Chapter XVI

1232 Kata
    ‘Hari ini mohon kerja samanya, Pak.’     Demikian isi pesan dari Acha yang Ryo terima pagi ini. Kemudian, asisten pribadi Sarah itu menjawab, ‘Baik. Tolong agar tetap terkoordinasi’.     Menurut Acha pesan itu terasa kaku. Dia merasa sedang benar-benar bekerja di lingkungan yang formal seperti perkantoran. Yah... bisa dibilang Ryo adalah orang kantoran, sih.     Diberikannya ponsel itu pada Lina agar disimpan di dalam tas. Sebentar lagi syuting iklan akan segera dimulai. Acha yang sudah didandani dengan produk make up dari Hbeauty harus segera bersiap untuk memberikan pose-posenya di depan kamera.     Produk yang dipromosikan kali ini adalah seri eyeshadow keluaran terbaru dari Hbeauty yang terdiri dari tiga macam pallet. Sesuai dengan tema seri tersebut, yaitu pesona hutan nusantara, Acha didandani sedemikian rupa agar memancarkan keunggulan dari produk tersebut.     Acha juga membawakan tiga busana yang cocok dengan empat macam pallet eyeshadow itu. Dan saat ini dia baru mengenakan busana yang pertama. Sebuah baju berwarna biru laut yang gelap dan dihiasi batu-batu yang berkilau, seolah menggambarkan langit di atas hutan rimba. Penata rias memadukannya dengan eyeshadow berwarna emas tua yang penuh glitter.     Selanjutnya adalah dress pendek tanpa lengan bermotif loreng seperti bulu macan. Kali ini matanya dirias dengan warna yang lebih gelap sehingga memunculkan keliarannya.     Kemudian, yang terakhir adalah dress hijau pendek tanpa lengan yang dipadukan dengan eyeshadow warna pink dan hijau muda. Di lokasi syuting, banyak yang berpendapat bahwa Acha terlihat seperti peri dengan penampilan itu.     Sebelum part terakhir dari syuting iklan itu dimulai, sebuah kejutan datang. CEO dari Hardiansyah Group, yang tak lain adalah Sarah hadir bersama asistennya. Dia sengaja hadir karena ini adalah bagian dari rencananya dan Acha.     Tetapi, melihat kehadiran Ryo di sini membuat dahi Acha berkerut.     “Bukankah harusnya dia tidak datang kali ini?” pikirnya.     Semua orang yang terlibat pun satu per satu memberi salam pada Sarah. Termasuk juga Acha yang tadinya sudah bersiap di atas ayunan kayu besar yang cukup tinggi. Dengan bantuan Lina dan beberapa orang staf, Acha turun dari ayunan itu. Melihat Acha yang kerepotan, Sarah lah yang akhirnya mendatangi Acha.     “Duh, cantik banget kamu. Tante gak salah pilih.” Ujarnya.     “Terima kasih, Tante. Acha senang banget bisa jadi model produknya tante.” Jawab Acha.     Sementara itu, di belakang Sarah, seorang pria berjas nampak termenung. Dia terpana dengan penampilan Acha yang baru kali ini dilihatnya.     Merasa diperhatikan, Acha pun memandang balik Ryo. Biasanya dia memakai hak tinggi saat bertemu Ryo, kalau tidak Acha bertemu Ryo dalam keadaan duduk. Kali ini kakinya tidak memakai alas kaki apapun. Tidak disangka ternyata pria itu begitu tinggi. Bahkan jauh lebih tinggi dari Dariel. Ternyata benar kata Lina, bahwa Ryo seperti tiang listrik.     “Bapak kenapa ke sini? Harusnya kan Pak Ryo pura-pura tugas keluar kota, jadi Dariel bisa jemput Tante Sarah.” Kata Acha lirih.     Beberapa detik Ryo terdiam, lalu dia menjawab, “Saya penasaran dengan syuting-nya. Jadi, saya sempatkan ke mari.”     Acha mengangguk paham.     “Sekarang masih penasaran?” tanya Sarah bernada mengusir.     Tetapi, Ryo seolah tak mempedulikannya dan berkata, “Sebentar lagi.”     Pandangan Ryo masih tertuju pada Acha. Dia seolah tak bisa memalingkan pandangannya sejak melihat Acha turun dari ayunan.     Sarah memutar bola matanya. Dia paham betul apa yang dipikirkan anak buah terbaiknya ini.     “Ryo. Sekarang kamu pura-pura pergi ke luar kota, atau kamu beneran saya kirim ke luar kota selama sebulan?” ancam Sarah.     “Haaa... Baik, Bu. Saya akan segera pergi. Selamat siang.”     Akhirnya Ryo mengalah. Tetapi, dari hembusan napas kasarnya jelas tersirat kekecewaannya. Jujur saja dia masih ingin memandang Acha. Setelahnya Ryo kembali memandang Acha sebentar, lalu dia berbalik.     Sarah nampak sebal dengan sikap asistennya. Bisa-bisanya dia membangkang padanya sampai-sampai dia harus diancam dulu oleh Sarah sebelum menuruti perintah Sarah.     “Dasar si Ryo itu.” gerutu perempuan paruh baya itu.     “Ya, udah. Kamu lanjutin lagi syutingnya. Tante mau nonton dari sana sambil nunggu Dariel. Ok? Kamu gaya yang bener, ya.” Pesan Sarah.     “Ok, Tante!” sahut Acha sambil menunjukkan jempolnya.     Mereka lalu berpisah. Sarah duduk di samping sutradara iklan dan Acha kembali menaiki ayunan yang jaraknya dua setengah meter dari lantai dengan dibantu para staf.     Setengah jam kemudian, syuting telah selesai. Sekali lagi Acha turun dari ayunan itu dengan hati-hati.     Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00, dan saat itu pula Dariel datang. Sesuai permintaan sang mama, dia datang untuk menjemputnya menggantikan Ryo yang sedang dalam perjalanan keluar kota. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri untuk mencari sang Ibu. Begitu menemukan Sarah, Dariel menghampiri dan mencolek bahu mamanya itu.     “Ma, gimana? Mau langsung pulang?” tanya Dariel.     Sarah menengok, lalu menjawab, “Ih, kamu baru dateng main ajak pulang aja!”     Dariel memutar bola matanya.     Dari depan terlihat Acha yang belum berganti kostum datang menghampiri mereka berdua. Dress pendek warna hijaunya dan langkahnya yang riang riang ke arah mereka mengingatkan Dariel pada salah satu tokoh di dongeng Peterpan.     “Dia gak berubah. Lincah dan lucu.” batin Dariel.     Kini Acha sudah berdiri di depan mereka.     “Hay, Riel!” sapa Acha.     “Tante. Gimana penampilan aku? Oke, kan?” tanya Acha pada Sarah.     “Mantaaapp!” seru Sarah sambil mengacungkan dua jempolnya.     “Tante sampe merinding liat kamu di atas tadi.” Lanjutnya.     Acha tersenyum senang.     “Hm... ya udah, kamu ganti baju sana! Tante tungguin di sini.” ujar Sarah.     “Ok, Tan! Aku ke ruang ganti dulu, ya.” Ujar Acha seraya meninggalkan mereka berdua.     Sarah terus memperhatikan punggung gadis itu tanpa menghapus senyumnya.     “Mama masih mau di sini?” tanya Dariel.     “Nungguin Acha bentar. Dia nanti mau ikut kita. Gapapa kan?”     Dariel nampak berpikir, lalu menyahut, “Ga masalah, sih. Tapi, bukannya dia ada mobil sendiri?”     “Katanya ada yang ketinggalan di apartmen, jadi asistennya mau pake buat balik dulu.” Jawab Sarah.     “Ooh...” tanggap Dariel.     Tak lama kemudian, yang mereka tunggu akhirnya datang juga. Acha yang sudah berganti baju dan menghapus make up-nya keluar dari ruang ganti dengan pakaian casual berupa kaos oblong kuning, celana denim panjang warna biru tua dan jaket base ball putih bergaris. Lalu, untuk menutupi wajah polosnya, Acha mengenakan masker kain hitam.     Mereka kira dia akan langsung menemui mereka lagi. Tetapi, ternyata Acha justru berputar mengelilingi studio untuk berterima kasih pada kru atas kerja keras mereka hari ini. Baru setelah selesai, Acha berlari menghampiri mereka.     “Kita pergi sekarang, Tante?” tanya Acha.     “Iya. Nanti kamu duduk di depan, ya. Soalnya Dariel antar tante dulu balik ke kantor, baru ke lokasi pemotretan kamu.” Jawab Sarah yang dijawab dengan anggukan setuju dari Acha.     Jadilah mereka naik dalam satu mobil. Dariel di kursi pengemudi, Acha di kursi depan samping Dariel, dan Sarah duduk di kursi belakang.     Sarah dan Acha mengobrol banyak hal yang Dariel tidak ketahui. Tetapi, dari obrolan itu dia sudah bisa mengkonfirmasi bahwa Acha memang gadis yang dia temui saat kecil dulu. Ternyata setelah insiden keguguran itu, Sarah dan Firza terus berkomunikasi agar Firza bisa tahu perkembangan kesehatan dari pasiennya itu.     Perjalanan mereka menuju kantor pusat Hardiansyah Group tidak terlalu jauh. Kini mereka telah sampai di depan loby gedung sepuluh lantai itu.     “Kalian hati-hati di jalan, ya. Jangan ngebut! Yang penting nyampe!” pesan Sarah sebelum turun dari mobil.     Wanita pengusaha itu pun turun dari mobil dan masuk ke dalam gedung. Kini tinggal Dariel dan Acha di dalam mobil alphard warna biru itu. Begitu punggung Sarah tidak terlihat, Dariel segera menstarter mobilnya kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN