4. Terungkapnya Kebenaran

1070 Kata
"Saya tidak pernah mencurinya, Tuan. Saya tidak tahu bagaimana emas itu bisa ada di sana," ucapnya sambil terisak. Tubuh Yoeja bergetar. Air mata semakin menggenang di matanya Indriana mengamati Yoeja dengan seksama. Dia bisa merasakan ketulusan dalam kata-katanya, namun bukti yang ada terlalu mencurigakan. "Yoeja, kalau kamu tidak melakukannya, kenapa emas itu ada di tempatmu bekerja?" tanya Indriana, nadanya mulai melembut. Yoeja tidak mampu menjawab. Dia hanya bisa menundukkan kepala, merasa tidak berdaya menghadapi situasi ini. Mirza, yang merasa semakin terpojok, melanjutkan. "Oma, saya yakin dia pelakunya. Kita tidak bisa membiarkannya tetap bekerja di sini!" Indriana terdiam. Dia menatap Yoeja dengan penuh keraguan, lalu berkata, "Aku harus memikirkannya dulu, Mirza. Aku tidak mau mengambil keputusan tanpa bukti yang lebih jelas." Mirza menggeram dalam hati, merasa frustrasi karena rencananya belum sepenuhnya berhasil. Namun, di tengah situasi itu, Yoeja mengangkat wajahnya. Dengan air mata yang mengalir di pipinya, dia berkata, "Nyonya, saya tidak mencuri apa pun. Jika Nyonya tidak percaya, saya rela diperiksa lebih lanjut. Tapi tolong, jangan menuduh saya tanpa bukti." Indriana menatapnya dengan penuh pertimbangan. Kata-kata Yoeja terdengar tulus, dan ada sesuatu dalam dirinya yang merasa tidak nyaman dengan tuduhan ini. "Aku akan menyelidiki masalah ini lebih dalam," kata Indriana akhirnya. "Sampai saat itu, Yoeja tetap bekerja seperti biasa. Tidak ada yang akan mengambil keputusan sampai aku menemukan kebenarannya." Mirza tertegun. Rencananya tidak berjalan semulus yang dia bayangkan. Sementara itu, di dalam hatinya, Yoeja merasa lega meskipun masih dihantui ketakutan. Dia berdoa agar kebenaran segera terungkap, dan keadilan berpihak padanya. Namun, rencana Mirza gagal. Setelah kejadian itu, Indriana tidak langsung mempercayai tuduhan Mirza tanpa bukti yang kuat. Dengan rasa curiga yang mendalam, Indriana menggeledah barang-barang milik Yoeja, namun tidak menemukan apapun yang mencurigakan. Semua benda di kamar Yoeja teratur rapi, seolah tak ada yang tersentuh. Indriana menghela napas dalam kebingungannya, lalu menatap cucunya dengan tatapan tajam. "Mirza," ucapnya dengan nada tegas. "Kamu tidak bisa begitu saja menuduh orang tanpa bukti yang jelas. Kita harus berhati-hati dalam menyelesaikan masalah ini. Jangan sampai kita salah langkah." Mirza merasa terpojok, kemarahan dan rasa frustrasi menyelimuti dirinya. Namun, ia berusaha untuk tetap tenang. "Tapi Oma, saya sudah yakin. Yoeja pasti melakukannya." Indriana menatap cucunya dengan serius. "Aku akan mencari bukti yang lebih jelas. Kamu jangan terlalu terburu-buru menyimpulkan." Mirza merasa tak berdaya. Semua upayanya untuk menutupi perbuatannya ternyata menemui jalan buntu. Beberapa minggu berlalu setelah kejadian itu, dan Yoeja memilih untuk diam. Ia berusaha menjaga jarak dengan semua orang di rumah. Meskipun terlihat biasa-biasa saja, kondisi fisiknya mulai berubah. Ia sering merasa mual dan muntah, sesuatu yang tidak biasanya ia alami. Yoeja terus menutupi gejala-gejala tersebut, berharap semua akan segera berlalu. Namun, suatu hari, Indriana melihat Yoeja pingsan di dapur setelah beberapa kali muntah lebih dari seminggu. Indriana terkejut, langsung membawanya ke rumah sakit Mediana Medicine, untuk pemeriksaan lebih lanjut. Ketika hasil pemeriksaan keluar, dokter memberi kabar yang mengejutkan. "Nyonya, saya khawatir hasil tes menunjukkan bahwa Yoeja sedang hamil." Berita itu membuat Indriana terdiam. Hatinya berdebar kencang, seolah ada sesuatu yang sangat salah. Ia merasa ada yang tidak beres dengan situasi ini. Mengapa Yoeja tidak memberitahukan sejak awal? Mengapa dia tetap bungkam? Indriana langsung membawa Yoeja pulang, dan malam itu ia duduk berhadapan dengan pembantunya yang kini tampak lemah. "Yoeja," suara Indriana terdengar berat. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu tidak mengatakan apapun tentang kehamilanmu? Siapa ayah dari anak ini?" Yoeja menundukkan wajahnya, tak sanggup menjawab. Air mata perlahan mengalir dari matanya. Tak ada yang bisa dia ungkapkan, selain rasa takut yang mendalam. Indriana menatapnya dengan penuh kekhawatiran. "Kamu harus memberi penjelasan, Yoeja. Ini bukan hal yang bisa kita sembunyikan." Namun, Yoeja tetap bungkam. Ia tidak bisa berkata-kata. Setiap kali ia mencoba mengungkapkan perasaannya, pikirannya selalu dipenuhi dengan ketakutan. Indriana merasa tidak punya pilihan lain. Secara diam-diam, ia memutuskan untuk melakukan tes DNA pada dua pria yang tinggal di rumah tersebut: cucunya, Mirza, dan sopir pribadinya, Pak Surya. Indriana tahu ini adalah langkah yang berisiko, tapi dia tidak bisa lagi mengandalkan perkataan Yoeja yang selalu menghindar. Beberapa hari kemudian, hasil tes DNA pun keluar. Ketika Indriana membuka hasil tes tersebut, matanya melebar. Hasilnya jelas, ayah biologis dari janin yang dikandung Yoeja adalah cucunya, Mirza. Indriana merasa dunia seakan runtuh di sekitarnya. Hatinya hancur mengetahui bahwa cucunya, yang selama ini ia percayai, ternyata telah menghamili pembantunya. Kepercayaan yang selama ini ia berikan kepada Mirza kini sirna begitu saja. Dengan perasaan campur aduk, Indriana memanggil Mirza ke ruang keluarga. Mirza datang dengan wajah cerah, seolah tidak ada yang salah. Namun, saat Indriana menghadapinya dengan ekspresi serius, ia tahu sesuatu yang buruk akan terjadi. "Mirza," suara Indriana tegas dan penuh penekanan. "Aku tahu semuanya. Kamu yang telah menghamili Yoeja." Wajah Mirza memucat. "Oma, itu... itu tidak mungkin. Kamu pasti salah!" Indriana mengeluarkan hasil tes DNA dan meletakkannya di meja. "Ini bukti, Mirza. Kamu tidak bisa menyangkalnya lagi." Mirza terdiam, tubuhnya mulai gemetar. Ia tak bisa lagi mengelak dari kenyataan. "Oma, itu... itu hanya kecelakaan. Saya tidak bermaksud begitu." Indriana menatap cucunya dengan tatapan penuh kekecewaan. "Apa yang kamu lakukan sangat memalukan, Mirza. Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu." Mirza, yang merasa terpojok, berusaha mencari jalan keluar. "Tapi Oma, saya sudah punya pacar! Saya tidak bisa bertanggung jawab atas ini. Tidak mungkin saya bisa menikahi Yoeja. Itu hanya kesalahan, Oma!" “Plak!” tamparan keras itu melayang di pipi Mirza. Indriana merasa amarah dan kekecewaan semakin membuncah. "Kamu harus bertanggung jawab, Mirza. Ini bukan soal pacarmu atau siapa yang kamu sukai. Ini tentang sebuah kehidupan yang kamu ciptakan. Kamu harus menghadapinya." Namun, Mirza yang sudah terlanjur gelisah, mengeluarkan kata-kata yang lebih kejam lagi. "Saya tidak peduli, Oma. Kalau Oma mau, suruh saja Yoeja untuk menggugurkan kandungannya! Itu lebih baik daripada memaksa saya menikahi dia!" Kata-kata itu membuat Indriana terkejut. Wajahnya pucat, dan jantungnya terasa terhimpit mendengar penolakan cucunya yang begitu dingin dan kejam. "Apa yang kamu katakan, Mirza?" Indriana bertanya dengan suara bergetar. "Kamu ingin dia menggugurkan anak itu?" Mirza menatap neneknya dengan mata penuh kebencian. "Ya! Itu satu-satunya jalan keluar, Oma! Jangan biarkan semua ini merusak hidup saya." Indriana merasa seolah dunia ini runtuh. Ia tidak bisa membayangkan cucunya yang dulu penuh harapan dan impian, kini berubah menjadi seseorang yang begitu egois dan kejam. Namun, meskipun hatinya hancur, Indriana tahu satu hal pasti, ia harus mengambil keputusan yang tepat demi masa depan keluarga ini. ”Kamu harus bertanggung jawab Mirza! Titik, tidak boleh di bantah!” ”Aku tidak mau!” balas Mirza, lalu pergi meninggalkan Indriana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN