Roy mengikuti Papanya bersama ayah Sofia menuju ruang kerja. Sembari melirik kiri dan kanan, Roy memperhatikan setiap langkahnya agar tidak ketahuan nantinya. Ia harus tahu, ada hubungan apa antara Papanya dengan ayah Sofia.
“Gue curiga, ayah Sofia pasti mau mempengaruhi papa nantinya. Itu nggak akan pernah terjadi, gue nggak biarkan ayah Sofia mempengaru papa,” batin Roy.
Roy segera masuk ke ruang kerja papanya sebelum pintu otomatis itu tertutup dengan sempurna. Setelah berada di dalam sana, Roy kembali mencari tempat untuk bersembunyi. Ia melihat dua orang pria paruh baya itu masuk ke ruangan rahasia yang Roy sendiri baru mengetahui hal itu.
Roy terkejut, dibalik lemari besar yang ada di ruang kerja papanya itu ternyata ada ruangan kecil yang hanya papa Roy sendiri yang tahu. Roy belum pernah melihatnya, meski ia sering masuk ke ruang kerja papanya.
“Ruang rahasia? Kenapa gue nggak pernah tahu?” geleng Roy nggak percaya.
Roy kemudian keluar dari persembunyiannya. Berjalan mengendap-endap sembari memperhatikan lemari itu. roy takut jika sewaktu-waktu papanya keluar dari dalam sana tanpa sepengetahuannya nanti.
“Ini bukannya bersebelahan dengan kamar Safa? Kenapa papa masuk ke ruangan yang sangat dekat dengan kamar Safa? Apa papa menyembunyikan sesuatu di dalam sana yang tidak gue ketahui?” tebak Roy heran, ia bingung dengan situasi saat ini.
Roy kembali teringat pada adiknya yang sudah lama tiada ditangan penjahat. Roy sangat marah jika mengingat kejadian tragis itu kembali. Ia sampai saat ini masih mencari pelaku yang tega menghabisi nyawa adiknya.
“Apa gue harus masuk ke kamar Safa dulu, agar tahu apa yang sedang terjadi di dalam sana?”
Roy masih bingung dengan hatinya yang sebagian mengatakan tidak. Setelah kepergian Safa, kamar adik perempuan Roy tidak pernah dibuka sampai saat ini. Roy juga tidak ingin masuk ke dalam sana karena tak mau terus-terusan mengingat sang adik. Pria tu berpikir sejenak, hingga ia menemui keputusannya.
“Untuk hari ini, gue akan masuk ke kamar Safa.”
Setelah memantapkan hati, Roy keluar dari ruang kerja papanya. Ia segera mencari kunci kamar adiknya itu yang tersimpan di dalam lemari kecil yang berada di depan kamarnya. Setelah menemukan benda itu, dengan segera Roy membuka kamar Safa sebelum mamanya pulang.
Roy terpaku di ambang pintu, kakinya berat untuk melangkah lebih dalam lagi. Bayangan Safa yang bermain di dalam kamarnya kembali terlintas di depan Roy. Pria itu menitikkan air mata, ia sangat merindukan adiknya itu.
“Safa,” lirih Roy pelan.
Roy perlahan mendekat ke ranjang yang biasa Safa gunakan untuk tidur. Kamar yang bernuansa merah muda itu terlihat masih seperti dulu, saat Safa masih hidup. Tidak ada yang berubah, bahkan spreinya masih sama saat Safa sebelum tiada.
“Maafin Kakak, Dek. Sampai saat ini Kakak masih belum bisa menangkap mereka yang sudah membuatmu terpisah dari Kakak. Kakak janji akan segera menemukan mereka.” Roy menangis sembari menahan sesak di bagian hatinya.
Pria itu terduduk lemas di sisi ranjang sembari mengusapnya pelan. Sesekali Roy membayangkan bahwa Safa tengah tersenyum padanya saat bangun tidur. Roy tersenyum, tangannya meraba wajah sang adik yang masih terlintas di matanya.
“Jadi bagaimana dengan pria itu?”
Roy tersentak, ia terkejut ketika mendengar suara papanya mendekat. Roy celingukan mencari tempat persembunyian. Suara dua orang pria itu semakin lama semakin terdengar mendekat. Sehingga membuat Roy gelagapan dan memilih untuk bersembunyi di tempat seadanya yang dia rasa cukup aman.
“Kami sudah menyelidiki tentang pria itu. Dia seorang pemabuk yang sering menyiksa anak dan istrinya. Tapi, sekarang dia sudah berada di dalam jeruji besi karena sudah menghabisi istrinya sendiri,” jelas ayah Sofia.
Roy yang saat ini bersembunyi di dalam lemari pakaian Safa, terkejut saat kedua orang itu masuk melalui pintu rahasia yang selama ini digunakan Safa untuk berganti pakaian. Roy sama sekali tidak pernah menduga jika ruang kerja papanya akan terhubung dengan kamar Safa. Mungkin mama Roy juga tidak tahu tentang ini, atau kedua orang tuanya sengaja menyembunyikan rahasia itu dari Roy.
“Bagaimana dengan anaknya?” tanya papa Roy lagi.
“Itu dia masalahnya. Saat ini putri pria itu juga berada di sekolah yang sama dengan anak-anak kita.”
“Maksudnya, dia juga bersekolah di SMA Seni?” tanya papa Roy memastikan, ayah Sofia mengangguk.
Roy mendengarkan inti dari pembicaraan itu. Saat ini papanya bekerja sama dengan ayah Sofia untuk menemukan pelaku yang telah menghabisi Safa. Dengan begitu, Roy akan mudah menemukannya nanti dan melihat wajah pelaku itu.
“Siapa namanya?”
Ayah Sofia menarik napas panjang. “Dia gadis yang selalu mencari masalah dengan putriku, karena dia Sofia di skors untuk beberapa minggu.”
Roy mengerutkan kening, mencerna maksud dari perkataan pria itu. “Apa jangan-jangan,” batin Roy. “Nggak mungkin dia,” lanjut Roy dengan menggelengkan kepalanya.
“Namanya Tamara Alveria, seorang penari balet yang saat ini diadopsi oleh keluarga kaya. Putramu berteman dekat dengannya.”
Roy terkejut, ia tak percaya jika Tara adalah anak dari orang yang dengan tega melenyapkan adiknya. Roy masih mencoba mendengarkan kembali secara rinci maksud dari pembicaraan papanya itu.
“Aku ingin bertemu dengan gadis itu. Aku akan membalaskan dendamku kepadanya, biar dia tau rasa akibat dari perbuatan ayahnya itu.”
Papa Roy terlihat geram, sedangkan ayah Sofia tersenyum karena sakit hati putrinya akan segera terbalaskan melalui papa Roy. Roy menarik napasnya berat, ia sama sekali tidak percaya jika ayah Tara lah yang dia cari selama ini.
Baru saja tadi Roy mengatakan perasaannya pada Tara, kini ia dilema terhadap perasaannya itu. Roy bingung antara membiarkan rasa itu tumbuh dihatinya, atau ia harus segera menguburnya jauh-jauh.
“Mungkin gue salah dengar, nggak mungkin ayah Tara yang melakukannya.”
Roy sibuk dengan pikirannya, sementara papanya dan ayah Sofia sudah keluar dari kamar Safa. Perlahan Roy membuka lemari pakaian milik adiknya itu, ia dengan hati-hati untuk memastikan bahwa kedua pria paruh baya itu beneran sudah keluar.
“Gue harus mencari tahu kebenarannya dulu. Jika memang benar ayah Tara pelakunya, gue nggak akan pernah memaafkan pria itu,” ujar Roy.
Dengan geram dan hati yang masih belum menerima, Roy keluar dari kamar Safa. Ia berjalan ke kamarnya tanpa menoleh sedikit pun. Padahal, mamanya yang baru saja pulang memergokinya keluar dari kamar Safa.
“Roy,” sapa Mamanya.
Roy menghentikan langkah, wajahnya langsung pucat pasi. “Iya, Ma. Ada apa?” tanya Roy berbalik menatap mamanya.
Mama Roy mendekat, sebelum itu matanya melirik ke kamar Safa yang lampunya masih menyala.
“Kamu kenapa keluar dari kamarnya Safa?” tanya Mama Roy penuh selidik.
Roy gelagapan, ia mencari jawaban agar Mamanya tidak curiga nanti. “Roy rindu Safa, Ma,” jawabnya. Kepala Roy menunduk untuk mengoptimalkan perannya.
Mama Roy terdiam, wanita bergaya sosialita itu pun menatap kamar putri tercintanya. Roy menegakkan kepala saat suara mamanya tidak terdengar. Ia melihat mamanya menangis karena sangat merindukan adiknya itu.
“Mama juga rindu Safa, Roy. Kamar itu sepi setelah kepergian adikmu. Mama belum bisa menerima kenyataan itu, sebelum pelakunya tertangkap,” isak Mama Roy.
Roy mendekat dan menenangkan mamanya. “Roy akan mencari pelakunya, Ma. Roy akan memastikan pria itu dihukum dengan sangat berat. Dia dan keluarganya nggak akan pernah bisa hidup dengan tenang.”
Roy menatap tajam kamar Safa, tangannya terkepal kuat karena amarahnya sudah berada di puncak. Roy juga bertekad akan melupakan Tara dan membalaskan dendam adiknya. Ia tidak akan berhubungan lagi dengan Tara, meski gadis itu membutuhkan dirinya.