Jam di kamar berdetak begitu nyaring seolah menunjukkan bahwa kehidupan masih ada, walau penghuninya tengah terlena. Aku menyeret langkah menuju pintu dengan tertatih. Seperti malam-malam yang biasa, Anthony masih tetap dengan kenginan b******u yang kuat, sampai aku harus minum obat untuk mengimbangi hasratnya.
"Sudah mandi? Bersiaplah, hari ini acara keluarga bersembahyang," ujar ibu mertua menyembulkan kepala saat pintu baru aku buka.
Aku kembali menatap jarum jam yang berdetak. Padahal masih pagi. Namun entah kenapa wanita itu sudah begitu rapi.
Dia berlalu dengan langkah tergesa menuju ke arah dapur. Aku beristighfar mengelus d**a. Wanita ini sudah seperti demit, di mana-mana selalu ada. Dan kelakuannya selalu mengagetkan. Tiba-tiba muncul di sini dan tiba-tiba muncul di situ.
"Kenapa masih di sini?" Siap-siap sudah, nanti telat lagi hanya karena menunggu kamu."
Nah ... apa kubilang. Kembali suara Ibu mertua meninggi melihat aku yang masih berdiri linglung di depan pintu kamar. Tentu saja linglung ini ibadat kepercayaan dia, kenapa aku juga harus ikut bersiap-siap.
Kulangkahkan kaki menjajari langkahnya yang kelewat terburu. Entah persiapan apa yang dia lakukan sampai harus bergerak seperti bayangan.
"Bu, ini acara ibadat kalian, kenapa aku juga harus ikut bersiap," ujarku penuh rasa takut.
Dia menghentikan aktifitasnya tiba-tiba. Dan dengan perlahan membalikkan badan menghadapku. Sudah kurasa aura kemarahan terpancar dari matanya. Aku hanya bisa menundukkan kepala.
"Ini rumahku, kalau kamu mau aman, jangan bertanya terlalu banyak!"
Aku melongo menatap dia yang berlalu. Ini memang rumahmu dan aku tahu. Tapi apa perlu aku selalu diberi tahu.
Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi di samping dapur. Aku perlu membasuh muka biar otakku juga ikut segar. Tinggal dengan mereka membuat otakku seolah beku.
Kungkungan dan juga tekanan membuat aku sulit berpikir. Ini istana, rumah Indah semua kebutuhan terpenuhi tapi seperti penjara berjeruji emas. Kebutuhan semua diatur Nyonya besar. Minta apapun harus lewat tangannya. Bahkan dengan hal terkecilpun. Seperti sekarang ini. Ketika aku datang bulan aku harus bingung mondar-mandir dari tadi hanya karena tidak mempunyai pembalut. Dan aku tidak berani meminta. Sang nyonya akan begitu mudah memberikan apapun buat anaknya, tapi itu tidak berlaku padaku. Masalahnya Anthony tidak mau memintakan apapun untukku, aku disuruh minta sendiri dengan dalih supaya aku lebih dekat dengan mertua.
Dulu ... ketika pertama kali masuk gerbang rumah ini, kupikir hidupku sudah sempurna. Mempunyai rumah bak istana, berpagar dinding menjulang bagai benteng kokoh pelindung setiap insan yang menghuni di dalamnya. Namun semua bayangan itu hanyalah hayalan. Kehidupanku bahkan berbalik arah dari bayangan.
"Thon ... bangun. Hari ini acara ibadat keluarga, 'kan? Ibu sudah bersiap sejak tadi. Bangunlah."
Aku berusaha membangunkan Anthony dengan lembut. 'Tidak bisa salah langkah sedikit saja menghadapi lelaki kurang waras ini. Karena akibatnya akan fatal.'
Tidak ada sebutan sayang karena membayangkan dia saja aku sangat merasa jijik. Setelah beberapa kali goyangan Anthony bangun. Dia duduk sambil mengucek mata dengan malas.
"Kenapa? Kamu mau lagi?" ujar Anthony sambil tersenyum m***m.
Tangannya mulai nakal meraba-raba menggerayangi setiap lekuk tubuhku. Aku menggelinjang bukan karena geli, tapi justru karena jijik. Ya Tuhan ... entah berdosa apa tidak perasaan yang aku alami ini.
"Ibu sudah bersiap di depan. Hari ini kalian mau ibadat 'kan?" ucapku berusaha menetralkan ketakutan. Kutekan perasaan muak yang sebenarnya ada agar tidak membuat kemarahan lelaki ini terbakar. Sedangkan Anthony dengan agresif menarikku dalam pelukan.
Tok ... tok ... tok.
"Thon ... ayooo nanti keburu siang." Aku tidak menyangka kali ini suara ibu mertua benar-benar menyelamatkanku.
Tanpa sadar untuk pertama kalinya dalam hati aku berterimakasih padanya.
Anthony beranjak menuju pintu dengan malas. Tersirat nyata dari wajahnya kekesalan. Namun entah mengapa kali ini emosinya tidak meledak.
"Thon ... mintakan pembalut sama ibu, aku lagi datang bulan." Mendengar ucapanku, perlahan lelaki itu berhenti dan berbalik.
"Kamu lagi ga bisa di pakai?" ujarnya sambil mendekat. Entah mengapa pertanyaan dari seorang suami yang harusnya terkesan lucu dan menggemaskan itu begitu menyebalkan aku dengar.
"Trus buat apa aku di rumah. Kamu gila ya, Kenapa gak ngomong dari tadi" ujarnya sambil menoyor kepalaku.
"Mending di peternakan kalau begitu" sambungnya dengan memutar mata sebal.
"Mintakan pembalut sama ibu ya ..." ujarku pelan.
"Ogah! Minta sono sendiri. Nggak nyadar apa dah bikin kesel" ujar Anthony sambil memajukan bibirnya. Dengan kaki lebar dan dihentak-hentakkan dia melangkah keluar kamar sambil menutup pintu dengan kasar.
'Dasar gila. Sabar ... sabar ga boleh maksa dia kali ini. Sudah untung stresnya kagak kumat" gumamku dalam hati.
**
"Kemana istrimu, Thon," ujar Bu Ramly lembut sambil membelai kepala anak lelakinya.
"Di kamar, Bu. Nggak bisa ikut lain kali saja."
Bu Ramly hanya memandang anaknya penuh kekesalan, tapi dia tidak berkata banyak karena tidak ingin berdebat dengan sang anak. Dia tahu apa akibat jika anaknya sudah tersulut emosinya.
"Kali ini nggak usah diajak, tapi lain kali kamu nggak boleh lemah lo, Le. Laki-laki itu harus tegas. Jangan mudah dibohongi istri. Iyo to, Pak? Yo wes ayo berangkat" ujar Bu Ramly beralih kepada suaminya yang lagi asyik menonton TV. Sang suami hanya mengangguk-angguk sambil mematikan rokok di tangannya. Dan kemudian berdiri mengikuti langkah Sang istri.
"Bu ... saya mau keluar beli pembalut, boleh?"
Bu Ramly menghentikan langkah ketika mendengar suara bergetar Aryanti di belakangnya. Dengan tergesa-gesa dia berbalik dan mendekati sang menantu.
"Kamu ini pikun atau sengaja suka membuat kekacauan. Bukannya sudah pernah aku kasih tahu, kamu dilarang keluar gerbang tanpa ijinku. Kamu lupa atau memang sengaja melawan?"
Bu Ramly berteriak dengan ngos-ngosan. Rupanya ibu Anthony itu tidak mampu menahan emosi yang dari tadi dia pendam karena tidak mampu mengajak Aryanti ikut ibadat kepercayaannya.
Mendengar teriakan Bu Ramly sebagian pekerja peternakan yang akan ke kandang belakang rumah menoleh dan menghentikan langkah. Tak ayal lagi, kasak-kusuk di antara pekerja berdengung di telinga Aryanti. Berbagai pandangan terlontar dari wajah-wajah para pekerja. Tidak semua sama. Ada yang melontarkan pandangan kasihan, bahkan ada juga pandangan mencibir yang mereka lontarkan.Omelan itu membuat Aryanti hanya bisa menunduk malu. Tidak bisa dibayangkan di umur setua ini dia dimarahi di depan banyak orang yang baru beberapa bulan dikenalnya.
"Mbok Jum. Ambilkan Aryanti pembalut di kamar gudang" ujar Bu Ramly memerintah pembantu rumah tangganya.
Mbok Jum yang kebetulan lewat di teras tempat majikannya bersitegang mengangguk patuh dan dengan tergesa-gesa mengajak Aryanti masuk untuk mengambilkan pembalut yang dibutuhkan Aryanti. Sedangkan Bu Ramly yang masih emosi, sambil menggerutu panjang pendek dia mengajak suami dan anaknya masuk ke mobil. Tak lama berselang sang sopir segera melaju keluar gerbang menuju tempat beribadah.