Mata Shereen mengedip beberapa kali ketika mendengar suara gedoran di pintu kamar. Adri, kakak cowok satu-satunya yang ia miliki memanggil nama Shereen berkali-kali dengan panik. Gadis itu ikut panik ketika menyadari jam dinding menunjukkan jarum panjang di angka tujuh. Dia telat!
“Kak Adri! Kenapa gak bangunin gue lebih awal, sih?!”
“Elo yang kebo!”
Shereen selalu mengunci kamarnya tiap kali tidur. Makanya, orang rumah suka kesulitan membangunkan gadis itu. Kaki Shereen langsung melangkah lebar, walau jari kelingkingnya terasa tersengat karena menabrak lemari, ia tetap melesat bagai peluru menuju kamar mandi.
“Astaga, jangan telat, jangan telat,” gumamnya berulang kali sembari mengguyur tubuhnya dengan air.
Setelah siap dengan seragam, gadis itu langsung keluar kamar dan berlari menuruni tangga. Sampai akhirnya ia mendapatkan akibat dari melompati dua anak tangga sekaligus; terjatuh dari tiga anak tangga terakhir.
“Sakit,” ringisnya seraya mengusap kaki yang agak memerah. “Kak Adri! Jangan tinggalin gueee!”
Adri yang sudah kuliah biasa menggunakan mobil menuju kampus. Pada hari-hari tertentu, cowok itu mendapatkan jam mata kuliah di pagi hari. Namun s**l, saat ia mengintip garasi, sudah tidak ada mobil di sana.
Dengan tergesa, ia berlari ke kamar ayahnya dan meminta pamit untuk berangkat sekolah. Tanpa menyentuh sarapan, Shereen berlari keluar rumah. Tapi tanpa disangka, ternyata sudah ada motor yang sangat dikenalnya menunggu di depan rumah.
“Telat bangun lagi, ya, Sayang?”
“Arka?”
Cowok itu memakai helm ketika Shereen berjalan mendekat. “Kamu kok gak kasih tau kalo mau jemput?” tanya Shereen dengan wajah bingung. Gadis itu menerima helm dan memakainya dengan cepat setelah duduk di jok.
“Siap-siap ya, aku mau ngebut.”
Shereen mengangguk dan segera memeluk pinggang Arka dengan erat. Ia tau, cowok itu akan ngebut gila-gilaan melihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh. Berangkat sekolah bersama, hal yang sudah tidak pernah dilakukan mereka semenjak pisah sekolah.
“Ciee Sayang, baik banget mau jemput aku. Nggak apa nih nanti kamunya telat?”
“Udah biasa telat juga,” cengir Arka.
“Dih? Kamu demen telat? Sejak kapan, Sayang?”
Arka hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Shereen. Wajah fokus Arka membuat Shereen tersenyum kecil. Arka, semoga dia selalu seperti ini selamanya. Jangan pernah berubah, ya, Sayang.
•UDHS-1•
“Nanti jemput aku gak Sayang?”
“Nanti aku kabarin, ya,” ucap Arka sembari mengedikkan dagu. “Masuk gih, udah telat banget.”
“Iya,” Shereen tersenyum senang dan segera berbalik arah. “Makasi, ya!”
Gadis itu berlari menjauhi Arka, memperhatikan jam tangan yang membuat matanya membelo. Jam setengah delapan. Ia segera melebarkan langkah, menyusuri dinding sekolah—dimana ada lubang lumayan besar yang dibuat oleh anak-anak yang hobi bolos.
Tanpa disangka, ada seseorang yang juga tengah merunduk, berusaha memasuki lubang itu.
“Harish? Lo telat?”
Si pemilik nama menoleh. Ada raut kaget selama beberapa detik, namun segera berganti dengan helaan napas lega. Tanpa berkata apapun, Harish segera merangkak masuk. Shereen menoleh ke kanan dan kiri, memperhatikan keadaan sekitar.
“Ayo, buruan,” tangan Harish yang memberikan isyarat untuk masuk membuat Shereen segera merangkak. Tangan Shereen sesekali menutupi roknya, takut-takut akan ada seseorang dibelakangnya.
“Gak ada siapa-siapa, kok, dibelakang,” ucap Harish singkat.
Shereen mendongak, mendapati Harish menatapnya lurus-lurus. Ia mengangguk, agak canggung karena wajah mereka yang lumayan dekat.
“Makasih,” Shereen tidak yakin Harish mendengar suaranya yang seperti bisikan karena Harish sudah berdiri membelakanginya. Shereen ikut bangkit, berdiri di samping cowok itu namun segera dihadang oleh Harish.
“Bentar, guru piket pasti lagi berkeliaran.”
Shereen mengangguk, berdiri di belakang Harish sambil sesekali berusaha mengintip dari balik punggung Harish. “Iya, tapi gue harus cepet-cepet masuk kelas.”
“Periksa yang teliti, jangan sampe ada murid yang lolos dari pantauan kita.”
Shereen terkesiap. Tubuhnya terdorong ke tembok bersamaan dengan lengan Harish yang melingkari pundaknya. Tangan kiri Harish yang panjang mengurung Shereen, menyebabkan ia tak bisa bergerak sedikit pun.
“A-ada siapa, Rish?”
“Maaf bikin lo nggak nyaman, tapi kepala sekolah lagi keliling.”
Shereen mengangguk, ia merasa canggung karena jika mengangkat kepala maka wajah mereka akan terlampau dekat. Harish mempersempit jarak diantara mereka, ia menunduk, deru napasnya terasa di puncak kepala Shereen.
Cahaya matahari yang berada tepat di belakang Harish menyebabkan wajahnya tidak terlihat dengan jelas. Tapi yang pasti, pemuda itu memperhatikan Shereen yang hanya diam menunduk, menautkan jemari dengan gugup.
Tak berapa saat kemudian, Shereen berani mengangkat wajahnya ketika Harish menjauh.
“Gue duluan,” ujar Harish sambil berlalu.
•UDHS-1•
“Gue masuk barisan dulu,” pamit Naura seraya berjalan memasuki barisan anak-anak yang akan pemanasan berlari keliling lapangan. Jika saja Shereen tidak lupa membawa baju olahraga, saat ini dia pasti tidak akan memeluk sapu seperti ini. Dia dihukum membersihkan halaman belakang sekolah.
Dengan bibir melengkung ke bawah, Shereen mulai menyapu dedaunan kering yang banyak bertebaran di bawah pohon. Beberapa plastik bungkus makanan ringan yang ia temukan berserakan di rumput membuatnya memberengut sebal.
“Kalo buang sampah tuh, di tempat sampah coba yah,” gerutunya.
“Lo pikir, lo itu paling ganteng di sini, hah?”
Dhuagh.
Shereen mengerjapkan mata. Berhenti menyapu dan mulai menajamkan pendengarannya. Apa dia salah dengar? Ada suara gebukan? Ada yang berantem?
“Jangan belagak sok keren di depan para cewek!”
Duagh. Duagh.
Gadis itu menelan ludah. Ternyata bukan hanya para gadis yang suka lebay akan cowok idola mereka atau seseorang yang mereka sukai. Ternyata para cowok juga seperti ini? Shereen merapat, menguping dari balik tembok gudang.
Pukulan-pukulan itu semakin keras, sesekali ada suara ringisan. Shereen ingin membantu, sungguh. Namun apa yang bisa dilakukannya? Seandainya saja guru olahraganya yang galak itu ada di sini...
“Pak Heri!! Di sini, Pak!”
Tap. Tap. Tap.
Shereen berusaha membuat suara-suara seakan ada beberapa orang yang datang bersamanya. Setelah suara pukulan itu terhenti, gadis itu mulai menampakkan diri. Shereen sengaja teriak dengan keras, sambil melambaikan tangan seakan memanggil seseorang, “cepetan, Pak!”
Dia bisa melihat punggung tiga orang lelaki yang berlari menjauhi seorang cowok yang tergeletak mengenaskan. Shereen terkesiap saat menyadari banyak luka lebam di lengannya.
“Astaga,” Shereen melepas sapunya dan menghampiri cowok itu. “Lo gak apa-apa, kan?”
Tidak ada jawaban apapun. Shereen mengguncang pundak cowok itu agak keras, takut-takut kalau cowok itu pingsan. Namun saat ia mendongak, Shereen lebih kaget saat melihat wajahnya.
“Harish... lo kok? Lo berantem?” Shereen membantu Harish untuk duduk dengan nyaman meskipun ia berulang kali merintih sesaat ketika Shereen menyentuh luka pukulannya.
“Pak Heri mana?” gumam Harish.
“Gue bohong,” Shereen nyengir jenaka dan sempat membuat Harish menaikkan sebelah alis. Gadis itu berusaha untuk membantu Harish bangkit, “ayo, obatin dulu luka lo.”
“Gue nggak apa.”
“Nggak apa gimana?! Ayo, ke UKS sekarang!”
Shereen menarik lengan Harish dengan paksa, namun ditahan oleh cowok itu. Ia menggeleng keras. Ujung bibirnya robek dan mengeluarkan darah, membuat Shereen meringis melihatnya.
Dengan senyuman kecil, Harish berucap, “gue nggak mau perpanjang masalah ini.”
Mata Harish seperti meyakinkan Shereen bahwa ia baik-baik saja dan tidak perlu dibawa ke UKS. Karena Harish tau, jika ia ke UKS sama saja dengan mendapatkan introgasi oleh guru. Shereen menyerah, ia duduk di samping Harish. “Yaudah.”
Hening menyelimuti mereka. Hanya terdengar suara daun yang saling bergesekan dan cahaya mentari yang sesekali mengintip dari celah dahan maupun dedaunan. Shereen melirik Harish yang ternyata sedang menutup mata demi menikmati hembusan angin.
“Mereka nyerang elo? Atau, kalian memang berantem?”
Harish mendengus. “Entahlah.”
Mata Shereen tidak lepas dari wajah Harish dengan luka lebam di sana sini. Ia menghela napas, merogoh saku dan mengeluarkan saputangan. Menunjukkan rasa kesal karena ucapan Harish yang tidak peduli, Shereen menekan keras ujung bibir Harish hingga cowok itu meringis.
“Hei, sakit.”
“Tahan,” Shereen masih sibuk mengelap darah di wajah Harish. “Lagian salah sendiri, ngapain coba berantem kayak gitu.”
“Mereka yang mau.”
“Harusnya lo panggil guru.”
Harish menoleh, menatap Shereen dengan lekat. Pergerakan tangan gadis itu terhenti, seakan terhipnotis. “Kalopun gue kasih tau, memangnya mereka bakal peduli, gitu?”
Ada jeda beberapa saat setelah perkataan Harish. Bukan, bukan arti dari kalimat Harish yang membuat Shereen berpikir. Namun entah kenapa, mata Harish yang menatapnya lekat membuatnya terhanyut.
Sampai akhirnya Shereen sadar, ia tidak boleh terpesona sama cowok ini. Dengan sengaja, ia kembali menekan keras luka Harish.
“Aw, sakit, pelan-pelan.” Harish menahan tangan Shereen.
“Bersihin sendiri luka lo,” gumam Shereen sebelum ia benar-benar bangkit.
Dengan langkah lebar, Shereen menjauhi Harish yang hanya diam menatap kepergian gadis itu. Satu yang tidak diketahui Shereen, senyuman kecil tersungging di wajah Harish.