Chapter XV

1275 Kata
    Melati menutup pintu ruangan Dariel dan menghampiri pria itu. Dengan mesra dipeluknya Dariel yang masih duduk di kursinya dari belakang.     “Kamu kok gak bilang kalau mau ke sini?” tanya Dariel. Tangannya menyentuh lengan Melati yang melingkar di lehernya.     “Pengin surprise aja. Habisnya hari ini kerjaanku juga udah selesai.” Jawab Melati.     Bibirnya mengecup kepala Dariel cukup lama. Melati sangat menyukai aroma rambut Dariel. Walaupun tidak sedikit pria yang menggunakan shampo yang sama dengan Dariel, Melati merasa ada yang spesial dari aroma rambut kekasihnya itu. Dariel sendiri menyukai tingkah laku Melati yang membuatnya merasa bahwa mereka memang sepasang kekasih.     “Kamu masih sibuk, ya? Aku ganggu gak?” tanya Melati menghentikan kecupannya.     Dariel menggeleng, lalu menengadahkan kepalanya agar bisa menatap Melati.     “Kapan sih kamu ganggu? Masih agak lama, sih. Gapapa kamu nungguin?” Dariel balik bertanya.     “Santai aja, Sayang. Lagian emang aku gabut banget.” Jawab Melati.     Mata Melati tertuju pada layar komputer di depannya. Dia penasaran dengan hal yang sedang Dariel kerjakan. Tatapannya terpaku saat melihat foto Acha di layar itu.     “Kok ada Kak Acha?”     Melati menunjuk ke layar di mana foto Acha terpampang di sana.     “Hm... Itu loh, Sayang. Kan dia sekarang bakal jadi brand ambassador produk kita. Jadi, aku mau liat profilenya dia. Takutnya nanti kita salah treatment ke dia. Kan gimanapun dia itu selebriti, ada salah dikit nanti pecahnya kemana-mana.” Jelas Dariel.     Entah apa yang membuat Dariel seolah menutupi tujuannya menyelidiki Acha. Mulutnya bergerak dengan sendiri memberikan alasan-alasan itu pada Melati. Padahal jika dia mengatakan hal yang sebenarnya pun sepertinya tidak akan ada masalah.     Melati nampak manggut-manggut paham. Tetapi mulutnya yang agak maju memperlihatkan betapa sebalnya dia saat ini.     “Aku pikir kamu tertarik sama dia. Mana tadi pagi ada gosip segala.” Keluh Melati.     Dariel menarik salah satu lengan Melati, lalu menuntunnya agar duduk di pangkuannya. Kemudian, Dariel memeluk gadis itu dari belakang erat. Dagunya ia sandarkan di bahu kecil gadis itu.     “Kamu cemburu, ya? Hm?” tanya Dariel.     “Pede banget kamu.” Sungut Melati.     “Ih, gitu aja marah. Aku tuh cuma lagi inspeksi aja di mall sama mama. Terus ketemu sama dia.” Ujar Dariel sambil mencubit hidung Melati gemas.     “Isshhh!! Lagian, kamu gak mau hubungan kita di-publish, sih. Makanya muncul gosip gak jelas begini.” Keluh Melati lagi.     Dariel menarik napas panjang, lalu menghebuskannya. Agak bosan juga dia menjelaskan ini pada Melati.     “Kamu kan tahu kalau Mamaku ga setuju dengan hubungan kita. Aku gak mau kamu kenapa-napa, Sayang. Aku juga masih terus ngasih mama pengertian supaya mama mau merestui kita. Dan bukannya gak baik kalau artis baru diberitain pacaran?” Ucap Dariel.     Melati memutar bola matanya.     “Yah... mau gimana lagi. Kita cuma bisa berharap Tante Sarah mau mbuka hatinya buat aku.” Kata Melati.     Gadis berparas manis itu lalu berdiri dari pangkuan Dariel, lalu berjalan menuju sofa yang ada di ruangan itu.     “Udah lah. Kamu lanjut kerja lagi aja, Sayang. Biar cepet selesai, terus kita jalan. Gimana?” ajak Melati.     Dariel bersyukur dia tidak jadi berdebat dengan Melati perihal masalah ini. Laki-laki itu lalu mengangguk mengiyakan ajakan gadis yang sudah menjadi kekasihnya selama dua tahun itu. *     Udara dingin begitu menyiksa petang ini. Kebanyakan orang akan memilih menghangatkan diri di rumahnya masing-masing, sembari bersantai menonton televisi atau mengerjakan PR bagi mereka yang masih berstatus pelajar. Tetapi bagi para pekerja di dunia hiburan, itu bukanlah sebuah pilihan, tetapi sebuah impian yang sulit dicapai kecuali mereka tak lagi mencari pundi-pundi uang dari pekerjaan ini.     Pemotretan malam ini dinyatakan selesai. Acha pun turun dari atas batu besar tempatnya bergaya tadi. Dengan sigap Lina memakaikan coat pada Acha. Tak lupa ia memberikan obat alergi dan air agar Acha tak mengalami gatal-gatal karena alergi dinginnya.     “Makasih, Lin.” Ucap Acha pada Lina.     “Sama-sama.” Jawab Lina.     Dengan sekali teguk Acha meminum obat itu.     “Gue pikir cewek kayak lo gak perlu obat alergi. Kan percuma aja, orang tiap hari kegatelan. Pffftt...” Seorang perempuan berambut sebahu mendekat dan berdiri di depan Acha dan Lina.     Acha reflek memutar bola matanya. Entah apa mau Ghea sebenarnya. Rasa-rasanya orang ini selalu mencoba mencari masalah dengan Acha.     “Ghe.... bukan. Nona Ghea.” Acha melipat lengannya di depan d**a.     “Kebetulan ayah saya dokter obgyn. Saya akan bilang ke ayah untuk memberi Anda diskon jika Anda datang hari ini.”     Ghea tertawa sinis.     “Lu pamer punya ayah dokter? Cuih! Kakek gue punya rumah sakit, gue diem aja.”     Sungguh. Ketimbang marah karena tersulut ucapan Ghea, saat ini Acha dan Lina sangat ingin tertawa terbahak-bahak. Mereka tak menyangka di dunia ini ada orang semengenaskan Ghea.     “Pfft... ya bagus, lah. Kalau begitu tolong periksa siklus haid Anda. Karena sepertinya Anda mengalami PMS setiap hari. Fffft.” Ujar Acha menahan tawa.     Daripada berlama-lama di sini, Acha memilih pergi meninggalkan lokasi. Sambil berjalan menuju mobilnya, Acha dan Lina memberi salam kepada seluruh staf pemotretan malam itu. Dan dengan ini, pekerjaan hari ini pun selesai.     Mereka masuk ke mobil setelah menaruh barang-barang mereka di kursi belakang. Lina yang memegang kendali mulai menstarter mobil berjenis SUV itu. Perlahan-lahan mereka melewati jalanan yang cukup rindang dengan banyaknya pepohonan.     “Sumpah, ya. Si Ghea itu dari pada jadi model, gue bakal ngefans abis sama dia kalo jadi pelawak. AHAHAHAHAHAHAHAHA!!” gelak Acha.     “BAHAHA! Bener banget, Kak. Ku juga dari tadi kebelet pengin ngakak. HAHAHAHA!!” sambut Lina. Dia sengaja menyetir dengan kecepatan agak pelan karena sangat ingin sekali tertawa.     Gara-gara Ghea tadi, sepertinya mereka berdua sangat terhibur. Di mana lagi bisa bertemu orang yang ingin cari gara-gara, tapi saking serendah itu levelnya malah membuat tertawa.     Tiba-tiba sebuah nada dering menghentikan tawa mereka. Ternyata ponsel pintar Acha berdering. Lalu, Acha pun mengambil ponsel itu dari saku coat yang belum juga dilepasnya.     Sebuah pesan pribadi di messenger muncul di pop-out notifikasi. Tertulis di sana nama Ryo sebagai pengirim. Dibukanya pesan itu oleh Acha.     “Wow!” teriak Acha.     “Apa itu kak?” Tanya Lina yang sudah lebih tenang dari gelaknya.     Acha menengok pada Lina, lalu menjawab, “Aku bukan brand ambassador Hbeauty, Lin.”     Sambil terus fokus menyetir Lina menyahut kesal, “Hah!? Kok bisa??”     “Soalnya aku jadi brand ambassador Hardiansyah Group!” sahut Acha semangat.     “Woooaaaah!!!! Selamat, Kak Acha!! Ikh... kok bisa gitu, ya?! Entah seneng ato bingung aku tuh!” Lina tak kalah semangat.     Model mana yang tak senang mendengar berita itu? Menjadi wakil sebuah merek saja sudah sangat hebat, apalagi menjadi wakil dari sebuah grup perusahaan. Artinya dia akan menjadi wajah dari segala produk yang mereka keluarkan. Selain itu Hardiansyah Group bukanlah sebuah grup perusahaan kecil. Mereka adalah salah satu grup perusahaan terbesar di Asia. Dan sebagian produk mereka juga dikenal sebagai barang mewah.     Saat ini berita tentang dijadikannya Acha sebagai brand ambassador mereka sudah tersebar di seluruh media sosial. Berita tentang Acha dan Dariel tadi pagi pun langsung tertimpal dengan sendirinya tanpa ada kepastian tengtang kebenaran gosip itu.     Hanya ada beberapa orang yang berkomentar di salah satu postingan yang mengatakan bahwa ini adalah pengalihan isu. Ada pula yang berkomentar bahwa Dariel dan Acha benar-benar berpacaran, karena itu Dariel yang merupakan pewaris Hardiansyah Group pun menjadikan Acha sebagai brand ambassador dari grupnya.     Acha sempat melihat komentar-komentar itu dan dia membiarkannya begitu saja. Dia hanya menuju beranda dan menuliskan status berisikan “YAY!!!” dengan sticker beruang yang sedang mengangkat kedua tangannya dengan ceria.     Besok adalah hari yang sibuk. Karena itu, Acha meminta Lina untuk mempercepat laju mobil mereka. Dia harus segera beristirahat dan menyimpan tenaga untuk besok. Bahkan dia sudah mulai memejamkan matanya di dalam mobil dan dia tidak melihat pesan berisi ucapan selamat yang terkirim di messenger-nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN