Bab 16. Jebakan di dalam Tas Medis Lampu di ruang tunggu Markas Besar berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding beton. Setelah drama di ruang sidang, keheningan di ruangan ini terasa seperti jerat yang mencekik. Kinanti duduk di bangku kayu keras, punggungnya tetap tegak seperti biasanya, namun jemarinya yang saling bertaut tidak bisa menyembunyikan getaran halus. Arya masuk membawa dua cangkir kopi plastik dari mesin otomatis di ujung lorong. Ia duduk di sebelah Kinanti, memberikan salah satunya. "Kopi hitam. Tanpa gula, seperti yang biasa kamu minum di posko," ujar Arya lembut. Kinanti menerima cangkir itu, kehangatannya merambat ke telapak tangannya yang dingin. "Terima kasih, Arya. Dan... terima kasih untuk yang tadi. Kamu nggak seharusnya mempertaruhkan

