"Aku tidak menyangka kita bertemu lagi," Jacob mendaratkan tubuhnya ke sofa setelah dipersihlahkan Kiara, pemilik Renjaana Butique.
Baik Kiara maupun Jacob, sama-sama tidak menyangka, setelah semalam bertemu di hotel, sekarang mereka kembali bertatap muka.
Bahkan wangi tubuh masing-masing yang sempat tercium satu sama lain ketika berdansa, masih meninggalkan sisa. Sepertinya ada sebuah kejutan besar yang sedang dipersiapkan oleh semesta.
"Aku saja sampai tidak percaya saat melihat siapa yang menggeser pintu itu, tadi," Kiara menunjuk ke arah pintu masuk sembari tersenyum, "anyway, ada yang bisa kubantu, Tuan Jacob?"
"Kau sangat ahli membuat suasana hatiku berubah, Nona Kiara," desis laki-laki yang mengenakan kaos hitam yang dibalut jaket kulit berwarna coklat gelap. Bawahan celana jeans dan sepatu pantofel membuat tampilan Jacob semakin cool.
Laki-laki yang baru semalam ditemui Kiara itu, tampak sempurna dalam tampilan gaya apapun. Saat dalam balutan pakaian formal terlihat wah, kasual juga boleh-boleh saja. Tingkat ketampanannya menduduki posisi ke 9 dari 10 urutan angka.
"Hahaha." Kiara yang paham dengan maksud ucapan Jacob, tidak mampu menahan tawa. Hingga laki-laki itu merasa seperti baru saja memenangkan tender besar. Hanya karena wanita yang menurutnya lumayan kaku semalam, kini tertawa karena ulahnya.
"Maaf, aku hanya mencoba bersikap profesional. Jadi, dalam rangka apa kamu kemari? Mencari jas, fitting baju pengantin, atau ... semacam gaun untuk kekasihmu?" tanya Kiara ramah.
"Soal jas, aku punya desainer pribadi, langsung dikirim dari luar negeri. Kalau untuk fitting baju pengantin, aku belum berencana menikah di tahun ini. Oh, satu lagi ... gaun untuk kekasih. Aku bahkan belum menemukan orangnya. Orang yang akan diberi gaun," jawab Jacob begitu saja.
Ada perasaan tidak suka saat Kiara menduga tujuannya kemari untuk beberapa alasan itu.
"Ah, berarti aku salah, ya. Tadinya aku yakin kamu ingin fitting baju, rupanya kau malah belum mau menikah. Padahal, usiamu terlihat lebih tua dariku."
"Memangnya kamu sudah menikah?"
"Sebentar lagi mungkin akan jadi janda," jawab Kiara spontan. Lalu, cepat-cepat menutup mulut dengan tangannya. Kiara mengutuk diri sendiri karena terlalu ceplas ceplos di hadapan Jacob. Padahal, dia bukan orang yang bisa dibilang banyak bicara atau sok dekat dengan orang yang baru dikenalnya.
Di sisi lain, Jacob sempat begitu kaget mendengar jawaban wanita bermata amber itu. Namun, dia mencoba bersikap biasa saja. Seolah tidak peduli dengan status Kiara. Meski ada yang tiba-tiba riuh di dalam sana.
'Baru mau dijadikan target, malah sudah hampir menjadi janda. Berarti statusnya sekarang masih istri orang, dong. Memang belum beruntung kamu, Jacob.'
"Sorry-sorry, mulutku memang suka sembarangan, sampai harus mengungkit masalah pribadi. Sebaiknya, kita lupakan saja omonganku barusan. Jadi, apa yang membuat kamu sampai berkunjung ke butikku?" ujar Kiara sembari menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Hari ini dia tampak anggun dalam balutan kemeja denim dan celana kain warna putih.
"Sebulan lagi Mamiku ulang tahun. Dan rencananya kami akan mengadakan pesta. Jadi, aku berencana memberinya gaun hasil pilihanku sendiri, yang akan kuberikan sehari sebelum acara pesta ulang tahunnya berlangsung. Kejutan kecil.
Aku yang kurang paham dengan hal-hal yang berhubungan dengan wanita, meminta sekretarisku untuk mencari tahu butik terbaik di kota ini, dan dia menyuruhku datang kemari. Rupanya butik ini punyamu."
Kiara manggut-manggut, dalam hati, wanita itu merasa bangga ada yang merekomendasikan usaha yang telah dikembangkannya dengan susah payah sebagai salah satu pilihan terbaik.
"Kalau begitu, silahkan kamu lihat model gaunnya serta model kainnya, di sini. Kamu tinggal pilih saja, biar nanti kuberitahukan desainerku untuk merancangnya. Tapi, bagaimana kita akan mengetahui ukuran yang pas dengan Mami kamu?" tanya Kiara menatap bingung ke arah laki-laki itu.
Sementara Jacob, sibuk membolak-balikkan lembaran-lembaran kertas yang berisi gambar-gambar model gaun, yang barusan diberi oleh Kiara.
Dia sama sekali tidak ambil pusing perihal kebingungan yang tengah melanda wanita di sebelahnya saat ini.
"Awalnya aku ingin memilih sendiri model dan bahan untuk gaunnya. Tapi, melihat gambar-gambar ini tiba-tiba kepalaku jadi pusing. Jadi, begini saja, kamu pilihkan bahan dan model yang sesuai dengan usia Mami, nanti biar aku kirimkan ukuran serta foto Mami sama kamu. Bagaimana?" tawar Jacob terdengar sedikit tidak masuk akal.
Bagaimanapun akan sulit mencocokkan ukuran dan model jika tidak melihat orangnya secara langsung. Apalagi dilihat dari background Jacob, keluarganya bukan orang sembarangan. Dan Maminya pasti sudah sering masuk keluar butik hanya untuk sebuah gaun.
"Tapi, aku khawatir hasilnya tidak bagus dan akan membuat pelangganku kecewa nantinya. Setidaknya aku harus melihat dan mengukur orangnya secara langsung."
Jacob yang mengerti tentang kekhawatiran wanita yang menurutnya mewarisi sebagian besar standar kecantikan wanita Yunani itu, mulai tersenyum dan memasang wajah penuh keyakinan.
"Hei, coba lihat aku. Aku percaya padamu, Kiara. Kalau kamu melakukan dengan baik dan penuh cinta, hasilnya pasti akan sempurna, dan ... aku pasti akan menyukainya. Apalagi Mami.
Tugasmu hanya merancang gaun yang menurut kamu cocok untuk dikenakan Mamiku. Soal penilaian serahkan padaku. Aku yakin, kita tidak akan saling mengecewakan, apalagi sampai menyakiti satu sama lain.
Kamu tidak perlu merasa minder, apalagi dalam hal bisnis. Kamu dan apa yang kamu punya hari ini, sudah menunjukkan kalau kamu adalah sosok wanita berkelas, Kiara. Hanya karena satu laki-laki meremehkanmu, bukan berarti semua laki-laki akan menganggap sama. Pahamkan, maksudku?"
Kiara hanya bisa mengangguk. Kata-kata Jacob memiliki arti yang sangat dalam untuk dicerna. Tidak menyangka, ternyata laki-laki yang semalam menolongnya, memiliki sisi dewasa yang bijaksana. Serupa tampang dan penampilannya.
'Kenapa tidak Helio saja yang seperti ini?' batin Kiara tanpa mengalihkan pandangannya dari Jacob.
Selama ini, Helio hanya bisa menjatuhkan, tidak pernah memberi Kiara apresiasi atau sekedar semangat saat wanita itu memerlukannya. Padahal, seperti kata Habibi yang ditujukan kepada sang kekasih hatinya, Ainun, "cinta sejati itu memandang kelemahan, lalu dijadikan kelebihan untuk saling mencintai."
Namun, pada kenyataannya, kisah Kiara dan Helio memang jauh dari kisah dua insan yang bahkan layak dijadikan panutan.
"Hei, paham tidak?" tanya Jacob sekali lagi. Memudarkan lamunan Kiara.
"Iya, aku paham."
"Kalau begitu, berikan nomor ponselmu."
"Untuk?" Kiara sedikit kaget saat Jacob meminta nomornya.
"Kan aku harus mengirim ukuran dan foto Mami untuk kamu lihat."
"Oh, iya-iya. Kukira untuk apa?" guman Kiara yang masih terdengar oleh Jacob.
"Memangnya untuk apa?" Laki-laki itu menaikkan sebelah alisnya. Seketika Kiara mati kutu dibuatnya.
'Ya Tuhan, aku baru saja mempermalukan diriku sendiri.'
Menyadari sosok cantik di depannya sedang dalam mode salah tingkah, Jacob terkesima sendiri. Ada yang mulai berdesir di dalam sana.
Dengan pipi yang memerah seperti kepiting rebus, di mata Jacob, Kiara terlihat menggemaskan sekali.
'Sepertinya aku harus segera pergi, atau akan kehilangan kewarasan jika tetap berada di sini'
Bersambung ...