LAMARAN YANG TIDAK DIINGINKAN
" Bissmillaaah ... semua usaha diawali itu, Nul. Semua bakal mudah"
Itu yang diucap Master'ku' sebelum dia mendorong semangatku. Ya Allah ... kalau di depanku ada jurang mudahan aku bisa terbang. Aamiiinnn.
Hai salam kenal buat semua, anggota baru lewat ingin merangkai kisah fiksi di sini. Mohon Krisan buat para suhu. Salam hormat sebelumnya.
***
Menjadi sorotan sebenarnya itu bukan mauku, menjadi terkenal juga bukan impianku. Namun apalah daya, semua yang telah dan akan kita jalani sudah tergaris dari Allah untuk kita lalui. Menjadi sorotan di kampung itu perlu mental baja, karena setiap berita yang kita punya akan cepat menyebar di seluruh pojok kampung, begitulah ... sinyal itu memang kuat.
Perkenalkan namaku Aryanti, sulung dari tiga bersaudara, dan secara tidak langsung memikul tanggung jawab kepada kedua adikku. Karena itulah salah satu alasan kenapa di umurku yang sudah mencapai angka tiga puluh dua ini aku belum melangkah ke mahligai impian yang diinginkan gadis seusiaku.
Hingga pada suatu hari seorang saudara jauh memperkenalkan aku dengan seseorang. Lek Kardi, aku menyebut itu pada seseorang yang dianggap Bapak menjadi dewa penolongku.
"Ikuti saja! Dia penolongmu. Mau sampai kapan kamu membujang."
Itu ujar Bapak ketika aku menolak lelaki pilihan Lek Kardi. Saat itu aku merasa begitu syok. Aku seorang Aryanti. Sekolah dan kuliah dulu tanpa pernah tidak memiliki pasangan, dan kini, ketika hendak melepas lajang harus menunggu sodoran orang lain. Harga diriku meronta.
"Aku mampu mencari pasangan yang aku inginkan, Pak. Bapak tak perlu ikut campur! Apalagi Lek Kardi! Siapa Dia?" aku menjerit penuh emosi
"Pasangan seperti apa yang kamu bilang? Apa pasangan yang ga becus seperti Zian, Haris atau bahkan pasangan yang suka memperalat pasangannya, seperti Ferdy?"
Bapak berteriak lebih keras dari intonasiku, sepertinya harga dirinya sebagai seorang ayah tergores dengan penolakanku.
Yaaah, benar yang dibilang bapak. Semua yang aku pilih tidak ada satupun yang benar. Semua mendekatiku hanya karena ada yang ingin mereka ambil. Seperti Ferdy, 8 tahun aku di luar negri semua uang gajiku masuk ke rekening dia, aku terlena hanya karena ucapan.
"Ini semua untuk masa depan kita, Sayang. Percayalah, biarkan aku yang menyimpan dan mengelola semua ini, sampai kelak saatnya kita bersatu."
"Aryanti! Kau dengar ucapan, Bapak?"
Suara Bapak menggelegar memutuskan lamunanku. Aku mendongak menatap mata Bapak yang sudah memerah.
"Saat ini, lepaskan egomu! Biarkan Bapak yang mencarikan pasangan buatmu. Umurmu sudah tidak muda lagi, kamu bukan artis yang di umur itu kamu masih sibuk dengan karier."
Kualihkan pandangan memohon ke arah wanita yang sembilan bulan mengandungku. Aaahhh ... beliau hanya menunduk. Sudah nyata beliau mensetujui keputusan Bapak.
Singkat cerita, aku pasrah dengan keputusan keluarga. Karena kupikir, aku semakin membenarkan penilaian Bapak. Aku memang tak pernah mampu mencari pasangan yang benar-benar seperti yang aku dan keluarga inginkan.
Akhirnya malam Senin ini keluarga mereka bertandang ke rumah. Sejak pagi aku sudah menunggu dengan perasaan cemas. Maklumlah sudah sejak empat tahun lalu aku tidak dekat dengan siapapun. Tentunya sejak hubunganku dengan Ferdy kandas. Aku tidak mampu lagi membina hubungan dengan siapapun. Syok, ketakutan, trauma, was-was, perasaan itu yang selalu menghantui ketika aku ingin mencoba menjalin hubungan dengan siapapun. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mejomblo selama empat tahun.
"Aryanti ... bawa keluar hidangannya, Nak."
Krompyanggg. Aku menyenggol gelas yang tadi aku isi dengan teh ketika aku mendengar suara ibu yang tiba-tiba sudah ada di sampingku.
"Kamu kenapa? Santai saja dan keliatannya dia dari keluarga baik-baik kok. Anaknya juga sopan,"
ujar Ibu sambil mengelus punggung tanganku.
Aku mengisi kembali gelas yang tersenggol tadi, dan segera membawa ke depan agar tidak lagi ku dengar suara ayah berteriak dari ruang tamu.
Dengan menunduk aku menaruh nampan di atas meja.
"Bagikan, Yan, supaya mereka tidak jauh mengambil tehnya." Kembali aku mendengar suara Bapak.
Aku membagikan teh kepada mereka sambil mengangguk. Ada seorang pemuda yang kurasa itu adalah calon yang ingin mereka kenalkan padaku, dia tersenyum, dan aku mengangguk. Aku bingung harus bagaimana hingga akhirnya aku mundur ke dapur untuk mengembalikan nampan.
Setelah meletakkan nampan di dapur, dengan gontai aku melangkahkan kaki ke kamar. Tak ada lagi yang menarik untuk aku kerjakan selain merenung dalam peraduan. Semua kenangan yang aku punya berseliweran di kepala. Pengalaman bersama Zian, pengalaman bersama Haris dan yang paling menguasai pengalaman hubunganku dengan Ferdy. Lelaki tampan yang empat tahun lalu memutuskan hubungan tanpa kata. Dia kabur setelah membawa uang kerjaku selama delapan tahun di luar negeri. Aku terpuruk, kenangan itu terpampang dengan jelas. Aku menutup mata dengan tangan sambil terisak. Sebegitu bodohnyakah aku, sehingga lelaki tampan itu mampu memanfaatkanku. Atau ... sebegitu cintanyakah aku sampai aku menutup mata dengan segala akses berita yang aku dapat. Yach ... benar. Bukannya aku tidak pernah mendengar selentingan tentang Ferdy. Lunia, sahabatku yang sekampung dengan dia selalu mengingatkanku atas semua sifat Ferdy.
'Tapi ... bukankah cinta perlu kepercayaan? Dan apa aku salah bila mempercayai Ferdy? Kesalahanku di mana, Tuhan? Apakah aku tidak pantas sedikitpun mengenyam kebahagiaan?'
'Aku tidak ingin lelaki sempurna, Ya Rabb aku hanya ingin lelaki yang mampu menjagaku, bukan lelaki yang selalu menusukku dari belakang.'
Rasa perih dalam d**a membuatku semakin terisak, entah berapa lama aku terlena, sampai ketukan pintu membangunkan tidurku. Rupanya karena kelelahan aku menangis, akhirnya aku terlelap.
Dengan menyeret kaki aku melangkah ke pintu. Ku buka pintu yang sebenarnya dari tadi tidak terkunci. Ada wanita yang telah melahirkan ku di sana menatap nanar.
"Kenapa kamu dari tadi di dalam kamar, Yan? Calon mertuamu tidak lama tadi ngobrolnya. Mereka sekarang sudah pulang. Keluarlah! Ini loo baru jam 21.00. Tadi pagi seharian lo kamu di kamar. Jangan di kamar terus ah." ucap ibu sambil menyeret tanganku keluar kamar.
Aku menatapnya lekat, kau hanya tak ingin aku terlalu mengenang masa lalu, ibu. Aku tahu ibu juga merasakan sakit yang aku rasakan akibat perbuatan Ferdy. Karena selain aku, ibu juga paling dekat dengan Ferdy. Delapan tahun Ferdy seperti anak buat ibu. Ketika aku kerja di luar negeri. Rumah ini sudah seperti rumah Ferdy. Orang tuaku sudah seperti orang tua Ferdy, kedua adikku juga sudah seperti adik-adiknya Ferdy. Kemudian apa yang salah? Dan siapa yang salah?
Aku kembali menangis di belakang ibu. Wanita penguatku itu berbalik. Dia memelukku dengan erat. Dan kami menangis.
"Stop, Yanti! Jangan kau ingat masa lalu. Melangkahlah Sayang. Dia ga pantas kau tangisi seperti ini."
Suara ibu penuh penekanan walau getarannya tidak mampu dia sembunyikan. Aku tahu Bu. Engkau pun juga terluka.
Entah berapa lama kami berpelukan. Ketika ibu hendak melepas, aku semakin menguatkan pelukan tak ingin terlepas dari pelukannya. Aku benar-benar takut beban itu akan hadir lagi jika pelukan itu terlepas. Maafkan aku ibu jika beban ini sangat berat aku juga yakin kau pun sama merasakannya.
Bersambung.