AKU HARUS MENJAUHIMU 1

1350 Kata
POV HERU [Hallo Heru ...] Benda pipih itu bergetar. Menampilkan panggilan suara dari Pak dhe Ramly. Sejak Anthony menikah aku benar benar tak pernah mengunjungi kediaman Pak dhe yang sudah membiayai hidupku beserta seluruh keluargaku itu. [Ya Pak dhe ...] [Ada pesenan Kambing Sulawesi untuk hajatan Bu dhe Kasminah, tolong antarkan ke rumah Pak dhe sore nanti yaaa ...] [Enggih Pak dhe] Aku menutup panggilan setelah menjawab salam dari Pak dhe Ramly yang terucap di seberang sana. Sebelum menikah dengan Bu dhe Ramly, Pak dhe Ramly adalah seorang muslim karena memang keluarga kami muslim dari nenek moyang. Oleh sebab itulah alasan pernikahan Pak dhe sama Bu dhe Ramly tidak mendapat persetujuan dari keluarga Pak dhe Ramly dari pihak ibunya yang nota bene adalah nenek tiriku. Pak dhe Ramly adalah Kakak ipar dari ibu. Ayah adalah adik dari Pak Dhe Ramly. Ayah bernama Pak Wiryo. Walau Ayah dan Pak dhe Ramly saudara lain ibu tapi mereka satu ayah, Ayah orang yang tak memiliki harta karena semua harta yang di miliki oleh keluarga Pak dhe Ramly itu berasal dari ibunya bene. Semenjak Ayah meninggal, Istri Pak dhe Ramly membawaku untuk tinggal diasuh dan disekolahkan. Demi memilih menikah dengan Bu dhe Ramly yang nama aslinya Rohaya, Pak dhe Ramly meninggalkan seorang anak dari istri lain di rumah ibunya. Keputusan besar yang dia ambil akhirnya mengakibatkan dia terusir dari keluarga dan hingga tak mendapat warisan sedikitpun dari nenek tiriku, untung Bu dhe Ramly katurunan orang berada sehingga setelah meninggalkan rumah orang tuanya, kehidupan Pak dhe Ramly tidak mengenaskan meskipun terusir dan tidak mendapatkan warisan keluarga sepeserpun. Namun semua itu harus dibayarnya dengan mahal. Karena segala apa keputusan penting di rumah itu, Pak Dhe sedikitpun tiada hak ikut campur tangan. Sore ini aku tiba di kediaman Pak dhe Ramly. Hatiku berdegup dengan kencang. Tentu saja ada belahan jiwaku di sana. Aryanti ... ragamu mungkin sudah dimiliki Anthony sepupuku, tapi tidak dengan hatimu, aku yakin itu. Memendam cinta itu sulit, walau aku tahu cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, tapi aku tahu diri, bakal tak mampu memperjuangkan wanita yang menjadi impianku itu. Masalah utamanya karena dia di ingini oleh sepupuku anak dari Bu dhe yang segala tumpuan hidupku ada di tangannya. Walau tidak tinggal seatap, namun sejak kecil biaya hidup dan sekolahku ditanggung pak dhe Ramly beserta istrinya. Inilah alasan sebab mengapa aku tak bisa marebut Aryanti dari Anthony. ** Pada saat aku tiba di pekarangan rumah Pak dhe Ramly, tak terdengar suara apapun bahkan kejadian yang ada di dalam rumah besar tersebutpun tak pernah terbayangkan. Namun ... setelah aku berada di depan pintu keributan yang tengah terjadi dari dalam rumah baru kedengaran begitu santer. Teriakan yang ku yakini keluar dari mulut Bu dhe Ramly terdengar sangat menakutkan, sesekali ku dengar isakan bahkan jeritan kecil dari seorang wanita yang kuyakin itu suara Aryanti mengiringi setiap teriakan-teriakan Bu dhe Ramly. Perlahan-lahan aku membuka pintu yang sedikit terbuka, mengintip, ingin tahu sebenarnya kejadian apa yang sedang terjadi di dalam sana. Mataku terbeliak kaget ketika kudapati tubuh Bu dhe Ramly merangkak berusaha menggapai kaki Aryanti. "Sssttt ..." Pandanganku beralih ke suara suara yang seolah memanggilku. Kini keterkejutanku berlipat ketika melihat kondisi Pak dhe Ramly yang sedang terikat duduk di atas kursi. "Panggil dokter." Ku baca gerakan bibirnya dengan seksama. Dengan hati-hati aku segera beranjak keluar rumah untuk menelepon dokter. Karena pasti akan sulit memanggil dokter jika Bu dhe Ramly tahu tujuanku. [Hallo ... ] Suara dokter yang dari tadi ku tunggu tunggu akhirnya terdengar. Dengan ringkas dan lugas aku segera menceritakan kejadian yang dialami Bu dhe Ramly. Dokter Faizal adalah dokter keluarga yang memang khusus untuk menangani kondisi Bu dhe Ramly. Selama ini, jika orang tidak mengenal Bu dhe Ramly mereka tidak akan tahu jika Bu dhe Ramly memiliki sikis yang kurang sehat. Semenjak melahirkan dan dia tahu jika keadaan anaknya tidak seperti kebanyakan bayi normal lainnya sikis Bu dhe Ramly kemudian terganggu. Dia benar benar kaget karena anaknya memiliki kondisi yang begitu menghawatirkan. Rasa kesal, takut, khawatir bahkan penyesalan terus mengiringi hari demi hari Bu dhe Ramly, hingga keseharian Bu dhe Ramly hanya di isi dengan murung dan selalu menerawang. Kondisi yang seperti itu yang berkelanjutan mengakibatkan sikis Bu dhe Ramly kian menurun. Sehingga ketika emosi dia telah memuncak kadang dia tidak pernah mampu mengontrol diri sendiri. Tak lama kemudian, dokter Faizal datang dengan perlengkapan khususnya. Diiringi beberapa asistennya, dia tergopoh gopoh turun dari mobil dan kami segera Masuk ke dalam rumah yang sedari tadi ku biarkan sedikit terbuka. Setelah sampai ke dalam tidak menunggu waktu lama Dokter Faizal beserta beberapa asistennya langsung mendekat dan berusaha menyuntikkan obat penenang kepada Bu dhe Ramly yang sempat meronta. Sedang aku dengan tergesa berusaha membuka ikatan tangan Pak dhe Ramly yang terikat menyatu dengan kursi tempat dia duduk. Aku berjalan mendekati Aryanti yang tengah menutup Matanya dengan kedua tangan. Seluruh badannya bergetar, peluh membanjiri seluruh tubuhnya sampai membuat bajunya basah. Begitu kasihannya nasib gadis cantik ini. Aku yakin dia sangat syok dan ketakutan sehingga kejadian di sekitarnyapun tak sempat dia sadari. Ku angkat tubuhnya menjauh dari tempat kejadian. Seolah baru tersadar tangan yang menutupi wajahnya dia lepaskan. Ketika kesadarannya sudah benar-benar memulih, matanya menatapku dengan lekat. Terkejut, pasti itu yang dia rasakan. Semenjak hari pertunangan itu, baru Kali ini kami bertemu kembali. Ada banyak pertanyaan hadir lewat sorot matanya. "Hai namaku Heru. Maaf jika selama ini aku memakai nama Anthony untuk mengenalmu," ujarku gugup. Ku usap beberapa kali kepala di bagian tengkuk untuk menghilangkan kegugupan yang terus menderaku. "Okey ... kita ulang dari awal perkenalan ini. Perkenalkan lagi, Namaku Heru. Herundra tepatnya. Bolehkah aku mengenalmu, Duhai gadis pencuri hati?" Aku tetap berusaha membujuk dia yang terlihat begitu kesal melihatku. Ku sodorkan tangan untuk menjabatnya, tapi tanganku hanya mengambang di udara. "Anthony itu sepupuku." Aku menurunkan tangan yang dari tadi mengambang di udara sambil terus mencairkan suasana. "Aku mencintaimu, Aryanti. Sungguh!" Ku keluarkan jurus pamungkas karena dari tadi tak kunjung ku dapatkan respon baik darinya. "Namun ..." Aku sengaja menggantung ucapan untuk menunggu respon darinya. Namun, sekian detik aku tunggu dia hanya mencebikkan bibir seolah tidak perduli. "Dayaku tidak ada. Kamu dijodohkan dengan sepupuku. Aku ga mungkin membalas budi keluarga Anthony yang telah merawatku sejak kecil dengan merebutmu dari dia," ujarku melanjutkan. "Aku benar-benar tidak bisa melepas pesonamu di awal kita ketemu, Aku benar benar mencintaimu, untuk itu aku nekat menghubungimu dengan mengatas namakan Anthony," lanjutku ketika dia masih belum merespon cerita yang sejak tadi aku uraikan. "Please, Yanti, maaf ...," ujarku sambil menangkupkan kedua tangan di depan d**a. "Suatu masalah itu tinggal bagaimana cara kita untuk menyingkapinya, ini hanya masalah sepele. Jangan terlalu membuat sulit suatu masalah, karena jatuhnya akan terasa semakin su ...." Plakkk Tanpa menunggu ucapanku selesei, telapak tangannya mendarat dengan keras di pipi bagian sebelah kananku. "Sepele? Kamu bilang sepele? Kamu mampu berfikir apa tidak! Kamu sedang mempermainkan perasaanku, dan itu kamu bilang sepele," ucapnya berapi api. "Ka_kau ... dasar manusia egois!" Selesai mengucapkan kata-kata itu, kemudian dia berlari menuju kamarnya. Aku hanya bisa memandang kepergiannya dengan hati hancur. Percayalah tidak hanya kamu yang terluka akupun sama. Mungkin memang harus kulupakan rasa cinta ini, demi kebaikanmu dan juga demi kebaikanku. Aku merenung terkadang menyesali diri, kenapa aku tidak mampu mengambil keputusan sendiri. Keputusan hidupku selalu berhubungan dengan keluarga ini. Tanam budi yang telah aku rasakan tak kan sanggup untuk aku lupakan. ** Sekian lama aku terduduk di teras ini, ketika aku ingin beranjak ke kamar, ku dengar langkah kaki mendekat. Sentuhan lembut di pundak membuat aku menoleh untuk mengetahui siapa yang berdiri di belakangku. Ditariknya lenganku dengan keras ketika tiba-tiba aku berdiri dan mencoba beranjak untuk meninggalkannya. Sejenak kami saling adu pandang. Tak dapat terpungkiri, aku tak mampu menyembunyikan begitu saja kilat rindu yang ada di mataku. Karena jujur, memang aku sangat merindukannya. Namun dengan cepat wajahku kembali ku ubah datar. Tanpa berkata, perlahan aku melepaskan cekalan tangannya yang berada di lenganku. Kemudian dengan perlahan aku melangkah pergi tanpa menoleh kebelakang sedikitpun. Syok, kecewa aku yakin sudah pasti itu yang dia rasa. Karena semua itu juga kurasakan. Aku tak boleh menimbulkan harapan apapun lagi untuknya. Dengan berkaca kaca ku langkahkan kakiku untuk menjauhinya menuju kamar di lantai bagian atas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN