“Bokap gimana kabar? Udah sembuh?”
Suara Tama membuat lamunan Shereen buyar.
Gadis itu membenarkan posisi duduk dan tersenyum. “Udah baik, kok.”
“Sorry gak jenguk, selama liburan kemarin gue ke Bandung.”
“Nggak apa, elah,” Shereen menonjok bahu Tama. “Santai aja sama gue.”
“Arka gimana?” Tama sepertinya punya banyak pertanyaan untuk Shereen.
Shereen mengangkat bahunya sekilas. “Baik... sepertinya.”
Tama menghela napas, menatap Shereen nanar. Merasa kasihan dengan gadis ini. “Lo masih kuat sama dia? Gue pikir setelah beda SMA kalian bakal putus.”
“Kalo masih bisa dipertahanin, kenapa enggak?”
Tama sebal mendengar jawaban mantap Shereen. “Ah, palingan bentar lagi putus.”
Tapi celetukan Tama membuat Shereen murka. Dia melempar pulpen dan pensil yang berserakan di meja, membuat cowok itu segera kabur sambil melindungi wajahnya dengan kedua lengan. Meskipun Tama itu populer, tapi bagi Shereen, dia tetaplah cowok menyebalkan.
“Cinta itu kayak marmut lucu warna merah jambu, yang berlari di sebuah roda... Seakan berjalan jauh, tapi nggak ke mana-mana. Nggak tau, kapan berhenti...” suara Tama yang merdu memenuhi penjuru kelas, membuat para gadis menoleh. “Tuk jatuh cintaaa!”
“TAMAAA! Berisik!”
Semenjak Tama nonton Marmut Merah Jambu-nya Raditya Dika, anak itu selalu menyanyikan lagu itu di mana pun dan kapan pun. Tama bilang kalau lagu itu benar-benar cocok untuk Shereen yang tidak tahu kapan berhenti jatuh cinta.
“Penyakit sapi gila-nya Tama kambuh, ya?”
Kayla yang tiba-tiba duduk di samping Shereen tidak membuat gadis itu kaget. Sudah sangat biasa jika Kayla itu datang tiba-tiba seperti setan di siang hari. Tak lama kemudian, ekor mata Shereen menangkap Naura dengan beberapa bungkus makanan di pelukannya.
“Gue nggak ngerti kenapa Tama bisa populer,” Shereen menggelengkan kepala ke kanan dan kiri sambil memijit pelipis. “Padahal pas SMP dulu dia cupu abis.”
“Tapi sekarang dia ganteng,” Naura menatap Shereen sembari membuka chiki.
“Cie yang pernah fall-in-love,” goda Kayla.
“KAYLA!” mata Naura membesar seketika, mendesis sembari melirik ke kanan dan kiri, berharap tidak ada orang yang mendengar. “Kalo orangnya ada gimana? Bisa-bisa gue di ceng-ceng-in sampe mati!”
Shereen tidak memperhatikan perdebatan keduanya lagi karena dia mendapatkan pesan dari Arka. Gadis itu mengerutkan kening, membaca pesan yang menurutnya sangat aneh.
Arka: oh, jadi lo maunya gini? Mau putus? Iya?
Shereen: maksud Sayang apa?
Arka: kenapa selama ini nggak ngehubungin? Udah bosen?
Mata Shereen memanas, jemarinya mengetik balasan untuk Arka meski bergetar. Ia benar-benar tak mengerti. Yang tidak memberikan kabar itu kan, Arka. Bukan Shereen. Shereen selama ini selalu menanyakan apa yang sedang dilakukan Arka, bagaimana kabarnya, bahkan ia sampai menanyakan kabar Arka ke keponakannya.
Gadis itu bahkan rela menunggu satu sampai dua jam balasan dari Arka. Tapi, yang balasan yang didapatkan setelah mengetik panjang lebar hanya sebatas kata ‘Ya’ dan ‘Tidak’. Jika ditanya apa yang sedang dilakukan oleh Arka, cowok itu tidak akan membalas.
Shereen: bukannya kamu yang selama ini sibuk?
Tak ada balasan lagi dari Arka.
Shereen sangat kesal hingga dia menyembunyikan wajahnya di antara lipatan lengan, mata gadis itu mulai memanas. Emosi yang terkumpul di hatinya tak bisa ia ungkapkan melalui kata-kata. Semua hanya bisa diluapkan bersama air mata.
Dengan kata lain, Shereen adalah gadis cengeng, yang sangat mudah menangis.
Kayla yang menyadari ada keanehan dari Shereen lantas menghentikan tingkahnya yang sedang menyumpal hidung Naura dengan penghapus. Mereka saling senggol dan lirik.
“Shereen kenapa?” bisik Naura.
“Nangis, Lion,” jawab Kayla yang dihadiahi cubitan maut ala Naura.
“Sher? Shereen?” Naura mengguncang pundak Shereen secara perlahan, namun gadis itu tergeming. Hanya ada gerakan naik turun dari bahunya. Menandakan bahwa dia menangis.
Kayla dan Naura mengusap pundak gadis itu perlahan, berusaha memberikan semangat. Meskipun Shereen tidak mengatakan sepatah kata pun, mereka sadar penyebab Shereen menangis.
Arka Daffahimsa.
Cowok yang sudah mengisi relung hati Shereen selama hampir tiga tahun.
•UDHS-1•
“Napa lau? Abis nangis? Arka?” Tama menatap Shereen dengan tajam.
Mata bengkak Shereen tidak bisa disembunyikan dari Tama. Cowok itu sudah mengenal Shereen sejak SMP. Bahkan sebelum dia pacaran dengan Arka pun, Tama sudah menjadi sahabat Shereen.
“Abisnya dia nyebelin,” Shereen mulai merengek, “masa tiba-tiba bilang putus.”
Tama menghela napas panjang. “Bukannya udah biasa?”
Tama menaikkan sebelah alis dan mulai duduk di depan Shereen. Kalimat putus sudah sering dilontarkan oleh Arka, namun Shereen tetap menerima Arka saat cowok itu kembali lagi padanya. Benar-benar membuat Tama gemas.
Kapan Shereen akan tegas?
Sepulang sekolah ini Tama tinggal berdua dengan Shereen di kelas. Naura dan Kayla sudah pulang terlebih dahulu karena mereka memiliki ‘kencan’. Biasa, jomblo mencari cinta.
“Orang macem lo mana pernah, sih, digituin,” gerutu Shereen, “mereka kan tergila-gila sama lo. Beda sama gue yang gak punya apa-apa.”
“Shereen,” Tama menegur dengan suara rendah namun dalam.
Gadis itu enggan memandang Tama, dia lebih memilih menunduk.
“Nggak boleh merendah. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.”
Shereen menghela napas. “Iya...”
Gadis itu bangkit dari duduknya lalu berjalan perlahan mendekati Tama yang tengah sibuk dengan gitar di pangkuan. Saat fokus cowok itu hanya tertuju pada gitar, Shereen dengan keras menendang kaki bangku yang diduduki Tama.
Dhuakk.
“SHEREEEN!” Tama berteriak kesal karena tingkah Shereen yang kekanakan.
Sambil mengusap pantatnya yang baru saja mencium lantai dengan keras, Tama menghela napas dan menggelengkan kepala. “Dasar bocah.”
•UDHS-1•
Shereen nekat. Gadis berkulit putih itu mengintip lapangan salah satu sekolah tetangga yang jaraknya lumayan jauh dari tempatnya belajar. Dan yang pasti, sekolah itu berlawanan arah dengan rumah gadis itu. Berbekal teropong di tangan, ia mengintip dari balik semak-semak.
Beberapa siswa yang lewat hanya bisa menatap aneh tingkah Shereen.
“Heh, ngapain lo? Stalker, ya?”
Sehereen mendongak, mendapati seorang cewek berhidung mancung dengan rambut ikal. Dia berkacak pinggang, menatap Shereen curiga. Shereen jengah ditatap seperti itu. Dia bangkit dan menggelengkan kepalanya.
“Stalker? Gila! Enggak-lah.”
“Trus ngapain?” gadis tak dikenal itu menatap Shereen dengan tajam.
“Fay! Jahat lo, gak nungguin gue!”
Suara yang dikenal oleh Shereen. Gadis itu menoleh, mendapati Biya tengah berlari kecil ke arah cewek yang dipanggil Fay—cewek yang tadi menegur Shereen. Namun saat matanya melihat kehadiran Shereen, Biya menghentikan langkah.
“Eh iya, sorry, Biya, ada cewek mencurigakan, nih,” ujar Fay sembari menunjuk Shereen.
Shereen kesal. “Gue nggak mencurigakan!”
“Kalo enggak, ngapain coba bawa teropong kayak gitu?” tepis Fay sambil menunjuk teropong Shereen.
Telunjuk Shereen mengarah pada Biya. “Dia kenal sama gue. Gue bukan orang mencurigakan, ya, kan, Biy?”
Fay menoleh, memperhatikan Biya dengan mata menyipit. “Beneran lo kenal sama dia?”
Gadis dengan rambut sepinggang itu akhirnya menganggukkan kepala, matanya meliar beberapa saat hingga akhirnya bersitatap dengan Shereen. Ada senyuman canggung tersungging di wajah Biya.
“Kalo nyari Arka, dia ada di kelas, lagi sama temen-temennya,” jawab Biya tanpa ditanya.
Ketika Biya mengatakan kalimat itu, sepintas wajah Fay menegang. Matanya membesar lalu menatap Shereen dan Biya secara bergantian tanpa disadari keduanya. Biya yang menyadari tatapan Fay langsung saja memberikan senyuman tipis.
“Masih lama nggak, ya, dia ngobrolnya?”
“Mau gue temenin ke dalem?” Biya bertanya balik.
“Nggak usah,” Shereen menggeleng lalu tersenyum, “gue samperin Arka dulu, ya.”
Setelah mendapatkan anggukan dari Biya, Shereen melesat menuju kelas Arka. Suasana sekolah yang sudah sepi membuat gadis itu bisa berjalan dengan leluasa. Sembari mengeratkan tali tas, Shereen meyakini diri sendiri, bahwa dia harus menghampiri Arka setelah cowok itu selalu menolak ajakan bertemu dari Shereen.
Fay dan Biya menatap punggung Shereen dengan iba. Mereka menghela napas dalam.
“Setelah gue lihat dia, ternyata dia gak selebay yang diomongin Arka,” gumam Fay.
Biya tersenyum lembut. “Dia cewek yang baik, Fay.”
Fay hanya bisa menghela napas dan menggelengkan kepala. Berbalik arah setelah menyenggol lengan Biya. Memberikan isyarat pada gadis itu untuk berhenti menatap Shereen dan segera pulang.