Kampus Terakhir

699 Kata
Liburan semester pun usai. Jalan Dago Pojok kembali dipenuhi mahasiswa. Hari-hari pertama memang lebih terlihat seperti acara temu kangen dari pada belajar mengajar. Rena mengisi liburan di Jawa Timur dan Bali. Ia memang sangat suka travelling. Tigor dan Amanda lengket di tiap sudut. Heru merasa hambar, ia seperti tidak merasa habis liburan. Ia tidak lagi melihat Sekar di kursi depan, tempat favoritnya, dimana Sekar biasa menyendiri dan berkonsentrasi. Saat ini sulit baginya untuk dapat mengantar dan menjemput gadis itu. Back to Campus membuyarkan harapan, ia juga tak lagi tengil dan ceria. Apa pun situasinya ia tetap tidak bisa menyembunyikan kegalauan. Sedangkan Sekar mulai terbiasa pada pekerjaan. Ia menjadi wanita yang baru. Prilaku dan penampilan mahasiswinya mulai sedikit hilang tergilas gaya orang kerja. Lebih formal, lebih menjaga sikap. Ambisinya pun tercicil. Ia juga mulai mempunyai beberapa teman di luar kampus dan ia selalu terlihat optimis. Heru mulai kehilangan kepercayaan diri dan ia tak berusaha melawannya, ia biarkan saja. Dalam kehambaran suasana kampus, di saat hari hampir menjelang sore, Heru berjalan lunglai di parkiran, namun seketika matanya melebar melihat seorang wanita berseragam kantor. Sekar berdiri di pintu gerbang, Ia melambaikan tangan berjalan ke arahnya. ”Apa khabar! Kejutan ngelihat elu di sini.” Heru menyambutnya. Sekar tersenyum singkat. Ia nampak terburu-buru. ”Her, gua bisa minta tolong elu, nggak?” Sekar nampak gugup. ”Minta tolong apa? Memangnya ada apa? Kegembiraannya hilang seketika. ”Kita ke kantin aja, ngobrolnya di sana.” Mereka berjalan menuju kantin menuruni tangga. Heru menawarkan untuk memesan minuman. Sekar menolak. Wajahnya sedikit pucat dan pandangannya berkeliling sebentar ke setiap sudut kantin. ”Minta tolong apa? Mudah-mudahan Gua bisa bantu? Heru semakin penasaran. Sekar mulai berbicara to the point. ”Her, gua bisa pinjam duit nggak sama elu?” ”Berapa?” Heru merespon santai. Tidak terbesit di pikirannya untuk menanyakan untuk apa. Ia hanya ingin menolong dan ia kuatir sekali pada gadis itu. ”Lima juta Her.” Jawab Sekar tertunduk. Heru termangu, ia urungkan niatnya menyalakan rokok. ”Lima Juta! Aduh Sekar!... Gua nggak punya uang sebanyak itu.” Ia mulai serius. ”Her, gua ngilangin duit kantor sebesar itu, dan uang itu harus ada besok. Gimana dong!” Sekar terlihat sedikit histeris. ”Sekar, kenapa bisa begitu? Gimana ceritanya?” Heru pun ikut panik. ”Pekerjaan gua itu setiap harinya menerima uang dari para kolektor untuk disimpan di kas. Sebelum pulang gua harus membuat laporannya dan menyerahkannya kepada atasan beserta uangnya keesokan hari jam sembilan. Atasan gua akan memeriksa laporannya beserta uangnya. Setahu gua jumlahnya sudah sesuai dengan bukti-bukti penyetoran dari para kolektor. Gua sendiri yang menerima dan memberikan bukti penerimaan pada para kolektor. Tapi ketika gua hitung dan gua cocokan berulang-ulang jumlahnya tetap kurang lima juta.” ”Apa elu yakin? ”Gua yakin, dan setelah gua teliti segala kemungkinan tetap saja semua mengarah pada keteledoran gua. Gimana dong, laporannya akan diperiksa besok. Gua nggak mau kehilangan pekerjaan. Gua ini masih dalam masa percobaan.” ”Aduh! Gua juga nggak tahu. Tabungan gua hanya ada dua juta, itu pun baru bisa diambil besok karena gua nggak punya kartu ATM.” Heru benar-benar pasrah. ”Sama, tabungan gua juga cuma ada dua juta. Saudara gua semuanya di Jogja. Lagipula sebisa mungkin mereka nggak perlu tahu. Apalagi sebetulnya orang tua gua nggak ngijinin gua kerja. Gua ini nggak bilang sama mereka kalau gua cuti kuliah untuk kerja.” Sekar menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Wajahnya makin kusut hampir menangis. Kantin sudah terlihat sepi karena memang sudah jam pulang. Hanya ada beberapa mahasiswa yang tidak begitu mereka kenal di sana. Untuk sesaat, keduanya hanya bisa diam. Dan akhirnya, Heru pun bertindak. ”Sekar, mumpung ini baru jam tiga gua harus segera ke sana.” Heru berdiri merapikan bangku. ”Elu mau kemana?” Sekar masih duduk terheran. ”Elu ambil aja uanglu di ATM sebisanya. Gua mau mencari kurangnya.” ”Kemana?” ”Ke tempat jual beli motor, sepertinya mereka buka sampai jam setengah lima. Gua masih punya waktu.” ”Mau ngapain ke sana? Elu mau ngejual motorlu?” Sekar reflek berdiri. ”Udah tenang aja, gua cuma ngegadein, yang penting kita dapat uangnya.” Heru bergegas meninggalkan Sekar yang masih berdiri terpaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN