Lirikan Pertama
Seorang Penyanyi sekaligus Penulis Lagu bernama Daffin Maheswara sedang dalam perjalanan menuju sebuah hotel bersama sopirnya.
Hotel yang akan di datangi Daffin bukanlah hotel tempatnya menginap. Alasan Daffin mendatangi hotel tersebut karena ia ingin mengambil dompetnya.
Ya, dompetnya yang berisi sejumlah uang, kartu ATM, dan kartu data diri.
Sebenarnya Daffin bukan kehilangan dompet di hotel itu, melainkan di mall yang berada tepat di sebrangnya.
Yap, tadi pagi Daffin bersama beberapa temannya pergi ke mall untuk membeli beberapa makanan dan minuman, tentunya ia harus melakukan penyamaran seperti memakai wig dan brewok palsu, juga kacamata agar tak dikenali orang-orang, apa lagi sebenarnya Daffin adalah seorang Penyanyi yang mendunia dan sangat sukses, bisa dibuktikan dengan penjualan album terakhirnya yang mencapai puluhan juta kopi, juga pendapatan tur konser terakhirnya yang menyentuh angka 500 juta Dollar.
Daffin kehilangan dompetnya di mall tadi pagi, namun baru menyadarinya beberapa puluh menit yang lalu, itu pun karena ada telepon dari pihak hotel yang akan di datanginya sekarang bersama sang sopir.
Salah satu tamu di hotel tersebut menemukan dompet milik Daffin di dalam mall dan baru mengetahui siapa pemilik dompet itu setelah kembali ke hotel, lalu memutuskan untuk menyerahkannya ke pihak hotel yang kemudian menghubungi Daffin.
Mengetahui dompetnya berada di hotel tersebut, Daffin merasa sangat antusias untuk mendatangi hotel itu, karena tadi pagi, saat dia baru akan masuk ke mall, dirinya merasa melihat kekasihnya sedang berjalan masuk ke dalam hotel itu bersama pria lain, jadi ini adalah kesempatan bagi Daffin untuk memastikan apakah orang yang dilihatnya tadi pagi itu kekasihnya atau bukan, dan dirinya sekarang terus mengingat hal tersebut.
***
Di lain tempat, seorang gadis dengan seragam Resepsionis Hotel yang rapi tengah melamun di teras rumahnya sambil berdiri bersandar ke pilar yang ada di teras tersebut. Gadis bernama Mawar Ayushita itu dari tadi hanya diam memandangi langit yang ditutupi oleh awan yang agak gelap, menandakan bahwa kemungkinan besar malam nanti akan turun hujan.
Kebetulan pintu depan rumah yang berada tepat di belakang Mawar tidak ditutup, lalu keluarlah seorang nenek berusia sekitar 70 tahun dengan sebatang rokok yang sedang dihisapnya serta segelas kopi yang ada di genggaman tangan kirinya.
Wanita lansia tersebut kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di teras rumah, tentunya kursi itu juga berada di belakang Mawar yang tidak sadar dengan keberadaan sang nenek.
Si nenek yang baru datang tak henti-hentinya menatap cucunya dari belakang.
"Wey!" sergah nenek itu. Sergahannya tentu saja membuat Mawar terkejut.
Mawar kemudian menoleh ke belakang dan akhirnya berdiri dengan tegak setelah bersandar pada pilar teras rumahnya dalam waktu yang cukup lama.
"Diem-diem bae! Ngopi ngapa, ngopi!" sambung neneknya Mawar itu seraya meminum sedikit kopinya yang masih panas, lalu lanjut menghisap rokoknya. Mawar sendiri kemudian malah lanjut bersandar ke pilar dan kembali menatap langit.
"Gua kira dah pergi lu," ujar nenek bernama Astutiningtyas tersebut. Si nenek biasanya dipanggil dengan nama Nek Tuti.
"Belom," sahut Mawar.
"Dah sore nih," kata Nek Tuti.
"Iya, tau," Mawar kembali menyahutinya, namun justru tetap berada dalam posisi seperti itu.
"Lu kenapa dah?" tanya Nek Tuti yang sebenarnya merupakan orang Sleman, tetapi karena sudah puluhan tahun menetap di Ibukota, logatnya pun jadi berubah.
"Gak apa-apa," jawab Mawar.
"Boong. Pasti ada apa-apa."
"Enggak, Nenek. Gak ada apa-apa."
"Ada tamu hotel yang nyebelin, ya?"
"Enggak."
"Lah, terus, kenapa? Gak biasanya lu diem-diem bae kayak orang kemasukan gitu."
Mawar kali ini tidak menyahuti neneknya lagi.
"Beneran kemasukan lu?" Nek Tuti kembali bertanya.
"Enggak, Nek. Mawar gak kemasukan, kok," jawab Mawar.
"Terus kenapa lu melamun aja disitu? Bukannya pergi. Gak bagus pergi kerja telat, ntar rejekinya dipatok ayam, loh."
"Iya, tau."
"Iya tau iya tau mulu dari tadi. Lu lagi mikirin apaan dah sebenarnya? Coba cerita ke gua."
"Mawar gak lagi mikirin apa-apa, Nek."
"Dah lah terserah lu aja," dengus Nek Tuti.
"Oooo, apa jangan-jangan lu lagi mikirin lamarannya si Tayo, ya?!" lanjut Nek Tuti dengan nada bicara antusias.
"Yatno, Nek!" Mawar mengoreksi Nek Tuti.
"Nah, iya, itu maksud gua," ucap Nek Tuti sembari meminum kopinya lagi.
"Enggak, lah! Ngapain juga," Mawar membantah dugaan Nek Tuti tadi.
"Ya kali aja kan lu dah bagus jalan pikirannya. Lu itu resepsionis, pasti selalu kontak sama banyak orang, beresiko banget, kan, kalau lagi di situasi komplit gini."
"Covid, Nek," Mawar kembali mengoreksi Nek Tuti.
"Nah, iya, itu maksud gua."
"Heuh, entahlah, Nek. Mawar gak mau mikirin hal-hal berat kayak gitu dulu."
"Gak usah dipikirin, elah! Banyak gaya lu pake mikir panjang-panjang. Udah, terima aja lamaran si Yatno, dijamin hidup kita aman dah, lu gak perlu lagi kerja, lu gak perlu lagi dapat resiko yang tinggi. Kalau lu nikah sama si Yatno, perut kita aman setiap hari, pokoknya aman dah, sehat, selamat."
Mawar hanya bisa terdiam seraya menghela napasnya. Tak lama setelah itu, ia lantas memakai helmnya dan mengeluarkan kunci motornya dari dalam tasnya. Mawar pun kemudian naik ke atas motornya dan bersiap pergi ke hotel tempatnya bekerja.
Jam kerja Mawar memang sore seperti ini, dia ditempatkan di shift siang, jam kerjanya dimulai dari jam 3 sore sampai jam 11 malam. Biasanya gadis itu sudah berangkat bekerja pada jam setengah 2, tapi kali ini dia berangkat pada jam 2 kurang 10 menit.
"Eh! Mau kemana lu?!" tanya Nek Tuti.
"Kerja, lah, Nek. Kemana lagi jadinya?" jawab Mawar.
"Gak nyalamin gua lu?! Cucu durhaka lu, ya!" sewot Nek Tuti.
Mawar lalu menyengir. "Hehe, lupa," ujarnya. Gadis tersebut kemudian turun dari motornya untuk menyalami sang nenek.
"Mawar pergi dulu, ya, Nek," Mawar berpamitan pada Nek Tuti sembari menyalaminya.
"Iya, hati-hati lu, ya," sahut Nek Tuti.
"Iya, Nek."
"Jangan iya nek iya nek aja lu. Lu kalau udah kelamaan berangkat gini pasti ngebut-ngebut bawa motornya. Jangan ngebut-ngebut bray, santuy aja kayak lagi di pantai, lagian lu, sih, pake acara ngelamun-ngelamun segala!"
"Iya, Nek."
"Tuh, kan! Iya nek iya nek doang lu, mah!"
"Terus, Mawar harus jawab apa, dong? Nenek ngeselin, ih!"
"Iya, dah, iya!"
"Itu rokok jangan banyak-banyak habisinnya, ya, Nek," pesan Mawar.
"Lah, suka-suka gua, lah! Kan yang ngudud gua, kenapa lu yang ngatur?!"
"Gak sehat, Nek! Nenek udah tua masih aja ngerokok berbatang-batang sehari, selalu pakai kopi lagi, ramah dah penyakit-penyakit sama Nenek."
"Penyakit apa?! Gua umur tujuh puluh, gak pernah sakit, gak pernah pegel-pegel. Gak ada penyakit yang berani sama gua, kolorna aja takut sama gua!"
"Corona, Nek."
"Kan bener yang gua bilang."
"Nenek tadi bilang 'kolorna'."
"Corona!"
"Dah lah terserah Nenek aja," pungkas Mawar yang malas untuk berdebat lebih panjang lagi dengan neneknya itu.
***
Sementara itu, Daffin yang sejak tadi terus memikirkan tentang kekasihnya, tidak menyadari bahwa dirinya sudah sampai di hotel tujuannya.
Bersamaan dengan sampainya Daffin, terlihat Mawar yang berjalan memasuki hotel bintang 5 ini, yang artinya, hotel ini adalah tempat kerjanya Mawar. Namun tentu saja Daffin tidak memedulikan Mawar yang merupakan orang asing baginya.
Tapi, apakah selamanya Mawar akan menjadi orang asing baginya?.