‘Kretek!’
Dengan sekuat tenaga Ryo memencet tombol shut down sampai-sampai ponsel pintarnya malah retak, kemudian terbelah menjadi empat bagian. Dua orang lain yang ada di dapur itu menatapnya dengan terkejut. Sedangkan yang ditatap justru berpaling menyembunyikan mukanya karena malu. Lalu tanpa disadarinya, ponsel pintar ditangannya jatuh dengan bentuk yang tidak karuan.
“Pfftt...HAHAHAHAHAHAHA!” tawa Acha pecah.
Baginya kejadian tadi sangat lucu. Bisa-bisanya ponsel retak hanya karena memencet tombol. Bahkan kelihatannya sudah tidak bisa diselamatkan lagi.
“Aduh... Maaf... gak Kuat. Bahahahahaha!!” gelaknya.
Tidak berbeda dengan Acha, Dariel juga tak kalah terbahaknya. Baginya ini adalah sebuah momen langka, karena selama ini Ryo yang dikenalnya adalah orang yang sangat kaku. Cara bicara Ryo juga tidak pernah sampai berteriak. Saat marah pun Ryo lebih suka bersikap dingin.
“Ini kalau mama tahu, pasti seru banget HAHAHAHAHA!!!” tawa Dariel.
Dia sudah berencana untuk menceritakan hal ini pada sang ibunda.
“Aduh, Kak. Habis ini aku masih kerja, tapi gimana berhenti ketawanya? Hahahahahaha.” Ujar Dariel.
“Gak tahu, kayaknya aku juga gak jadi istirahat ngahahaha. Pak Ryo lucu banget hahaha.”
Dan mereka terus saja tertawa sampai Ryo dengan suara rendahnya berkata, “Kalian sepertinya sangat puas.”
Hawa dingin dan gelap seolah merebak menyelimuti seluruh sudut apartmen ini. Sampai-sampai Acha dan Dariel akhirnya berhenti terbahak.
Aah... seram. Rupanya mereka berdua sudah melepas harimau dari kandangnya. Aura mengerikan yang terpancar dari Ryo benar-benar membuat eksistensi mereka terancam di dunia ini. Selain itu sorot mata tajamnya membuat mereka tak berkutik.
“Apa saya perlu membuat kalian lupa dengan hal ini untuk selamanya?” ujarnya sambil memainkan pisau makan.
‘Glek’
Mereka berdua menelan ludah bersamaan. Seharusnya mereka masih memiliki kata-kata untuk diucapkan, misalnya saja maaf. Tapi dengan aura Ryo yang menekan, lidah mereka mendadak kelu.
Pikir Acha, pria jangkung di depannya ini benar-benar seperti gangster. Dan bodohnya dia telah membuat gangster ini marah.
“Mas Dariel, bukannya Anda masih harus bekerja hari ini? Bagaimana kalau bawahan Anda dan Ibu Sarah tahu bahwa Anda justru mendatangi rumah seorang perempuan?” tekan Ryo lagi.
Dariel seolah sedang diserang. Dan dia tidak paham kenapa dia diserang. Kenapa ‘hanya’ dia? Bukannya yang mulai tertawa itu Acha?
“Bagaimana kalau kita langsung kembali ke kantor?” ajak Ryo pada Dariel.
“O... Oke.” Jawab Dariel.
Hanya itu yang bisa Dariel ucapkan. Padahal seharusnya dia adalah bos dari Ryo, tetapi kenapa dia bisa sampai ditekan bawahannya ini?
“Jadi, Mbak Acha. Kami akan langsung pamit saja. Maaf kalau sudah mengganggu.” Ucap Ryo sambil tersenyum pada Acha. Tentu saja setelah menyebarkan aura gelap tadi, senyuman Ryo yang biasanya terasa lembut di mata Acha menjadi seperti senyuman penjahat di film thriller.
“O... Oke.” Acha seolah membeo pada Dariel.
Mereka akhirnya pulang begitu saja dengan meninggalkan misteri. Untuk Dariel, memang Acha lah yang memintanya masuk. Tetapi kalau Ryo, bahkan Acha tidak paham dengan pria itu. Padahal dengan Acha menumpang mobil Dariel saja sudah terlihat jelas kalau asistennya tidak ada hari ini.
“Kak... eh Dek! Kak Dariel balik ya. Met istirahat!” ujar Dariel sebelum dia membuka pintu apartmen Acha.
“Kak Dariel sama Pak Ryo juga hati-hati di jalan, ya.” Ucap Acha sambil melambaikan tangan yang hanya dibalas oleh Dariel.
Acha pun menutup pintu apartmen dan menguncinya. Awalnya dia ingin langsung tidur begitu sampai di apartmen, tetapi ayam yang Ryo bawa tadi benar-benar menggugah rasa laparnya. Tentu tidak ada salahnya kalau dia makan ayam itu dulu sebelum bersantai menikmati hari liburnya yang mulai langka.
Kini dua pria tampan itu tak lagi terlihat dari pandangan Acha. Keduanya sudah masuk di elevator bersama-sama dengan seorang penghuni apartmen yang lain.
‘Ping!’
Pintu pun terbuka di Ground Floor dan Dariel pun keluar dari sana. Menyadari Ryo tidak ikut dengannya, pria berkulit sawo matang itu berbalik.
“Mas Ryo gak keluar?” tanya Dariel.
“Saya parkir di Lower Ground.” Jawab Ryo yang membuat Dariel mengerutkan dahinya.
“Oh, ya sudah. Saya duluan, Mas.” Dariel memutuskan untuk tidak mempedulikan rasa bingungnya. Dia pikir Lower Ground gedung ini hanya diperuntukkan penghuni apartmen.
Sementara Dariel berjalan melalui loby gedung, Ryo masih menunggu pintu elevator terbuka hingga di lantai tujuannya.
Ryo pun keluar dari elevator bersama dengan penghuni apartmen tadi. Mereka hanya bertukar senyum sebentar untuk menyapa, lalu berpisah. Ryo membunyikan alarm mobilnya karena entah kenapa saat ini dia lupa di mana dia parkir tadi. Lebih tepatnya saat ini otaknya sedang diisi hal lain yang membuat ingatan-ingatan terlempar dari sana.
Begitu dia menemukan mobilnya, Ryo langsung masuk tanpa menyalakan mesin. Sikunya terpangku di stir mobil dengan telapak tangan yang menutup wajahnya. Tidak ada orang di sekitarnya, tetapi entah kenapa dia tak ingin menampakan senyumnya di balik telapak tangan itu. Ryo rasa, mungkin karena dia malu pada dirinya sendiri karena terlalu senang.
Memang tadi adalah hal yang sangat memalukan. Tetapi di balik itu semua ada rasa bangga di hati Ryo. Rasa bangga karena telah membuat gadis impiannya tersenyum, bahkan terbahak karenanya.
Sejak mengenal Acha, itulah hal yang paling Ryo ingin lakukan. Membuat gadis itu selalu senang walaupun perasaannya tak tersampaikan. Baginya itu sudah cukup baginya. Apalagi selama ini Ryo selalu mencari tahu bagaimana cara menyenangkan Acha mulai dari membantunya menyelesaikan misi hingga membelikannya ayam favorit Acha selesai bekerja.
Memang sayang karena dia tidak sempat merekam tawa Acha tadi. Tetapi, Ryo yakin memori otaknya akan terus memunculkan memori itu untuknya.
Dirogoh sakunya untuk mengambil ponsel pintarnya yang tak sengaja dirusaknya tadi.
“Terima kasih atas pengorbanannya, ponselku yang cantik.” ucap Ryo.
Dia lalu membuka laci mobil (?) dan menaruh ponsel itu ke dalamnya.
Kini dia meraih ponsel pintarnya yang lain di saku yang satunya untuk mengecek waktu. Dia memang memiliki lebih dari satu ponsel yang digunakan. Yang dirusaknya tadi adalah ponsel khusus personal, sedangkan yang satunya untuk bisnis.
Rupanya ini memang saatnya untuk kembali. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.12. Ryo harus segera kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Sebetulnya tadi Ryo sudah ada di apartmen sejak jam makan siang. Dia pikir Lina sedang bersama Acha, ternyata malah sedang cuti dan mobil Acha dibawa oleh Lina. Jadilah dia menunggu setengah jam hingga akhirnya Acha keluar dari mobil bersama Dariel.
Menyukai Acha memang sebuah tantangan tersendiri bagi Ryo. Dia paham bahwa bagi Acha, Dariel hanyalah salah satu sumber penghasilannya. Tetapi, pria mana yang bisa menahan api cemburu jika melihat orang yang dicintainya bersama dengan pria yang lain? Begitu pula Ryo yang dengan sabar menahan amarahnya.
‘Kamu lupa hari ini kita mau ketemu Pak Guruh dari PT. BIG? Sudah ditunggu dari tadi.’
Sebuah pesan dari Sarah muncul di ponselnya yang membuatnya menepuk kepalanya. Dia benar-benar lupa. Orang saat dibutakan cemburu memang tidak bisa melihat hal lain.
‘Saya mohon maaf, tadi ada urusan lain sebentar.’ Balas Ryo.
Tanpa melihat apakah ada balasan dari Sarah, Ryo menyalakan mobilnya. Dilajukannya mobil itu untuk keluar parkiran, lalu menyusuri jalan menuju kantornya.