Langkah kaki Adnan membawanya menuruni kereta api kelas bisnis tersebut. Di dalam gendongannya, seorang bayi mungil tengah terlelap dengan sangat nyenyak. Adnan tersenyum dengan perasaan yang sulit untuk diartikan. Rasanya sakit sekali karena harus memisahkan kedua anaknya.
Ya, Adnan akhirnya memilih untuk pulang ke kampung halamannya di Yogyakarta dengan membawa Ilona. Kemarin saat Aulia berkunjung ke rumahnya, mantan istrinya itu bersikeras tidak ingin dipisahkan dengan putri mereka. Setelah melalui perdebatan dan pertengkaran yang lagi-lagi mampu membuat emosi keduanya tersulut, Adnan akhirnya harus merelakan Ilana untuk bersama Aulia.
Meskipun menurut putusan pengadilan, hak asuh kedua bayi itu berada di tangannya dan Adnan bisa saja menempuh jalur hukum atas sikap tidak menyenangkan Aulia, namun Adnan memilih mengalah. Ia tidak ingin terlibat urusan yang lebih panjang lagi dengan sang mantan istri yang entah kenapa ia rasakan semakin egois itu.
“Mas, biarkan anak-anak bersama aku saja,” pinta Aulia dengan raut wajah yang terlihat menyakitkan untuk Adnan.
“Hak asuh anak-anak jatuh ke tanganku, Aulia. Sudah seharusnya mereka bersama aku.” Adnan memilih memalingkan wajahnya. Ia tidak tega melihat keadaan Aulia yang terlihat sangat kacau.
“Tapi aku ibunya, Mas. Ilana dan Ilona masih membutuhkan ASI dariku,” balas Aulia belum mau mengalah.
Adnan tertawa sumbar, membuat Aulia cukup merasa bergidik mendengarnya.
“ASI kamu bilang? Apa selama ini kamu sudah memberikan ASI dengan baik dan layak untuk mereka? Ilana dan Ilona bahkan lebih sering mengonsumsi s**u formula daripada mendapatkan ASI dari kamu,” ucap Adnan dengan cukup sengit.
Aulia menggeleng cepat, kembali menahan lengan Adnan yang hendak memasuki rumah.
“Mas, aku mohon. Kalau begitu izinkan aku bertemu dengan mereka.” Ucapan Aulia mampu membuat Adnan luluh, terlebih sang mantan istri sudah sedemikian kacau dengan lelehan air mata yang membasahi pipinya.
Dulu, Adnan menjadi satu-satunya orang yang akan menghapus air mata itu. Adnan bahkan sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah membuat Aulia menangis sepanjang hidup bersamanya. Namun, janji tinggallah janji. Adnan sadar, kini ia tidak bisa lagi menepati janji itu. Air mata Aulia yang menetes hari ini, juga karena ulahnya.
Nyatanya, beberapa menit setelah itu Adnan sedikit menyesali sikapnya yang mengizinkan Aulia untuk menemui kedua buah hati mereka. Ketika menggendong Ilana, Aulia sama sekali tidak ingin melepaskan putri sulungnya tersebut. Aulia bahkan berteriak histeris ketika Adnan mencoba memaksanya untuk melepaskan Ilana.
Tidak ingin terjadi hal yang buruk menimpa putrinya, terlebih hingga membuat para tetangga yang mungkin saja mendengar teriakan Aulia menjadi salah paham, Adnan akhirnya merelakan Ilana untuk dibawa pulang oleh Aulia. Namun ketika sang mantan istri mengutarakan niatnya untuk memeluk Ilona, Adnan seketika menolah dengan keras.
“Ayah tidak bermaksud memisahkan kamu dengan Ibu dan kakak kamu, Sayang. Tapi untuk saat ini mungkin ini yang terbaik untuk kita,” ucap Adnan lirih sambil menahan sesak dalam dadanya. Mengecup kening Ilona ia rasa menjadi obat yang paling mujarab saat ini.
Adnan dibantu oleh seorang porter untuk menuju taksi yang banyak terparkir di halaman Stasiun Yogyakarta. Barang bawaannya tidak terlalu banyak namun tetap saja Adnan membutuhkan bantuan karena ia menggendong Ilona. Sejak bertolak dari Jakarta, banyak pasang mata yang memperhatikannya. Menatapnya dengan pandangan iba dan penuh simpati. Namun Adnan tak ingin mempedulikan hal itu. Baginya, pandangan orang lain tidak berarti apa-apa untuk hidupnya.
Adnan memilih pulang ke Yogyakarta, meninggalkan rumah yang menjadi kenang-kenangannya hidup bersama Aulia selama kurang lebih 3 tahun. Rumah itu memang milik mereka berdua, dan Adnan memilih membelinya. Adnan berpikir, jika sudah dewasa nanti barangkali Ilona ingin menempuh pendidikan di Jakarta, maka mereka tidak perlu kesulitan lagi untuk mencari tempat tinggal.
Sementara untuk usaha restorannya yang selama ini berkembang cukup pesat kini dikendalikan sepenuhnya oleh sahabat sekaligus partner bisnisnya. Adnan memang membuka usaha restoran dan kafe bersama sahabat karibnya semasa menempuh pendidikan tinggi di sebuah universitas terkenal di Jakarta. Usaha yang sudah dirintis sejak mereka masih menduduki semester 4. Meskipun Rio, sang sahabat memaksanya untuk tetap tinggal di Jakarta tetapi Adnan bergeming. Ia takut tidak bisa menghapus bayang-bayang Aulia jika tetap tinggal berdekatan dengan sang mantan istri.
Sebagai gantinya, Rio akhirnya membebaskan Adnan jika ingin membuka usaha di Yogyakarta menggunakan nama restoran dan kafe milik mereka, semacam cabang usaha. Adnan menyanggupi karena tidak ingin berdebat terlalu panjang dengan Rio. Meskipun dalam hati kecilnya, Adnan ingin membuka usaha sendiri dengan nama dan semangat baru.
“Ke mana, Pak?” tanya sang sopir taksi sebelum menyalakan argo.
“Jalan Kaliurang, Pak.”
Hanya membutuhkan waktu tak sampai 30 menit untuk menempuh perjalanan dari Stasiun Yogyakarta menuju kediaman mendiang kedua orang tua Adnan. Sebuah rumah sederhana bergaya tradisional yang masih dijaga dengan baik oleh Adnan. Ayah Adnan berpulang tak lama setelah Adnan menyelesaikan pendidikan sarjananya sementara sang ibu menyusul beberapa bulan sebelum pernikahannya dengan Aulia dilangsungkan.
Itulah kenapa Adnan sebenarnya merasa begitu berat jika harus meninggalkan Aulia sebab wanita itu selalu ada di sampingnya selama ini, selama ia melalui masa-masa paling buruk dalam fase kehidupannya. Namun apa mau dikata, nyatanya kini takdir tak berpihak pada mereka untuk tetap bersama. Hal yang disebut keegoisan telah mengalahkan mereka. Dan Adnan merasa saat ini jauh lebih buruk daripada apa yang telah ia alami sebelumnya.
“Adnan,” seru seorang wanita paruh baya begitu melihat siapa yang keluar dari puntu penumpak taksi tersebut.
“Bulik,” panggil Adnan yang langsung menghambur memeluk adik dari sang ibu tersebut.
Bibi Adnan yang bernama Sukma itu sudah mengetahui keadaan keponakannya. Adnan juga sudah memberi kabar kalau akan pulang ke Yogya itu sebabnya Sukma segera membersihkan kediaman sang kakak sebelum keponakannya datang.
“Kalau kamu masih bersedih, Bulik bisa mengerti. Tidak apa-apa. Tetapi jangan lama-lama karena Ilona membutuhkan kamu,” ucap Sukma usai menuntaskan kerinduannya dengan snag keponakan dan sang cucu. Keduanya sudah duduk di ruang tamu dengan Ilona berada di pangkuan Sukma. Adnan mengangguk dengan penuh bakti.
“Masa bersedih Adnan sudah selesai, Bulik. Adnan tidak mau mengingat-ingat hal itu lagi.” Sukma mengangguk mengerti. Biar bagaimanapun Sukma sangat mengerti bagaimana Adnan dan Aulia saling mencintai. Sukma tidak menyalahkan siapapun atas kegagalan rumah tangga mereka. Biarlah itu menjadi urusan pribadi Adnan dan Aulia. Sama halnya seperti Pratiwi, sebagai orang tua, Sukma tidak ingin ikut campur terlalu jauh mengenai urusan keponakan yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri tersebut.
Usai bercakap-cakap singkat dengan Adnan, Sukma membantu mengurus Ilona. Tempat tinggal Sukma hanya berjarak beebrapa rumah. Selama ini ia tinggal sendiri sebab sang suami sudah berpulang dan putrinya saat ini bekerja sebagai pramugari di salah satu maskapai internasional. Terlepas dari permasalahan keluarga mereka, nyatanya kehadiran Ilona kecil membuatnya begitu bahagia.
****
Sementara di belahan bumi ibukota, Aulia tengah kesulitan menenangkan putri sulungnya yang sejak tadi rewel dan terus saja merengek. Entah apa yang diinginkan oleh gadis kecil itu, Aulia sudah berusaha memberikan makanan dan mainannya namun Ilana selalu menolak.
“Ilana kenapa?” tanya Pratiwi yang melihat sang putri begitu kesulitan menenangkan Ilana. Sedikit pun Pratiwi tidak memiliki niat untuk mengambil alih Ilana dari gendongan Aulia.
“Tidak tahu, Bu. Sejak tadi rewel sekali. Aulia pikir dia lapar, tapi setelah makan pun dia masih merengek,” ucap Aulia yang masih berusaha menenangkan Ilana.
“Mungkin dia mengantuk. Coba kamu tidurkan sambil kamu bacakan dongeng atau menyanyikan lagu,” ucap Pratiwi memberikan saran.
“Dongeng, Bu?” tanya Aulia memperjelas. Pratiwi mengangguk sekali.
Bukan tanpa alasan Pratiwi mengatakan hal itu. Ia pernah melihat sendiri bagaimana Adnan menenangkan Ilana dan Ilona yang tengah rewel. Kedua bayi itu langsung diam ketika sang ayah membacakan sebuah buku dongeng dan tak lama kemudian mereka terlelap. Pratiwi ingin tahu, seberapa jauh Aulia memahami putrinya sendiri.
“Kamu tidak tahu jika kedua putri kamu suka dibacakan cerita dongeng?” tanya Pratiwi menyelidik. Mendengar hal itu seketika membuat Aulia bungkam. Dengan pelan, ia menggeleng.
“Ibu harap, kamu tidak mengecewakan Ibu dan juga Adnan yang sudah mengizinkan kamu membawa Ilana.” Jujur saja, kali ini Pratiwi sangat kecewa dengan sikap Aulia. Ia sudah mengetahui bagaimana Ilana bisa bersama Aulia karena Adnan paling tidak bisa berbohong terhadap ibu mertuanya tersebut.
“Aulia ajak Ilana ke kamar dulu, Bu.” Pratiwi hanya mengangguk sekilas meskipun ia mengetahui jika putrinya itu tengah menahan tangis. Pratiwi ingin Aulia sendiri yang menyadari kekeliruannya selama ini.
Di dalam kamarnya, sambil menahan air mata yang seakan ingin melompat, Aulia lantas membacakan buku dongeng untuk sang putri. Aulia menunjukkan sebuah sampul buku berjudul ‘Manusia dan sebuah pohon Jeruk.’ Ternyata Ilana menunjukkan raut wajah yang begitu antusias. Membuat Aulia juga merasa sangat antusias membacakan dongeng tersebut untuk sang putri.
Tak membutuhkan waktu lama, Ilana akhirnya terlelap dengan sangat nyenyak di pangkuan Aulia. Wanita itu mengecup lembut kening sang putri dengan air mata yang mulai melelehi pipi. Aulia teringat dengan bagian akhir dari buku yang ia bacakan untuk Ilana.
“Wahai manusia, buahku sudah habis kau jual. Pohonku pun telah kau tebang. Jika ada hal lain yang kau butuhkan, maaf karena aku tidak bisa memberikannya. Aku hanya memiliki akar, jika kau membutuhkannya maka cabutlah,” ucap sang pohon ketika seorang manusia tua mendekatinya.
“Tidak wahai pohon. Maafkan aku yang mengabaikanmu selama ini, padahal kau selalu memberikan apa yang aku butuhkan. Sekarang aku sadar, sebanyak apapun yang kudapat dari dunia ini, semuanya tidak akan pernah cukup.”
‘Sebanyak apapun yang kudapat dari dunia ini, semuanya tidak akan pernah cukup.’ Kalimat itu terus terngiang-ngiang dalam benak Aulia. Membuatnya menyadari tentang apa yang ia lakukan selama ini.
‘Sebenarnya apa yang aku cari selama ini hingga mengabaikan suami dan putriku?’ gumam Aulia dalam batinnya.
Tangis Aulia semakin berderai manakala mengingat putrinya yang satu lagi, “Ilona, maafkan Ibu, Sayang.”
****