Heru duduk di pelataran parkir, berbincang-bincang dengan para sopir sambil menikmati teh botol dan sebatang rokok. Sudah hampir satu jam Sekar berada di dalam kantor Perusahaan Finance itu.
”Pacarnya Mas, belum selesai juga diwawancara?” Seorang sopir bertanya.
”Belum Mas, mungkin banyak yang diwawancaraBukan pacar saya kok, cuma temen.”
”Masak sih, cuma temen kok mau sampai nunggu lama di sini.” Sopir lain menimpali.
Kenapa juga sopir-sopir itu begitu usil, seperti ibu-ibu arisan yang hobinya nonton telenovela. Berkumpul dan bergunjing, cukup lucu melihat gaya dan topik pembicaraannya. Seperti mengomentari sesuatu yang hapening dengan sotoi alias sok tau. Berlagak berwawasan biar dibilang intelek padahal kosong. Heru memang lebih baik diam dan tak perlu ikut berkemontar.
Setengah jam kemudian Sekar ke luar dari kantor tersebut. Matanya celingukan mencari Heru. Heru melambaikan tangan memanggil. Seperti gadis kecil yang baru mendapat hadiah, Sekar berlari kecil sambil mendekap tasnya. Matanya berbinar. Ia melompat-lompat kecil di hadapan Heru.
”Gimana wawancaranya? Kelihatannya sukses?”
”Gua diterima Her. Hari Rabu gua sudah mulai kerja.”
”Wah, selamat ya! Kalau gitu, kita bisa makan-makan dong?”
”Itu sih gampang, asal elu jangan minta makan yang aneh-aneh aja.” Sekar terlihat gembira sekali.
Heru baru mulai menyadari sisi lain dari Sekar, dibalik sikap Sekar yang pendiam, ia juga bisa pecicilan seperti ABG.
”Makan yang aneh-aneh, makan apa-an? Makan beling? Elu kira gua kuda lumping. Paling steik, pizza. Becanda, terserah aja, warteg juga nggak apa. Heru pun menarik motornya dari kerumunan motor, memberikan helm pada Sekar.
****
Hari-hari selanjutnya mudah diterka, ia menjadi sering bersama Sekar. Berkunjung ke kosan, makan di luar bahkan selama beberapa hari ini ia mengantar dan menjemput Sekar bekerja. Sekar tidak terlihat keberatan. Ia tidak tahu apakah Sekar sebetulnya merasa sungkan bila menolak tawarannya. Atau memang Sekar perlu menerima kebaikannya untuk sementara, hitung-hitung ada teman ngobrol sekaligus berhemat sampai gaji pertama. Heru sendiri jelas tidak pernah meminta ongkos ojeg atau bensin, dan menolak tegas bila diberi, walau dipaksa sekalipun. Maklum, jaim tetap nomor satu. Lagipula di musim liburan ini ia memang tidak ada kegiatan yang berarti. Masa liburan sepenuhnya untuk Sekar. Main dengan anak-anak kampus lainnya pun tidak, karena memang jarang yang masih berkeliaran di kota ini, umumnya mereka pulang ke daerah masing-masing. Sekar juga tidak mempunyai banyak teman baik di kampus maupun di Bandung. Teman-teman kerja di kantornya juga belum banyak ia kenal. Heru memang salah satu alternatif teman yang menguntungkan pada kondisi seperti sekarang ini. Tapi kalau Sekar menerima karena suka padanya itu jelas tidak mungkin. Walaupun Heru tipe lelaki yang mudah gede rasa, ia sadar sepenuhnya kalau itu mustahil. Yang jelas ia menyukai apa yang ia lakukan pada Sekar. Ia benar-benar menikmati kebersamaannya dengan Sekar. Ini di luar dugaan.
Sekar memang wanita yang berbeda, kecantikan dan kesederhanaannya sampai saat ini masih terlihat alami. Ia cukup mewakili gambaran gadis daerah yang menuntut ilmu di kota besar, walau pun Jogja juga bukanlah kota kecil. Ketenangan membuat hati dan pikirannya sulit diduga. Sedih dan gembira hampir tak berbeda, semua nampak datar. Tak heran pula kalau banyak cowok kampus yang sulit untuk mendekatinya. Sayangnya ini musim libur, kalau saja anak-anak kampus melihat kedekatan Heru dengan Sekar seperti sekarang ini. Heru sudah beberapa langkah lebih maju dari mereka dalam waktu singkat.
Hari demi hari berlalu, tak terasa sudah satu bulan Sekar bekerja di perusahaan itu. Heru masih setia menemaninya. Mereka semakin dekat menerawangi diri satu sama lain. Mencoba lebih saling terbuka dan saling mengingatkan. Berusaha untuk terus menerka isi hati. Heru benar-benar jatuh cinta dan perasaan itu begitu mengalun perlahan dan dalam. Tidak menggebu-gebu tapi tidak juga melankolis. Ada emosi dan nuansa lain yang sangat besar dalam hubungan mereka melebihi rasa sentimentil dalam roman picisan. Ia bahagia hidupnya berguna untuk orang lain, dan ia tidak mau kehilangan Sekar walau hanya sebatas teman.
Perlahan ia mulai belajar untuk menunjukan cintanya dengan tindakan yang nyata dan berguna. Bukan dengan rayuan atau kata-kata gombal. Lagipula ia juga tidak pandai dalam hal itu. Begitu juga dengan menebak hati manusia, ia jelas sama sekali bukan ahlinya. Walau pun ia sangat ingin bisa dan ingin tepat pula tapi tetap saja tak pernah berhasil, selalu salah. Namun kali ini entah mengapa ia merasa yakin, hanya perlu sabar, ini hanya soal waktu. ”Ah!sudahlahItu semua teori. Aku memang tidak punya nyali”. Heru mengutuk diri. Sejujurnya, ia hanya tidak mau menambah rekordnya dalam ditolak cinta.