Cijapati, Majalaya

1818 Kata
Tidak ada satu pun dari mereka yang sudah pernah ke daerah itu, kecuali Heru. Garut dan Majalaya memang tak asing, tapi mereka benar-benar baru mengetahui jalan alternatif itu. Jalan berliku-liku di pegunungan Bandung Tenggara. Sebuah jalan pintas menuju Majalaya dan Garut yang tak jauh dari Stasiun Cicalengka. Ayah teman Heru, Budi, membeli lima hektar tanah di kawasan itu. Kawasan perbukitan dan pedesaan yang masih cukup asri. Di pinggir-pinggir jalan terlihat warung-warung kecil yang menawarkan jagung dan ketan bakar dengan beberapa cemilan dan minuman. Warung-warung itu terlihat sepi dan jumlahnya tidak sebanyak seperti di Lembang atau Batu di Malang. Memang belum banyak orang yang mengenal tempat itu. Lagipula jaraknya cukup jauh dari Bandung, padahal pemandangan alamnya tidak kalah menariknya. Pada bukit pedesaan, tidak jauh dari area perkebunan teh, keluarga Budi mendirikan sebuah rumah makan dan pemancingan ikan. Mereka juga membangun beberapa kamar untuk disewakan. Lokasinya tepat berada di pinggir jalan utama. Mereka memang baru menyelesaikan ujian akhir semester Jumat kemarin. Sesuai rencana mereka berangkat pada hari Sabtu sore. Zaky mengendarai Daihatsu Tarunanya bersama Indri, Yula, Sidik dan Ratna. Zaky memang berpacaran dengan Indri dan hubungan mereka cukup awet. Mereka sudah berpacaran sejak semester pertama. Sedangkan Yula, Sidik dan Ratna adalah saudara sepupu Rena. Heru sendiri berada dalam Katana putih bersama Rena, Sekar dan dua orang teman SMA Rena, Fitri dan Wulan. ”Perasaan jauh amat Her? Apa elu yakin ini jalannya?” Rena merasa asing. ”Tenang aja, sebentar lagi sampai. Dua jam juga belum. Gua cukup hafal jalannya, soalnya gua inget betul dari pertigaan pom bensin tadi, jalannya nggak belak-belok. Kalau kita jalannya tadi siang, kita bisa lihat pemandangan. Bagus kok, besok pagi kita bisa jalan-jalan ke air terjun atau ke kebun teh.” Rena duduk di samping pak kusir. Ia meminta Heru untuk menyetir mobilnya. Sekar, Fitri dan Wulan tidak banyak berbicara semenjak berangkat. Heru memang tidak sering berbicara dengan Sekar di kampus. Sedangkan Fitri dan Wulan baru ia kenal hari itu. Tepat jam delapan malam mereka sampai di Pemancingan Cijapati. Udara sangat dingin walaupun tidak hujan. mereka memang berada dipuncak bukit. Mang Ujang, salah seorang pegawai yang dipercaya keluarga Budi untuk mengelola tempat itu, menyambut mereka di pintu masuk. Ia meminta Heru cs untuk memarkirkan mobil di samping rumah makan dan ia menjamin kalau mobil mereka akan baik-baik saja. Angin pegunungan malam merapatkan satu dan lainnya. Semua nampak ragu untuk melangkah masuk. Tempat itu terlihat sepi, tidak ada pengunjung lainnya. Heru berjalan masuk lebih dulu memeriksa sekilas keadaan rumah makan. Melalui jendela berteralis kayu terlihat kolam pemancingan yang sepi pengunjung, hanya permukaan air yang nampak beriak pelan disinari cahaya neon. Tempat ini memang sepi kalau malam. Walaupun khusus buat rumah makannya masih pada jam buka. Tempat ini biasanya ramai hanya pada hari Sabtu dan Minggu, kalau hari biasa hanya ramai pada siang hari. ”Tapi bukankah ini malam Minggu. Ah sudahlah, dengan kami bersepuluh di sini, tempat ini juga akan ramai. Kami akan memberi kesibukan pada mereka.” Heru bergumam pada dirinya. Mereka lalu menaruh barang-barang bawaan di kamar. Hanya ada tiga kamar dan satu ruang TV, sedangkan kamar mandinya hanya ada satu. Bangunannya sederhana bergaya country, namun cukup bersih dan terawat. Di salah satu ruang di rumah makan, Mang Ujang sudah mempersiapkan makan malam, makanan prasmanan Sunda lengkap dengan ikan goreng dan ikan bakar serta dua bersaudara tahu dan tempe dan tak lupa sambal goreng dan lalapan. Di saat sedang lapar apalagi ditempat sedingin itu makanan apapun akan terasa berkali-kali lebih nikmat. Bak kuli bangunan yang habis menggali sumur seharian, mereka segera menghabiskannya hanya dalam beberapa menit saja. Acara ulang tahun Rena segera dimulai. Rena mengeluarkan kue ulang tahun yang ia bawa dari Bandung. Mereka bernyanyi dan bertepuk tangan sementara Rena meniup lilinnya. Setelah mengucapkan sepatah sampai seribu patah kata, ia memotong kue dan mencoba membagikannya dibantu yang lain. Anak-anak bergantian memberikan selamat dan tak lupa memberikan kado. Hanya Heru yang tidak memberikan kado buat Rena, dan ia merasa biasa saja, sama sekali tidak merasa ganjil. Acara dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol, membahas gossip dan juga bermain tebak-tebakan. Sidik cukup banyak memiliki perbendaharaan teka-teki dan cerita lucu. Kemudian Zaky bernyanyi sambil main gitar, sebagian ikut menyanyi walaupun ada juga yang jaim atau mungkin tidak hafal lagu. Zaky memang cowok romantis bermodalkan lagu cinta dan selaras gitar. Heru bernyanyi paling keras berikut gaya walau tidak mabuk. Rena hanya tertawa-tawa, sedangkan Sekar cenderung diam. Malam pun kian larut. Wanita-wanita itu berebut kamar mandi untuk segera tidur. Urusan mereka memang lebih runyam. ”Makasih banyak ya Her. Gua seneng banget malam ini.” Rena menyapa Heru sebelum tidur. Heru sendiri masih terjaga sambil menonton TV. Satu gelas besar kopi tubruk membuat matanya melek walaupun sebetulnya ia cukup lelah setelah over-acting yang ia lakukan malam itu. Itulah gunanya teman Ren. Gua juga seneng kok. Sudah lama nggak refreshing.” There are places Ill remember All my life though some have changed Some forever not for better Some have gone and some remain All these places have their moment The lovers and friend, I still can recall Some are deade and some are lfing In my life I love them all ( In my life, The Beatles ) Kabut pagi menyelimuti area Pemancingan Cijapati, dinginnya bukan main. Anak-anak masih tertidur lelap. Heru membasuh wajah. Ia memang selalu tidak pernah bisa tidur terlalu lama di tempat yang bukan rumahnya. Ia terbiasa sebagai orang yang selalu tidur terakhir tetapi bangun paling awal, baik pada saat berkumpul menginap di kosan teman atau pada saat camping di gunung dan di hutan. Tanpa menghiraukan wajah-wajah bantal yang masih terlelap tak beraturan, ia kenakan jaketnya, lalu membuka pintu balkon yang tak terkunci. Ia berdiri tegak di balkon teras, menghirup udara pagi, merasakan hangatnya sinar matahari yang masih samar-samar terhalang kabut. Kamar-kamar mereka terletak di lantai dua di atas rumah makan. Ia mulai menghisap rokok, di pagi itu aroma cengkeh dan tembakau terasa lebih nikmat. ”Selamat Pagi!” Sebuah suara memecah keheningan pagi. Sekar berdiri di dekat pintu dengan jaketnya. Mahluk itu tetap cantik meskipun baru bangun tidur. ”Pagi juga!” jawab Heru tersenyum. ”Gua lihat pintu terbuka, kirain nggak ada orang.” Sekar berjalan ke pagar balkon, kedua telapak tangannya saling digosokan membuat efek hangat pada tubuhnya. ”Jam segini kok sudah bangun, nggak bisa tidur ya?” ”Gua memang biasa bangun pagi. Elu sendiri bangun paling pagi. ”Sama, Gua juga nggak biasa tidur terlalu lama. Apa yang lain sudah ada yang bangun?” ”Kayaknya belum, mungkin mereka akan bangun siang.” ”Sudahlah biarin aja, tadi malam kita begadang sampai larut.” Heru kembali menghisap rokoknya sambil menjaga jarak dengan Sekar. Sekedar menjauhkan asap rokok dari gadis itu. Liburan semester ini, apa elu pulang ke Jogja?” ”Nggak, kayaknya gua di Bandung aja.” ”Elu tinggal di Jogjanya dimana? Bokap gua juga orang Jogja, gua cukup sering ke tempat kakek gua di sana. Kalau nyokap gua sih orang sini, orang Bandung.” ”Bokap lu orang Jogja, apa elu bisa bahasa Jawa?” ”Nggak bisa, bahasa Sunda gua lebih baik. Soalnya gua dari kecil tinggal di sini. Dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Tapi kalau di rumah, gua ngomong pakai bahasa Indonesia, bahasa persatuan. Bokap-Nyokap nggak ngijinin kami memakai bahasa daerah di rumah. Kata Bokap gua, bahasa daerah itu menghambat persatuan.” ”Iya juga sih, lagipula kalau kita bisanya hanya setengah-setengah lebih baik nggak usah ngomong bahasa daerah.” Sekar memang tidak pernah terdengar berbahasa Jawa tapi aksen Jawanya tetap tak hilang. Seorang gadis cantik modern dengan aksen Jawa di tanah Pasundan justru membuatnya unik. ”Saya baru tau kalau di kelas kita ada orang Jogja juga. Keluarga elu di Jogja tinggal dimana?” ”Di daerah Jalan Kaliurang atas, sudah dekat Gunung Merapi. Kalau elu dimana?” ”Gua tinggal di Condong Catur.” ”Condong Catur! Kayaknya gua tahu. Di sekitar Ring Road, kan?” ”Iya, Ring Road ke utara. Apa elu ada sodara di sana?” ”Nggak, nggak ada. Hanya tahu aja. Kelihatannya, untuk nunjukin arah, orang di sana biasa ya, make kata timur, utara, selatan?” ”Ya gitu, aneh ya? Sekar melirik... ”Nggak, lucu aja, kedengarannya seperti di film kungfu Mandarin. Ada Raja Pengemis dari Utara, Kaisar Selatan, Racun Barat dan Si Sesat Timur. Seperti filmnya Andy Lau, Pendekar Rajawali Sakti. Coba elu bayangin kalau anak-anak di kampus ngomongnya kayak begitu. Eh, gua ke barat dulu ya, atau, tolong dong ambilin pulpen di sebelah selatan lu. Kayaknya bakalan seru.” Sekar tertawa ringan. ”Ya, nggak gitu-gitu amat. Di sana itu sudah biasa, dari kecil kita sudah dibiasakan mengenal arah seperti itu. Sudah jadi budaya dan tradisi. Seperti nama jalan, di sana seringnya pakai utara, selatan, timur, barat. Jalan Gowongan Lor dan Kidul, tidak menggunakan Gowongan Satu atau Dua. Bahkan di rumah pun kita menggunakan istilah yang sama seperti pintu utara atau kamar mandi yang di timur. Bukan kamar mandi depan atau belakang, kanan atau kiri.” Kabut pun mulai menipis, di seberang area pemancingan mulai terlihat samar-samar perkebunan teh yang terhampar luas di sepanjang bukit. Heru baru menyadari kalau ini adalah pembicaraannya yang terlama dengan Sekar sejak mereka satu kelas lebih dari dua tahun. ”Kalau elu nggak pulang ke Jogja, terus elu mau ngapain di Bandung?” Sekar diam, Ia tampak ragu menjawab. ”Hari Senin besok itu sebetulnya gua ada wawancara kerja. Gua juga bingung mau datang apa nggak ya.” ”Wawancara kerja dimana?” Heru mulai serius. ”Sebulan yang lalu gua masukin lamaran ke Perusahaan Finance di Bandung. Kirain nggak bakalan dipanggil, tapi Jumat kemarin gua ditelpon, disuruh dateng hari Senin buat wawancara.” ”Kalau elu diterima, terus gimana dengan kuliah?” ”Kelihatannya gua harus cuti dulu, kurang lebih satu tahun. Gua pingin punya pengalaman kerja dulu, lagipula ke depannya akan lebih mudah untuk mendapatkan data dan bahan skripsi. Gua bisa dapat dari tempat kerja sekaligus jadi tempat penelitian. Gua juga suka tinggal di Bandung dan kalau bisa pingin menetap di sini terus.” ”Hebat, elu udah sampai mikirin bahan skripsi segala. Terus, besok tempat wawancaranya dimana?” ”Di jalan Sudirman. Elu tahu nggak, kalau ke sana naiknya angkutan jurusan apa?” ”Kalau dari Dago lumayan ribet. Gua tahunya kalau dari daerah rumah gua. Memang wawancaranya jam berapa?” ”Jam sembilan.” Keduanya terdiam. ”Gimana kalau besok gua anter?” Sekar memandang Heru spontan dan tajam. Sesaat ia terdiam. ”Nggak usah Her! Ngerepotin. Makasih sebelumnya.” ”Gua sih nggak repot, hari Senin kan sudah libur. Gua juga nggak punya kegiatan. Gua cuma takut kalau elu nyasar terus terlambat diwawancara.” Sekar kembali diam mempertimbangkan. ”Tapi apa elu nggak repot?” ”Nggaklah, cuma ya itu, pake motor.” ”Lho memangnya kenapa kalau pake motor? Waktu gua masih SMA di Jogja, sering kok bawa motor sendiri ke sekolah. Elu ini ada-ada aja. ”Oke kalau gitu besok gua jemput jam delapan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN