Kesabaran Argo

1061 Kata
Detak jantung Tyas jadi tidak menentu begitu Argo mengatakan syarat. Apa pun itu, Tyas mempersiapkan dirinya agak menjauh. Dalam hati memperhitungkan, melirik jam di dinding. Apa ini saatnya? Apakah Argo akan menggoda dan mencumbunya saat ini juga? Lalu berapa lama akan berbuat? Karena Argo tidak menjawab, Tyas menelan ludah susah payah. Baiklah, mau tidak mau Tyas harus siap. Wanita itu hanya menghela napas dalam hati berdoa semoga bayangan itu lenyap. Dan hal itu akan membuat Tyas benar-benar mencintai suaminya secara utuh. Argo menangkap gelagat aneh istrinya. Wajahnya menjadi tegang, senyumannya antusiasnya sirna. Padahal, Argo sengaja mengganti kata bulan madu menjadi liburan agar Tyas tidak terlalu tegang. Tapi, nyatanya Tyas sudah tegang duluan. “Sayang, aku hanya ingin ajak kamu liburan.” “Liburan?” ulang Tyas—lalu menurunkan tangannya yang melingkar di leher Argo. Argo memperkirakan, pasti Tyas menolak untuk pergi. “Iya, tempat yang dekat aja. Bali atau NTB, Lombok atau kamu yang pilih? Kamu selalu ingin ke Jogja, kan? Bagaimaana kalau kita ke sana? Seminggu hanya berdua saja, tidak ada yang mengganggu.” Tyas mengangguk, cepat atau lambat semua ini pasti terjadi, kan? Jadi tidak ada gunanya menghindar terus-terusan. “Kapan? Sekarang?” Tyas bertanya dengan datar. Wajahnya tampak polos bertanya, menatap Argo. Tawa Argo hampir saja meledak. “Ya, enggak. Minggu depan gimana? Aku baru bisa cuti minggu depan. Kalo kamu ... Nanti aku bilang Papa, izin aja.” “Minggu depan Pak Genta mulai proses akuisisi, dan ada kasus yang mulai naik sidang minggu depan. Gimana aku bisa izin? Sementara Samuel dan—Pak Genta kerja keras di sini? Lagian anak baru mana mungkin banyak izin?” Argo menghela napas, sebenarnya sebagai suami Argo berhak mengatur dan melarang Tyas, tapi entah, Argo sungkan sekali melakukannya. Apalagi mendengar nama kakaknya sendiri. Argo berpikir akan lebih bekerja keras walau ada Genta. Ingin membuktikan kepada orang tuanya kalau dia juga bisa mandiri. Dari gelagat Argo, Tyas tahu suaminya ini tampak kecewa sekali. Jadi mengurangi rasa kecewa suaminya, Tyas meluluh sedikit. Dua minggu menikah bersikap dingin, Tyas merasa sendiri keterlaluan sekali kepada suaminya. “Gini aja, gimana kalo weekend aja kita ke Bandung? Kalo kamu mau liburan, mungkin kita bisa rencanain nanti habis kasus ini selesai. Gimana? Kita bisa seminggu atau dua minggu,” usul Tyas. “Biasanya akhir tahun ada libur bersama.” Mata Argo menatap Tyas, meragukan apa perkataan Tyas. Kemarahan dalam diri Argo mencuat lagi, lelaki itu menghela napas, tidak habis pikir. Argo menggunakan tangannya untuk mengusir Tyas perlahan dari pangkuannya. Tidak menjawab saran istrinya yang cantik itu. Istrinya itu hanya membesarkan mata, kaget ketika Argo mengusir dia dari pangkuan. Pasti Argo ingin sekali pergi. “Sorry, Argo, aku nggak bisa menjanjikan lebih. Nanti kamu malah kecewa.” “Kamu sudah makan siang?” tanya Argo, malas-malasan, dia ingat sesiangan tadi hanya makan roti karena harus ada di ruang sidang. Tyas mengangguk, sekali lagi merasa tidak enak. Makan siang tadi dibelikan Genta. Tentu saja ini disembunyikan oleh Tyas. “Kalau begitu kamu bisa kembali ke ruangan Genta. Aku tunggu di sini jam tujuh. Paling lama, aku tidak mau menunggu terlalu lama.” Nada suara Argo begitu dingin. Sejujurnya Argo juga kebingungan bagaimana caranya menggoda Tyas, menghangatkan ranjang mereka. Tyas hanya menjawabnya dengan mengangguk, lalu tidak banyak bicara lagi segera keluar dari ruangan Argo. Soal hubungan badan, Argo berkonsultasi dengan ahlinya. Tanpa sepengetahuan Tyas, konsultasi itu dilakukan secara daring. Ketika Tyas menjauh dari ruangan, Argo memulai sesi konsultasinya dengan wajah muram dan lemas. Apakah sesi konsultasi ini akan percuma? Pikir Argo, sudah satu minggu berjalan, Tyas tidak pernah merespon kalau Argo meminta Tyas melakukan hal yang itu. Padahal Argo sudah meminta secara halus, atau juga membuka permainan dengan lembut. Tapi setelah beberapa menit berselang, ada saja alasan Tyas menghindar. Sebenarnya, Tyas juga bimbang antara pekerjaan dan hubungan suami istrinya, mana yang harus Tyas pilih sebenarnya? Kalau selama dua minggu Argo mencoba menyetuhnya, dalam pikiran Wanita itu hanya ada dia dan Genta. Maka dari itu, Tyas hanya mampu menghindar. Tyas memaki dirinya sendiri, betapa jahat dirinya. Atau memang hatinya yang tidak bisa pindah ke lelaki lain? Ketika kembali ke ruangan Genta, Tyas melihat Genta dan Samuel masih asyik diskusi. Antara Genta dan Argo terlihat bedanya, Genta sebenar-benarnya mengajari orang yang ada di bawahnya. Dia hanya memfinalisasi apa yang sudah dibuat oleh Samuel dan Tyas. Lalu Genta menyiapkan pendapatnya sendiri, dengan begitu, Tyas dan Samuel bisa menyimpulkan apa saja yang mau disampaikan dan poin akuisisi yang penting. “Besok ketemu kliennya bisa?” tanya Genta sambil menatap Tyas dan Samuel secara bergantian. “Kalau bisa, rasanya Tyas bisa atur, kamu bisa pelan-pelan belajar soal ini.” “Saya akan tanya, Pak ke kliennya,” jawab Tyas. “Oke, bagus. Jadi, Samuel bisa siapkan apa saja yang besok diperlukan.” “Baik, Pak,” jawab Samuel lagi. Genta Kembali duduk di kursinya, memijat pengkal hidungnya. Hal yang dari dulu sering dia lakukan. Tyas hapal sekali kebiasaan itu. Wanita itu mencatu daya ponselnya, meminjam kabet catu dari Samuel. Bodohnya, mengapa tidak dilakukan dari tadi? Pikir Tyas, sampai tega membuat Argo menunggu. Pukul enam, Tyas masih menunggu jawaban dari klien untuk pertemuan besok. Seta Tyas resah apakah nanti Argo akan marah juga kalau dia telat datang ke ruangannya? Genta memerhatikan apa yang dilakukan Tyas, wanita itu menggigit bibir bawahnya. Lelaki itu paham benar kalau Tyas sedang gelisah. “Sudah ada jawaban, apa bisa besok?” tanya Genta. “Um, belum, Pak. Belum ada balasan.” “Nanti kamu kabari saja, kita kan ada WA grup, jadi kamu bisa kabari kita nanti. Sekarang kamu dan Samuel bisa pulang duluan.” Samuel membesarkan mata. “Benar, Pak? Ini belum selesai, si, ada beberapa poin yang masih perlu saya konsultasikan.” Tyas, langsung berdiri, tidak menyangka akan pulang lebih cepat. “Ya, poin itu lebih baik kita bicarakan besok saja. Sepertinya itu perlu pembicaraan lebih lanjut.” “Baik, kalau begitu,” balas Samuel, sambil membereskan barang yang dia pakai tadi. “Oh, ya, besok kalau kalian datang, minta Pak Paimin buat bawakan meja dan juga kursi. Jadi kalian bisa bekerja lebih baik,” ujar Genta tanpa melihat Tyas san Samuel. “Jadi kita akan selamanya di ruangan ini, ya, Pak?” “Hm,” jawab Genta singkat. Tyas dan Samuel saling menatap. Bagi Samuel sebagai karyawan yang baru tidak mengapa kalau pekerjaannya mengikuti Genta. Tapi bagi Tyas? Ini bisa gawat, bagaimana nanti dengan Argo suaminya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN