Berita tentang Hardiansyah Group yang akan merambah ke dunia hiburan mulai menyebar. Di awal ceritanya seperti yang Acha ceritakan pada wartawan bahwa Dariel Putera Hardiansyah sedang mempelajari bisnis hiburan. Tetapi, entah bagaimana tiba-tiba beritanya bergeser menjadi ‘Hardiansyah Group akan merambah ke bisnis hiburan’.
Selain itu, muncul cerita tentang persahabatan Dariel dan Acha. Ketika diwawancara, Acha memang sempat menyebut bahwa mereka berteman. Tetapi, kehadiran Dariel untuk menjemput Acha di lokasi syuting jelas memicu berbagai asumsi.
Banyak yang berpendapat bahwa persahabatan antara laki-laki dan perempuan itu tidak ada dan pasti salah satunya ada rasa. Ada juga yang tahu-tahu sudah menjodoh-jodohkan mereka di kolom komentar dan mengatakan bahwa mereka serasi. Tentu saja selain komentar-komentar seperti itu, ada juga komentar-komentar miring seperti yang menyebutkan bahwa Acha sedang panjat sosial dan semacamnya.
“Panjat sosial gundulmu! Palingan kalau ketemu juga ga bakal berani ngomong macem-macem juga.” Geram Lina yang sedang membaca artikel tentang Dariel dan Acha di ponselnya.
“Santai aja lah, Lin.” Acha berusaha menenangkan.
“Santai gimana!? Lagian Kak Acha dikatain gini kok diem aja?” sanggah Lina semakin kesal.
“Ih, kamu itu yang aneh. Justru kita patut bersyukur tahu.”
“Bersyukur gimana sih, Kak?” tanya Lina.
Acha menutup buku naskahnya, lalu berdiri dari duduknya. Kacamata hitamnya dia angkat ke atas kepala karena bosan.
Adegan kali ini diambil di pantai, karena sedang bercerita tentang bakti sosial membersihkan pantai. Saat ini adegan masih berfokus pada Rara dan Kris yang diperankan oleh Aika dan Rake. Sedangkan adegan untuk Firna yang diperankan oleh Acha akan diambil setelahnya. Karena itu, mumpung masih santai Acha memanfaatkanya untuk membaca naskah.
“Ya jelas harus bersyukur karena semua orang udah tahu kalau aku sama Dariel punya hubungan walaupun bukan pacaran.” Jawab Acha.
“Oh, iya juga, ya!” Lina baru paham.
“Oh, iya. Berhubung si Saiful kemarin belum ku bayar setengahnya, tolong bayar ya. Pakai tunai saja.” pesan Acha sebelum beranjak dari tempat berteduhnya.
“Siap, Kak!” seru Lina.
“Tunggu... Saiful siapa ya?” gumam Lina saat menyadari bahwa dirinya tidak mengenal Saiful.
Acha sudah terlalu jauh dari jangkauannya dan sepertinya dia sedang mengobrol serius dengan Juwono. Dan kalau sudah begitu artinya Acha belum boleh diganggu. Lina hanya bisa mendengus kesal dibuatnya.
Saiful, wartawan dari TvL kemarin adalah salah satu orang yang bekerja sama dengan Acha. Selama dia dibayar dengan uang jasa dan tutup mulut, dia mau saja mengikuti keinginan Acha, yaitu menyetir argumen penonton. Selama ini, dia adalah salah satu dalang dari mudahnya penyebaran gosip tentang korban Acha.
“Di sini bagusnya saya senyum yang kayak gimana, Mas Ju?” tanya Acha pada Juwono sambil menunjukkan salah satu dialog di naskah.
“Masa lo gak bisa senyum yang lembut? Di tulisannya kan Firna bilang ‘Terima kasih, Pak.’ Ke Kris yang bawain Firna jus semangka sambil tersenyum lembut. Lo kalau dikasih minuman atau makanan sama orang yang lo suka gimana? Coba ekspresikan itu!” jelas Juwono.
Dipikir jutaan kali pun Acha tidak begitu paham. Dia sama sekali tidak pernah diberi apapun oleh orang yang disukainya. Jangankan diberi sesuatu, pria yang dia sukai saja tidak ada. Tepatnya, dia belum pernah benar-benar jatuh cinta. Acha tahu betul bagaimana orang lain bisa jatuh cinta dengannya, tetapi dia tidak tahu sama sekali cara untuk mencintai seorang pria.
“Lo kayak gak pernah pacaran aja sih, Cha. Elah!” ujar Juwono.
“Emang.” Gumam Acha lirih karena tak ingin ada yang tahu tentang status kejombloannya.
“Aku coba, deh.” Ucap Acha.
“Ok. Lima belas menit lagi lo mulai!” Juwono mengingatkan.
“Sip.” Jawab Acha.
Kemudian Acha memilih untuk duduk di kursi yang agak jauh dari kerumunan. Sambil mengulang-ulang naskahnya, dia berpikir dengan keras.
Sebetulnya ini adalah sinetron romansa pertamanya. Sebelumnya dia lebih memilih bermain film horror atau action yang tidak banyak adegan cinta-cintaan. Di sinetron kali ini walaupun sebagai peran antagonis, untuk pertama kalinya Acha memerankan seorang perempuan yang sedang jatuh cinta. Jujur saja dia sangat bingung.
“Hm... coba disederhanakan aja, deh. Ga usah pake rasa cinta, misalnya... perasaan senang saat dikasih makanan kesukaan gitu bisa kali ya?”
Tiba-tiba terbayang wajah Ryo di kepalanya. Kalau bicara tentang orang yang selalu memberinya makanan favorit, ya itu pasti Ryo. Setiap dia kelelahan, selalu saja ada Ryo yang membawakan ayam dari ChicKING’s Chicken favoritnya.
Konsentrasi Acha kini beralih menjadi rasa penasarannya pada Ryo. Bagaimana bisa pria itu tahu kapan dia ingin makan ayam itu?
Dan kalau diperjelas lagi, banyak sekali hal-hal yang membuat Acha bertanya-tanya tentang Ryo. Lalu, lagi-lagi ingatan saat ponsel Ryo pecah muncul dan membuat Acha menahan tawanya.
“Pff... Ya ampun... wkw... ini mah bukannya bikin tersenyum lembut, tapi tertawa terbahak. Pffftt....HAHAHAHAHA!” Acha pun akhirnya tergelak mengagetkan orang yang berlalu lalang di sekitarnya.
“Kaget saya, Mbak.” Keluh salah seorang yang melewatinya.
“Maaf maaf... Pfff....” ucap Acha.
“Seneng banget kayaknya. Kalau lagi dapet rejeki bagi-bagi, sih.” Kata Aika yang muncul di belakang Acha sambil memeluk.
“Ah... nggak. Inget kejadian lucu aja kemarin-kemarin.” Jawab Acha.
“Kayaknya lucu banget? Cerita, donk!” tanggap Aika.
Acha mengangguk mengiyakan permintaan sahabatnya itu. Toh belum tentu Ryo dan Aika akan bertemu dan saling kenal, jadi tak apa lah menyebarkan aib Ryo yang ternyata cukup lucu itu.
*
Sarah beserta jajaran pemilik saham Hardiansyah Group baru saja menyelesaikan rapat. Salah satu di antara peserta rapat itu adalah Dariel, puteranya. Dariel memang sengaja diikutkan di rapat tersebut. Karena Sarah berencana untuk segera menyerahkan kepemimpinannya kepada putera semata wayangnya itu.
“Hah... maaf ya, Mah. Aku jadi ngerepotin lagi.” Ucap Dariel pada Sarah.
Sambil menumpuk dokumen-dokumennya, Sarah menjawab, “Yah, toh sudah terlanjur. Lagi pula memang tidak ada salahnya kita mencoba ke ranah baru. Lagi pula hampir semua yang hadir hari ini menanggapinya dengan senang.”
“Cuma...” lanjut Sarah, “Lain kali jangan mendadak.”
Pria itu menyenderkan bahunya di kursi. Siapa yang mengira ucapan Acha menjadi sungguhan. Awalnya memang hanya gosip belaka, tetapi tahu-tahu sekarang menjadi salah satu rencana bisnis mereka yang entah kapan akan mulai dikerjakan. Hardiansyah Group benar-benar akan mendirikan perusahaan hiburan hanya karena sebuah gosip.
“Yah... aku juga kan ga ada maksud buat bikin, Ma.” Kata Dariel.
“Begitulah kekuatan media saat ini, Riel. Kamu ngomong A, menyebarnya jadi A ditambah B. Lalu, ada lagi yang menambahi sampai jadi Z.” ujar Sarah.
Kini wanita itu berdiri di samping puteranya, lalu dengan lembut memegang pundak puteranya yang tertunduk lesu.
“Semangat! Semangat!” seru Sarah.
Wanita itu lalu meninggalkan ruangan bersama Ryo yang juga mengikuti rapat. Ketika sudah berada di luar ruangan, sekali lagi dia menengok ke arah puteranya sebentar, lalu lurus lagi ke depan.
“Haa...h permainan perempuan itu sudah dimulai. Semoga saja ini akan berakhir dengan baik.” Gumam Sarah lirih.
Dilangkahkan kembali kakinya menjauh dari ruang rapat itu meninggalkan Dariel sendirian. Tentu saja sebagai Ibu dia cukup khawatir kalau-kalau Dariel nantinya akan jatuh hati pada Acha. Sarah takut nantinya Dariel tersakit, karena Sarah tahu bahwa Acha tidak akan membalas cinta puteranya. Tetapi, ini adalah satu-satunya cara untuk memisahkan Dariel dengan Melati.