Sarah menutup teleponnya dengan Acha. Rautnya yang semakin tenang membuat Dariel lega. Setelah menyimpan ponselnya di saku, Sarah pun berdiri.
“Udah lah. Mama mau mandi, lalu berangkat ke kantor. Kamu juga sebaiknya siap-siap berangkat, Riel.” Ucap Sarah.
Kemudian, Sarah pun meninggalkan ruang keluarga itu untuk menuju kamarnya lagi. Akan tetapi, sebelum dia benar-benar pergi, Sarah berpesan pada puteranya, “Kamu nanti bablas aja. Ga usah ngomong apa-apa. Oke?”
“Oke, Ma. Lagian berita kayak gitu juga cepet ilangnya, kok. Tanpa aku harus ngapa-ngapain.” Jawab Dariel.
“Hm... nice.” Begitu Sarah mengatakannya, dia pergi.
Beberapa detik setelah Sarah pergi, Dariel juga kembali masuk ke kamarnya. Dia harus bersiap untuk berangkat ke kantor saat ini juga. Walaupun dia adalah salah satu orang dengan jabatan tinggi di perusahaan milik keluarganya sendiri, memberi contoh yang baik dengan tidak terlambat adalah keharusan.
Selama dia bersiap-siap, ada sebuah rasa penasaran yang mengusik pikirannya. Ini adalah tentang sang mama yang belakangan agak berubah. Dia paham betul bagaimana mamanya bersikap pada orang lain. Terutama pada perempuan muda.
Bukan berarti Sarah adalah orang yang jahat pada orang lain dan semena-mena. Yang selama ini Dariel tahu, selain padanya, mamanya susah sekali bersikap lunak. Misalnya saja pada saat Dariel memperkenalkan Melati pada Sarah beberapa saat lalu. Pada awalnya Sarah hanya bersikap dingin seperti biasanya, tetapi esok harinya Sarah terang-terangan menolak Melati dan meminta Dariel untuk putus darinya.
Dariel berpikir, mungkinkah ada yang berbeda dengan Acha sampai mamanya bisa selunak itu? Mamanya berkata bahwa Acha adalah anak dari temannya, tapi siapa? Dariel sama sekali tidak ingat mamanya punya teman yang cukup akrab sampai bisa kenal dengan anaknya. Dariel pikir, dia harus menyelidiki ini dari pada dia terus merasa penasaran.
Tanpa buang waktu, sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk di kepalanya, Dariel mengambil ponsel pintar di nakas dan menghubungi sekretaris pribadinya. Tak lama kemudian, telepon tersambung dan terdengar suara sapaan.
“Selamat pagi, Pak?”
“Pagi, Hans. Saya mau minta tolong kamu selidiki satu orang. Dia artis namanya Acha Juniatha. Tolong kamu selidiki sedalam-dalamnya dan secepatnya, kalau bisa sore ini sudah ada di meja saya.” Perintahnya.
“Baik, Pak.” Sahut lelaki yang dipanggil Hans itu.
“Oh... Sama satu lagi.” Dariel menyingkirkan handuk yang tadi dipakainya, lalu melanjutkan kalimatnya, “Tolong kamu juga selidiki siapa dalang dari gosip saya dan Acha Juniatha ini. Dan hentikan peredarannya.”
“Baik, Pak. Saya akan segera melaporkannya pada bapak secepatnya.” Sahut Hans lagi.
Obrolan mereka pun Dariel tutup dan dia kembali fokus bersiap untuk ke kantor. Segera setelah Dariel berganti baju dan merapikan diri, ia menuju garasi untuk mengambil mobilnya. Sang mama, seperti biasanya berangkat lebih dulu darinya.
Menuruti perkataan Sarah, begitu gerbang dibuka Dariel sama sekali tidak menggubris wartawan yang menghadang mobilnya. Bahkan dia sengaja tidak menyetir pelan-pelan agar mereka menghindar sendiri supaya tidak tertabrak.
*
Sementara itu, begitu urusan dengan atasannya selesai, Acha dan Lina pergi menuju sebuah kantor rumah produksi film. Hari ini adalah jadwal Acha untuk rapat dan script reading sinetron terbarunya yang akan tayang di platform streaming online dan stasiun Tv lokal.
Sesampainya di sana, mereka memarkirkan mobil mereka. Sebelum menuju ruangan yang dituju, terlebih dulu mereka pergi ke cafe. Kafe itu masih berada di gedung yang sama dengan rumah produksi bernama PavoliArt Film ini. Sengaja Acha ke sana untuk memesan beberapa kopi yang akan diberikan kepada kru dan pemain yang akan terlibat nanti. Beruntung antriannya tidak begitu panjang, sehingga Acha dan Lina bisa segera memesan.
“Mbak, bisa diantar kan nanti? Saya mau pesan agak banyak soalnya.” Kata Lina.
“Bisa, Kak? Mau pesan apa saja, kak? Dan jumlah berapa?” tanya pelayan kafe.
“Hm... berhubung saya juga kurang tahu berapa orang nantinya. Nanti bawa snacknya aja dulu. Donatnya mix aja, terus kukis coklat yang ini juga masing-masing 100 buah kayaknya cukup kan, Kak Acha?” Lina meminta persetujuan Acha.
“Iya. Gitu aja. Kalau kurang, nanti pesan lagi.” Respon Acha.
“Ok. Nanti tolong bawa ke ruang meeting lantai tiga segera, ya. Terus baru kami pesan minumannya.” Kata Lina pada pelayan itu lagi.
Pelayan wanita itu mencatat pesanan Lina dan Acha, lalu mengulang kembali perkataan mereka, “Donat mix rasa 100 buah, lalu kukis coklat 100 bungkus diantar ke ruang meeting lantai tiga ya, Kak. Akan segera kami proses. Atas nama siapa, Kak?”
“Atas nama Acha Juniatha.” Sahut Lina.
“Total sementara Rp x.xxx.xxx. Untuk pembayaran di muka ya, Kak?”
Lina lalu membuka aplikasi pembayarannya dan mengetik sejumlah yang disebutkan pelayan itu dan me-scan code QR yang terpasang di belakang monitor kasir.
“Sudah kami bayar ya, Kak. Untuk minumannya bagaimana ya, Kak?”
“Nanti bisa kami bawakan code QR nya, Kak.” Jawab pelayan itu.
“Ok. Makasih, ya.” Ucap Lina.
Dia lalu menyimpan ponselnya kembali dan berbalik. Tetapi, saat itu juga dari kejauhan dia melihat pria yang beberapa hari ini membuatnya alergi dan takut. Ryo.
Ryo sepertinya sadar akan keberadaan Acha dan Lina. Pria yang tingginya hampir dua meter itu berjalan dengan langkah cepat menuju tempat mereka berdiri.
“Pak Ryo.” sapa Acha.
“Selamat pagi, Mbak.” Ryo menyapa balik.
“Pak Ryo kok bisa ada di sini? Ada urusan pekerjaan?” tanya Acha.
“Iya. Saya ada urusan dengan asisten Anda. Haaah... “ jawabnya yang diakhiri dengan dengusan kasar.
Acha mengerutkan dahinya bingung. Dia tidak tahu kalau mereka seakrab itu sampai Ryo bisa terang-terangan bilang kalau dia ada urusan dengan Lina. Dan seketika otaknya menangkap maksud yang sepertinya Ryo maksud.
“Kalau begitu saya duluan, ya.” Ucap Acha.
Lina meraih ujung jaket Acha. Terlihat dengan jelas dari raut wajahnya bahwa Lina sedang ketakutan dan tangannya gemetaran. Mulutnya juga memberi kode agar Acha tidak pergi.
“Tidak usah, Mbak. Ini juga ada hubungannya sama Mbak Acha.” Ujar Ryo.
“Sebaiknya kita duduk di tempat yang agak sepi. Supaya saya bisa bebas memberi pelajaran pada asisten Anda ini.” lanjutnya.
Acha mendadak cengo. Sepertinya tebakan dia salah. Dan Lina yang mendengar kalimat ‘memberi pelajaran’ dari mulut Ryo juga semakin ketakutan. Entah apa yang sudah dia perbuat sampai pria ini bisa marah padanya. Padahal Lina sudah bertekad keras tidak akan macam-macam.
Mereka pun mengikuti langkah Ryo menuju ke sudut cafe yang masih kosong dan sepi. Sepanjang langkah, tangan Lina masih memegang ujung jaket Acha.
“Silakan duduk.” Pinta Ryo dengan nada dingin.
Acha dan Lina duduk bersebelahan, sementara Ryo duduk di kursi depan mereka.
“Hape kamu sini! Buka password-nya!” kali ini Ryo berkata lebih tegas sambil salah satu tangannya menengadah pada Lina.
Lina pun menyerahkan ponselnya dan langsung direbut oleh Ryo. Pria itu membuka galeri foto Lina dan mescrollnya untuk mencari foto. Setelah menemukan foto yang diunggah di akun gosip oleh Lina, Ryo pun segera menghapusnya.
‘Brak!!’
Dengan kasar Ryo menaruh ponsel Lina di atas meja. Suaranya yang keras cukup membuat kaget Acha dan Lina.
“Bisa-bisanya Anda seceroboh ini! Kalau kerja itu jangan setengah-setengah!” amuk Ryo dengan nada dingin pada Lina.
“Mbak Acha juga sebaiknya awasi benar-benar pekerjaan asisten Mbak Acha kalau masih ingin melanjutkan pekerjaan ini. Mbak Acha tahu, orang ini tidak menghapus jejak digitalnya saat mengirim artikel?”
Mendengar penjelasan Ryo, Acha melotot pada Lina.
“Linaaaaaaaaaaaaaaaa!!” pekiknya dengan volume yang tak terlalu tinggi. Namun dengan itu saja Lina bisa paham bahwa Acha sedang kesal padanya.