Chapter XI

1344 Kata
    Penampilan Acha hari ini agak spesial. Dia yang biasanya berpakaian rapi dan modis, kini hanya mengenakan setelan jersey hitam, topi, masker, dan kacamata hitam. Lina yang berjalan di sampingnya juga kurang lebih berpenampilan sama dengannya, hanya minus kacamata hitam.     Sebetulnya sampai saat ini Lina masih ingin tidur. Rasa kantuknya belum juga hilang karena baru tidur selama tiga jam. Semalam sampai subuh tadi, dia begadang untuk menyelesaikan artikel gosip dan menyebarkan foto-foto Acha dan Dariel yang diambilnya diam-diam kemarin. Dia sama sekali tidak jago dalam hal tulis menulis, apalagi menulis gosip dan menyebarkannya pada yang lebih jago. Karena itulah dia memakan waktu yang cukup lama.     Pagi hari sekitar pukul 6 Acha sampai harus membangunkannya yang ketiduran di sofa. Sebenarnya kalau boleh, dia ingin sekali menolaknya. Tetapi, pada saat yang hampir bersamaan pimpinan agensi tempatnya bekerja menyuruh mereka datang ke kantor.     Sekarang mereka berdua turun dari lantai 6 melalui elevator menuju parkiran bawah.     “Kita lebay banget gak sih, Kak?” tanya Lina sambil memencet tombol turun dan lantai tujuan mereka.     “Emang.” Jawab Acha enteng     “Terus kenapa kita pake baju lebay kayak gini? Dan kenapa aku juga ikutan? Kayaknya aku gak perlu gini juga, deh.” Gerutu Lina.     “Kamu gak tahu fungsinya style kayak gini buat para celeb?” Acha memberi kuis.     “Tahu, donk! Buat nutupin identitas kalau lagi di luar.” Tebak Lina.     “Ckckck... salah.”     Lina mengerutkan dahinya karena bingung.     “Kalau pakai kayak gini, justru bakal ketahuan kalau kita celeb. Celeb popular kayak aku tuh gak bisa nyembunyiin identitas dengan gini aja.” Jelas Acha.     “Terus kita ngapain pakai kayak gini?”     Pintu elevator terbuka sebelum Lina mendapat jawaban dari pertanyaannya.     “Buat gaya lah! Habis ini kamu buka masker tinggal bilang, ‘mohon maaf, mohon tunggu konfirmasi dari agensi kami. No Comment dulu, ya.’ Ok?” perintah Acha yang membuat Lina semakin bingung.     Begitu mereka melangkah keluar dari elevator, sekelompok wartawan dari berbagai stasiun televisi langsung menghampiri mereka. Dengan sigap Lina menghalau para wartawan itu. Seorang petugas keamanan juga ikut membantu Lina untuk melindungi Acha.     “Apa betul berita di internet itu, Mbak?”     “Sejak kapan kalian saling mengenal?”     “Apakah hubungan kalian sudah mendapat restu dari Ibu Sarah?”     “Sudah sejauh apa hubungan kalian?”     Berbagai pertanyaan mereka memberondong Acha demi mendapatkan kebenaran dari berita itu. Kemudian, sesuai arahan Acha, Lina menjawab, “Mohon maaf. Mohon tunggu konfirmasi dari agensi kami. Saat ini kami no comment dulu.”     Beruntung lokasi mobil mereka tidak terlalu jauh. Mereka pun masuk mobil begitu mengucapkan terima kasih kepada petugas keamanan yang membantu mereka.     Tanpa berpanjang-panjang lagi, Lina langsung menstarter mobil bermodel SUV itu menuju jalanan ibu kota yang cukup padat pagi itu. Tujuan mereka saat ini adalah kantor agensi Acha, Big5 Entertainment, yang berjarak sekitar empat puluh menit dari tempat tinggal mereka.     “Aku masih bingung tau, Kak. Kenapa kita gak langsung bilang ‘nggak’ atau ‘ya’ aja ke mereka? Tapi malah bilang ‘no comment’.”     Merasa sudah aman, Acha melepas topi, masker dan kacamatanya.     “Gini, deh. Kalau kita bilang ‘yes’, Dariel bakal mikir apa soal aku?” lagi-lagi Acha memberi kuis.     “Hm... ‘Wah... maksudnya apa nih orang? Sengaja bikin sensasi. Mau pansos?’ gitu, Kak?”     Acha menjentikan jarinya, “Nah, tuh tau! Terus kalau kita bilang ‘no’, kira-kira apa yang bakal terjadi?”     “Hm... gak mungkin beritanya bakal langsung hilang, sih. Pasti masih bakal ada yang nanyain lagi.” Lina mulai paham.     “Nah, kalau ‘no’ jadi ‘no comment’?”     Lina berpikir sedikit lebih keras, lalu menebak, “Kalau aku sih, bakal mikir... kalau ada sesuatu yang disembunyiin. Tapi, bukannya itu sama aja kayak kakak bilang ‘iya’ ya?”     “Yes, makanya dari sini aku bakal bilang ke Tante Sarah.”     Acha mengutak-atik ponsel pintarnya menelusuri kontak yang tersimpan. Setelah menemukan nomor Sarah, Acha menekan logo telepon yang ada di bawahnya. Dia juga menyalakan loud speaker. Tak perlu berlama-lama, Sarah yang saat itu sedang bersama Dariel langsung mengangkat telepon itu.     “Halo, Tante.” Sapa Acha.     “Halo, Cha. Gimana ya?” tanya Sarah dari seberang sana.     Dariel yang ada di samping Sarah memperhatikan sang mama yang tersenyum saat menerima telpon itu.     “Gini, Tante. Saya mau minta maaf soal pemberitaan tadi.” Ucap Acha penuh penyesalan.     “Gapapa. Salah tante juga ninggalin kalian kemarin.”     “Terus gini, Tan... sebenernya...” Acha terdengar ragu-ragu.     “Gimana, Cha. Ngomong aja. Ga usah sungkan.”     “Sebenernya tadi kan ada wartawan di apartmennya Acha. Nah, tadi Lina bilang ke wartawan ‘no comment’...”     Lina melotot ke arah Acha. Tak disangka Acha tega mengambinghitamkan dirinya.     “Tapi, jangan salahin Lina ya, Tan. Soalnya dia bilang gitu takut saya ngomong soal kerja sama kita. Bukannya kita belum boleh publikasi soal saya jadi brand ambassador Hbeauty?” alasannya.     “Ya sudah. Nanti tante bicarakan sama agensi kamu soal ini. Kamu tenang aja ya, Darling.”     “Iya, Tante. Makasi, Tan.”     “Sama-sama.”     Setelah itu Sarah menutup telfonnya cepat. Agak mengagetkan, tapi Acha hanya menganggapnya sambil lalu.     “Kak Acha kok korbanin aku, sih?!” Lina sewot.     “Makanya aku tuh butuh kamu, Lin...” kata Acha sambil memasukkan ponsel ke dalam saku.     “Buat jadi kambing hitam?” sungut Lina.     Acha menjulurkan lidahnya tak peduli.     “Nah, dengan begini, otomatis info bahwa aku jadi brand ambassador dari produk kosmetik paling digemari oleh wanita di negeri ini bakal jadi lebih cepat muncul. Lalu, gosip juga akan mereda, tapi cuma untuk sementara. Karena setelah ini drama mesra-mesraannya baru dimulai. HAHAHAHAHAHAHAHAHA”     Sungguh tak habis pikir. Rasanya hampir kehabisan kata-kata Lina menanggapi kelakuan artis yang diampunya itu. Lina sampai merasa bahwa Acha salah makan, padahal mereka hampir selalu makan makanan yang sama. *     Sesampainya di kantor Big5 Entertainment, mereka berdua langsung menuju ruang CEO. Di sana mereka disambut dengan muka masam Vino Gunawan, pemilik sekaligus CEO dari perusahaan hiburan yang telah berdiri belasan tahun ini.     Dia yang tadinya duduk di kursi kebesarannya, berdiri sambil melipat tangannya di d**a saat melihat kehadiran Acha dan Lina.     “Duduk!” perintah pria berusia empat puluhan itu. Dengan pergerakan matanya, pria itu menyuruh Acha dan Lina untuk duduk di sofa ruangannya.     Mereka berdua pun menurut dan duduk.     “Achaaa... kamu itu yaaa iiiiih... ini lagi si anak baru ikutan rese!” geram pria yang gayanya memang agak gemulai itu.     “Tau gak, tadi Bu Sarah bilang biar cepet-cepet ngurusin kerja sama kita sama mereka!” pria itu mulai bercerita.     “Ya bagus, dong. Jadi, duit cepet mengalir ke kita.” Tanggap Acha.     Vino mendengus kasar. Tangannya memijat-mijat dahinya menunjukkan betapa pusing kepalanya.     “Kan dulu saya bilang, kita masih perlu diskusi. Kenapa kamu seenaknya gitu, sih!? Saya kan sudah bilang kalau kita akan memberi kesempatan untuk model baru!”     Kali ini Acha yang mendengus kasar. Dia tahu betul alasan pria ini yang sebenarnya. Dan alasan itu lah yang membuatnya bergerak cepat merebut pekerjaan ini. Memberi kesempatan apanya? Kalau dia sudah tak butuh, dia bisa saja dengan membongkar kebusukan pria di depannya ini. Hanya, dia harus sabar untuk sementara ini.     Dua puluh menit lamanya Vino memarahi mereka hanya karena hal kecil seperti ini. Padahal, siapapun model yang akan mereka kirim ujung-ujungnya Big5. juga yang akan untung. Lagi pula dari pihak sana pun terang-terangan agar mengirim Acha saja.     “Ya sudah! Anggap saja saya yang salah karena udah PHP-in yang lain! Sekarang kalian lanjutkan jadwal kalian hari ini. Awas kalau macam-macam lagi!”     Lina pun bernapas lega. Selama tiga bulan ini, belum pernah sekali pun dia dimarahi. Untung sekalinya dimarahi, bukan hanya dia yang kena.     “Baik, Pak. Selamat siang. Maaf sudah mengganggu.” Ucap Acha yang kemudian langsung membalikkan badan dan keluar ruangan.     Tidak disangka, di pintu keluar mereka bertemu dengan Melati.     “Hai, Mel!” sapa Acha ramah.     Sayangnya, lawan bicaranya sepertinya agak enggan hari ini. Dia hanya melirik Acha sebentar dan menundukkan kepalanya, lalu masuk begitu saja ke dalam ruangan CEO.     Melihat itu, Acha hanya diam membuang napasnya pelan. Dan dalam diamnya itu, sebuah senyum tipis tersungging.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN