Inez kembali menggerakkan pisau lipatnya dan goresan itu semakin banyak diciptakannya. Darah segar mengalir di ke dua pipi Lia, tetapi wanita itu tidak merasakan apa pun seolah seluruh tubuhnya mati rasa. “Kenapa tidak menjerit?” tanya Inez. Tangannya semakin lincah menggoreskan ujung pisau tajam itu. Lia diam, ke dua matanya menatap Inez sangat tajam bagaikan ujung samurai yang siap untuk memblah mangsanya. Lia sangat membenci Inez, terlebih lagi saat Inez mencelakai putrinya yang tidak tahu apa-apa. “Jangan pernah bermain-main denganku, Lia. Karena aku tidak akan berpikir lagi untuk menyakiti putrimu.” Jika saja ke dua tangan Lia tidak terikat oleh tali, pastilah sekarnag wanita itu akan menjambak rambut Inez lalu membenturkan kepalanya. Akan tetapi, sekarang ini Lia sedang dalam k

