Berhadapan dengan Kesendirian

1105 Kata
Bandung, enam tahun lalu ... “Kalau aku hamil, bagaimana?” Wajah Tyas demgan ketakutannya terlihat jelas di depan Genta. Pertanyaan itu terngiang-ngiang di telinga Genta. Namun saat itu setan baik dan jahat bertarung demi pelepasan napsunya yang sudah ada di ujung ubun-ubunnya. Genta hanya punya satu hal yang dia yakini dan selalu akan dikatakan kepada Tyas yang ketakutan. “Aku pakai pelindung. Dan ingat, aku sangat menyayangi kamu. Selamanya, Ras,” ucapnya lirih, berat, menikuti deru napasnya yang mulai berat pula. Ini yang pertama untuk Genta, tapi rasanya dia ingin cepat-cepat melakukannya dengan Tyas. Kamar kos Genta, ukurannya memang besar. Salah satu yang paling elit di Bandung. Karena biaya sewanya mahal, jadi, siapa saja di sana bebas melakukan apa saja. Termasuk Genta. Pertemuannya dengan Tyas tidak sengaja. Tyas sendiri sudah semester empat. Dan Genta sedang lanjut kuliah S2 di kampus yang sama dengan Tyas. Pertemuan mereka tak disengaja, Genta membantu kegiatan Mapram, Tyas yang sudah semester empat ikutan karena dulu sengaja bolos, sehingga nilainya dapat E. Untuk memperbaiki nilai tersebut, Tyas terpaksa ikut di OSPEK lagi. Malam Mapram disatu tempat dimana Tyas dan Genta ditinggalkan berdua oleh peserta yang lain. Hujan deras dan juga tempat yang dingin dan basah seolah menjadi pendormong Tyas menyerahkan kehormatannya kepada Genta. Sejak hari itu, Genta menyatakan kalau Tyas adalah pacarnya. “Aku juga sayang Kak Genta, tapi aku takut hamil ...” Wajah Tyas makin sendu, tubuhnya polos. Genta menindihnya, melihat wajah Tyas begini, bukan membuat Genta menarik diri. Tapi, Genta makin gemas, makin ingin mendengar suara Tyas melenguh. “Gini aja, kita buktikan besok, gimana? Ini kan bukan pertama kali. Kalau seandainya kamu berbadan dua, akn ada hasilnya.” “Buktikan?” ulang Tyas, terbata sedikit ketakutan. “Iya, buktikan, aku akan beli tes pack, kita bisa lihat hasilnya.” Tyas hanya mengangguk, kalau Genta yang membujuknya, entahlah, Tyas langsung percaya begitu saja. Hingga malam itu merek habiskan bersama. Seperti sejak beberapa bulan lalu dimalam Mapram, Tyas menyerahkan seluruh dirinya kepada Genta. Musim hujan di Bandung memang syahdu untuk siapa saja yang sedang jatuh cinta, termasuk Tyas dan Genta. Memadu kasih seolah ini adalah hari terakhir hidup mereka. *** “Bagaimana kalau aku hamil?” kata-kata itu mengiang selama enam tahun ini dihidup Genta. Menjadi mimpi terburuknya. Sama seperti malam kemarin, malam ini, Genta bermimpi tentang malam itu. Malam yang tidak pernah dia akan lupakan seumur hidupnya. Lelaki itu tetiba membuka mata, keringat dingin membasahi dahinya. Napasnya memburu, Genta langsung bangkit dari rebah. Genta menenangkan diri sendiri, setelag beberapa saat dia mengambil minuman dari kulkas. Kalau tadi kulkasnya kosong melompong, sekarang sudah terisi. Semua berkat Tiffany, ya, Tiffany. Beberapa jam lalu ... Di antara banyak jajanan kaki lima, Genta memilih membali makanan rawon. Pengunjung warung sederhana itu cukup banyak padahal sudah hampir pukul delapan malam. Genta memilih tempat di pojokan dekat dengan tukang jualan. Hidup hampa dan sendirian, tidak ada teman bicara bagi Genta sudah biasa. Kalaupun ada teman bicara, Genta malah terganggu. Dan Genta nyaman hidup seperti itu. Tapi malam ini ... “Lho, Gen?” sapa seseorang wanita yang baru saja masuk ke dalam warung penjual rawon itu. Dia mengelilingkan