Part 38 "Aku mencintainya, Lun. Aku masih sangat mencintainya," ucapku masih dengan sisa sedu sedan. "Belajarlah mencintai dirimu sendiri, Yan," jawab Lunia sambil merangkulku memberi dukungan. "Namun aku tak yakin akan begitu mudah mampu melupakannya. Rasanya aku tak mampu kehilangan dia, Lun," ujarku semakin meratap. "Jadi ... dengan kejadian seperti ini, kelak jika suatu saat Heru menawarkan untuk kembali. Apakah akan kamu terima begitu saja?" Aku menatap nanar ke wajah tirus Lunia. Bahkan untuk menjawab pertanyaan mudah seperti itupun aku masih gamang. "Jangan bodoh! Jangan menghabiskan sisa hidupmu yang berharga hanya untuk para lelaki semacam mereka. Sekali-kali tanya hatimu. Untuk apa hubungan itu ada, untuk apa kamu sibuk berkorban. Pantaskah dia dipertahankan jika hanya sela

