Bab 28. Sisa-Sisa Hangat dalam Dinginnya Malam Malam di Posko Kerajaan Sumedang bukan sekadar gelap, namun juga mencekam. Suara gemuruh dari sisa-sisa longsoran di kejauhan terdengar seperti erangan raksasa yang terluka. Suhu turun drastis, menusuk hingga ke tulang, memaksa para pengungsi dan personel militer merapat ke api unggun kecil yang tersebar di area perkemahan. Letnan Kinanti masih berdiri di depan barak logistik, sebuah bangunan semi-permanen yang dindingnya hanya dilapisi terpal tebal. Tangannya yang terbungkus sarung tangan taktis memegang papan jalan dengan kaku. Matanya menyisir daftar manifes yang baru saja ia terima. Ada ketidakcocokan tiga persen antara jumlah ampul epinefrin yang keluar dari gudang pusat dengan yang sampai di tangannya tadi sore. Kecil, namun bagi Kinan

