"Stupid! Apa yang kamu lakukan?!" bentak Mirza dengan suara penuh amarah di pagi hari.
Mata Mirza yang baru terbuka kebingungan terfokus pada Yoeja. Dia terkejut mendapati dirinya sedang memeluk tubuh wanita itu, yang hanya dibalut selimut tipis.
Yoeja terlihat rapuh dan terluka, seolah tidak mampu menghadapi kenyataan yang telah terjadi semalam. Netranya merah karena terus menangis sepanjang malam dan kini dia hanya bisa menyendiri, menepi di sudut ruangan dengan tubuh yang gemetar.
Mirza merasa marah, bingung dan tercabik-cabik antara rasa kesalahan dan ketidaksanggupannya menerima kenyataan.
"Kamu sengaja! Kamu...." Napasnya yang penuh emosi bergejolak, sulit diatur, kata-kata itu meluncur keluar tanpa bisa dia kendalikan.
Tangannya terangkat, menunjuk Yoeja dengan penuh kekesalan, seakan wanita itu adalah pihak yang harus disalahkan atas segala yang terjadi.
Namun, di dalam hatinya, sebuah kekosongan dan kebingungan semakin memuncak. Mirza tidak tahu lagi bagaimana harus menyikapi semuanya, apakah ini semua kesalahan Yoeja, ataukah dia yang telah terjebak dalam sebuah situasi yang lebih besar dari yang ia bayangkan.
Yoeja semakin menunduk tenggelam dalam deritanya yang mendalam, dia yang seharusnya korban saat ini menjadi tersangka di mata Mirza.
Mirza mencoba menenangkan dirinya, menarik napas dalam-dalam untuk mengontrol amarah yang terus bergelora.
Dengan langkah terburu-buru, Mirza mengenakan piyama miliknya dan melemparkan pakaian Yoeja ke arah wanita itu dengan gerakan kasar. Pakaian itu jatuh di lantai, terbuka begitu saja tanpa belas kasihan.
"Segera kenakan pakaian itu dan enyah dari hadapanku!" bentak Mirza, suaranya serak dengan amarah yang belum juga reda.
"Ingat, semua ini tidak pernah terjadi. Jika Oma Indriana tahu tentang ini, kamu akan menyesal seumur hidup," ancamnya dengan suara penuh kebencian, seperti menyampaikan peringatan yang tidak bisa diabaikan.
Yoeja, yang hampir tidak bisa menahan air mata dan sakit yang mendera tubuhnya, segera bergegas untuk meninggalkan ruangan itu. Namun langkahnya terasa begitu berat.
Setiap gerakan tubuhnya dipenuhi rasa nyeri yang menyiksa, terutama di antara selangkangannya, yang membuatnya hampir tidak bisa berjalan dengan normal.
Nyeri itu semakin terasa seiring dengan ketidakmampuan Yoeja untuk fokus. Pandangannya kabur, dan tubuhnya terasa begitu lemah, akibat menangis semalam yang tanpa henti. Kelelahan, ditambah luka emosional yang mendalam, membuatnya kesulitan untuk menahan air mata yang semakin banyak jatuh.
"b******k!" Mirza mengumpat dengan penuh amarah, masih dipenuhi kebingungan dan kemarahan atas kejadian semalam.
Mirza menatap tajam seberkas bercak darah yang menodai tempat tidurnya. Rasa marahnya semakin membuncah, seperti racun yang menggerogoti setiap sisi kesadarannya.
Saliva yang tertelan begitu saja terasa pahit di tenggorokannya. Mirza melotot lebar, terkejut dengan sebuah penemuan yang semakin membuatnya panik. Sebuah noda merah di atas sprei putih.
"Sial, dia masih perawan!" pekiknya spontan, nada suaranya penuh kebingungan dan kemarahan yang tak terhingga.
Ingatan tentang apa yang terjadi semalam mulai membanjiri pikiran Mirza, menyelusup ke dalam benaknya seperti bayangan gelap yang tak bisa dia hindari.
"Aku yang salah," bisiknya pada dirinya sendiri, suara penuh penyesalan dan kebingungannya.
"Tapi aku tidak mau kehilangan Chyntia, bodohnya aku!" Umpatan itu keluar tanpa bisa dia bendung, mencerminkan kebingungannya yang semakin dalam. Keinginan untuk memperbaiki semuanya bertarung dengan kesombongan Mirza yang terus mempengaruhi tindakannya.
Sementara itu, Yoeja yang baru saja sampai di kamarnya merasakan sebuah beban berat menghimpit dadanya. Tubuhnya yang lemah semakin merasa sakit, seolah ingin menghapus kenangan mengerikan yang terus menghantui pikirannya.
Air mata yang tidak bisa dia tahan menetes deras, setiap tetesnya menambah beban di hatinya. Ingatan tentang kejadian semalam terus berputar-putar di benaknya, membuatnya merasa jijik pada dirinya sendiri, merasakan luka yang lebih dalam daripada yang dapat diungkapkan dengan kata-kata.
.
“Argh!” jeritnya di ikuti isak tangis penyesalan.
“Kalau saja aku tidak membantunya, semua ini tidak akan terjadi. Aku tidak mungkin meminta pertanggungjawaban darinya. Ancaman yang dia lontarkan tadi jelas—aku harus diam, atau aku akan menanggung konsekuensinya,” batinnya, pikirannya berputar dalam kebingungannya yang tak terelakkan. Isak tangisnya semakin dalam, seolah tak bisa dihentikan.
Dengan gemetar, Yoeja menggosok tubuhnya dengan kasar, berusaha keras untuk mengusir rasa jijik yang kian mencekik hatinya. Setiap gerakan terasa sia-sia, seolah apa yang dia lakukan tidak mampu membersihkan dirinya dari kengerian yang baru saja dia alami.
Sudah lebih dari satu jam Yoeja terkurung di kamar mandi, menanggung beban yang semakin berat. Waktu terasa berjalan begitu lambat, namun tubuhnya tak sanggup bergerak lebih jauh. Semua perasaan ini, kesedihan, kebingungan dan rasa sakit, seakan membekukan setiap langkahnya.
Ketukan di pintu kamar mandi yang semakin keras akhirnya membuatnya terjaga dari lamunan. Seseorang sedang menunggunya di luar.
Yoeja menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri sebelum membuka pintu dan menghadapi dunia luar yang penuh dengan pertanyaan dan prasangka.
“Yoeja!” Suara lembut namun sedikit ringkih itu terdengar dari luar pintu kamar mandi, memanggil namanya dengan penuh kekhawatiran.
’Itu Nyonya Indriana,’ pikir Yoeja, berusaha menyemangati dirinya sendiri. ’Aku harus tenang, aku tidak boleh terlarut dalam perasaan ini.’
Dengan hati yang masih berat, Yoeja perlahan membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa air yang menetes, mencoba mengusir jejak-jejak keputusasaan yang membekas di kulitnya. Tubuhnya terasa lelah, namun dia memaksa dirinya untuk bergerak, mengenakan pakaian dengan gerakan hati-hati, lalu membuka pintu kamar mandi.
Di luar, Nyonya Indriana menatapnya dengan tatapan penuh keprihatinan. “Kamu sakit?” tanyanya, suara penuh kehangatan dan kasih sayang yang tulus terlihat jelas di matanya.
Yoeja mencoba tersenyum, meskipun senyum itu terasa sangat dipaksakan. “Hanya tidak enak badan, Nyonya,” jawabnya, suara yang hampir tak terdengar karena tekanan yang dia rasakan.
Indriana mengangguk pelan, seolah merasa lega mendengar jawaban itu, meskipun ada sedikit keraguan yang tetap membayang di matanya. Wajah wanita tua itu tampak mencerminkan rasa ingin tahu yang mendalam, namun dia menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh.
Yoeja, yang merasa tidak sanggup menghadapi pertanyaan lebih lanjut, segera memberi salam dengan sopan. “Maaf, Nyonya. Saya akan segera menyiapkan sarapan.”
Indriana tersenyum lembut dan mengangguk, menepuk bahu Yoeja sejenak, seolah ingin memberikan kenyamanan.
“Maaf, Nyonya,” ucap Yoeja dengan wajah menunduk, penuh rasa hormat yang tulus. Suaranya hampir tak terdengar, terbungkus oleh kepedihan yang masih menghimpit hatinya.
Senyum lembut terbit di wajah Indriana, yang kemudian meletakkan tangannya di bahu Yoeja lagi. Sentuhan itu terasa hangat dan menenangkan, seolah ingin menghapus semua kekhawatiran yang melanda hati Yoeja.
“Istirahat saja, aku tidak ingin kamu kelelahan,” ucapnya dengan lembut, sambil perlahan berbalik dan berjalan menjauh.
Yoeja mengangguk, meskipun hatinya terasa berat. “Saya juga mau istirahat. Penerbangan kali ini cukup melelahkan,” lanjut Indriana, sambil meninggalkan Yoeja di ruangan itu, membiarkannya sendiri dengan perasaan campur aduk yang semakin membingungkan.
Tatapan Yoeja mengikuti langkah wanita paruh baya itu, matanya menatap dalam pada bahu Indriana yang semakin menjauh. Sesuatu yang tak terungkapkan terperangkap di dalam dirinya, seberkas penyesalan dan rasa bersalah yang begitu dalam, menghantui setiap langkah yang dia ambil.
Setelah beberapa saat, Yoeja mulai bergerak, mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan tugasnya. Saat dia mulai menyusun sarapan, tak sengaja dia berpapasan dengan Mirza.
Keheningan yang memadat di antara mereka membuat udara terasa berat. Keduanya terdiam sejenak dan Yoeja bingung harus melangkah ke arah mana.
Apakah Yoeja harus berjalan ke kanan atau ke kiri, sementara Mirza pun tampaknya terperangkap dalam kebisuan yang sama. Setiap gerakan mereka terasa kaku, seolah ada dinding tak kasat mata yang membatasi jarak antara keduanya