calon petinju itu. “Vin.” Terdengar pelan suara dokter Samuel, “Perempuan itu cantik.” ujarnya memancing Kelvin untuk bicara sama dia. “Banget, Sam.” Sahut Kelvin terkena pancingan dokter Samuel, “Mata gue betah melihat dia. Apalagi bibir dan kedua matanya, amboi bikin gemes.” Imbuhnya tanpa melepas pandangan dari si gadis yang sedang melahap seporsi tekwan. Dokter Samuel terkesiap mendengar semua ini, lantas mengamati sang sahabat, “Dia siapa, Vin?” Belum sempat Kelvin memberi jawaban, Lotta mulai tersadar ada yang mengamatinya. Gadis ini berhenti melahap tekwan, memutar pandangan langsung ke arah Kelvin dan dokter Samuel. Sejurus kemudian dia terkesiap karena masih mengenali sosok dokter arogan itu. Dia pun teringat gegara menolong si dokter, perhiasan pesanan Emma dicuri orang. Langsung saja dia melengosin Kelvin yang entah kenapa menebar senyuman ke dia. “Lha?!” dokter Samuel terheran melihat Lotta melengosin Kelvin, “Dia lengosin elo, Vin.” Ujarnya polos banget, lantas melihat wajah Kelvin menjadi gregetan gemas karena dilengosin si gadis, “Sepertinya kalian saling kenal.” Dia mulai tersadar Kelvin dan sang gadis saling mengenal. Kelvin tidak memberi tanggapan perkataan dokter Samuel, lantas berdehem untuk meminta perhatian Lotta. “Ehem!” Lotta mendengar deheman itu, tidak diperdulikannya. Dia melahap tekwannya. “Ehem!” terdengar lagi suara deheman Kelvin sedikit lantang, di mana tampak raut wajah si dokter semakin gregetan gemas karena dicuekin si gadis, “Ehem!” Dokter Samuel melihat ini melongo, lantas berbisik di telinga sahabatnya, “Mau gue bantu memanggil gadis itu, Vin?” Namun Kelvin tidak memberi jawaban, malah kembali berdehem untuk memaksa Lotta melihat ke dia. “Ehem! Ehem!” Namun yang melihat dia adalah Dellon. Telinga pria ini menjadi terusik gegara mendengar deheman berkali si dokter. Kelvin terkesiap karena yang merespon adalah Dellon, cepat dia mengangkat tangannya ke atas memberi isyarat minta maaf ke pria itu, lantas menunjuk Lotta yang tetap cuek. Dellon langsung paham Kelvin minta bantuan untuk memanggil si gadis. “Lotta.” Dellon pelan memanggil Lotta, “Lotta?” “Cuekin aja orang itu, Tuan guru.” Terdengar sahutan Lotta, “Anda memanggil saya untuk dia kan?” Dellon menghela napas mendengar ini ternyata si gadis sangat awas keadaan. Tidak heran karena dalam latihan kungfu belajar untuk selalu awas keadaan. “Dia siapa, Lotta? Mengapa kamu tidak perdulikan dia?” “Maaf tuan guru, tidak penting anda tahu siapa dia. Dia hanya dokter arogan tidak tahu berterima kasih.” Dellon terkesiap mendengar ini, lantas menjadi penasaran, “Mengapa kamu mengatakan itu? Kamu pernah membantunya?” “Maaf tuan guru, Lotta males mengingatnya.” Dellon menghela napas feeling Kelvin membuat Lotta kesal, maka dia segera melihat ke sang dokter yang menanti hasil pertolongannya. Dia segera mengangkat kedua bahunya, gagal membuat Lotta melihat ke si dokter. “Vin,” terdengar suara dokter Samuel, “Loe samperin aja kale. Pacarnya tidak akan marah.” Kelvin terkesiap mendengar ini, memutar pandangan ke sang sahabat. “Apa kata loe?” “Pacarnya tidak akan marah ke elo.” “Pria itu pacar Lotta?” Kelvin spontan saja menyebut nama si gadis sambil menunjuk Dellon, lantas menunjuk sang gadis. “Jadi gadis itu bernama Lotta?” dokter Samuel memandang serius sahabatnya, “Apa dia yang pernah menolong loe dari begal?” tanyanya lagi karena saat mereka on the way kemari, si sahabat menyebut nama itu. Lantas juga menemukan nama itu di catatan medis ibu Kalingga. Maka dia feeling pemilik nama itu sangat mungkin yang menolong sang sahabat dari begal. Kelvin kembali terkesiap ditanya seperti itu, lantas bergegas berdiri, kemudian duduk disebelah Lotta. “Ehem!” dia kembali berdehem untuk meminta perhatian Lotta. Namun si gadis tetap cuek, “Ehem!” dia sekali lagi berdehem. Tahu-tahu Lotta menyodorkan segelas jeruk dingin miliknya ke Kelvin, artinya si dokter disuruh minum agar tidak berdehem seperti orang terkena batuk. Kelvin terkesiap, tetapi diterimanya gelas itu, “Makasih.” Dia pun mengucapkan terima kasih, lantas meminum air jeruk itu sejenak. Dellon dan dokter Samuel melihat ini melongo, lantas pada tersenyum geli. “Tumben bilang makasih.” Terdengar suara Lotta menyindir Kelvin. Kelvin terkesiap mendengar ini, membuatnya tersedak, menyemburkan air jeruk yang baru dihirup dari gelas. Beruntungnya Dellon duduk disisi lain Lotta, kalau tidak pasti kena semburan air dari mulut si dokter itu. Lotta entah kenapa spontan menepuk-nepuk sedikit punggung Kelvin, seolah membantu si dokter meredakan sedakan. Membuat si dokter terkesima, pelan mengamati gadis itu yang ternyata melihat ke dia. “Udah reda tersedaknya?” terdengar suara Lotta bertanya ke Kelvin. “U..udah.” si dokter menjadi gugup, “Makasih.” Dia kembali mengucapkan terima kasih. “Tumben sekarang rajin bilang makasih.” Kelvin terkena sindirian lagi, “Lotta, kemarin itu aku sedang diburu waktu ke tempat praktekku!” ujarnya sadar si gadis mengungkit peristiwa lalu. “Jadi sekarang anda sedang santai jadi bisa mengucapkan terima kasih?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN