Hati Roy Yang Dingin

1146 Kata
Tara belajar berjalan tanpa menggunakan tongkat. Ia merasa risih dengan keberadaan benda itu di tangannya. Aktivitas Tara terasa terganggu dan ia sulit untuk bergerak dengan luas. Gadis itu tersenyum di depan cermin. Meski saat ini kakinya belum sembuh total, tapi setidaknya Tara sudah bisa berjalan tanpa menggunakan tongkat. “Dengan ini aku bisa mewujudkan impianku untuk menjadi penari balet. Perlahan-lahan kakiku bisa sembuh, dan aku akan kembali berjalan seperti dulu lagi,” gumam Tara senang. Tara kemudian merapikan rambutnya kembali. Hari ini Tara memutuskan untuk mengikat rambutnya ke atas agar ia tidak merasakan kepanasan dan repot untuk merapikan rambutnya ketika terkena angin. Tara tetap terlihat cantik, meski dengan bedak seadanya. Ia kemudian meraih tas yang sudah disiapkannya tadi malam, setelah itu turun ke lantai bawah. “Tara, mana tongkatnya, Nak?” tanya Umi Dewi saat melihat Tara turun dari tangga dengan tertatih. Umi Dewi langsung menghampiri putrinya itu dan membantunya berjalan. Umi Dewi khawatir jika kaki Tara bertambah parah nantinya. “Tara mau belajar berjalan tanpa tongkat, Umi. Soalnya, kegiatan Tara agak terganggu saat menggunakan tongkat itu,” jawab Tara sembari tersenyum. “Setidaknya Tara panggil Umi atau Mbah Uti untuk membantu turun ke bawah. Umi khawatir kaki Tara tambah parah nantinya.” “Umi nggak usah khawatir, Tara kuat kok.” Umi Dewi mengangkat kedua sudut bibirnya. Hati wanita paruh baya itu lega mendengar perkataan Tara yang lemah lembut. Umi Dewi bersyukur karena sifat Tara perlahan-lahan mulai berubah. “Mbah Uti senang melihat Non Tara sudah bisa berjalan tanpa tongkat,” ujar Mbah Uti saat Tara dan Umi Dewi tiba di meja makan. “Alhamdulillah, Mbah. Berkat doa dan kasih sayang Umi dalam merawat Tara, hari ini Tara bisa berjalan tanpa tongkat. Meski masih tertatih-tatih,” jawab Tara. “Nggak apa-apa, Sayang. Perlahan-lahan semuanya akan kembali seperti dulu. Tara bisa berjalan seperti biasanya dan impian yang selama ini Tara impikan bisa Tara dapatkan nantinya.” Tara menoleh cepat pada Uminya. “Umi mendukung Tara untuk jadi penari balet?” tanya Tara memastikan, Umi Dewi mengangguk sembari tersenyum. “Umi akan selalu mendukung apa pun yang ingin Tara capai, asalkan tidak menyimpang,” jawab Umi Dewi. Mata Tara tampak berkaca-kaca, ia yang kini sudah duduk di samping Umi Dewi pun langsung memeluk Uminya dengan erat. “Terimakasih, Umi. Tara beruntung bisa bertemu dengan Umi yang selalu baik sama Tara. Tara bersyukur karena Tuhan mengirimkan Umi untuk jadi malaikat penyelamat Tara.” Tanpa disadari, Tara terisak di dalam pelukan Umi Dewi. Begitu juga Umi Dewi yang semakin mempererat pelukannya. “Umi sayang sama Tara. Sampai kapan pun cinta dan kasih sayang Umi nggak akan pernah berubah.” “Umi,” lirih Tara. Mbah Uti yang duduk dihadapan Umi Dewi dan Tara pun juga tak mampu menahan air matanya. Beliau mengusap lembut pipinya yang keriput, kemudian menatap ibu dan anak itu dengan penuh haru. “Alhamdulillah, Mbah senang melihatnya. Bu Dewi dan Non Tara akan terus seperti ini ‘kan?” tanya Mbah Uti penuh harap. Umi Dewi melepas pelukan Tara. “Iya, Mbah. Alhamdulillah, Dewi juga sangat bahagia. Insyaallah kita akan selalu seperti ini. Iya ‘kan, Sayang?” Umi Dewi menoleh pada Tara. Tara mengangguk, tersenyum sempurna. “Iya, Umi. Tara berharap kita akan seperti ini untuk selamanya,” jawab Tara berkaca-kaca. *** Tara turun dari mobil dengan wajah sumringah, berbeda dari sebelumnya. Kali ini Tara merasakan bahwa dirinya seperti terlahir kembali, semua penderitaan seakan hilang. “Mang, nanti nggak usah jemput Tara, ya,” ucap Tara pada Mang Udin lembut. “Tapi, Non. Ibuk bilang Mamang harus tunggu Non Tara sampai pulang sekolah nanti," jawab Mang Udin sedikit gelisah. “Kenapa memangnya, Mang? Tara pulang lama loh.” Mang Udin menggeleng. “Mamang juga nggak tau, Non. Dilihat dari ekspresi Buk Dewi, sepertinya beliau takut jika Non sampai kenapa-napa,” jawab Mang Udin. Tara mengerutkan kening. Ia semakin merasa aneh dengan sikap Uminya yang sangat sensitif. Mungkin karena firasat seorang ibu tak bisa dibohongi, Umi Dewi merasa kalau ada seseorang yang akan mencelakakan putrinya. “Ya sudah, Mang Udin tunggu di situ saja, ya,” tunjuk Tara pada parkiran sekolah. Mang Udin mengangguk. “Baik, Non.” Tara langsung meninggalkan Mang Udin dan menuju ke kelasnya. Di koridor sekolah yang belum terlalu ramai, Tara melihat Roy berjalan berlawanan arah dengannya. Tara bingung, mungkin Roy meninggalkan sesuatu di motornya. “Roy,” sapa Tara. Roy menghentikan langkah. Ia sama sekali tidak menoleh pada Tara, meski Roy sudah tahu dengan kedatangan gadis itu. “Lo mau ke mana?” tanya Tara lagi dan mencegat Roy melangkah dari sana. “Bukan urusan lo,” jawab Roy yang terdengar cuek. Bukan hanya itu saja, panggilan Roy juga berubah pada Tara dan lebih kepada panggilan antara musuh dengan musuh. “Lo kenapa, Roy? Berubah gitu sama gue?” Tara bingung sekaligus heran pada raut wajah pria itu yang juga ikut berubah. “Nggak ada urusannya sama lo. Mending fokus pada diri sendiri,” jawab Roy tajam. Tara mengerutkan kening, sikap Roy sangat berbeda dengan sebelumnya. Bahkan, tadi malam saja pria itu mengatakan suka pada Tara. Dan, sekarang ia seolah-olah menemukan wanita lain dan melupakan Tara. “Tadi malam lo bilang apa sama gue?” Tara mencoba mengingatkan Roy tentang pernyataannya tadi malam. “Yang mana? gue nggak ingat,” jawab Roy pura-pura lupa. Mulut Tara terbuka sempurna. Ia takjub dengan perubahan sikap Roy hanya hitungan beberapa jam saja. Tara semakin berpikir bahwa Roy selama ini pura-pura baik padanya. Padahal, di dalam hati pria itu masih tersimpan dendam dan benci untuknya. “Dugaan gue selama ini benar. Lo hanya berpura-pura baik dan perhatian hanya untuk menyakiti. Seharusnya gue sadar dari awal. Sikap lo yang tiba-tiba berubah setelah gue kembali lagi ke sekolah ini. Seharusnya gue menyadari hal itu.” “Bukan salah gue kalau lo nggak bisa membedakan mana orang tulus berteman sama lo, dan mana yang hanya berpura-pura. Lo terlalu cuek dan selalu berpikiran negatif, sehingga tidak bisa menilai hal itu dengan benar.” Tajam. Perkataan Roy sangat menusuk ke jantung Tara. Ia sedih dan tidak menyangka jika Roy akan seperti itu. Mata Tara berkaca-kaca, butiran hangat itu siap untuk membasahi pipinya. Namun, sebelum Tara menangis, Roy terlebih dahulu meninggalkan Tara di sana. “Roy, kenapa lo berubah,” lirih Tara. Air mata yang tadi ditahannya, akhirnya terjatuh begitu saja. Sementara Roy yang meninggalkan Tara tampak geram. Ia merasa senang karena sudah berhasil membuat Tara jadi sakit hati. Tapi, ia juga merasakan ada yang aneh di hatinya, Roy merasa tersakiti juga. “Maaf, Tara. Aku nggak pernah berniat untuk menyakitimu, tapi ini semua aku lakukan untuk membalas kematian Safa. Aku tau kamu tidak ada hubungannya dengan hal ini. Tapi, aku nggak mau berhubungan dengan anak dari seorang pembunuh. Maafkan aku. perasaan ini akan aku hapus untuk selamanya,” batin Roy. Roy terus berjalan dan menuju parkiran dengan suasana hati yang tak bisa dikatakan bagaimana. Ia kecewa dan juga sangat terluka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN