Malam itu Acha habiskan dengan melamun memikirkan pesan Ryo ditelepon tadi. Sepertinya sejak kejadian pelukan waktu itu otaknya jadi selalu traveling. Mulai dari kegelisahannya setiap kali mendengar nama dan suara Ryo, sampai menyalahartikan kata-kata Ryo. Bisa-bisanya dia salah tingkah hanya karena Ryo memintanya telefon setiap hari. Padahal sudah jelas tujuannya hanya untuk pekerjaan. Saat terlena dengan lamunannya, Acha sempat tertidur selama satu jam. Tetapi, di dalam mimpinya pria jangkung itu juga muncul. Gilanya lagi, dia mimpi kejar-kejaran sambil menyanyi dengan Ryo seperti di film Bollywood lawas. Saat terbangun, Acha jadi bingung sendiri mau jijik atau senang. Acha bukan lagi anak-anak. Sudah jelas dia tahu perasaan apa yang dirasakannya. Tetapi, dia ragu-ragu untuk menerima p

