Part 47 "Alhamdulillah akhirnya demamnya pada turun," ujarku tersenyum dengan ceria saat menjelang subuh, suhu tubuh ayah beranak itu sudah stabil seperti sedia kala. Sejak semalaman bergantian merawat mereka kini membuat kantuk menyerang mata tanpa bisa ditahan lagi. Akhirnya kurebahkan kepala di samping Rio yang sejak tadi tengah menggenggam erat jemari tanganku. Belum beberapa menit terlena. Aku merasa seolah tubuh ini melayang. Seper sekian detik menikmati tubuh yang serasa dibuai dalam ayunan tiba-tiba tubuhku mendarat di area empuk. Setengah sadar aku merasa jika aku kini tengah berada di atas kasur. Hembusan dingin menerpa seputaran mataku. Membuat heran kenapa rasa dingin itu hanya berada di area wajah. Serentak kubuka mata saat sebuah benda kenyal mendarat di bibirku. Kuli

