06 : Kemarahan Yang Disepelekan

1358 Kata
Shereen: hei. Harish: ya? Shereen: umm, luka lo gimana? Udah diobatin? Meskipun tadi siang Harish terlihat tidak peduli akan lukanya, namun Shereen tetap khawatir. Shereen berulang kali melirik ponsel, menunggu balasan dari Harish. Tangannya mengetuk-ngetuk meja dengan gelisah, dan itu membuat Arka jengah. “Kamu ngapain, sih, Sayang?” “Ah—oh, enggak kok, Sayang.” Arka menaikkan sebelah alis, tanpa menghentikan kegiatan memotong kecil bagian tenderloin milik Shereen. Gadis itu bahkan sama sekali tidak menyentuh makanan kesukaannya. “Mikirin apa, sih? Penting banget kayaknya.” Shereen menghela napas, mengambil satu potongan kecil dan mulai memasukkannya ke dalam mulut. Gadis itu tersenyum kecil, merasa senang karena seharian ini diperlakukan baik oleh Arka. “Temenku ada yang kena keroyok gitu..,” Shereen mendongak, menatap Arka yang mulai menyantap makanannya. “Tapi dia nggak mau lapor guru.” “Yaudah sih, itu kan, urusan dia.” “Dia temen aku, Sayang. Masa temenku dikeroyok gitu akunya diem aja?” “Dia yang punya masalah nyantai-nyantai aja..,” Arka mengangkat wajah, berhenti mengunyah dan menatap Shereen dalam. “Terus kenapa kamu yang repot?” “Ya... Kan temen.” “Cowok?” “Iya.” Pisau dan garpu di genggaman Arka ia letakkan di atas hotplate. Cowok Shereen itu bertopang dagu, menatap Shereen sembari tersenyum kecil. Bukan senyuman lembut, namun senyum penuh kecurigaan. “Dia cowok yang aku kenal gak, Sayang?” “Enggak, kamu nggak kenal sama dia.” Shereen agak gugup karena tatapan tajam Arka. Dengan gerakan cepat, Shereen membuka ponsel dan memperlihatkan foto profil Harish. “Ini, namanya Harish. Satu kelas sama Tama.” “Oh...” Padahal hanya itu yang terucap dari bibir Arka, tetapi nyatanya berefek buruk pada pikiran Shereen. Ia merasa kecewa karena pacarnya itu sama sekali tidak memperlihatkan kecemburuan. Beberapa saat ada jeda panjang diantara mereka, Arka bangkit dan menuju toilet. Shereen menghela napas, kembali melanjutkan makan. Namun di pertengahan menikmati santapan, suara pesan dari ponsel Arka membuat gadis itu penasaran. Tanpa pikir panjang lagi, ia menjulurkan tangan dan mengambil ponsel Arka. New Message from Sabiya Brunella. Biya? Shereen segera membuka pesannya, yang nyatanya hanya sebatas pertanyaan tentang tugas kelompok mereka yang akan dikumpul dua minggu lagi. Bukan tanpa alasan Shereen mengambil ponsel Arka dan membaca pesan dari Biya. Arka pernah mengaku, Biya adalah gadis yang dulu sempat disukai oleh Arka saat kelas tujuh. Jemari Shereen seperti bergerak sendiri, dengan lincah membuka gallery dan terkesiap. Tangan Shereen bergetar menahan amarah, menggeser satu persatu gambar di gallery Arka. Saking seriusnya, dia tidak menyadari bahwa Arka sudah kembali dari toilet. “Kamar mandinya nggak enak,” gerutu Arka. Shereen terdiam, masih sibuk dengan ponsel Arka. “Kamu lihatin apa, sih?” Dengan perasaan campur aduk, Shereen menjulurkan layar ponsel Arka tepat di hadapan cowok itu. Kening Arka berkerut, tapi dengan santainya ia menyeruput lemon tea sambil memandang layar dan Shereen bergantian. Karena Shereen diam seribu bahasa, Arka angkat bicara. “Kenapa sama foto Biya?” tanya Arka tanpa dosa. “Kamu punya belasan foto dia?” “Oh, iya..,” Arka mengangguk. “Dia bilang kamera aku bagus, makanya dia pinjem buat foto-foto.” Tangan Shereen mengepal tanpa disadari oleh cowok itu. “Itu foto dia sendiri, kan...” “Iya, itu dia sendirian, Sayang.” “Fotoku di hape kamu ada berapa banyak, Sayang?” “Uhm, beberapa...” “Terus kenapa foto dia lebih banyak? Kenapa kamu simpen foto dia?” “Loh, emangnya kenapa?” Arka mengambil ponselnya dengan cepat, lalu tertawa. “Dia kan temen aku.” Apa yang ditertawakan Arka? Apa kemarahan Shereen semacam lelucon untuknya? Wajah tanpa dosa itu, sekarang mengetik pesan balasan untuk Biya tanpa memperhatikan Shereen yang menahan amarah. Shereen menghirup napas dalam, lalu mengeluarkannya agak kasar. Dengan terang-terangan, Shereen melakukan hal itu di hadapan Arka. Memberi sinyal bahwa dirinya marah. Namun, apa yang dilakukan Arka? “Apus foto dia, sekarang.” “Enggak ah,” goda Arka. “Apus. Sekarang.” “Jangan ngambek dong, Sayang,” Arka tertawa dan menyerahkan ponselnya. “Nih, apus sendiri aja deh.” Mata Shereen membulat. Apa dia bilang? Hapus sendiri? Shereen sudah tidak bisa sabar lagi. Dengan kesal, dilemparnya ponsel Arka tepat ke wajahnya. Ponsel yang tidak siap ditangkap itu lantas terjatuh ke lantai dan menimbulkan suara berisik. “Kok dilempar, sih?!” Shereen menatap tajam Arka. “Kamu nyuruh aku buat apus?” “Ini mahal, tau, hape baru...” Tanpa pikir panjang, Shereen bangkit dan meninggalkan Arka yang tengah sibuk membersihkan ponselnya yang terkena kotoran di lantai. Beberapa kali cowok itu memanggil Shereen, namun Shereen mengabaikannya dan memutuskan untuk pulang dengan angkot. •UDHS-1• Kejadian sore tadi di tempat makan masih terekam dengan jelas di benak Shereen. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa Arka bisa-bisanya menyimpan foto gadis lain. Mungkin jika beberapa tidak masalah, tapi yang membuat Shereen murka adalah jumlah foto Biya lebih banyak dibandingkan foto dirinya. Dan yang lebih parah, beberapa diantaranya merupakan foto yang diambil secara diam-diam oleh Arka. Terlihat jelas bahwa foto itu diambil dari jarak jauh. Apa yang dipikirkan Arka sebenarnya? Kenapa dia kayak gitu? :( Shereen menutup matanya dengan lengan setelah menulis status di Twitter. Apa ini artinya Arka sudah tidak memiliki perasaan lagi terhadap Shereen? Apa kini ia harus menyerah? Setelah selama ini mempertahankan? Gue gatau, tanya mbah google aja mending... RT @ShereenMaAina: Kenapa dia kayak gitu? :( Shereen tertawa kecil membaca retweet-an Fallen. @FallenE Mbah google kekurangan informasi kayaknya, deh... dia gak tau, tuh. @SheerenMaAina diumpetin itu sih, atau gak, kurang teliti nyarinya. @FallenE lo kenal banget sama Mbah google, sering copas tugas dari situ ya. @ShereenMaAina dih tau aja, pinter nih Shereen :p @FallenE iya, dong! @ShereenMaAina kenapa, sih? Lagi galau, ya? Shereen menghela napas. Dia mengakui, kedekatan dirinya dengan Fallen semenjak cowok itu menjenguk ayahnya di rumah tempo hari membuat rasa nyaman tercipta. Apalagi di saat hubungannya dan Arka sedang diterpa badai. Kalau boleh teriak, ia ingin sekali memberitahu bahwa dirinya merasa kesepian. Kalau dicuekin seperti ini, lebih baik dia sendiri saja, tidak punya pacar. Tapi, meskipun keinginan terbesarnya adalah putus dari Arka, hati kecilnya selalu berkata ‘tunggu, dia pasti akan berusaha untuk lebih mengerti kamu, dia kan, sayang sama kamu’. Tapi nyatanya, perkataan hatinya belum terbukti sampai sekarang. New message from Fallen Elpida. Dan di saat Shereen membutuhkan seseorang, Fallen datang, memberi kenyamanan pada dirinya. Fallen: ciee ada yang galau... Shereen: tau aja lo, kayak dukun. Fallen: tau lah. Fallen: gue kan pengertian sama lo. Saat SD dulu, Fallen pernah menaruh rasa pada Shereen. Dan sepertinya, saat ini Fallen tengah berusaha untuk masuk ke dalam relung hati Shereen. Shereen sendiri termasuk pribadi yang mudah dekat dengan orang lain, dan hanya dalam beberapa hari Shereen sudah banyak curhat pada Fallen. Shereen: gue capek, Len. Shereen: kenapa sih, dia gak pengertian gitu sama gue? Fallen: harusnya lo ngomong langsung sama dia, jangan diem aja. Shereen: tapi harusnya dia ngerti dong, dia kan udah gede, bukan anak kecil lagi. Fallen: kalo lo gak jelasin, dia gak akan ngerti, Shereen. Fallen: dia tipe cowok yang gak-peduli-sekitar. Fallen: hanya peduli sama kesenangan dirinya sendiri. Shereen: gue sayang sama dia, Len. Tak ada balasan dari Fallen. Cowok itu hanya read pesan terakhir Shereen. Lebih baik seperti ini. Ia tidak mau otaknya menuruti kemauan orang-orang yang mengharapkan dia untuk putus dengan Arka. Tidak akan. Shereen tidak akan putus dengan Arka. Fallen: minggu jalan, yuk. Temen gue ada yang ulang tahun. Shereen menimang ponselnya beberapa saat. Untuk kedua kalinya, ia diajak jalan oleh Fallen. Apakah sekarang Shereen harus menerima ajakan ini? Baru saja dia akan membalas pesan Fallen, satu pesan baru dari Harish masuk. Harish: udah diobatin, kok. Harish: sorry baru bales. Lo udah tidur, ya? Shereen: gak masalah. Shereen: gue belum tidur, kok. Shereen: Lo juga, kok belum tidur? Tak ada balasan lagi dari Harish. Setelah sepuluh menit berpikir, akhirnya ia memutuskan untuk menerima ajakan Fallen. Toh, Arka juga sepertinya tidak peduli akan keadaan Shereen. Jadi, kenapa Shereen harus mempedulikan Arka? Harish: iya, lagi ngerjain tugas fisika. Harish: kelas lo disuruh ngerjain soal di bab 3, gak? Shereen: iya. Beberapa udah gue selesein, sih. Harish: wih keren. Ajarin, dong. “Harish ternyata cerewet juga. Padahal kalo ketemu harus dipancing dulu kayak ikan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN