"Ayah." Sebuah tepukan pada pundaknya mengembalikan kesadaran Adnan. Pria itu mengerjap beberapa kali lantas mengalihkan pandangannya kepada sang putri yang berdiri di sampingnya. "Ayah kok diem aja?" tanya Ilona dengan suara lembut. Entah reaksi macam apa yang harus ditunjukkan Adnan saat ini. Rasanya sangat sulit untuk menerima kenyataan yang sedang trjadi di depan matanya. Bukan karena Adnan tidak senang. Justru sebaliknya. Ia merasa begitu bahagia. "Ayah," panggil Ilana lagi dengan lirih. Kedua bola matanya telah memerah dan berkaca-kaca. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Adnan segera melangkah medekati putrinya yang satu. Begitu jarak di antara mereka semakin terkikis, Adnan segera mengulurkan tangannya untuk merengkuh tubuh itu ke dalam pelukannya. Adnan tidak tahu apa ini keny

