POV BU RAMLY

1023 Kata
Part 7 Pagi ini seperti biasa aku bangun lebih awal dari anggota keluarga. Memang harus begitu seorang ibu adalah contoh bagi kesemua anaknya. Apalagi sekarang aku mempunyai seorang menantu, wibawaku tak boleh luntur di hadapannya. Hari ini Budhe Kasminah sedang mengadakan hajatan besar-besaran. Berhubung keluarga kami adalah tetangga paling dekat, beliau mengharap keseluruh keluarga kami datang untuk membantu sampai prosesi acara selesei. Tak ketinggalan juga Aryanti. Jujur ... sebenarnya aku sangat tidak setuju jika gadis cantik itu ikut apapun acara yang mengharuskan berkumpul dengan tetangga sekitar. Tidak dipungkiri menantuku itu memang gadis cantik, dia rajin parasnya ayu, berpendidikan walau kadang tutur katanya terkesan sangat tegas aku rasakan. Namun aku yakin di bawah kendaliku ketegasannya itu tiada arti. Karena melihat segala kelebihan dia itu makanya aku tidak ingin melepaskannya. Cucu yang menggemaskan akan mudah aku dapat jika pasangan Anthony mempunyai kesempurnaan fisik seperti dia. Kami sekeluarga terutama aku, memang terkesan tertutup bila menyangkut urusan dia dengan dunia luar. Bahkan untuk menjaga agar dia tidak kembali ke rumah orang tuanya, segala akses dengan keluarganyapun aku tutup. Kini umur pernikahan mereka hampir menginjak empat bulan, kami sedikitpun tidak memperbolehkan dia berhubungan dengan siapapun di luar gerbang. Kekhawatiran keluarga kami memang beralasan. Kami tidak menginginkan jika menantu yang dengan susah payah kami dapatkan itu akan terpengaruh oleh orang luar, karena aku sadar menilik keadaan anakku Anthony, siapa yang akan sanggup hidup dengan lelaki liar seperti dia. Emosi yang kadang tidak stabil cenderung susah terkendali yang dimiliki sejak balita telah terlihat. Anak semata wayang kami yang dengan sepenuh jiwa kami besarkan ternyata bukan pejantan yang kami impikan. Tidak pernah terpikir kesalahan yang kulakukan di masa mengandungnya dulu, akan berakibat fatal. Sampai buah hati kami tumbuh dewasa dia terus menanggung segala perbuatan yang dulu ibunya lakukan. Penyesalan tinggal penyesalan karena nasi yang sudah menjadi bubur tidak akan mampu lagi berubah menjadi nasi kembali. Kejadian bersejarah itu tidak akan pernah lekang dari ingatanku. Dulu sebelum Mas Ramly menjadi suamiku, kami sampat berpacaran bukan waktu yang sebentar, karena waktu yang tidak sebentar itulah membuat aku sulit melepaskan dia ke pelukan wanita lain. Perbedaan keyakinan yang kami miliki akhirnya menjadi senjata pamungkas terpisahnya hubungan ini. Keluarganya menentang habis-habisan hubungan percintaan kami. Begitu halnya dengan keluargaku. Namun ... keluargaku masih ada sedikit toleransi. Jika aku mampu mengajak Mas Ramly mengikuti kepercayaan kami. Tak ada alasan lagi bagi kedua orang tuaku menentangnya. Ketika aku masih berusaha berjuang Mas Ramly menyerah dengan perjuangan cinta kami. Menurut dia, tak ada lagi jalan lain selain pasrah ketika dinikahkan dengan wanita pilihan orang tuanya. Tapi jangan sebut namaku Rohaya jika aku tidak mampu mengubah namaku menjadi Nyonya Ramly. Dengan segala kekuatan yang ada aku berhasil melanjutkan perjuanganku yang sempat tertunda. Walaupun aku akhirnya harus menjadi yang kedua. Nikah dibawah tangan tanpa mengantongi surat negara kami lakukan. Hanya karena aku ingin tetap selalu bersamanya. Setelah beberapa bulan kami menikah, Mas Ramly syok ketika aku mengabarkan bahwa aku tengah berbadan dua. Bukan ucapan selamat selayaknya yang diimpikan setiap istri, namun makian dan tamparan aku terima untuk pertama kalinya dari orang yang benar-benar aku sayang. Dendam membara memenuhi rongga d**a ketika Mas Ramly menyuruhku menggugurkannya. Janin yang aku harapkan bisa mengubah gelarku menjadi satu-satunya Nyonya Ramly malah menjadi tonggak kehancuran hubungan kami. Mas Ramly benar-benar marah, hingga dalam kurun waktu lama dia tidak mau menyambangi kediamanku. Untuk meraih kembali simpati Mas Ramly, dengan penuh kebencian aku berusaha menggugurkan janin yang ada dalam kandunganku, bagaimanapun aku sangat mencintai Mas Ramly. Tak ada yang melebihi cintaku terhadap lelaki itu walaupun darah dagingku sendiri. Tak mungkin aku mengabaikan segala perjuanganku ketika mendapatkannya. Demi bersama Mas Ramly segala cara untuk menggugurkan janin aku lakukan, bahkan juga mencoba meminum segala macam ramuan. Namun hasilnya nihil. Janin ini begitu gigih bersemayam dalam rahimku. Sehingga putus asa menderaku dengan segala usaha yang tidak membuahkan hasil. Namun Mas Ramly tetap kekeh dengan ancamannya. Dia benar-benar akan meninggalkanku selamanya, jika aku tidak menggugurkan darah dagingnya ini. "Apapun yang terjadi, jika aku tidak mampu memilikinya, tak kan kubiarkan oranglainpun menguasainya. Tidak juga dengan orang tuanya" ucapku di depan cermin berapi-api. Karena putus asa dengan segala tekanan yang ada, aku mendatangi kediaman orang tua Mas Ramly. Aku harus bertindak cepat sebelum terlambat. Demi memperjuangkan statusku yang semakin tidak jelas. Sampai di kediaman orang tua Mas Ramly, aku melihat pemandangan yang sangat menyakitkan. Mas Ramly terbuai dalam belaian wanita lain di atas balai. Tak boleh Mas Ramly melakukan ketidak adilan ini terhadapku. Aku meradang. "Aku masih di sini, Mas beserta darah dagingmu yang ada dalam kandunganku. Tak bisakah kamu mengerti sedikit saja perasaanku." Wanita itu mendongak terperangah mendengar suaraku. Ada gurat keterkejutan ketika melihat kedatanganku. Tapi aku sudah tidak perduli. Ini perjuanganku yang terakhir. Aku atau wanita itu yang harus mundur. "Sekalinya kamu masih berhubungan dengan wanita ini, Ramly?" ujar Orang tua Mas Ramly. Mereka bersamaan ke luar dari dalam rumah sambil melempar sebuah koper. Belum sempat aku berucap apapun ternyata mereka sudah bertindak di luar bayanganku. Mas Ramly di usir dari rumah. Ternyata tanpa sepengetahuanku Mas Ramly beserta orang tuanya membuat perjanjian, jika dia masih bersikeras berhubungan denganku, maka kedua orang tuanya akan mengusir dia dan mendepaknya dari lingkungan keluarga tanpa pertimbangan lagi. Dalam hati aku tersenyum. Tidak perlu melakukan apapun Dewi Keberuntungan telah berpihak kepadaku. Tak harus meluapkan emosi penuh karena kini, Mas Ramly sudah ada dalam pelukanku kembali. Terhuyung Mas Ramly menghampiriku. Aku tahu dia terluka. Namun memang harus ada salah satu yang menderita untuk kebahagiaan orang lain. Dan sudah menjadi guratan takdir bahwa kebahagiaanku hadir dari penderitaan dia. Setelah diusir orang tuanya, Mas Ramly ikut tinggal di kediamanku. Merasa terbuang dan sendiri membuat dia trauma dan menjadi takut akan terusir lagi sehingga dia berubah menjadi suami penurut. Dia semakin merasa bersalah apalagi ketika melihat tumbuh kembang darah daging yang pernah dia paksa gugurkan semakin hari semakin menunjukkan keanehan. Perasaan dia yang tertekan sekali lagi tentu saja menjadi keberuntungan tersendiri buatku. Dia semakin hari semakin patuh. Kesempatan itu tidak aku sia-siakan, pelan-pelan aku mengajak dia beralih mengikuti kepercayaanku, tanpa pikir panjang dan paksaan dia langsung menyetujuinya. Aku tidak memaksa, tapi hanya mempergunakan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya. Cayooo. Jangan pernah meremehkanku. Tidak pernah ada yang gagal dalam hidup Nyonya Ramly.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN