"Ayah," panggil Ilona pada Adnan yang masih berada di dalam kamarnya. Sudah beberapa kali ia mengetuk pintu namun sang ayah tak kunjung membuka pintu. Jangankan membuka pintu, menjawab panggilan Ilona saja tidak.
Sebenarnya Ilona merasa khawatir, takut terjadi sesuatu terhadap Adnan di dalam kamarnya tetapi tak lama kemudia ia mendengar suara dehaman sang ayah. Ilona menghela napas pelan kemudian beranjak menuju ke dapur untuk membuat ssusu vanila. Ia sudah mengetuk pintu lagi. Mungkin saja tadi Adnan tertidur, begitu pikir Ilona.
Adnan sendiri memang sedang memeriksa laporan bulanan milik beberapa usahanya. Dan malam ini Adnan memilih menutup telinganya mengunakan earphone. Adnan memang membutuhkan konsentrasi yang sangat tinggi kali ini, mengingat beberapa jam lalu ia sempat dibayang-bayangi oleh sosok Aulia, sang mantan istri.
Suara ketukan pintu dari sang putri terdengar lirih di telinganya, itulah kenapa Adnan mengabaikannya begitu saja. Begitu pun panggilan sang putri yang sama sekali tidak terdengar. Namun saat ketukan Ilona yang terakhir kalinya, bertepatan ketika Adnan sedang meminum air mineral di hadapannya. Jadi ia bisa mendengar suara itu dan tak lama kemudian Adnan keluar dari kamarnya saat Ilona baru saja datang dari dapur.
"Kamu memanggil Ayah, Sayang?" Ilona yang sedikit terkejut karena tidak menyadari keberadaan sang ayah lantas menganguk.
"Ayah lagi sibuk ya? Kok Ilona ketuk pintunya dari tadi nggak dengar?"
"Ayah sedang memeriksa laporan keuangan bulanan. Maaf, ya. Tadi juga Ayah memakai earphone jadi tidak mendengar panggilan kamu."
"Oh, gitu. Sekarang udah selesai belum? Katanya Ayah mau membahas hal penting sama Ilona?" ucap Ilona yang langsung diangguki oleh Adnan.
"Ayo, kita bicara sambil duduk," ajaknya seraya melangkah menuju sofa. Ilona mengikuti langkah sang ayah.
"Ayah mau membicarakan tentang keikutsertaan kita di acara Indonesian Traditional Week minggu depan. Kamu yang handle ya?" kata Adnan begitu mereka duduk.
"Kenapa Ilona, Yah? Bukannya itu harusnya Ayah?" tanya Ilona memperjelas. Bukan maksudnya untuk menolak atau membantah ucapan sang ayah, tetapi ia dan Adnan sudah memilkii kesepakatan mengenai porsi kerja masing-masing.
"Seharusnya memang Ayah, tapi hari itu Ayah harus ke Jakarta. Kamu nggak lupa kan kalau kita berencana membuka kafe di sana. Kemarin teman Ayah memberikan penawaran mengenai lokasinya. Rencananya Ayah akan melihat secara langsung," jelas Adnan panjang lebar. Teman yang ia maksud adalah Rio.
Sudah sejak lama Adnan dan Ilona memiliki rencana untuk mengekspansi bisnis mereka hingga ke tingkat Ibukota. Setelah Yogya, Semarang dan Surabaya serta Bandung. Kota selanjutnya adalah Jakarta, hal yang paling Adnan hindari karena ia masih berat jika harus kembali ke kota itu. Bahkan, rumah peninggalannya di sana sama sekali tidak pernah ia tengok. Hanya dibersihkan oleh orang suruhannya yang selalu memberikan update terbaru agar rumah itu tidak rusak.
"Ya sudah, kalau Ayah bilang gitu, Ilona juga nggak bisa nolak. Sepertinya jadwal Ilona juga kosong hari itu," jawab Ilona pasrah. Memangnya dia bisa membantah?
"Terimakasih, ya. Atau nanti kamu bisa minta temani Satria agar tidak kesepian," ucap Adnan memberi saran. Ilona menggeleng cepat dan membuat Adnan bertanya-tanya.
"Satria sekarang udah punya pacar, Yah. Lagian Ilona bisa kok melakukan hal itu sendiri." Ucapan Ilona membuat Adnan terkejut dengan kedua alis bertaut.
"Satria udah punya pacar? Kok Ayah nggak tahu?" Gerutuan Adnan membuat Ilona memutarkan bola matanya dengan jengah.
"Kan Satria bukan anak Ayah. Ngapain harus bilang sama Ayah," jawabnya acuh yang mmebuat Adnan mencebik.
"Tapi Ayah sudah menganggap Satria seperti anak Ayah sendiri. Apalagi kalian sudah berteman baik sejak SMA."
"Ayah mau tahu nggak siapa pacar Satria?" tanya Ilona memantik rasa penasaran Adnan.
"Siapa memang?" tanyanya dengan raut wajah sangat penasaran.
"Dinda," jawabnya sambil terkikik.
Adnan ikut tertawa mendengar jawaban sang putri. Tidak menyangka jika Dindalah yang menjadi pacar Satria. Jangankan Adnan, Ilona sendiri juga tidak menyangka jika kedua sahabatnya itu akan terjebak cinta antar teman.
"Tidak sesuai apa yang kita duga. padahal selama ini, Ayah lihat Satria lebih dekatnya dengan kamu. Malah pacarannya sama Dinda." Adnan mengungkapkan argumennya. Ilona mengangguk setuju, selama ini Satria memang terlihat seperti lebih akrab dengannya tetapi siapa sangka ternyata itu hanya alibi agar perasaannya pada Dinda tidak terlihat.
"Gimana ceritanya mereka bisa tiba-tiba pacaran?" Ilona mengendikkan bahu.
"Nggak tahu. Yang jelas mereka jadian waktu liburan ke Gunung Kidul. Yang waktu itu Ilona nggak bisa ikut karena lagi ada praktikum. Eh, pulang-pulang kasih kabar kalau udah jadian," jelas Ilona yang merasa lucu mengingat proses hubungan kedua sahabatnya yang terlihat cukup unik di matanya itu. Tidak jauh berbeda, Adnan juga ikut tertawa.
"Tapi kalian nggak terjebak cinta segitiga, 'kan?" tanya Adnan waspada. Pertanyaan yang membuat Ilona mencebik daar.
"Ya enggak lah, Ayah. Dari dulu Ilona emang nggak punya perasaan apapun sama Satria. Murni temenan. Satria bukan tipe Ilona," jawabnya sebelum meneguk ssusu vanila di hadapannya.
Adnan manggut-manggut mendengar jawaban putrinya itu. Sebenarnya, ia sendiri heran bagaimana selera Ilona terhadap lai-laki. Selama ini Ilona tidak pernah sekali pun terlihat berpacaran. Setiap ia bertanya, Ilona juga selalu mengatakan jika tidak memiliki kekasih. Alasannya, karena memang belum ada yang cocok dengannya.
"Ayah," panggil Ilona yng membuat Adnan menghentikan lamunannya.
"Kenapa?"
"Apa Ayah ke Jakarta juga karena ingin menemui Bunda?" tanya Ilona hati-hati. Ia takut pertanyaannya akan membuat sang ayah tersinggung.
Sementara Adnan kini seperti mati kutu mendapat pertanyaan yang sangat to the point dari sang putri. Ia sama sekali tidak menyangka jika Ilona akan menanyakan hal itu. Adnan pikir Ilona sudah melupakannya karena memang selama ini Ilona tidak pernah bertanya lagi.
Ah, sepertinya Adnan lupa jika ikatan batin tidak bisa dipisahkan begitu saja.
"Kamu tahu mengenai Bunda?" tanya Adnan yang membuat Ilona mengangguk.
"Bukan hanya tentang Bunda tetapi juga tentang Ayah dan Bunda," jawabnya yakin. Sudah sejak lama Ilona ingin membahas hal itu, namun selama ini ia sangat jarang memiliki waktu mengobrol seberkualitas ini dengan Adnan terlebih sejak ia memasuki bangku universitas. Kalaupun ada waktu, Ilona seringkali lupa karena memang mereka tidak pernah membahas apapun mengenai Aulia dan Jakarta.
"Seberapa banyak hal yang kamu tahu?" selidik Adnan penasaran. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa menyesal sudah menyembunyikan fakta itu dari putri tersayangnya.
"Cukup banyak. Ilona tahu semua dari Tante Alita."
"Sejak kapan?"
"Sejak Ilona mulai kuliah," jawabnya mantap.
Memang sudah sejak lama sekali Ilona ingin menanyakan tentang sang ibu. Sebab ia seringkali melihat sang ayah melamun sembari memandang foto seorang wanita. Ilona juga pernah melihat foto itu saat Adnan sedang tertidur di sofa. Ia memang sengaja.
Awalnya Ilona berpikir jika sang ibu mungkin sudah tiada. Ia sudah seringkali mendapati cerita ada sang ibu yang meninggal usai melahirkan anaknya dan lain sebagainya. Dan Ilona menduga Adnan tidak memberitahukan itu padanya karena takut akan merasa sedih. Baik kesedihan Adnan maupun kesedihannya.
Namun Ilona tidak berhenti sampai di situ, ia memberanikan diri untuk bertanya pada Alita. Awalnya, Ilona hanya ingin bertanya bagaimana mengenai sosok sang ibu ketika masih hidup. Alangkah terkejutnya gadis itu kala mengetahui fakta yang terjadi sebenarnya pada orang tuanya. Terlebih, fakta jika ia memiliki saudara kembar. Ilona sangat ingin marah pada Adnan waktu itu, tetapi Alita mencegahnya dan memberika nasehat yang akhirnya mampu membuat Ilona jauh lebih tenang. Alita memberitahukan bagaimana sedih dan frustasinya Adnan karena merasa gagal menjadi kepala rumah tangga yang baik untuk keluarganya.
Karena itulah Ilona tidak pernah bertanya mengenai sang ibu selama ini. Sedikit banyak ia sudah mulai bisa menerima dan memahami termasuk mengenai kesedihan sang ayah. Melihat dari perangai Adnan selama ini, Ilona jadi berpikir jika sang ayah memang sedemikian sedih atas kegagalannya berumahtangga.
"Maafkan Ayah, Nak," ucap Adnan dengan kepala tertunduk. Ia akan sangat menerima jika Ilona marah padanya. Adnan menyesal sudah merahasiakan hal itu sedemikian lamanya dari sang putri.
Padahal, Ilona sangat berhak untuk mengetahui siapa ibunya. Bahkan mendapat kasih sayang yang utuh meskipun orang tuanya telah berpisah. Pun demikian dengan Ilana. Adnan semakin merasa berdosa atas keegoisannya pada kedua putrinya itu.
Ilona beringsut dari tempat duduknya dan memeluk Adnan. Ia sama sekali sudah tidak merasakan marah pada sang ayah. Ilona belajar mengerti jika hal itu bukanlah perkara yang mudah.
"Ayah nggak perlu minta maaf, Ilona tahu dan bisa mengerti alasan Ayah," ucapnya menenangkan.
"Tapi, kalau suatu hari nanti Ilona ingin bertemu Bunda, Ilona harap Ayah mengizinkan," pintanya yang langsung diangguki oleh Adnan.
"Sejauh apapun kami saling berpisah, tidak akan ada yang bisa memisahkan ikatan orang tua dan anak. Juga antar saudara."
****
"Bunda sedang sibuk?" tanya Ilana ketika membuka pintu kamar sang ibu.
Aulia yang tengah memasukkan barang-barangnya ke dalam lemari menoleh dan tersenyum.
"Enggak, Sayang. Ada apa? Sini," pintanya yang kini duduk di ujung ranjang.
"Bunda, minggu depan Ilana ke Jogja, mau ada fashion show sama Mbak Dian Nurmala di sana," ucap Ilana yang kini duduk di samping Aulia.
"Perlu Bunda temani?" Ilana menggeleng cepat.
"Nggak usah deh, Bunda. Ilana di sana 3 hari lebih. Nanti kerjaan Bunda yang di sini keteteran lagi kalau ikut Ilana."
"Ya sudah kalau gitu. Lalu kamu sekarang ada apa? Mau tidur sama Bunda?" tanya Aulia sembari mengusap lembut rambut hitam Ilana. Hatinya terasa bergetar ketika Ilana menyebut kata Jogja. Aulia kembali teringat akan sosok Adnan.
"Ilana mau pinjam outernya Bunda itu lho. Yang batik warna hijau, Bun," pinta Ilana dengan wajah berseri-seri yang membuat Aulia merasa sangat gemas.
"Bunda pikir ada apa. Kamu ambil sendiri ya, Bunda ke kamar mandi dulu," jawab Aulia seraya beranjak bangkit.
"Oke, Bunda. Di mana, Bun?"
"Di lemari kanan, paling atas," ucap Aulia yang sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.
Dengan penuh semangat, Ilana mencari apa yang ia inginkan. Tenang saja, outer itu pasti muat padanya sebab ukuran tubuhnya dengan sang ibu tidak berbeda jauh. Gadis itu tersenyum melihat outer tersebut berada di baris paling bawah. Dengan hati-hati, Ilana mengangkat tumpukan baju di atasnya dan menarik kain berwarna hijau tersebut.
"Eh, apa ini?" gumam Ilana yang menyadari sebuah kertas terjatuh di lantai, tepat ketika ia hendak menutup pintu lemari itu.
Sebuah amplop yang tidak direkatkan. Diterpa rasa penasaran, Ilana membuka amplop tersebut sebab tangannya merasakan tumpukkan kertas yang cukup tebal. Matanya membeliak ketika melihat lembaran foto-foto yang terlihat begitu lama namun masih sangat terjaga.
Ilana menatap lekat satu persatu foto itu. Diawali dengan foto pernikahan, kemudian beberapa foto dua orang dewasa menggendong yang masing-masing menggendong seorang bayi. Ilana menamatkan wajah-wajah itu, ia seperti melihat dua potret dirinya di dalam gambar tersebut. Dan wanita dewasa itu, ibunya.
"Apa ini foto Bunda dan Ayah?"
Aulia yang baru keluar dari kamar mandi menatap heran sang putri.
"Ilana, ada apa, Sayang?"
"Bunda, apa ini Ayah dan Bunda?" tanya Ilana seraya menunjukkan gambar di tangannya. Aulia sontak membolakan mata menyadari hal itu.
"Ilana, i-itu." Aulia terbata. Tidak tahu harus menjawab apa.
"Bunda?" panggil Ilana lembut. Ia bisa melihat raut wajah terkejut sang ibu dan Ilana menyimpulkan ada hal buruk mengenai kedua orang tuanya.
"I-iya, itu foto Bunda dan Ayah kamu," jawab Aulia pada akhirnya. Ia tidak akan berbohong lagi karena percuma saja. Cepat atau lambat, Ilana pasti akan menanyakan lagi hal itu.
"Kenapa bayinya ada 2 Bunda?" Ilana melangkah mendekati Aulia.
"I-itu, dia ... dia saudara kembar kamu." Ilana yang sebenarnya sudah memperkirakan hal itu, tidak ingin merasa terkejut tetapi terlambat. Nyatanya ia tetap terkejut.
"I-Ilana punya saudara kembar, Bunda?" Aulia mengangguk.
"Lebih tepatnya, adik kamu," ucapnya diiringi isakan lirih. Hati Aulia selalu merasa sakit jika teringat betapa malangnya kondisi kedua putrinya yang harus hidup terpisah.
Jawaban Aulia juga membuat Ilana sakit. Bukan sakit karena pengakuan sang ibu, melainkan sakit karena mendengar isakan Aulia. Ilana segera memeluk tubuh wanita yang sangat disayanginya itu.
"Maafkan Ilana kalau sudah membuat Bunda sedih," ucap Ilana pada akhirnya. Namun Aulia menggeleng.
"Ini semua salah Bunda. Bunda yang harusnya minta maaf pada kalian."
Aulia mengajak Ilana untuk duduk di tepi ranjang. Ia tahu jika sang putri menuntut kejelasan, dan Aulia akan membeberkannya malam ini. Meskipun mungkin, Ilana akan sangat merasa kecewa padanya kelak. Setidaknya, sedikit bebannya akibat menyembunyikan fakta itu berkurang.
Ilana menyimak dengan lekat cerita dari sang ibu. Seksama dan tanpa menyela sedikitpun. Gadis itu berusaha menerima pemikiran sang ibu yang memang pada sat itu semua terjadi, bisa dibilang Aulia belumlah dewasa.
Agaknya, Ilana tidak terlalu terkejut mendengar fakta itu. Dulu sekali, ia sudah pernah bertanya pada Aulia, namun kesedihan yang ditampakkan oleh sang ibu membuatnya tidak tega. Ilana kemudian memutuskan untuk bertanya pada Pratiwi, sang nenek. Sama saja, sang nenek juga tidak memberikan jawaban yang memuaskan karena itu memang ranah privasi Aulia.
"Nenek hanya meminta, apapun penjelasan dari Bunda kamu nanti, tolong kamu jangan marah atau menghakiminya. Nenek tahu kamu pasti akan merasa marah dan merasa sangat kecewa. Nenek harap kamu mau mendengar penjelasan Bunda kamu dengan kepala dingin." Ucapan Pratiwi beberapa tahun lalu tiba-tiba saja menggema dalam pikiran Ilana.
"Maafkan Bunda, Lana. Bunda benar-benar minta maaf. Bahkan sampai sekarang, Bunda tidak tahu di mana Ayah dan Adik kamu berada," ucap Aulia masih dengan isakannya yang belum berhenti. Keduanya diliputi oleh suasana mendung yang sama. Padahal di langit atas, tebaran bintang bersinar sangat terang.
"Bunda, Ilana nggak marah sama Bunda. Meskipun Ilana sedikit kecewa, tapi Ilana sama sekali nggak marah sama Bunda." Ilana kembali memeluk Aulia.
****