"Pertama Angga, habis itu Seila. Sekarang anak ini!"
Ketika Aire membuka mata, sayup-sayup dia mendengar sebuah perdebatan yang sepertinya cukup seru. Cewek itu mengerjap untuk mengumpulkan kesadaran.
"Saya tau performa tim kalian bagus karena kinerja kamu juga mendukung. Tapi kamu apakan staf kamu sampai kompak pada ambruk begini?!"
Aire mendengar suara Arjuna yang lebih pelan. Seperti sedang menjelaskan sesuatu, kemudian mereka bicara dengan lebih tenang.
Aire mengedarkan pandangannya. Dia terbaring di sebuah kasur yang dikelilingi kelambu warna putih bersih. Di balik kelambu itu, dia bisa melihat siluet 2 orang tampak sedang bicara berhadapan. Itu dia. Arjuna entah dengan siapa.
Bau obat-obatan menyeruak dalam penciumannya.
Aire tau. Dia sekarang berada di klinik kantor di lantai 15. Yang penjaganya adalah seorang dokter umum, dibantu beberapa perawat dan kadang mahasiswa magang. Obat-obatan yang ada disana juga lengkap. Seperti memiliki apotik sendiri di dalam kantor. Ada pula fasilitas rawat inap kalau ada hal buruk terjadi seperti saat ini.
Aire mendapati jarum infus bersarang di punggung tangan kirinya.
Tangan kanannya yang bebas mencari sesuatu. Reflek bangun tidurnya mencari ponsel.
Kemudian dia ingat kalau dia tidak membawa ponsel saat rapat.
Tirai disibak, menampakkan Arjuna yang rupanya bersama dokter umum yang baru dia temui kali itu.
Dokter umum bernama Wira itu tersenyum dari balik kacamata. Wajahnya tampak segar dengan potongan rambut cepak. Dia memeriksa selang infus Aire dan sesaat memeriksa perut cewek itu, menepuk-nepuknya, kemudian menjelaskan, "Kamu kurang makan."
Aire mengangguk.
"Kapan terakhir makan?"
Aire basahi bibirnya yang terasa kering, menjawab, "Kemarin siang."
"Kok bisa sih?!" Ini Arjuna yang nge-gas. "Terus tadi ngga sarapan?"
Aire menggeleng.
"Lo ngapain aja dari kemarin?"
"Kelarin tugas." Aire mencicit, agaknya takut membuat Arjuna meradang karena ambruknya dia pagi itu berkaitan dengan pekerjaan. Soalnya, biarpun teman, Arjuna tidak akan segan memarahinya. Kan seram.
Kemudian dia akan mulai berceramah... "Makanya atur waktu yang bener... Biar weekend ngga kerja..." Bla bla bla.
Beberapa menit kemudian, kultum itu selesai.
Dokter Wira tersenyum pada Aire. "Gimana habis diceramahin Arjuna? Makin pusing?"
"Iya." Jujur kok.
Arjuna mendelik.
Dokter Wira melerai, tangan kirinya menahan pergerakan Arjuna yang mungkin akan menjewer Aire kapanpun situasi mendukung. "Saya ngga tau kamu pingsan karena lapar atau ngantuk, soalnya kamu kayak orang tidur. Pules banget."
Aire tersenyum lemah.
Dokter Wira menatap jam tangan di pergelangan kirinya, mengangguk. "After all, kamu ngga ada maag. Kayaknya kebetulan aja sampe pingsan. Berhubung sebentar lagi jam istirahat siang, kamu disini dulu sampai infusnya habis. Nanti juga ada orang dari kantin yang bakal ngantar makanan kamu."
Aire mengangguk, menggumamkan terima kasih sebelum Dokter Wira beranjak. Ditatapnya Arjuna yang masih menatapnya dengan tangan bersedekap. Lagi-lagi, tersenyum lemah. Kali ini lebih mirip cengiran. "Makasih ya, bos."
Arjuna mengernyit. "For what?"
"Udah bawa kesini."
"Oh- bukan gue kok."
"Siapa? OB? Sekuriti?"
Arjuna menggeleng ringan, dia mengendikkan bahu. "Pak Sean yang gendong lo kesini."
Aire membelalak, mulutnya menganga. Wajahnya yang masih pucat tampak makin pasi. Dia mencicit lagi, "Kenapa ngga kamu aja?" Sudah ditolong, malah protes.
"Ya kan lo pingsannya waktu Pak Sean lewat di belakang lo. Dia yang tangkep lah."
"Tapi masa harus Pak Sean yang gendong sampai sini?" Aire nelangsa, dia takut. Takut karena sudah merepotkan pemimpin tertinggi mereka dan membuatnya terancam dipecat. Duh!
Bukannya menghibur, Arjuna malah tertawa. Tau ketakutan Aire. "Tadi lumayan heboh, lo tau? Banyak orang langsung mengajukan diri buat gendong lo. Ngga usah ge-er!"
Aire merengut. Siapa juga sih yang bisa ge-er di situasi begini?!
"Karena semua takut kena imbasnya kalo harus Pak Sean yang gendong lo. Tapi orangnya ngga nanggepin dan langsung bawa lo kesini." Arjuna menjelaskan, tangannya masih bersedekap, atensinya masih pada Aire. "Lo nyusahin beliau banget."
Iya tau! Tapi tidak perlu ditegaskan kan bisa! Aire makin tremor jadinya.
"Terus juga-"
Aire mengerjap. Apalagi ini?!
Arjuna menertawainya. "Kayaknya lo beruntung deh pingsan agak lama."
"Kenapa?"
"Pak Sean mungkin hampir mecat lo. Soalnya tadi beliau nungguin lo, tapi karena ngga bangun juga ya ditinggal."
Aire tidak mengerti kenapa Arjuna masih bisa menertawainya sesantai ini di saat Aire sudah pasrah dengan nasib mengenaskannya nanti. Dia juga yakin Arjuna masih akan menakutinya terus-terusan kalau saja Ina tidak segera datang untuk mengantar makan siang.
Arjuna segera lengser usai mengucapkan, "Selamat menikmati makan siang, gue mau makan enak dulu sama yang lain. Cepet sembuh biar gue ngga diomelin Wira lagi."
***
"Mas Arjuna tuh iseng banget ya," komentar Ina yang memang mengenal Arjuna. Apalagi tadi juga sempat mendengar bagaimana bujang satu itu mengusili Aire.
"Banget." Aire menambahkan.
"Aku ngerti loh, gimana tremornya waktu berhadapan sama Pak Sean."
Aire melirik Ina sekilas, batal menyuap bubur ayamnya, bertanya, "Emang pernah berhadapan langsung?"
"Iya," angguk Ina. "Tadi Pak Sean ke kantin."
"Hah?"
Seandainya tadi Aire bercermin, mungkin dia akan sadar bahwa ekspresi horor Ina sekarang mirip dengannya. Ina bergidik. "Bayangin aja, orang sekelas Pak Sean datang ke kantin!"
Padahal kantin kantor juga tidak buruk-buruk amat kok. Kantin yang lebih mirip kafe bergaya Industrial modern itu malah instagrammable sebenarnya. Aire saja betah berlama-lama di kantin.
Cewek itu kemudian membayangkan betulan sesosok Sean Abraham ada di kantin. Sosoknya yang tinggi berwibawa dan mengintimidasi menatap sekitar, seperti mencari korban, layaknya boneka raksasa dalam film Squid Game.
Benar juga! Pasti bikin tremor.
Aire bergidik. Tapi juga penasaran, "Pak Sean ngapain di kantin? Bukannya kalo rapat juga disediakan makan siang ya?"
Ina menatap Aire seolah cewek itu habis melakukan kesalahan tak termaafkan tapi secara beruntung masih bisa dimaafkan. Tatapannya penuh arti. "Setau aku, Pak Sean emang ngga pernah ikutan makan kalau habis rapat. Biasanya langsung pergi aja."
"Terus ngapain ke kantin?"
"Pesenin makan buat kamu, Ra."
"Terus ngapain lagi?"
"Cuma pesen makan buat kamu."
Aire mengerjap, dia menunduk. Ditatapnya bubur ayam di pangkuannya, mendadak hilang selera. "Masa sih?" gumamnya menolak percaya.
Maksudnya, kenapa harus Pak Sean terhormat yang turun tangan sih?! Dia kan bisa menyuruh ajudannya yang seabrek itu dan tinggal tunjuk apa saja yang dia mau tanpa harus ikut terlibat.
Benar-benar deh, Aire makin takut jadinya.
"Ina?"
"Kenapa?"
"Menurut kamu, masa depan aku disini masih lama ngga sih?"
"Ngga tau ya."
Aire menghela napas.
"Tapi, Ra. Dulu ada sejarahnya Pak Sean pernah mecat orang, pas di depan umum lagi. Gila!"
"M-maksudnya?"
"Dulu tuh ada karyawan sini, lupa lantai mana. Tapi orangnya emang agak gatel sih, caper sama Pak Sean. Terus suatu hari, di lobi kantor, itu cewek tiba-tiba datang dan langsung meluk Pak Sean. Nangis-nangis ngga jelas, nyuruh Pak Sean tanggung jawab karena dia hamil."
Aire menganga dengar cerita itu. Jangan-jangan Sean Abraham itu tipe bos ganteng yang punya napsu besar dan suka main cewek seperti yang ada di platform baca online? "Itu beneran, Na?"
"Ya ngga lah!" sergah Ina. "Ngga lama setelah itu, dia muntah! Dan muntahnya itu di jas-nya Pak Sean! Louis Vuitton dimuntahin ya gimana ya? Bayangkan semencekam apa lobi kantor waktu itu!"
Aire jadi betulan membayangkan. Kalau dia melihat pemandangan seperti itu di lobi, mungkin Aire bakal ngacir diam-diam dan akan merelakan diri naik ke lantai 27 lewat tangga darurat.
"Amsyong banget! Ceweknya itu ternyata mabok!"
"Terus Pak Sean gimana?"
"Ngga gimana-gimana. Mukanya datar aja. Tapi beliau cuma ngomong satu kalimat ke asisten pribadinya."
"Ngomong apa?"
"Pecat orang ini, gitu."
Aire menganga horor. "Terus Pak Sean-"
Sreeek!
Tirai yang mengelilingi kasur Aire disibak dari luar. Pelakunya adalah seorang lelaki tinggi tegap yang kalau dilihat dari dekat auranya semakin mengintimidasi.
Manik Aire bertatapan dengan obsidian segelap malam milik Sean Abraham.
Direktur utama itu menatapnya tajam. "Ada apa sama saya?"
***
[]