moon maap, karena aing gak pandai bikin cerita ala2 CEO, jadi ini ku revisi semua jadi ke genre romcom
№###############
Sania dengan sengaja pergi ke kamar mandi untuk merias wajahnya dan menunggu hampir sepanjang hari, tetapi pertemuan dengan bos baru yang sudah dijadwalkan jauh-jauh hari dibatalkan!
Barco Lemos berjalan ke area kantor besar dengan wajah cemberut. “Pak Bimo nggak jadi datang hari ini, dia punya sesuatu yang harus dilakukan sementara, tetapi sebelum pergi, dia sempat bilang, katanya dia nggak puas dengan divisi kita!”
“Kok Pak Bimo bisa nggak puas? Alasannya kenapa, Pak?”
"Mungkin karena kualitas SDM di divisi kita buruk.” Tieta merendahkan suaranya saat melanjutkan ucapannya, “lihat saja gimana pimpinannya.”
Wajah Barco Lemos tampak seperti akan mati. "Jadi sekarang aku mau tahu, siapa diantara kalian yang nggak kompeten dan sudah meninggalkan kesan jelek ke bos baru. Cepat ke sini dan mengaku!”
Tentu saja tak ada satupun yang mau maju. Itu sama saja kayak ulo maranin gebuk, alias cari penyakit untuk dirinya sendiri.
Barco Lemos mencibir dua kali. "Oke, karena nggak ada satupun yang menyerahkan diri, kalian pilih orang di divisi ini yang paling nggak kompeten. Tulis di kertas, dan kasih ke saya. “
“Sekarang, Pak?” tanya Riko dengan wajah polos.
“Nggak, besok tunggu kiamat! Ya sekaranglah, orang butuhnya sekarang kok.” Barco Lemos yang murka menatap Sania, dan perintah keluar dari mulutnya. “Sania! Kamu ke sini, dan bacain hasil dari pengaduan teman-temanmu!”
Sania dan Filma saling memandang, merasa bahwa Barco Lemos benar-benar akan mempermalukan dirinya sendiri.
Benar saja, tidak butuh waktu lama, setelah pemungutan suara dimulai—
Sania membuka selembar kertas dan membacanya dengan suara yang tidak keras ataupun pelan. “Bar…Barco Lemos.”
Samuel Lemos memelototinya. "Mengapa memanggil nama lengkapku? Panggil Pak Bar.”
Sania berkata dengan ramah, "Bar, Bapak Barco Lemos dapat satu suara.”
“Horeee…Prok…prok…prook!”
Suara tepuk tangan bergemuruh dalam ruangan kantor.
Sania membuka kertas kedua. "Bapak Barco Lemos, dua suara."
“Pwiwit…” Suara tepuk tangan kali ini selingi dengan suara siulan.
"Pak Barco Lemos, tiga suara…”
Semakin sering Sania menyebut nama Barco Lemos, semakin ramai dan seru suara teriakan bawahannya.
Benar saja, pada akhirnya, Barco Lemos, seperti yang diharapkan publik, mendapatkan suara bulat dalam pemungutan suara tanpa nama, dan terpilih sebagai orang yang paling tidak memenuhi syarat di seluruh perusahaan...
Akibatnya, Barco Lemos langsung murka. Pria itu menggebrak meja dengan marah. “Diam semua! Meninggalkan kesan buruk pada bos baru! Ini bukan candaan.”
Sania ingin mengatakan, kami tidak bercanda, Bapak memang orang yang paling tidak memenuhi syarat di departemen kami ...
Sayang sekali Barco Lemos secara alami tidak akan mengakuinya. Dia sangat malu sehingga seluruh wajahnya berwarna merah dan membubarkan semua orang, dan kemudian keluar.
Setelah beberapa saat, dia kembali ke area kantor besar lagi dengan wajah puas.
“Aku baru saja mengorbankan diri dan pergi dengan menahan malu ke bagian HRD untuk mendapatkan informasi. Kenapa Pak Bimo tidak puas dengan divisi kita, aku sudah tahu penyebabnya. Pagi tadi, Pak Bimo bertemu dengan karyawan dari divisi kita yang sama sekali nggak punya etika saat naik lift. Staf itu sangat memalukan dan tidak kompeten, ada yang tahu siapa dia
Filma membantah tanpa takut mati. “Tapi Pak Bimo belum pernah melihat satu persatu karyawan Paragorn. Darimana dia tahu itu dari divisi kita? Yakin ini bukan fitnah untuk mencemarkan nama baik divisi kita, Pak?”
“Itu karena Pak Bimo menyimpulkan dari lantai yang dia tekan, dan itu lantai divisi ini!” Barco Lemos amat sangat marah hingga kumisnya bergetar.
Ketika dia tidak tahu detailnya, Sania tidak terlalu memikirkannya. Sekarang, ketika dia mendengar kata-kata etiket lift, dia tiba-tiba memori otaknya memutar adegan tadi pagi.
Ketika dia menekan lift pagi tadi, bukankah tadi dia bertemu dengan rombongan orang yang dia pikir mau ada pertemuan kerja sama bisnis?
Diantara kelompok itu, terselip satu orang sombong dan tidak memiliki kualitas diri sebagai laki-laki.
Sekarang Sania mengingat-ingat lagi. pria itu tidak menekan nomor lantai setelah masuk ke dalam lift, yang berarti dia pergi ke lantai yang nomornya sudah ditekan lebih dulu sama orang lain.
Di antara sekelompok pria berjas yang masuk berbarengan dengan pria itu, ada yang bernama Bimo Lee, putra mahkota sekaligus direktur baru Paragorn, dan di hari pertamanya sebagai direktur, dia sudah melihat kekacauan yang dibuat oleh karyawannya.
Sania memikirkannya lagi, dan pada saat itu, kecuali lantai atas tempat bos dan mitra penting akan pergi, hanya ada departemen inkubasi proyek yang dia tekan. Adakah kemungkinan pria sombong minim atittude itu pergi ke lantai atas? Jelas tidak mungkin, maka pihak lain sangat mungkin berada di lantai yang sama dengan dirinya ...
Sania telah bekerja di Paragorn selama dua tahun, dan dia belum pernah bertemu pria yang tidak memenuhi syarat seperti itu sebelumnya.
Supaya drama ini cepat selesai, Sania segera melaporkan semua ingatannya kepada Samuel Lemos.
“Pak Sam, aku kayaknya tahu siapa orang yang dimaksud.”
Mendapat laporan itu, Samuel segera bersemangat. “Siapa? tunjukin mukanya, biar ku colok-colok matanya karena sudah berani malu!”
“Tapi aku yakin itu bukan karyawan Paragorn. Karena tahu sendirikan Paragorn sebenarnya sangat berorientasi pada kualitas, dan aku yakin karyawan sini nggak mungkin melakukan tindakan memalukan seperti rebutan naik lift. Orang yang aku lihat ini mungkin orang luar yang datang ke lantai kita untuk rapat, tapi Pak Bimo salah mengira dia sebagai karyawan di lantai kita.”
Tebakan ini sangat masuk akal, dan Barco Lemos sangat senang.
"Nggak apa-apa kalau itu bukan karyawan kita! Sania, kamu masih ingat seperti apa orang ini? Temukan orang ini untukku, supaya dia bisa menjelaskan ke Pak Bimo kalau dia benar-benar bukan karyawan dari divisi kita.”
Ini hal yang mudah buat Sania. Dia lulus dari Akademi Seni Rupa, jurusan ilustrasi dan menggambar. Dia memiliki keterampilan melukis yang kuat dan segera menggambar sketsa wajah dalam ingatannya.
Kemampuan otaknya dalam menangkap visual cowok ganteng sangatlah akurat. Tanpa ada foto atau gambar contoh, sketsa itu sudah selesai.
Filma yang menungguinya menggambar mendesah karena kagum.
"Pria ini gantengnya kebangetan. Bisa kali dimaafin kelakuan minusnya.”
Barco Lemos di sebelahnya menepis. "Kalian anak muda benar-benar buta. Untuk seorang pria yang akan menjadi rumah dan teman hidup di masa depan, kalian harus memilih pria dengan pesona dewasa sepertiku. Apa tampang ganteng bisa dimakan? Sania, cepat selesaikan gambarnya. Setelah selesai, foto dan kirim fotonya ke WA. Nanti aku posting di grup manajemen perusahaan, siapa tahu orang ini klien salah satu dari mereka. Dengan begitu, aku bisa mengembalikan nama baik divisi investasi proyek kita! Kualitas anak muda jaman sekarang sangatlah buruk, sehebat apapun perusahan yang dia rintis, nggak pantas buat mendapatkan investasi dari Paragorn.”
Meskipun dia membenci Barco Lemos, pada titik tertentu, dia dan departemen inkubasi proyek adalah satu, persetujuan proyek Sania masih di tangan Bimo Lee. Jadi dia harus mencari cara terbaik untuk menyenangkan pria itu.
Sania dengan cepat menyerahkan tugas, dan kemudian dia menghela nafas lega dan memuji kecerdasannya. Dia melihat waktu itu, hampir waktunya istirahat makan siang, jadi dia mengklik grup gosip internal perusahaan dan beberapa rekan wanita di administrasi departemen. Kami mengobrol dengan penuh semangat-
"Bos baru kita benar-benar cakep.”
"Aku tadi sempat meliriknya sekilas! Gara-gara itu, aku jadi nggak cinta sama Taehyung lagi, pacar virtualku sekarang bos kita. Itu lebih realistis dan gampang digapai daripada idol Kpop.”
Tampang bos baru yang sedang mereka gosipkan semakin membuat Sania penasaran. Jarinya yang ramping menggulir layar ke atas dan ke bawah, dan melihat setiap foto yang dikirim dengan teliti.
Sayangnya dia tidak menemukan satupun foto orang yang dimaksud.
Berbarengan dengan dia mengetik untuk minta foto. Leni, dari bagian resepsionis mengetik dengan heboh.
"Perhatian perhatian! Akhirnya aku dapet foto bos, nggak jelas sih tapi cukuplah buat muasin dahaga kita (emoticon senyum malu)”
Sania penasaran sehingga dia mengklik foto candid, dan kemudian matanya yang bulat nyaris melompat keluar saat melihat wajah tampan tapi mahal di layar.
Tangannya gemetar saat mengetikkan pertanyaan, "Ini Pak Bimo Lee? Serius, nggak salah?”
"Seratus persen serius.”
Membaca jawaban itu, dia dengan cepat bangkit dan berlari ke sisi Tieta.
"Filma, foto yang tadiu aku gambar, sudah disebarin belum sama Pak Sam?”
Filma sepertinya belum melihat grup gosip itu, jadi dia tidak tahu kekhawatiran Sania dan memberitahu dengan riang.
“Udah kayaknya. Kata Mbak Adel, si Lemes bener-bener marah sampai maki-maki orang itu di grup dengan kata-kata yang nggak senonoh. Sampai ngatain orang dalam foto yang kamu gambar itu sebagai p*****r pria berkualitas rendah. Bayangin gimana serunya grup itu hari ini.”
Sania merasa dingin sekarang, dan hanya ada satu pikiran di hatinya.
Dia akan segera mati.