penglihatan, memastikan kalau Genta sendirian. “Sendirian?” Genta menoleh ke arah suara. Pria di sampingnya dua orang langsung beridiri. Memberikan tempat untuk wanita berambut panjang itu. Genta menelan makanan yang ada di mulutnya. Mengapa sulit sekali menelannya. Dia sampai meminum air yang tersisa di meja. “Tiffany?” ulang Genta, kata-kata yang tadi sempat tertahan di tenggorokannya. Tiffany langsung duduk di samping Genta, tersenyum dengan manisnya. Dia malam ini memakan sweater merah jambon, yang ukurannya kebesaran, celana yang sampai dengkul. Dan yang paling Genta sulit memercayainya adalah, dia memakai sandal jepit. Sungguh berbeda seratus delapan puluh derajat! Pikir Genta hingga membuat lidahnya kelu tak karuan. “Kamu ... tinggal di sini?” tanya Genta—setelah beberapa saat terdiam. Dan Tiffany memesan makanan untuk dirinya. Lalu Genta juga mau nambah lagi. “Iya, gue—eh, aku di tower dua. Sebelah sana,” tunjuk Tiffany. “Kamu di mana?” “Tower tiga, Tiff,” ujar Genta. “Wah, gedung baru, ya?” Tiffany mengaduk makanan yang baru saja diantar ke mejanya. “Yup. Gue beli karena itu gedung baru. Dan gue pikir ini deket sama kantor bokap, jadi, ya ambil satu.” Tiffany tersenyum sambil menutup mulutnya. “Kenapa?” tanya Genta melihat Tiffany tersenyum begitu. “Nggak apa-apa, lucu aja. Kamu ‘ambil satu’ kalau aku mau kamu ambil?” seloroh Tiffany. Genta tersenyum, entah apa yang salah dengan kalimatnya itu. “Udah lama, Tiff tinggal di sini?” “Um, lumayan udah dua tahun. Kenapa?” Tiffany tampak menikmati makanan yang terhidang di depannya. “Lo tahu di mana supermarket? Tadi gue lihat depan tower satu nggak ada. Jalan lagi ke tower sampe ke tiga nggak ada juga.” “Oh, itu kan ada di depan sana. Malah deket sama tower empat,” papar Tiffany. “Itu supermarket yang lengkap semua barang ada.” Genta manggut-manggut, dia menoleh ke arah Tiffany. “Mau antar gue ke sana?” tanyanya kaku, tanpa senyuman atau tanpa apa pun. "Tapi, nggak maksa, si, kalo nggak mau juga nggak apa-apa." “Mau,” jawab wanita itu, sambil mengangguk, “Sekalian ada yang mau aku beli juga.” Genta baru bisa tersenyum. “Terima kasih,” ucapnya. “Anggap aja ini penebusan dosa tadi pagi.” Genta malah tersenyum, “Sebenarnya tadi pagi, gue lagi bad mood, jadi begitu ...” Tiffany menatap Genta yang wajahnya tampak murung. “Sorry, ya,” ucap Genta lagi. “Gimana, ya, Gen ... kalo kamu masukin aku ke tim kamu, dan kasih aku kesempatan untuk jadi bagian tim kamu, aku ...” “Oke, deal!” Tiffany membesarkan mata. “Beneran?” “Anggap aja, rasa terima kasih gue karena kamu temanin aku ke supermarket. Gimana?” “Oke,” jawab Tiffany mengerling. Tiffany dan Genta pergi ke supermarket yang ada di depan tower empat. Tiffany dengan sabar menemani Genta yang mencari barang keperluan sehari-hari. “Lo nggak harus temani gue belanja, lho, Tiff,” kata Genta begitu melihat keranjang belanja Tiffany ada di belakangnya. “Kan aku bilang, ada barang yang harus kubeli juga,” jawab Tiffany. Mereka ada di rak makanan ringan. Genta dengan bingung harus memilih apa, biskuit lalu? Kalau dia lapar tengah malam bagaimana? Genta juga ingin beli mi instan atau apa pun yang bisa dia makan secara cepat. Di dua tangannya sudah ada beberapa makanan yang ingin dia beli. Tapi, bimbang juga mau pilih yang mana. Mi instan rasanya Genta sudah lama tidak makan makanan itu. Ish, Genta mendengkus sendirian. Hidup sendirian ternyata menyebalkan!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN