"Jangankan memakai baju murahan itu, kamu telanjang di depanku pun, aku tidak bernafsu untuk menyentuhmu."
"Oh ya, kalau boleh kusarankan, lebih baik kau jual saja tubuh lidimu itu lewat aplikasi Mich*t, ya ... biarpun tidak terlalu mahal, setidaknya kamu dapat bayaran."
Kurang lebih begitu, penghinaan Helio suatu malam untuk istrinya, Kiara. Dan wanita itu hanya bisa menangis dalam diam.
Perih.
"Apa kau begitu manja, masak menu sederhana begini saja tidak bisa?! Dasar bodoh? Kamu memang beda jauh dengan Anna yang pintar segalanya!" Teriakan Helio melengking di lain waktu, saat mencicipi capcay buatan Kiara yang rasanya sedikit asin.
"Malam ini aku akan makan ditempat Anna, jadi, buang saja masakanmu, atau kasih untuk kucing di jalanan." Begitu isi pesan balasan yang Kiara terima dari Helio setelah bertanya suaminya akan pulang jam berapa, karena makanan yang sudah disiapkan untuk makan malam mulai dingin.
"Jangan menggangguku bisa tidak, sih?! Aku masih ingin tidur, kamu jogging saja sendiri sana!" Helio berteriak tepat di depan wajah Kiara, saat wanita itu mengajak suaminya untuk jogging bersama pada suatu pagi, di akhir pekan.
Malam ini, di sudut kamar, seorang laki-laki tengah meringkuk sembari meremas rambutnya dengan kuat. Setelah dari makam ibunya, kepala Helio dipenuhi bayangan kejahatan yang laki-laki itu lakukan pada Kiara setiap hari.
Kata-kata lembut namun, menohok dari Kiara semalam, serta sindiran kasar yang mengandung unsur penghinaan dari Madeline, meninggalkan tamparan yang begitu hebat di ulu hatinya, hingga memar.
Menyadari ketulusan Kiara selama ini, Helio mulai bimbang dengan perasaannya sendiri. Di sisi lain, dia juga merasa cukup malu sudah menjadi laki-laki yang tidak tahu diri.
"Maaf ... aku benar-benar menyesal," lirihnya terdengar pilu. Tapi, tak sepilu hati Kiara saat diperlakukan dengan begitu hina oleh laki-laki yang hatinya tidak berfungsi dengan benar itu.
"Kiara, pulanglah. Aku janji akan berubah," monolognya lagi seperti orang tidak tahu diri.
Helio tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Setiap kali mencoba menghubungi nomor Kiara, selalu saja berada dalam panggilan lain, atau panggilan dialihkan.
Laki-laki itu juga sudah mencoba mengirim pesan lewat WA, namun, tak kunjung centang dua.
"Apa dia terlalu sibuk dengan laki-laki itu?"
"Bagaimana cara laki-laki sialan itu mengalihkan perhatian Kiara dariku?"
Ada setitik rasa sakit dalam d**a Helio ketika membayangkan tawa lepas milik istrinya di butik sore tadi, bersama laki-laki yang diakui sebagai kekasihnya.
"Sejauh apa hubungan mereka? Apakah ... sepertiku dan Anna?"
"Tidak. Tidak mungkin Kiara dan laki-laki itu sudah tidur bersama. Kiara bukan wanita seperti itu, aku yakin. Tapi, bagaimana kalau ternyata ... mereka sudah ...."
"Argh ...!"
Helio membentur kepalanya ke tembok, agar pikiran buruknya terhadap Kiara teralihkan. Mungkin, jika ada yang melihat keadaan Helio sekarang, pasti mengira laki-laki itu sudah gila. Ada semacam perasaan tidak rela, jika istrinya sampai dijamah orang lain.
Di sudut kamar itu, Helio terisak seperti saat kehilangan ibunya waktu itu. Di sudut ruangan itu, Helio larut dalam bayang-bayang kebiadapannya pada Kiara.
Sakit dan memalukan.
Laki-laki itu merasa jijik dengan dirinya sendiri. Menurutnya, sama sekali tidak pantas untuk semua kemewahan yang didapatkan dari keluarga Kiara. Helio tidak pantas, apalagi sampai membagikannya kepada Anna.
Kekasih Anna itu merasa dirinya seperti pencuri, atau benalu seperti yang dikatakan Maddie.
"Aku begitu hina." Helio memukul-mukul dadanya.
"Selama ini aku selalu menghina Kiara. Nyatanya, akulah yang paling hina."
Helio kembali meraung, lalu tertawa, menangis, terisak hingga tertidur di lantai.
.
Hampir seminggu Helio menjalani hari dalam kehampaan. Meski saat di luar, dia terpaksa memasang wajah baik-baik saja di hadapan orang-orang, juga Anna yang masih ditemuinya sesekali.
Laki-laki itu tertawa saat seutas pesan terakhir istrinya sebelum keluar dari apartemen.
"Semoga hidup barumu lebih berwarna tanpa aku," ucap Kiara kala itu.
"Hahaha. Nyatanya hidupku lebih buruk tanpa kamu. Setidaknya angkat telpon atau balas pesanku seperti yang kamu janjikan sebelum pergi, Ra."
Melihat pesannya yang tak kunjung terbalas, Helio mendesah resah. Ingin ke butik, dia terlalu takut jika harus menemukan kenyataan seperti beberapa hari yang lalu.
Pemandangan Kiara dengan laki-laki itu.
.
Malam hari. Sepulang dari kantor, Helio mematung di meja makan. Tidak ada makanan yang biasa tersajikan. Makanan yang dulunya lebih sering laki-laki itu suruh buang atau mengapresiasinya dengan beberapa kalimat penghinaan sebelum dimasukkan ke dalam mulutnya.
"Ra, aku merindukan masakanmu."
Tidak ingin menyiksa dirinya terlalu lama. Helio bergegas ke kamarnya untuk melepas pakaian dan bergegas mandi.
Dalam beberapa hari ini, badannya tampak lebih kurus, seperti penuturan Anna. Lingkaran matanya juga mulai sedikit gelap, akibat kurang tidur karena memikirkan banyak hal.
Selain Kiara, Helio juga memikirkan untuk segera keluar dari perusahaan. Dan yang membuatnya pusing, alasan apa yang harus diberikan pada Tuan Aimantino.
Berterus terang mengakui kesalahannya, jelas tidak mungkin. Helio belum siap menghadapi kemurkaan mertuanya itu. Meski lambat laun semuanya pasti akan terbongkar. Karena sebaik apapun bangkai disembunyikan, pasti akan tercium juga.
Setelah selesai dengan ritual mandinya, Helio segera membalut tubuhnya dengan handuk dan keluar dari sana.
Sebelum berpakaian, laki-laki itu sempat mengecek ponsel yang tergeletak asal di atas nakas di samping tempat tidur.
Setelah benda pipih di tangannya menyala, terdapat sebuah notif dari aplikasi hijau. Dengan perasaan deg-degan, Helio segera memeriksannya.
Bertalu-talu detak jantungnya melihat nama kontak yang tertera bagian paling atas ponselnya. Laki-laki itu sampai mengucek mata beberapa kali.
"Yeess ...! Akhirnya dia membalas pesanku!" terianya sembari melompat girang. Hampir saja handuk yang membalut bagian bawah tubuhnya terjatuh ke lantai.
Helio terlalu senang seperti orang lagi kasmaran padahal balasan yang dia terima hanya berisi dua kata saja.
"Ada apa?"
Ya. Hanya dua kata.
Tapi, yang namanya orang lagi kasmaran, memang susah ditebak. Posisi Helio yang sekarang, dulunya pernah dialami oleh Kiara. Ketika menanti balasan pesan dari suaminya. Meski kata-kata kasar yang wanita itu dapatkan ujung-ujungnya.
"Maukah bertemu malam ini?" ketik Helio dengan tangan bergetar. Kemudian dihapusnya.
"Ayo, bertemu sebentar, Ra."
Merasa tidak cocok, jari Helio kembali tergerak untuk menghapusnya.
"Ra, bolehkah kita bertemu sebentar. Aku mohon."
Send.
Pesan itu terkirim pada kontak yang baru-baru ini dinamainya "cantik."
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit.
Setelah lebih dari sepuluh menit Helio menunggu sembari menatap layar ponsel yang tidak dibiarkannya mati. Akhirnya muncul tulisan 'sedang mengetik' dari Kiara.
"Semoga dia mau bertemu denganku."
Ting.
"Boleh. Tapi, satu jam lagi. Sekarang aku lagi bersama Jacob."
Nyes.
Helio membaca balasan Kiara dengan d**a ngilu.
Bersambung ...