Uweeekk… uweeekk… Romie membuang napas berat. Setiap paginya pasti saja ia harus mendengarkan suara Revano yang kembali muntah dan berada di westafel. “Lo cek up ke dokter Rev! Sudah beberapa hari ini lo itu muntah terus barangkali saja kamu nggak enak badan tapi nggak kamu rasa,” saran Romie seraya mengusap belakang punggung Revano. “Panggil dokter pribadi Stone saja. Suruh dia datang ke kantor. Aku nggak mau ke rumah sakit!” Romie mengangguk. “Ya… aku telephone dokter.” “Satu lagi.” “Apa?” “Aku ingin Lyeche Tea,” pinta Revano. “Ini masih pagi masa iya lo mau minun es Rev?” “Gue lagi pengen!” Romie mengangguk pasrah yang penting Revano nggak marah-marah pagi hari seperti biasanya. “Beneran nih si kembar di kasih adik lagi?” “Nggak! Semalam aku sudah tanya sama Melanie dia lagi

