Bab 6 Fakta Mengejutkan

1014 Kata
“Ada suatu saat kita tidak dapat memilih yang terbaik. Ada suatu saat di mana kita berbuat kesalahan, dan hidup dalam kenangan penuh penyesalan.” - Winna Efendi. . Laki-laki itu tercekat. Ucapan Madeline ada benarnya. Namun, Helio juga tidak terima disalahkan sepenuhnya atas apa yang menimpanya dengan Kiara. Sebab setiap suntikan yang diberikan Anna, Kiaralah dalang di balik itu semua. "Aku? Menyakiti adikmu? Asal kamu tahu ya, Kiaralah yang membuatku terjebak dalam pernikahan ini. Dia sengaja menghasut ibuku agar mau menikahi kami. Jadi, apa salahnya aku menikmati semua fasilitas ini sebagai bayaran atas apa yang adikmu perbuat?" "Hahaha."' Madeline atau yang biasa di panggil Maddie itu tertawa keras mendengar omong kosong yang keluar dari mulut busuk Helio. Sebelum akhirnya kembali membungkam laki-laki di depannya dengan fakta yang wanita itu ketahui. "Aku kenal siapa Kiara. Dia terlalu baik dan tumbuh dalam lingkungan yang terlalu baik untuk dituduh serendah itu oleh laki-laki tidak tahu diuntung sepertimu. Apa kamu tahu, Helio, adikku sudah lama mencintai kamu, tapi dia tidak pernah menjadi egois untuk merebutmu dari perempuan itu. Dan alasan dia pergi ke Paris agar bisa melupakanmu, agar hubungan persahabatan kalian tetap baik-baik saja. Tapi, apa? Setelah dia kembali kamu sendiri yang menghampirinya dan memintanya menemani kalian bertemu ibumu. Kau juga harus tahu, jika bukan karena merasa kasian pada ibumu, Kiara tidak akan pernah mau menikah denganmu, Helio. Dalam hal itu dia mengesampingkan perasaannya , yang dia pikiran hanya kondisi ibu dari sahabatnya. Terlebih kau yang terus memohon padanya dengan tidak tahu malu, apa kau lupa, Helio. Jujur, kalau aku jadi kau, aku akan sangat tahu diri. Harusnya segenting apapun kondisimu saat itu, tidak seharusnya kau melamar Kiara. Status kalian beda jauh, seperti langit dan bumi. Harusnya kau tahu malu, Helio, bukan malah menikmati semua yang kau dapat dari keluargaku dan menyakiti adikku. Ingat, Helio, sudah lama aku muak menyaksikan Kiara dengan kebodohannya. Sekarang aku tidak bisa berdiam diri lagi, sebaiknya segera persiapkan dirimu untuk keluar dari perusahaan, atau aku sendiri yang akan menendangmu dengan hina. Kamu tidak lupa, kan, aku punya 50 persen saham di perusahaan ini?" Tanpa memberi kesempatan Helio untuk menjawab. Madeline segera berlalu ke ruangannya. Sementara Helio terdiam di tempat. Kakinya terlalu lemah untuk digerakkan. Kata-kata Madeline seperti pukulan keras yang membuat laki-laki itu tersadar. Sebuah kebenaran telah membangunkan Helio dari tidur panjangnya. Tentang dirinya yang tidak tahu diri, juga segenap fakta tentang Kiara dan perasaannya. 'Benarkah seperti yang barusan Maddie katakan? Jadi, Kiara benar-benar tulus membantuku demi ibu?' Dalam kegamangan, Helio berusaha mengumpulkan tenaga untuk berjalan ke ruangannya yang terdapat di bagian selatan paling ujung. Meski akhirnya berhasil menggapai kursi kebanggaannya, Helio tidak bisa berkerja dengan baik sekarang. Pikirannya sedang kacau, dan tidak bisa dipaksa untuk professional. Bayangan Kiara begitu menghantui, dan segala ketidakadilan yang diberikan untuk wanita itu. "Jadi, dia ke Perancis hanya untuk menghindariku. Kenapa Kiara tidak pernah memberitahuku soal itu?" Helio bertanya pada diri sendiri. "Kalau sejak awal kami kenal Kiara sudah memiliki perasaan terhadapku, kenapa dia tidak pernah menunjukkannya?" Telunjuk Helio mengetuk-ngetuk meja di depannya. Dia sibuk menghubungkan banyak hal, hingga timbul sebuah penyesalan besar. Ternyata ada kejanggalan yang tidak terbaca olehnya selama ini. Sejak dulu, tiap kali bertemu Kiara selalu menghindari kontak mata dengannya. Istrinya itu juga selalu membantunya dan Anna tiap kali terjebak dalam kesulitan. Sejauh yang Helio kenal, Kiara adalah sosok yang tulus. Tidak pernah mengharap pamrih, apalagi sampai melakukan hal yang dia dan Anna tuduhkan. Seperti yang Madeline sampaikan, Kiara terlalu baik untuk mendapat tuduhan seperti itu. Dan Helio baru menyadarinya sekarang. "Pasti dia sangat sakit tiap kali melihatku bersama Anna dulu." Yang Helio tidak habis pikir, Kiara sahabatnya, tidak pernah menunjukkan rasa sakit itu di depannya. Sungguh Helio sangat menyesal, malu dan merasa bersalah. Sepanjang jam kerja hanya dihabiskannya untuk melamun. Karena bisikan iblis, laki-laki itu telah kehilangan hal paling berharga dalam hidupnya. Semua kejahatan yang dia lakukan untuk membalas Kiara, nyatanya kini berbalik menyakiti dirinya sendiri. Helio meringis. Tangannya mencengkram d**a yang tiba-tiba terasa ngilu. Itu bahkan tidak ada apa-apanya dibanding sakit yang dialami Kiara selama ini. "Maaf." "Maafkan aku." "Maaf, telah salah memahamimu." Beberapa kali Helio berucap lirih. Namun, sosok yang dimaksud untuk permintaan maafnya, tidak pernah ada di sana. Kalau Helio lupa, semalam, Kiara telah pergi dari hidupnya, dengan satu kalimat mengerikan yang masih terngiang di telinga Helio hingga kini. "Aku tidak lagi mencintai kamu, Helio." . Mobil mewah yang dikendarai berhenti di depan butik milik Kiara. Seperti yang telah laki-laki itu rencanakan, sepulang kerja, Helio akan menemui wanita yang masih berstatus istrinya. Dia bermaksud mengajak Kiara pulang ke apartemen bersamanya. Namun, ketika pintu mobil hendak terbuka, pemandangan di dalam sana, membuat rahang laki-laki itu mengeras seketika. Di balik kaca transparan itu, Kiara tampak sedang asik berbicara dengan seseorang. Seseorang yang semalam dikenalkanya sebagai kekasih. "Brengsek." Tidak tahan dengan kehangatan yang disaksikan di dalam sana, Helio segera menginjak pedal gas, dan melajukan mobil dengan kencang. Laki-laki itu binging ke mana arah tujuannya. Ke mana membawa perasaan yang tiba-tiba terasa tidak biasa. "Tidak. Aku tidak boleh cemburu pada Kiara. Jika pun aku ingin menemuinya, itu hanya karena rasa bersalah dan kasihan, bukan karena cinta." Helio terus menyakinkan dirinya sendiri untuk tidak berlebihan pada Kiara. Untuk melupakan satu hal yang sempat mengusiknya di masa lalu, saat masih kuliah dulu. Namun, urusan hati selalu saja bertentangan dengan logika. Semakin menepis, semakin banyak bayangan Kiara menari-nari dalam kepalanya. Kadang tersenyum begitu manisnya, kadang sedang menangis dengan begitu pilunya. "Nak, Ibu sangat senang akhirnya kamu menikah dengan wanita pilihan Ibu. Tolong jaga dia baik-baik, jangan pernah menyakitinya. Ibu sangat menyayangi Kiara seperti Ibu menyayangi kamu, Helio." "Iya, Bu. Helio janji akan menjaga Kiara." Kurang lebih, begitu janjinya dengan Bu Zulaikha suatu hari di rumah sakit, sebelum beliau menghembuskan nafas terakhir keesokan harinya. Dan janji itu teringkari tidak lama setelah kepergian Bu Zulaikha. Betapa sakitnya Helio hari ini dengan penyesalan yang bertubi-tubi. Dia seperti baru sembuh dari amnesia yang dialaminya selama dua tahun ini. "Maafkan Helio, Bu." Helio berjongkok di makam Bu Zulaikha, dengan air mata mengucur deras. Setelah berputar-putar tanpa arah di jalanan, dia berakhir di tempat peristirahatan ibunya. "Maaf, telah mengecewakan Ibu." Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN