Sania cukup curiga kalau Bimo sedang membalas dendam kepadanya dan punya bukti.
Saat Bimo memberinya perintah untuk menggambar ulang sketsa yang dia buat, Sania menggambar dengan teliti, tetapi dia tidak tahan dengan kecerewatan Bimo yang terobsesi dengan kesempurnaan untuk visualnya.
Setiap sketsa yang dia kasih selalu banjir kritikan pedas dari pria itu.
Dari yang dia menggambar bulu mata terlalu tebal, atau rambut yang terlalu pendek, dan bahkan hidungnya kurang tingi. Setelah merevisinya enam kali berturut-turut, dia akhirnya menyelesaikan gambar terakhir yang sudah mati-matian dia kerjakan.
Sania melihat sekali lagi kertas sketsa, dari skala satu sampai seratus, sembilan puluh persen gambar ini sudah sangat mirip dengan Bimo.
Dia mengambil foto sketsa dengan kamera gawai, kemudian mengirimnya ke Bimo lewat surat elektronik.
Selesai merapikan meja, dia segera pulang ke tempat kost sewaannya.
Sudah jam sepuluh malam saat dia sampai, lampu koridor sudah lama rusak, sehingga sepanjang lorong menuju kamarnya gelap.
Sania meraba-raba dalam kegelapan dan berjalan menaiki tangga yang sempit, dan membuka pintu kamar sewaan.
Bagian luarnya cukup bobrok, dan bagian dalamnya tidak jauh berbeda.
Sania bukan berasal dari keluarga kaya, dan orang tuanya melakukan bisnis kecil. Setahun yang lalu, orang tuanya mengalami kecelakaan mobil ketika mereka pergi untuk mengantarkan barang.
Tabrakan antara mobil dan truk kontainer membuat ayah dan ibunya koma dan terbaring di ICU selama beberapa bulan, menghabiskan semua tabungan keluarga, dan membuatnya harus berutang ke sana kemari untuk biaya perawatan orang tuanya, tetapi pada akhirnya, Sania harus merelakan ayah dan ibunya.
Setelah orang tuanya meninggal, Sania hanya bisa terus hidup dengan rasa sakit dan bekerja keras untuk membayar semua utang-utangnya.
Sebelum tidur, Sania melihat ke jendalara, lalu dengan terampil membawa baskom plastik dan meletakkannya di bawah sudut-sudut ruang tamu.
Saat meletakkan baskom terakhir, dia mendengar suara cekikikan tetangga kamar, rupanya wanita yang menempati kamar sebelah membawa pulang pacarnya lagi, dipastikan dirinya ngga akan bisa tidur nyenyak malam ini.
Benar saja, kamar yang tidak ada kedap suaranya memaksa Sania untuk mendengarkan tetangga sebelah main kuda-kudaan di malam hari.
Keesokan paginya, kokok ayam tetangga di lantai bawah membangunkan Sania lagi.
Dia bangun dengan mata masih mengantuk dan melirik ke sudut ruang tamu, tebakannya tepat, semalam benaran turun hujan. Untung dia sudah menaruh baskom untuk menampung rembesan air dari atap kamarnya yang bocor, kalau tidak, dia harus membersihkan lantai begitu buka mata.
Bangun dari tempat tidurnya, Sania menyingkirkan baskom yang setengah penuh dengan air.
Kalau bukan karena atap yang bocor di lantai paling atas, Sania mesti membayar sewa dua ratus ribu lebih mahal.
Selesai mandi, Sania membuat semangkuk mie goreng untuk sarapan, hanya saja kenikmatan makannya terganggu dengan panggilan telepon dari Om nya.
“Ya, Om Rudi.”
“Sania, duit tiga puluh juta yang kamu pakai buat bayar rumah sakit kapan hari itu udah ada belum? Om perlu buat bayar kuliah sepupumu.” Suara Om nya penuh kekhawatiran dan rasa malu, "Ngomong-ngomong, kenapa kamu ngga pernah main ke rumah? Mainlah ke sini kalau libur, tante sama sepupumu juga udah nanyain.”
Sania menggigit sudut bibirnya dengan resah.
Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar pendapatannya dihabiskan untuk membayar utang, dan dia hanya bisa menikmati sisa uang yang mengenaskan, dan hanya mampu menyewa rumah di tempat bobrok ini.
Awalnya, dia berencana melunasi utang 30 juta dengan bonus akhir tahun, tetapi dia tidak memperkirakan Om nya juga punya kebutuhan yang mendesak. Dia ingat berapa sisa saldo di rekening banknya dan tidak tahu harus meminjam uang ke mana lagi.
**
"Hei! Sania, lihat deh! Ada pengumuman dari HRD, katanya, sebelum open recruitment buat posisi sekretarisnya Pak Bimo. mereka mau ngasih kesempatan emas ini ke karyawan Paragorn dulu.”
Yang menanggapi informasi itu adalah orang lain. “Serius an nih?”
Filma si yang paling tahu mengangguk. “Karyawan yang lolos seleksi akan dipilih jadi sekretaris sementara buat Pak Bimo selama sebulan. Semoga ini aku Ya Allah.”
“Kamu mau ikutan seleksi juga, Fil?”
"Ikut dong, siapa tahu ntar jalan hidupku berubah kayak cerita di novel-novel roman? CEO jatuh cinta dengan sekretaris kecil yang pintar dan lugu dari keluarga miskin.”
“Kayak Pak Bimo mau sama kamu aja,” cibir Davina, “orang kaya tuh tipe-tipenya yang kayak princess, pembantu kayak mana dilirik.”
“Ngga dilirik juga ngga rugi-rugi amat, toh aku bisa terus liatin ketampanan Pak Bimo Lee, dari pada di sini, cuma ngeliatin Barco Lemes!”
Filma dan teman-teman perempuan lainnya bersemangat untuk mendaftar, tetapi Sania sama sekali tidak dapat mengangkat semangatnya.
Karena tiga puluh juta dalam pikiran, Sania sedikit linglung setelah tiba I Paragorn. Mendengar kata-kata Filma, dia hanya melirik pemberitahuan aplikasi tanpa minat.
Untuk orang seperti Bimo, seorang asisten harus sebanding dengan visual sempurnanya, bahkan jika dia merangkak dan memohon, Sania yakin dia tidak akan pernah menjadi asistennya.
"Selain kita bisa lihat Pak Bimo setiap hari. Setelah terpilih, kita akan dikasih gaji lima sampai enam kali lipat dari gaji sebelumnya!!! Selain itu, ada bonus kinerja! Nikmat mana yang kamu dustakan coba?”
Lima atau enam kali gaji?
Mendengar iming-iming gaji, Sania mendapatkan kembali semangatnya.
Menjadi sekretaris Bimo, dia pasti bisa!
Bahkan kalau itu harus ditebus dengan kematian, enam kali lipat gaji sangat sepadan!
Terlebih lagi, meskipun Bimo agak sulit ditangani, dari sudut pandang pemindahan posisi para eksekutif, dia tidak tahu apa-apa tentang perusahaan.
Menghadapi bos baru yang masih bodoh, lebih mudah dari pada terus menerus menghadapi Barco Lemos. Selama dia menurut dan selalu memuji Bimo, dia mungkin bisa memenangkan hati pria itu dan mengambil keuntungan dari kesempatan menjadi asisten sementaranya.
Selain proyek komiknya bisa lebih cepat disetujui, dia juga bisa mendapatkan lima sampai enam kali lipat gaji. Itu sama dengan melempar dua burung dengan satu batu?
**
Tanpa berpikir panjang lagi, Sania dengan bersemangat mendaftar dan menunggu dengan cemas untuk melempar burung.
Ternyata terlalu banyak orang yang mau menjadi asisten Bimo Lee, dan itu berubah menjadi kompetisi yang kejam dan saling sikut untuk menjadi asisten sementara Bimo, dan Raja sangat ketat dalam memilih b***k sehinga Sania semakin tidak punya kesempatan.
Filma juga menghela nafas. "Ku dengar Orilia dari bagian Humas sudah lulus seleksi tahap dua. Dia lulusan UPH, susahlah buat kita ngalahinnya.”
Sania juga sama tidak bahagianya dengan Filma, kalau saingannya cantik-cantik lulusan universitas grade A, dia yang penampilan dan lulusan kampus biasa hanya bisa gigit jari.
Namun apapun bisa terjadi kalau Tuhan sudah turun tangan. Seminggu kemudian, semua pesaing utama keluar dari permainan, dan bagian HRD mengirimi Sania ucapan selamat sudah terpilih sebagai asisten sementara.
Apakah ini nyata?
Sania tidak bisa mempercayainya sama sekali. "Ini benaran aku yang terpilih?”
Kepala HRD mengangguk. "Masa kami bohong? Tapi ini belum final, kamu harus melakukan tes kesehatan.”
“Tes kesehatan? Memangnya aku kelihatan sakit?” Sania meraba wajahnya, jangan-jangan kemiskinan bikin dia kelihatan kurang gizi.
Mbak Adel tertawa. “Ya nggak lah, ini permintan Pak Bimo kok. Setelah pemeriksaan kesehatan selesai, kamu bisa langsung kerja sebagai asisten Pak Bimo, dengan upah harian. Sehari ratus lima puluh ribu, dengan jam kerja yang disesuaikan dengan Pak Bimo.”
Dua ratus lima puluh ribu sehari?
Mata Sania nyaris keluar dari rongganya.
Bagaimana bisa bos yang kelihatan perhitungan itu membayarnya dua ratus lima puluh ribu sehari? Dia bukan manusia, tapi malaikat yang turun ke bumi!
Dan bukankah itu berarti bahwa semakin cepat dia memulai pekerjaannya, semakin banyak yang akan dia dapatkan dari gaji harian ini?
Untuk alasan ini, Sania bergegas ke rumah sakit yang ditunjuk dengan penuh semangat keesokan paginya, berencana untuk menyelesaikan pemeriksaan fisik di pagi hari dan pergi bekerja di sore hari.
Bimo tampak acuh tak acuh, tetapi ternyata dia sangat peduli dengan kesehatan karyawan. Semua item pemeriksaan fisik ini ditentukan dan dibayar oleh perusahaan.
Saat menunggu hasil pemeriksaan medis yang sedang dicetak oleh perawat, Sania tidak bisa berhenti tertawa——
Di masa lalu, dalam pemeriksaan fisik perusahaan, detail proyek hanya selembar kertas, ini adalah pertama kalinya dia melihat detail proyek setebal buklet ...
Ketika saya pergi untuk mengambil darah, perawat mengeluarkan lebih dari 20 tabung pengumpulan darah, dan kemudian pihak lain menghitungnya dan menambahkan satu lagi.
...
Sania akhirnya mengerti arti pergi bekerja tiga hari kemudian, karena itu akan menjadi tiga hari setelah lebih dari 100 pemeriksaan selesai ...
**
Tiga hari kemudian, mungkin karena hasil pemeriksaan fisiknya memenuhi syarat, dia duduk di hadapan BImo.
Kantor Bimo punya selera desain yang bagus. Tidak ada meja dan kursi mahoni yang digunakan oleh pendahulunya di masa lalu. Ini menggunakan elemen gaya Eropa minimalis. Wajahnya yang mewah cocok dengan itu, tetapi secara tak terduga harmonis dan memiliki semacam kejutan estetika.
Hanya saja meskipun penampilan Bimo sangat bagus, sayang sekali ketika dia membuka mulutnya dan nadanya penuh kesombongan.
"Sania Wilmar, selamat, kamu adalah orang beruntung yang mendapat kesempatan untuk menjadi asisten sementaraku.”
Setelah Bimo bilang begitu, dia berhenti untuk waktu yang lama sampai Sania bertanya-tanya apakah percakapan sudah selesai dan apakah dia harus meninggalkan tempat itu?
Bimo mengerutkan kening dan berkata sedikit tidak senang, "Kamu nggak punya sesuatu untuk disampaikan?”
Ekspresi Sania bingung. “Harus ngomong apa?
Bimo tersenyum. "Misalnya, kenalin diri kamu, dan bisa ngga kamu jadi asisten sementara ku? Kita akan bekerja sama selama satu bulan di masa depan, aku harap kamu janga terlalu tegang. Kamu bisa ngomong apapun, supaya aku bisa mengenalmu dengan lebih baik.”
Sania mengira in adalah bagian dari proses untuk mulai menyanjung bos barunya.
Baiklah.
Sania telah memperhatikan Barco Lemos sepanjang tahun di masa kerjanya, dan sanjungan mnejijikkan yang terbiasa keluar dari mulut Barco Lemos hampir keluar dari mulutnya.
"Terima kasih, Pak Bimo, atas perhatian Bapa. Aku sangat bersyukur mendapatkan kesempatan emas seperti ini. Aku juga ngga pernah menyangka bahwa menjadi asisten sementara juga bisa medapatkan fasilitas pemeriksaan kesehatan yang bagus.”
Inti dari sanjungan bukanlah untuk menjadi eksplisit, tetapi untuk melembabkan hal-hal dengan tenang.
Sania melanjutkan usahanya. "Siapa yang sangka, Pak Bimo begitu peduli dengan kesehatan bawahannya dan mau menghabiskan banyak uang untuk pemeriksaan fisik buatku…”
Sania masih ingin terus bermain, tetapi diinterupsi oleh Bimo dengan dingin. “Aku nggak suka dengan basa-basi atau pujian yang menjijikkan. Aku harap asisten bukan jenis anjing penjilat.”
Dia menatap Sania dengan mencibir. "Kamu sedikit mengecewakanku."
Sial, sejak kapan pria narsis tidak suka dengan pujian? Bukankah kemarin Barco Lemos masih mengelilinginya dengan ekor terangkat?
Tapi siapa yang menyuruh dirinya menjadi warga miskin hingga mendapat perlakuan berbeda.
Sania tidak membantah dan tidak berani berbicara, jadi dia harus menundukkan kepalanya dan mengakui kesalahannya.
“Maaf.”
Bimo menopang dagunya dengan tangannya. "Sebenarnya, ada beberapa dari laporan medismu yang kurang memenuhi syarat. Seharusnya, presentase lemak tubuh asisten sementara ku berada di kisaran angka 18%, punyamu adalah 19%, tetapi dibandingkan dengan pelamar lain, kamu bisa dibilang yang paling unggul, sebelum mendapatkan asisten resmi, aku hanya bisa puas dengan itu."
Apa orang ini lagi memilih atlet binaraga? Apa hubungannya persentase lemak tubuh dengan menjadi asisten?
Bimo sepertinya tahu apa yang dipikirkan Sania, dia melirik wanita itu dengan dagu terangkat. "Persentase lemak tubuh mencerminkan apakah seseorang hidup sehat dan berolahraga setiap hari. Selain itu, kamu juga bisa melihat gaya hidup seseorang, apakah mereka mandiri. disiplin, dan apakah mereka memperhatikan penampilan mereka. Persyaratan, menjadi asistenku sangat ketat dan orang yang terpilih harus punya kualitas di atas rata-rata, kalau orang itu bahkan ngga bisa mengatur berat badannya, bagaimana dia bisa kompeten untuk pekerjaan lain?”
Setelah diam sejenak, Bimo melirik Sania lagi. "Aku ngga suka dengan orang yang pulang kerja langsung makan, rebahan, main hape, dan ngga melakukan apa-apa. Presentasi lemak tubuhmu menunjukkan kamu bukanlah orang yang hobi bermalas-malasan. Kamu memperhatikan kebugaran, dan bertanggung jawab pada kesehatanmu sendiri. Aku menghargai ini, dan memutuskan untuk memilihmu. Selamat!”
Sania hanya ingin memutar matanya, Bimo adalah seorang pangeran yang tidak pernah miskin sejak lahi, mana tahu dia penderitaan dunia?
Apakah dia berpikir bahwa setiap orang selalu dimanjakan seperti dirinya? Persentase lemaknya rendah bukan karena dirinya memperhatikan kebugaran tapi ini lebih karena dia terlalu hemat, lebih suka jalan kaki dari pada naik ojek.
Mengendalikan diet apa? Karena lebih sering ngga punya uang, Sania hanya bisa pergi ke pasar, dan membeli sayuran yang sudah hampir layu untuk dia tambahkan ke dalam mie instan.
Sebenarnya, dia juga tipe orang yang dibenci oleh Bimo karena sesungguhnya Sania lebih suka makan dan rebahan di atas tempat tidur setelah pulang kerja.
Setelah capek seharian kerja, siapa yang masih mau olah raga?
Akan tetapi Sania hanya bisa mengiyakan semua tebakan Bimo yang amat sangat salah, kalau dia ngomong yang sebenarnya, bisa melayang posisi asisten dengan gaji enam kali lipat.
Bimo yang tidak tahu apa isi pikiran Sania, hanya mengerucutkan bibirnya dan membuat kesimpulan. "Oke, sudah ngga ada lagi yang mau ku omongin. Aku akan pindah ke sini besok, dan secara resmi memulai pekerjaanku di Paragorn.”
Sebelum Bimo mengusirnya, Sania segera berkata. "Pak Bimo, aku bisa mulai bekerja di sore hari, dan aku juga bisa istirahat makan siang untuk memindahkan meja kerja.”
Ini baru jam sepuluh pagi, sayang banget kalau hari ini dia ngga dapat gaji.
"Tidak." Bimo bersandar di kursi bos, melipat tangannya di dadanya, "Kamu masih harus melakukan penilaian stabilitas mental dan tes kesehatan mental sore hari. Kalau kamu lulus, kamu akan dipekerjakan besok."
? ? ?
Sania segera berdebat dengan alasan. "Terima kasih atas kebaikan ini Pak Bimo. Aku tahu kalau banyak orang rentan terhadap masalah psikologis karena tekanan pekerjaan, tetapi aku baik-baik saja. Jadi, aku ngga butuh tes ini.”
"Tentu saja kamu butuh.” Bimo tersenyum. "Penilaian ini bukan buatmu, tapi demi kenyamananku.”
Meskipun kelakuan pangeran ini agak menyebalkan, rupanya dia juga sangat perhatian dengan bawahan.
Tapi Sania hanya mau bekerja cepat untuk mendapatkan uang, tetapi ketika dia akan berbicara dan mencoba membujuk Bimo lagi, dia mendengarnya melanjutkan sebagai hal yang biasa—
"Sekarang banyak orang terlihat sangat baik di permukaan, tetapi sebenarnya menderita depresi. Kalau kamu nggak mau melakukan tes kesehatan mental. Aku khawatir diriku akan berada dalam bahaya kalau terlalu dekat denganmu.”
Puluhan tanda tanya mengelilingi kepala Sania.
Dalam bahaya kenapa? Memangnya dia gila sampai harus menyerang bos tanpa sebab?
Belum hilang pertanyaannya, Bimo kembali bersuara. “Selain tes kesehatan mental, kamu juga akan melakukan tes fisik.”
Mungkin merasakan tatapan bertanya Sania, Bimo mengangguk. "Ini juga penting, jaman sekarang siapa sih yang ngga bisa ketularan penyakit menular? Kalau kamu puny risiko kesehatan seperti penyakit menular, itu juga akan menjadi ancaman terhadap kesehatanku.”
Bimo meminum teh hita, dan tersenyum pada Sania lagi. “Jadi untuk mempertahankan pekerjaan ini, aku harap, kamu tetap sehat."
Sania merasa bahwa mental Bimo lah yang sebenarnya sakit.
.