Triiinggg ...
Terdengar dengan jelas dering chat WA dari gawai yang kupegang sejak tadi. Terpampang nomer baru di sana yang entah punya siapa.
[Hai Yanti, aku Anthony. Semalam yang bertandang ke rumahmu.]
Alisku berkerut. 'Aku bingung dari mana dia tahu nomer WAku'
Belum sempat membalas, kembali dering chat WAku berbunyi.
[Maaf aku dapat nomer ini dari orang tuaku. Mungkin beliau mendapatkannya dari orang tuamu.]
Tidak ada yang spesial, aku hanya membalasnya dengan emot tersenyum. Kembali chat itu berbunyi. Aku benar-benar merasa tidak tertarik. Kuletakkan gawai dan melangkah ke luar kamar.
Pagi hari ini sangat membosankan. Dari aku mulai duduk, ibu hanya membahas tentang t***k bengek pernikahan, segala persiapan, berapa tamu yang akan diundang, dan siapa saja yang akan diundang. Acara itu akan segera mereka laksanakan satu bulan lagi.
Kedua belah pihak keluarga telah sepakat akan menyelenggarakan pesta dengan sederhana. Berita itu benar-benar sudah sangat tidak menarik buatku. Melihat ibu yang begitu antusias dengan kabar itu, aku mencoba untuk tersenyum. Walaupun duduk di dekat ibu hanya bekisar selama tiga puluh menit, tetapi serasa setahun lamanya. 'Baiklah ... demi kebahagiaan ibu.'
"Maaf, Bu. Bolehkah Yanti ke kamar?" Aku mencari waktu yang tepat memotong pembicaraan ibu, yang semakin kurasakan begitu menyesakkan.
"Oalahhh, Nduk. Kamu itu lo ga bosan apa di dalam kamar terus."
"Maaf, Bu. Yanti ada yang ingin dikerjakan." Aku meringis tidak enak saat melihat ibu sepertinya kecewa karena obrolannya terpotong.
"Ya sudah. Jangan melamun, jangan tidur kebanyakan nanti melar badanmu. Susah nanti jika mau menjahit bajunya." Ibu berucap sambil merengut.
"Ibu_ibu segitu hebohnya seolah ibu yang akan menikah lagi." Aku menyahut sambil berdiri.
"Ooeyyy seng bener, Nduk koe ngomong opo?"
Aku tertawa masam dan segera berlalu sebelum ibu kembali berubah pikiran. Di dalam kamar tidak ada yang menarik kukerjakan selain tengkurap. Akhirnya kuambil lagi gawai di atas kasur.
[Oya gimana kabarmu?]
(20 menit yang lalu)
[Kamu ga marah kan aku punya nomer kamu?]
(17 menit yang lalu)
[Yanti ...]
(15 menit yang lalu)
[Aku tahu pernikahan ini hasil perjodohan, tapi bukankah itu lebih baik dari pada sering ngumpul dan akhirnya timbul fitnah dan dosa sebelum menikah.]
(10 menit yang lalu)
[Yanti ...]
(5 menit yang lalu)
[Ayolah, Yanti, balas. Kenapa tiba-tiba kamu ga aktif? Aahh ... Yanti ga asyik dech.]
(2 menit yang lalu)
Aku menghela napas dan mencoba untuk bersikap tenang.
[Hai maaf, Ton, tadi aku sakit perut jadi maaf aku ke WC buru-buru.]
[Kabarku baik. Semoga kabarmu juga begitu. Oya mungkin benar katamu perjodohan ini lebih baik dan demi kepentingan bersama mungkin sebaiknya kita sama-sama membuka diri.]
Cling ... cling centang dua itu langsung berubah biru.
Tidak lama kemudian mengalirlah obrolan-obrolan yang semula garing. Tapi semakin aku rasakan, obrolan itu semakin menarik. Kami membahas hal-hal yang sungguh membuat aku terkesan. Tidak bisa kubayangkan kenapa terasa begitu cocok mengobrol dengannya. Dia mampu membuatku tertawa lepas dengan segala kekocakannya. Selama menunggu acara pernikahan kami tiba, setiap malam kami selalu berkirim kabar lewat WA.
Namun yang membuat aku heran dia benar-benar tidak mau diajak Video call. Pamali ujar dia. Aku tertawa saja dengan alasan dia. 'Naif banget'. Terlintas wajah dia saat lamaran. Dia tersenyum saat aku mengulurkan teh. Hmmm ganteng juga.
Tiba-tiba dadaku berdesir. Aahhh ... apa aku sudah mulai jatuh cinta. Aku tersenyum malu tanpa sadar. Hatiku berbunga dan aku sangat menikmatinya.
Hari itupun tiba. Dadaku berdesir lagi. Serasa banyak kupu-kupu terbang dalam perutku. Ya Tuhaaan ... akhirnya hari ini tiba. Aku bersorak dalam hati.
Aahhh ... apa setiap wanita yang akan menikah mempunyai perasaan seperti ini. Tertawa dan tersenyum sendiri.
Di hari pernikahan Ibu menyewa perias pengantin kondang di desa. Wajahku dirias begitu anggun. Sambil dirias aku tercenung dengan kabar yang tentu saja membikin syok. Kabar itu baru saja kuterima tadi pagi. Mataku kembali memerah.
Kenapa kabar ini harus aku dengar? Setelah debaran yang dulu sempat hilang mulai kurasa hadir kembali.
"Calon suamimu punya kepercayaan beda dengan kita, Nduk."
Ibu berujar dengan menatapku lekat. Ada gurat kekhawatiran di sana. Aku yang sedang menunggu perias pengantin datang tentu saja syok dengan berita itu.
"Ibu! Apa maksud ibu? Tolong jelaskan. Apa yang sedang ibu bicarakan? Ini hari akadku, berita sebesar ini, kenapa baru ibu omongkan sekarang? Apa ibu tidak memikirkan bagaimana nasibku kelak?"
Tanpa terasa mataku melotot. Ibu mundur ke belakang. Aku melihat ada keterkejutan dari wajahnya. Mungkin dia kaget karena anak gadis yang selama ini menurut dengannya berani mengeluarkan suara keras.
"Dia mau ikut kepercayaan kita, Nduk. Apa yang salah? Ibu pikir, kamu malah mempunyai kesempatan dapat pahala membimbingnya. Ayolah, Nduk. Ayahmu sudah menyetujuinya. Bahkan sebenarnya ini bukan masalah, toh dia ga masalah ikut ajaran kita" ujar ibu membela diri.
Aku mengernyit, Apa yang salah? Ini bukan masalah? Aku tidak habis pikir. Apa ibu tidak tahu masalah ini bukan masalah ringan. Begitu enteng wanita yang teramat kukasihi itu berkata. Sebal dengan ucapan ibu. Tentu iya. Apa ibu sudah begitu traumanya, takut jika anaknya gagal menikah sehingga tidak bisa membedakan mana masalah berat dan mana masalah ringan.
Bagaimana bisa aku tidak akan syok mendengar semua itu. Mereka mengambil keputusan tanpa sepengetahuanku. Bahkan sekarang ... ibu berdalih seolah merasa tidak bersalah dengan keputusan ini. Aku benar- benar menyesali kenapa ibu semunafik itu. Sedangkan Bapak? Entah di mana lelaki tempat cinta pertamaku berlabuh itu sekarang berada. Jujur ... selama hidupku baru kali ini aku begitu marah dengan keputusan ayah dan ibu. Tanpa kesepakatanku mereka memutuskan masa depan yang entah bagaimana akan kulalui kelak.
"Keluarganya menyetujui calon suamimu tinggal di sini, Nduk. Apa yang kamu khawatirkan. Nanti, kita bimbing dia bareng-bareng."
Dan percakapan itu terputus dengan datangnya Mba Sri perias pengantin yang kami tunggu. Memasuki ruang rias Mba Sri tersenyum dengan riang. Seolah pernikahan ini adalah pernikahan terindah yang dia datangi.
"Hei penganten baruuu ... ayolahhh mukanya jangan ditekuk begitu. Bagaimana bisa cantik kalau auramu sudah kamu sembunyikan dulu." Mba Sri menoel daguku mencairkan suasana. Aku hanya tersenyum kecut menyambut senyum Mba Sri yang sumringah.
Selama satu jam wajahku dirias. Setelah selesai dirias, Aline sepupuku menjemput untuk dibawa ke tempat akad pernikahan. Aku tidak menghiraukan godaan Aline sepanjang jalan menuju meja akad. Beban ini terasa berat, hingga untuk tersenyumpun bibir ini serasa kelu. Di sana, kulihat sudah menunggu calon suami yang sebulan ini telah mampu membuat aku terbayang-bayang.
Namun sebentar ... Kuperjelas pandangan ke arah meja tempat akad pernikahan akan berlangsung. Di depan penghulu duduk menunduk seorang lelaki berjas. Aku terkejut, dia bukan lelaki yang kemaren ikut datang melamarku. Lalu siapa dia?
Bersambung