“Linaaaaaaaaaaa!” geram Acha lirih.
Rasanya memijat dahinya tidak akan menghilangkan sakit kepala yang datang mendadak ini. Tidak disangka asisten barunya bisa seceroboh ini. Salah Acha juga yang lupa kalau Lina belum selihai Dini, asisten pribadinya yang dulu. Kalau dulu, tanpa diingatkan pun Dini akan langsung bertindak secara rapi. Dan Acha yang sudah terbiasa jadi tidak begitu mengurusi hal-hal kecil seperti itu.
“Lalu bagaimana, Pak? Apa kita sudah ketahuan?” tanya Acha pada Ryo.
“Hm... Untungnya saat berita itu diunggah, saya dan anak buah saya sudah ada rencana cadangan. Karena itulah kami tahu lebih dulu tentang ‘kelalaian’ asisten anda ini.” jelas Ryo dengan menekankan kata ‘kelalaian’.
“Kemudian, kami juga minta maaf karena tanpa seizin Mbak Acha, kami telah meretas jaringan komputer di apartmen Mbak Acha. Tujuan kami adalah agar jejak dari ‘kelalaian’ asisten anda tidak terdeteksi barang secuilpun.” Lanjutnya lagi.
Kini Acha bisa sedikit bernapas lega. Dia pikir karirnya akan berakhir dalam waktu dekat. Padahal saat ini dia sedang berada di puncak. Sayang sekali kalau hal itu benar-benar terjadi. Apalagi kalau ternyata bisnis gelapnya ketahuan. Mungkin tidak hanya karir, keberlangsungan hidupnya juga bisa terancam.
Tetapi, karena hal ini Acha jadi berpikir, bahwa dia tidak boleh macam-macam dengan kliennya saat ini. Jangankan kliennya, sekretaris dari kliennya saja semengerikan ini. Acha yakin sekali komputer dan jaringan internet di rumahnya sudah amat sangat aman. Bagaimana bisa Ryo dan anak buahnya membobolnya dengan mudah? Lalu, kira-kira bagaimana kemampuan Dariel yang seharusnya memiliki kekuatan pengaruh yang hampir sama dengan Sarah?
Acha menggigit bibir bawahnya karena resah. Selama ini dia cukup aman karena yang dihadapinya selevel middle boss kalau dalam game. Tapi, sepertinya saat ini dia sedang akan menghadapi Raja Iblis.
“Mau gimana lagi? Toh ini juga terpaksa.” Acha pasrah.
Setelah urusannya hari ini selesai, dia bertekad akan memperbaiki sistem keamanan di apartmennya. Biarpun Ryo meretas apartmennya dengan terpaksa, bukan berarti Acha akan terus membiarkan ada orang lain yang mengusik privasinya.
“Dan kamu Lin... bonus bulan ini dipotong.” ancam Acha pada Lina.
Pundak Lina turun seketika, entah karena lega atau kecewa. Lega karena dia masih bisa bekerja dan tentunya kecewa karena bonus bulan ini hangus begitu saja. Padahal Acha menjanjikan bonus dua kali lipat gajinya jika kerjaannya bagus.
“Saya benar-benar minta maaf. Saya janji gak akan ulangi lagi.” Ucap Lina.
Tidak ada tanggapan dari Ryo selain senyum sinis dan meremehkan yang ditujukan pada Lina.
“Ya sudah. Yang penting ini jadi pelajaran buat kamu supaya gak lagi-lagi teledor.” Kata Acha sambil menepuk pundak Lina.
Lina mengangguk. Berdasarkan surat perjanjian kerja, memang seharusnya ini tidak menjadi kewajibannya. Tetapi, Lina terlanjur terlibat. Mau tak mau dia harus lanjut. Apalagi melihat kejadian hari ini, sepertinya semakin sulit untuk Lina lepas dari lubang kelinci ini.
*
Begitu Ryo pergi, Acha dan Lina pun melangkahkan kaki menuju lantai tiga. Lina yang masih semangat saat baru sampai di gedung ini, kini berjalan dengan lunglai. Dia masih tidak rela bonusnya melayang walau hanya sebagian.
“Lin, aku tuh kepikiran, deh.” Kata Acha tiba-tiba.
Dengan lesu Lina menengok ke arah Acha.
“Kalau Pak Ryo bisa segitu gampangnya meretas komputerku, ngapain dia nyari kita di sini coba? Kan kalau mau hapus foto di hape kamu juga tinggal japri kamu atau aku gitu. Atau langsung hack hape kamu aja.”
Lina memiringkan kepalanya, lalu menjawab, “Mungkin dia gak bisa nge-hack hape. Terus gak bisa japri soalnya pengin marahin aku sekalian.”
Mulut Acha menganga tak percaya. Lagi-lagi ide itu muncul di kepalanya.
“Maksudnya dia sengaja biar ketemu kamu gitu, Lin? Uhuuuuyyy!” serunya.
“Uhuy apaan sih, Kak? Dimarahin kok uhuy?!” tolak Lina.
“Ga usah shy shy cat gitu lah, Lin. Aku tahu kok kalian ada apa-apa, cuma belum kecantol aja.” Acha semakin menyerang Lina.
“Ya gusti... tabahkan lah... Ada apa-apa apanya? Kok Kak Acha kepikiran kayak gitu, sih?” sanggah Lina lagi.
“Ih, aku tahu kok tipenya kamu. Pak Ryo kan kayak oppa Korea yang sering kamu tonton. Putih, punya darah Asia Timur, badan oke, tinggi....”
“Kak, dia itu bukan tinggi, tapi tiang listrik! Gede banget! Badan tinggi yang bagus tuh yang kayak Kak Dariel!” seru Lina.
"Kamu body shaming tuh!" Tegur Acha.
Mereka berdua kini berada di depan elevator dan masuk bersama dua orang lainnya. Terpaksa obrolan mereka harus diredam.
“Sshh!!” Acha menaruh jari telunjuk ke depan bibirnya.
“Lagian nih, ya. Kakak gak mikir kalau Pak Ryo itu sus banget?” bisik Lina.
“Sus?” ulang Acha karena tidak paham dengan istilah yang dipakai Lina.
“Suspicious. Mencurigakan. Gimana ceritanya dia bisa tahu kalau kita ada di sini? Kita kan gak kasih tau dia!” Lina masih berbisik.
“Ih, iya juga ya. Kok sus banget?” Acha menanggapi.
Pintu elevator pun terbuka. Kini mereka tinggal belok dan berjalan beberapa langkah.
Saat mereka masuk ke dalam ruang meeting tempat mereka janjian, di sana sudah ada beberapa orang yang hadir. Beberapa di antaranya adalah sutradara sinetron ini, Juwono Salim dan aktor utama drama ini, Rake Gurunwangi. Lalu ada sekitar dua puluh staf yang berlalu lalang.
“Selamat pagi semuanya!” Sapa Acha dengan ceria.
“Wueeiiisss! Mak Lampirnya udah dateng!” seru Juwono Salim sambil bertepuk tangan. Tentunya Acha tahu bahwa pria ini hanya bercanda saat mengatainya Mak Lampir.
“Ya Tuhan... orang baru datang udah dikatai Mak Lampir.” Sungut Acha sebal.
Ruang meeting tempat mereka berada saat ini adalah ruang rapat melingkar dengan meja elips besar di tengah dan kursi yang mengelilinginya. Acha duduk di sebelah Rake, sedangkan Lina duduk di kursi untuk kru di belakangnya.
“Iya, lah! Kalo lo gak kayak Mak Lampir, sinetron di PH ini jadi B aja.” kata Juwono lagi.
“Anda tuh ngejek apa muji yang jelas ngapa, Pak!” balas Acha pada pria berusia tiga puluhan itu.
“Hahahaha! Gue tuh muji lo lah... My Best Evil Friend Ever!” tegasnya yang membuat bibir Acha semakin maju saking sebalnya.
“Hisss... untung temen!” omel Acha.
Juwono tertawa semakin keras dan entah kenapa tawanya membuat orang lain ikut terkikik. Begitulah Juwono, sutradara yang cukup senior dan salah satu yang paling diakui di negeri ini walaupun usianya belum terlalu tua. Walau begitu, dia dan Acha adalah teman yang cukup akrab dan mengakui kemampuan sandiwara Acha yang sebenarnya tidak memiliki basic sekolah acting. Bahkan dia pernah bilang kalau dia tidak mau membuat drama percintaan kalau Acha Juniatha tidak ditawari. Karena itulah Acha yang awalnya hanya coba-coba ber-acting, kini jadi benar-benar terjun ke sana.
Dalam sinetron kali ini, Acha mendapatkan peran antagonis. Makanya Juwono dengan santainya mengatai Acha dengan sebutan ‘Mak Lampir’. Karena Acha harus jadi orang yang sangat menyebalkan di sinetron ini.
“Omong-omong bidadari kita mana?” tanya Acha.
“Lagi di toilet. Paling bentar lagi balik.” Jawab Rake yang sedari tadi diam-diam menyimak candaan Acha dan Juwono.
Dan betul saja. Orang yang Acha sebut ‘bidadari’ benar-benar kembali dari toilet. Dia masuk dengan seorang perempuan muda yang tak lain adalah asistennya.
“Achaaaa!!!” serunya senang sambil berlari-lari kecil dan memeluk Acha saat melihatnya.
“Aika-chwaaaan!!” Acha tak kalah senang, lalu balas memeluknya.