6

1227 Kata
"Jangan sampai orang tua aku tau aku pingsan." Aire memperingatkan Arjuna, yang rumahnya bertetangga dengan rumah orang tua Aire. "Ya elah, emang kenapa sih?" "Ngga mau, nanti aku dijemput pulang!" Arjuna memutar mata malas, menatap teman kecil yang merupakan tetangga sekaligus anak buahnya di kantor. "Udah sana turun." Aire manyun. Dia hanya tidak mau kejadian yang terakhir kali keulang. Dia bukan pingsan waktu itu, hanya demam karena kelelahan. Dan karena Arjuna cepu, keesokan harinya Aire sudah didatangi orang suruhan Mama yang menggiringnya pulang bak anak ayam kehilangan induk. Begitu Aire tiba di kamar kosnya yang agak kecil dan terpencil, cewek itu segera membersihkan dirinya biar bisa segera tidur. Masalah heels-nya yang berlumpur bakal dia bereskan besok. Bawa ke laundri sepatu, beres. Sekarang, usai mandi dan sudah mengenakan piyamanya yang nyaman, cewek itu menyetel AC di suhu paling rendah, lantas meraih ponselnya. Ada banyak notif mendsos yang tidak penting-penting amat. Digesernya satu persatu biar status bar-nya kosong lagi. Dan terakhir, ada chat masuk dari sebuah nomor asing. 'Aire? Save nomor saya - Sean Abraham' Seketika, Aire mengeluh. Ayolah, dia baru saja mau bersuka cita atas berakhirnya hari berat yang ada Sean Abraham disana. Dia juga mau merayakan bagaimana dia akan beristirahat untuk menyiapkan mentalnya besok kalau sewaktu-waktu dapat perintah ke lapangan. Tapi ini, di luar jam kerja, Aire kembali harus berhadapan dengan Sean. Meski lewat chat. Ponselnya bergetar lagi karena notif baru. Masih dari Sean dan room chat-nya yang terbuka. 'Jawab, Aire Kenapa cuma diread aja?' 'Maaf, Pak Tadi hampir ketiduran Baik Saya save nomor Bapak' Rupanya, jawaban chat Aire malah memancing pertanyaan lain dari Bapak Sean Abraham yang terhormat itu. 'Oke Kamu capek banget karena turun ke lapangan?' 'Tidak terlalu capek, Pak' 'Bagus Memang harusnya begitu Karena kamu bahkan ngga sepenuhnya jalan' 'Ya kan saya ngga minta digendo'-' Cepat-cepat Aire hapus lagi kalimat sebelumnya. Dia masih mau kerja dan tidak mau punya riwayat dipecat. Yakali?! Tengsin sama Papa. Tanpa sadar dia meraih bantal dan memeluknya erat. Greget. Membalas lagi, ' Terima kasih banyak untuk segala bantuannya hari ini, Pak' 'Sama-sama' Karena sudah betulan mengantuk, Aire kemudian menaruh ponselnya di meja. Dengan cepat jatuh tertidur, tanpa sempat membaca pesan terakhir Sean hari itu yang baru masuk. 'Good night, then' Isi chat yang pasti akan membuat Aire uring-uringan besok karena, maksudnya apa coba?! Sean Abraham kan super sibuk. Sejak kapan ada waktu untuk berkirim pesan pada pegawainya?! Pakai mengucapkan good night segala. Memangnya mereka anak remaja? *** Tidur. Sean ambil kesimpulan begitu. Chat terakhirnya tidak dibalas, padahal statusnya masih online. Sudah ada tanda centang birunya juga. Berarti bukan tidur, tapi tertidur. Anggap saja begitu. Ditaruhnya ponsel di meja nakas, kemudian Sean gunakan 2 tangannya sebagai alas kepala meski sudah ada bantal empuk dan nyaman. Pandangannya mengarah ke lampu kristal gantung yang ada di kamar. Dia tidak sedang berpikir apa-apa. Pun ekspresinya yang menampakkan seolah tidak ada sesuatu. Datar. Bahkan cenderung dingin karena garis wajahnya yang tegas memang seperti itu. Sean hanya sedang... mengingat-ingat. Wajah Aire seolah ada di langit-langit kamar. Mata kucingnya yang sepanjang hari ini banyak memicing kalau sudah melihat Sean. Bibirnya ikut mengerucut, mencurigai apapun yang mungkin akan dilakukan laki-laki itu. Rambutnya yang berantakan tertiup angin. Cantik? Memang. Tapi Sean mengenal lebih banyak orang yang lebih cantik lagi dari Aire. Hanya saja, Aire itu... aneh. Iya, aneh. Aire itu seperti punya dunia sendiri dalam benaknya. Sean juga ingat aroma parfum Aire. Aroma segar buah beri dan vanila yang manis. Hal itu mengingatkan Sean bahwa saat makan malam tadi, hanya Aire yang memesan s**u stroberi dingin untuk minuman. Bahkan baru kali ini Sean mendapati pegawainya, bekerja ke kantor, mengenakan jepit mutiara yang lucu untuk menghalau poni. Dan dia juga ingat waktu tadi menggendong Aire di punggungnya. Dia merasakan ada yang empuk, dadanya yang ternyata lumayan... diiringi sensasi aneh waktu hidung mereka bersentuhan. Itu Sean sengaja. Tapi dia tidak mengira kalau kupu-kupu bakal mengepakkan sayap di perutnya. Sial! Sekarang Sean tidak bisa tidur! *** Lanjut lagi ke hari Selasa. Aire harap hari ini tidak s**l-s**l amat mengingat kemarin tidak banyak pekerjaan yang ia lakukan. Jadi kali ini, cewek itu bisa sarapan dengan tenang, tidak lupa minum s**u. Kemudian berangkat ke kantor dengan flat shoes yang dibelikan Sean. Iya, terpaksa pakai itu karena heels-nya mau dilaundri. Aire juga tidak punya heels lain karena dia malas belanja. Lebih baik waktunya dipakai istirahat. Kalaupun ada alas kaki lain, adalah sandal selop, sandal jepit, dan sepatu kets yang dia taruh di kantor. Lagipula, flat shoes nyaman juga dipakai ke kantor. Dengan naik busway, dia tiba di halte dekat kantor dengan selamat sentosa. Menggunakan lift, dia langsung ke kubikelnya di lantai 27. Siap bekerja lagi dan siap pula berpanas-panasan untuk survei tanaman. Uhm, sebenarnya tidak berpanas-panasan juga. Toh kantor menyediakan mobil dan supir untuk karyawan yang memerlukan akomodasi. Jadi mungkin Aire akan memakai mobil kantor saja. Dan dia akan mengajak salah satu rekan setimnya di lanskap untuk ikut berhubung Seila masih dalam rangka absen. Kemudian, mereka bakal makan siang ayam geprek gerobakan yang ada di belakang GI. Terkenal enak dan harganya murah. Rencana yang indah. Sayangnya, rencana itu lagi-lagi pupus di jam 10 pagi ketika Aire sedang serius membuat desain lanskapnya. Dia mendengar kasak-kusuk, kemudian suara orang-orang menyapa sopan, sampai kemudian kubikelnya dihampiri Arjuna yang bilang, "Gue tunggu di ruangan gue." Kemudian Arjuna pergi. Padahal biasanya kalau ada perlu, tinggal disampaikan saja di kubikel. Bukannya dipanggil ke ruang manajer seolah ada pembicaraan penting. Yang memanggil Aire dengan cara seperti itu, tentu saja, tidak lain dan tidak bukan adalah Bapak Sean Abraham yang terhormat. Orang yang sempat membuat Aire uring-uringan waktu bangun tidur tadi pagi karena pesan terakhirnya yang bilang, good night. Aneh banget untuk ukuran direktur super sibuk sepertinya. Dan sekarang, yang bersangkutan sedang duduk di salah satu sofa ruang manajer. Kaki kiri memangku kaki kanan yang disilangkan dengan angkuh. Tatapan gelapnya fokus ke layar tablet. Sialnya, Arjuna entah ngeluyur kemana, menyisakan Aire yang mau tidak mau berdehem untuk menarik atensi laki-laki dingin itu. Mereka hanya berdua disana. Dan segera, suasana terasa mencekam bagi Aire. "Pak?" Panggilnya. Sean mendongak. Secara otomatis, pandangannya memindai wanita muda di hadapannya, yang datang ke ruangan ini karena dipanggil Arjuna sebagaimana Sean menyuruhnya. Hari ini, Aire mengenakan kemeja merah muda polos dengan renda di kerah dan rok span yang memeluk pinggulnya dengan ketat. Sean mengernyit. Tidakkah rok span hanya akan membuat Aire repot kalau pulang-pergi kantor naik busway? Belum lagi lekukan pinggulnya yang... ramping, tapi berbentuk. Itu bisa jadi santapan banyak mata lapar kan? Kemudian, Aire juga mengenakan flat shoes yang kemarin dibelikan Sean di butik. Bagus. Pandangan Sean naik lagi, dan jatuh di kalung berbandul mutiara yang melingkar manis di leher Aire. Cocok sekali. Rambutnya yang di bawah bahu digerai rapi, mengingatkan Sean bagaimana kemarin ia menyelipkan helai itu ke belakang telinga. Halus. Pipi Aire juga halus. "Pak-" Aire memanggil pelan, rikuh dipandangi sedemikian rupa oleh makhluk rupawan bernama Sean Abraham. Adam apple Sean bergerak naik turun saat dia menatap bibir Aire yang dipoles natural. "Kenapa?" Wajah Aire bersemu. Bukan hanya pandangan Sean yang terasa meresahkan saking intensnya mengamati makhluk hawa di hadapannya. Tapi suaranya tiba-tiba jadi lebih berat dan serak dibanding biasanya. Pandangan Sean... tampak sayu. Aire mendadak blank. Dipandangi seperti itu, dia gelagapan memikirkan apapun untuk menjawab, "Ngga boleh bengong." "Ngga bisa kalau kamu yang ada di hadapan saya." Huh?! Sepertinya Aire kurang banyak minum s**u. Nyatanya, dia masih kesulitan mencerna kalimat sederhana itu. *** []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN