Canggung itu ada beberapa jenis.
Salah satunya, ketika bersama orang yang tidak dikenal dekat, tapi tidak tau harus bagaimana. Mengajak ngobrol kah, atau mendiamkan. Canggung. Yang itu tidak pengaruh pada Aire.
Secanggung-canggungnya Aire, menghadapi orang baru tidak pernah jadi masalah besar untuknya.
Salah lainnya, adalah ketika tidak sengaja membahas topik yang sensitif padahal sebelumnya baik-baik saja. Kemudian tidak tau harus apa. Canggung.
Dan inilah yang membuat Aire tidak nyaman di tempatnya.
Pandangan cewek itu melirik Sean yang sedang sarapan dengan tenang. Agak canggung mengingat tadi sempat membuat Sean marah. Yang untungnya sepiring nasi liwet datang. Menjeda Aire yang mendadak canggung.
Dia tidak mengira kalau orang tua Sean sudah meninggal. Bahkan tidak ada orang rumah yang bisa memberinya hadiah.
Aire berkaca. Sementara dia sendiri, setiap ulang tahun, selalu dapat hadiah. Mama sama Papa tidak pernah absen. Kemudian keluarga besar. Teman-teman. Pengagum rahasia. Lumayan banyak kalau dihitung-hitung. Padahal usianya sudah mau seperempat abad.
Ditatapnya Sean dengan sangsi. Masa iya tidak ada seorang pun yang memberinya hadiah?
Direktur loh dia. Pasti banyak lah kenalan. Atau setidaknya Sean bisa mengadakan pesta ulang tahun tertutup kan?
Tapi sepertinya tidak begitu berhubung kemarin menghabiskan waktu bersama Aire.
Lagipula kalau pun harus memberi hadiah... "Bapak mau hadiah apa?" Soalnya Aire tidak tau apa keinginan Sean.
"Kalo tanya saya ngga jadi hadiah. Pikir sendiri."
Yeu! Padahal baru saja Aire mau bersimpati pada laki-laki itu. Tidak jadi deh. Tapi... bagaimana ya? Aire jadinya malah ingin memberi hadiah buat Sean. Siapa tau bisa naik gaji betulan. Eh.
Tapi kan Sean itu sudah tajir. Dia bisa mendapatkan apapun yang dimau tanpa harus menunggu momen ulang tahun buat hadiah. Apalagi kalau Aire yang beli hadiah. Harganya jelas tidak mahal-mahal amat.
Lalu hadiahnya harus apa?
***
Oke, usai turun dari mobil Sean layaknya penyusup, Aire langsung berlari menuju lift.
Dia tidak mau tertangkap sedang turun dari mobil Bapak direktur yang terhormat. Nanti dikira yang macam-macam, terus dia jadi bahan ghibah. Aire tidak mau.
Untungnya, Sean punya slot parkir khusus direktur yang letaknya sebelahan dengan lift.
Ya ya ya... direktur utama memang beda.
Begitu tiba di kubikelnya di lantai 27, teman-temannya sudah ada disana, tampak sibuk dengan pekerjaan pagi yang bisa dilakukan di kantor berhubung nanti bakal cabut ke lapangan.
Aire juga kerja lagi, membuat sketsa kasar desain taman untuk proyek mendatang. Biar waktu rapat presentasinya maksimal seperti biasa. Rajin lah pokoknya.
Ditekuninya cetak biru bangunan yang dipinjamkan Agung sampai kemudian Arjuna datang memecah hening. Dia menyerukan kalimat pembangkit semangat yang lebih mirip orasi mahasiswa.
Arjuna kemudian menunjuk Aire, dengan lantang berseru, "Jangan lupa nanti siang kita sidak ke tempat wisata!"
"Siap, bos."
Enaknya jadi arsitek lanskap ya begitu. Bukan mengurusi bangunan, tapi lebih ke mengurus area terbuka seperti taman. Di tempat wisata tujuan mereka, pemiliknya sendiri yang bekerja sama sejak awal untuk menangani masalah tata letak taman dan lain sebagainya.
Tahun ini, waktunya inspeksi.
"Aire." Bila memanggil.
"Yes?"
"Berangkat bareng siapa lo?"
"Sendiri mungkin, naik busway?" Omong-omong, Aire bahkan tidak bisa bawa motor. Naik sepeda kayuh saja keseimbangannya masih oleng. Agak aneh memang.
"Bareng gue aja, gue bawa motor."
"Boleh."
"Habis itu mampir dulu ke toko buah."
Aire mengangguk paham. Dia menyelesaikan sketsa kasarnya hari itu. Kemudian beranjak ke studio tempat koleksi maket ada disana.
Itu dia, di meja kaca nomor 3, adalah maket yang dia garap minggu lalu. Sudah selesai. Dia amati lagi maketnya sampai dengar suara pintu kaca dibuka.
"Aire."
Wah, suara itu lagi.
Aire berbalik. "Ya, Pak Sean?"
Sean menatapnya sejenak. Kemudian menyodorkan sesuatu. "Punya kamu ketinggalan."
Aire menganga mendapati lip cream-nya ada di tangan Sean. Cepat-cepat disambarnya benda mungil itu dan menatap sekitar. Aman. Tidak ada yang mengawasi mereka. Semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Tidak tau sih kalau misal ada yang lirik-lirik.
Agaknya Sean terganggu dengan tingkah Aire. Dia menyedekapkan tangan dan memicingkan mata, "Emang ada apa kalau yang lain tau saya kesini cuma buat nganterin barang kamu? Kan emang ketinggalan di mobil saya."
Sean, Sean.
Masalahnya nanti orang curiga kenapa pegawai culun seperti Aire bisa berangkat ke kantor sama Bapak direktur yang terhormat padahal tidak dalam rangka kerja.
Mana pemoles bibirnya sempat jatuh pula!
Jangan-jangan nanti dikira telah terjadi sesuatu yang iya-iya di mobil.
"Hari ini ada agenda?" Sean bertanya.
Aire segera mengangguk. Menyebutkan semua urutan agenda kerjanya hari itu. Siapa tau Sean mau menyuruhnya keluar lagi dan urung begitu tau agenda kerja Aire itu cukup padat.
Sean mengangguk. "Ganti agenda kamu, hari ini ikut saya."
Lagi?!! Aire segera menyusul langkah kaki direkturnya itu dengan wajah cemas. "Pak, tapi nanti siang saya mau jenguk Angga dan Seila bareng yang lain."
"Saya antar." Sean jawab tanpa menoleh. Menunggu lift tiba.
Aire nge-gas. "Ngga bisa gitu dong, Pak!"
Di-gas sedemikian rupa, Sean menoleh. Menatap Aire tajam dan tidak suka. Ada kemarahan yang terpancar di manik obsidiannya yang segelap malam. "Kenapa ngga bisa?" tanyanya dingin.
Aire meneguk saliva takut. Baru sadar kalau baru meng-gas direkturnya itu. Untung tempat lift ada di ujung lorong dan tidak terlihat dari kubikel. "Ngga bisa," cicitnya, beringsut mundur. "Saya- saya udah janjian sama Bila buat berangkat bareng."
"Selain itu?"
Aire cepat-cepet menggali memorinya. "Saya sama Bila... mau ke toko ambil hampers."
"Apalagi?"
Aire menggeleng. Bahunya yang mengkerut makin terlihat lemah saat Sean mendesaknya mundur. Langkah mundur Aire terhenti saat punggungnya menyentuh dinding. "P-pak-" Dia terbata, takut. "Nanti diliat yang lain-"
Ting!
Jantung Aire merosot saat lift tiba dan pintu di sebelahnya terbuka. Kenyataan kalau rekan-rekan kerjanya, kira-kira 8 orang, yang baru keluar dari lift melihat posisi tidak pantas antara dia dengan Sean membuatnya hampir menangis.
Dengan kedua tangan Sean di sisi tubuh Aire untuk mengukungnya, dan laki-laki itu sedikit membungkuk sehingga jarak wajah mereka tinggal sejengkal, tentu saja itu tidak pantas kan?
Dia berusaha mendorong Sean, tapi tidak berhasil. Sean bergeming dan menangkap tangan Aire yang ada di dadanya. Kemudian berujar kepada gerombolan teman kerja Aire yang terdiam melihat mereka. "Panggil Bila kesini," suruhnya.
Salah satu dari gerombolan itu, Cila, mengangguk cepat. Yang lain segera menyusul langkah Cila agar segera tiba di kubikel untuk membicarakan pemandangan seru yang barusan mereka lihat begitu keluar lift.
Beberapa sempat meninggalkan pandangan aneh pada Aire. Beberapa menatapnya dengan pandangan meremehkan.
Aire, yang matanya sudah merah, masih dalam upayanya mendorong Sean agar laki-laki itu mundur dan berhenti mendesaknya ke dinding. "Pak, tolong jangan kayak gini," bisiknya hampir menangis. Ini lebih membuat Aire takut daripada waktu mereka ke Bogor kemarin.
Bila datang tidak lama setelah Sean memutuskan menuruti Aire untuk mundur. Ditatapnya bingung Aire yang sudah mau menangis di hadapan Sean. "Saya diminta Cila datang kesini, Pak."
Sean mengangguk. Tanpa menatap Bila dan masih memperhatikan Aire dengan tajam, dia bertanya, "Saya dengar hari ini kamu berangkat bareng Aire untuk keluar?"
"Betul, Pak."
"Berangkat sama yang lain tidak masalah kan? Aire harus ikut saya hari ini." Masih dengan d******i yang pekat dan membuat Bila mengangguk setuju.
"Ngga masalah, Pak," jawabnya. Pandangan Bila mengamati Aire dan Sean, bergantian. Menemukan kalau Aire sedang menunduk menahan tangis.
Oke, sepertinya memang ada yang aneh. Sebelum ke lift, Bila sempat mendengar desas-desus terbaru itu.
"Dengar itu, Aire? Hari ini kamu ikut saya. Dan jangan bantah saya." Sean melanjutkan dengan nada datar, masih menatap tajam pegawainya yang menunduk. "Kamu bisa kembali ke tempat kamu, Bila."
"Eh- baik, Pak. Saya permisi."
Seiring dengan langkah Bila yang berlalu dengan ragu, Aire mengikut, masih dengan menunduk.
Sean mencekal lengan Aire waktu melewatinya, yang langsung disentak dengan kasar oleh cewek itu. Tanpa kata.
Ada beban yang dia takutkan kalau kembali ke kubikel. Tapi akan terasa lebih menakutkan lagi kalau dia tidak kembali.
***
[]