01: Lampu Merah Untuk Shereen Maritza Aina

1068 Kata
Arka: lagi ngapain? Shereen: nemenin Papa aku... Sayang lagi ngapain? Arka: lagi main game aja. Shereen menghela napas. Menutup chat tanpa membalas pesan dari pacarnya itu. Hari ini adalah jadwal gadis itu untuk menemani ayahnya di rumah sakit yang akan menjalani operasi keesokan harinya. Kepalanya pening, memikirkan bagaimana bisa dia memiliki hubungan dengan orang yang cuek seperti Arka selama bertahun-tahun? Shereen bangkit, hendak ke kantin tetapi getaran di saku membuatnya terhenti dan menyadari ada pesan. Arka: nggak di bales nih? Shereen: aku mau nyari makan dulu, sayang. Arka: ya. Shereen: bentar, ya :* Gadis itu terdiam sebentar, memperhatikan layar ponsel selama beberapa menit. Tapi tak ada balasan dari Arka. Shereen menggertakkan gigi, merasa kesal karena pacarnya itu benar-benar seorang yang cuek tingkat internasional! Kalau di rumah, Shereen pasti sudah menendang tembok berkali-kali demi meluapkan emosinya. Berhubung saat ini dia di rumah sakit, gadis itu hanya bisa menggenggam ponselnya dengan erat. “Arka s****n, hh, sabar, sabar,” gerutu gadis itu sembari berjalan memasuki lift. Keningnya berkerut dalam, sedetik kemudian terpancar kesedihan di matanya. Pikirannya melanglang buana. “Kenapa dia gak perhatian, ya, sama Papa...” Tiba-tiba hidung Shereen mencium sesuatu yang tidak enak. Dia mengangkat wajah, mendapati dirinya berdua di dalam lift dengan seorang pria gemuk yang berdiri di pojokan. Duutt. Ciyuuutttt. Shereen mengedip beberapa kali. Bau itu terasa semakin menyengat setelah bunyi mencurigakan yang berasal dari pria yang berdiri di pojokan itu. Dia pasti kentut! Dengan cepat tangan Shereen menutup hidung setelah menghirup napas dalam-dalam. Anjrit ni bapak, makan apaan coba, kentutnya mantep banget, batin Shereen. Ting! Pintu lift terbuka, dengan cepat bapak itu keluar dengan cengiran lebar ke arah Shereen yang hampir mati kehabisan oksigen. Beberapa orang yang masuk berhenti sejenak. Sepertinya hidung mereka sudah mendeteksi pencemaran udara. Beberapa diantaranya bahkan berbisik-bisik sembari menatap Shereen dengan tatapan mencurigakan. Jangan lupa, tangan mereka menutupi hidung. Ingin rasanya Shereen teriak, ‘Bukan gue yang kentut!’ pada mereka, tapi nyatanya Shereen hanya diam. Dia menghirup napas sejenak, ternyata baunya benar-benar menyengat. Oh Tuhan, kenapa nasib Shereen begitu s**l hari ini? •UDHS-1• “Makasi, Mbak,” Shereen memberikan uang dua puluh ribuan pada Mbak-Mbak kantin sebelum mengambil nampan berisi soto ayam miliknya. Tubuh gadis itu berputar, mencari tempat kosong yang bisa ia duduki. Sayangnya, pundak Shereen bersinggungan dengan seseorang. “Cakep, keren, s**l, gue s**l hari ini,” rutuk Shereen ketika menyadari sotonya tumpah ke lantai. Beruntungnya ia tidak terkena kuah panas itu. Lebih beruntung lagi, mangkuk itu terbuat dari plastik. Coba saja kalau dari kaca, mungkin gadis itu harus mengganti uang mangkuk. “Duh, sorry.” “Gak apa-apa, kok,” ujar Shereen berusaha tenang. Dalam hati, sebenarnya Shereen merutuki cowok yang kini berjongkok untuk mengambil mangkuk, piring, serta sendok dan garpu yang tercerai berai seperti habis perang. Shereen memberikan nampan yang sejak tadi dipegangnya. “Lo gak apa, kan? Ada yang—Shereen?” Shereen mendongak, mendapati seseorang yang dikenalnya semenjak SD. “Fallen?! Ya ampun! Lo masih ceroboh aja kayak dulu!” Fallen mengedip beberapa kali, membenarkan letak kacamata lalu tersenyum. “Dan lo juga gak berubah sama sekali, masih Shereen yang manis.” “Lo kata gue gula, apa?” Gadis tertawa menanggapi ucapan Fallen. Dengan paksaan, akhirnya Fallen menggantikan makanan Shereen dan makan bersama. Bernostalgia saat mereka SD dulu. Sampai beberapa saat kemudian getaran ponsel Shereen membuat pembicaraan mereka terhenti. Arka: asik ya, sibuk sendiri. Helaan napas Shereen yang kelewat kasar membuat Fallen penasaran. Setelah Shereen meletakkan ponsel di atas meja, Fallen angkat bicara. “Berantem sama pacar?” Shereen mengangkat kepala dan mengedikkan bahunya sekilas. “Biasalah, dia emang ambekan.” “Hmm...” Fallen hanya mengangguk menanggapinya, karena Shereen terlihat tidak berminat melanjutkan pembicaraan. “Oh ya, lo ngapain di sini? Ada temen yang sakit?” “Papa gue,” Shereen tersenyum kecil, “dia besok operasi usus buntu.” “Walah... Gue baru tau papa lo dirawat di sini.”  “Ya kita kan, baru ketemu.” Shereen terkekeh. Tapi langsung terpekik karena ternyata sudah hampir dua jam dia meninggalkan ayahnya di ruangan. Gadis itu langsung bersiap pergi. “Mau kemana?” Fallen merespons tindakan buru-buru Shereen. “Balik ke kamar,” jeda Shereen. “Oh ya, lo sendiri ada di sini kenapa? Sakit?” Fallen menggeleng. “Enggak, gue abis jenguk sodara yang sakit.” “Oh, oke. Cepet sembuh ya buat sodara lo.” Shereen menepuk pundak Fallen dengan ramah sebelum pamit meninggalkan Fallen di kantin. Cowok itu memperhatikan punggung Shereen yang semakin mengecil. Bibirnya menyunggingkan senyum dan segera berbalik arah setelah gadis itu tak tampak. •UDHS-1• Gws buat papa @ShereenMaAina, moga operasinya hari ini lancar ;) Makasi banget, Len! RT @FallenE: Gws buat papa @ShereenMaAina, moga operasinya hari ini lancar ;) “Kok sendiri? Kak Adri mana?” Shereen mendongak dari aplikasi Twitter saat mendengar suara ibunya. Gadis itu menghampiri ibunya dan salim. Di deretan bangku itu, ibunya duduk memangku tas kecil dan sebungkus roti. “Dia ke toilet dulu, Ma.” “Oh, kirain kamu ke sini naik angkot.” Shereen terkekeh, lalu mendekat dan duduk di sebelah ibunya. “Papa baru masuk ruang operasi apa dari tadi?” tanya Shereen. Ibunya mengangguk. “Baru banget.” Shereen kembali menunduk, sibuk dengan ponselnya. Jemarinya mengetikkan nama Arka. Sudah semalaman cowok itu tidak memberi kabar. Terakhir mereka berkomunikasi adalah saat kemarin dia makan soto di kantin rumah sakit. Cowok itu memang paling jago menghilang. Sambil membuang egonya, Shereen mengirim pesan pada cowoknya. Shereen: kamu lagi apa? Jujur, Shereen sangat lelah dengan hubungan ini. Seakan-akan dialah yang harus memulai segalanya. Hubungan mereka memang sudah bertahun-tahun, tapi Shereen merasa dia semakin tidak mengerti pacarnya. Bagaimana bisa begitu, ya? “Kamu masih sama si Arka-Arka itu?” tanya ibunya tiba-tiba. “Hah?” Shereen tak sengaja melotot ke arah ibunya yang menampakkan ekspresi bertanya. Seperti keajaiban, ibunya menanyakan perihal kehidupan pribadi Shereen. “Masih, Ma.” “Memangnya apa sih, yang kamu lihat dari dia?” pertanyaan penuh makna. Shereen bungkam beberapa saat. Gelisah, hingga tanpa sadar menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Gadis itu ingin menjawab, tetapi bingung. Shereen agak tidak setuju dengan perihal cerita-masalah-pribadi-pada-orangtua. Dia lebih sering cerita pada Tama, Naura, ataupun Kayla. “Mama nggak terlalu suka sama dia,” ucapnya tanpa menatap Shereen. Gadis itu semakin tidak bisa berkata-kata. Ibunya telah memberikan lampu merah. Tanda untuk berhenti. Tangannya terkepal, matanya memanas dengan bibir bawah yang ia gigit keras. Shereen ingin mengungkapkan bahwa ia begitu menyayangi Arka, namun tidak mampu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN