Aurevoir Bandung

1833 Kata
Mata kuliah terakhir baru saja dimulai. Heru duduk sendiri di bangku panjang di teras kelas. Memandangi tong sampah yang menjadi saksi bisu dirinya di hari terakhir. ”Nggak ada kuliah, Her?” Tanpa terlihat datangnya, Maya sudah berdiri disampingnya. Heru tidak menjawab, hanya melihatnya sesaat lalu kembali pada tong sampah. Maya pun ikut duduk disampingnya, ia melepaskan tali tasnya dari bahu, dan menaruhnya di samping. ”Kelas sudah dimulai 10 menit, May. Anak-anak semua ada di dalam.” ”Apa? Jadi memang ada kuliah?” Maya spontan berdiri. Suara gaduh dalam kelas samar terdengar. Dinding bagian teras memang tak berjendela, membuat Maya tak bisa mengintip, Ia hanya berdiri celingukan. Heru tertawa dalam hati. ”Trus, elu sendiri ngapain di sini?” ”Duduk di luar sini bukan berarti gua nggak kuliah. Gua masih bisa ngedenger dosen cuap-cuap. Catatan tinggal foto copy, masalah absen sih gampang, bisa nitip. Yang penting tugas-tugas dikerjain dan waktu ujian nilainya minimal B. Sudah gih, buruan masuk!” Maya masih berdiri kikuk tidak menjawab, ia justru kembali duduk bersama Heru. ”Gua juga nggak masuk deh. Sekali-kali nggak apa-apalah.” Ia pun ikut menatap tong sampah yang semakin bundar. ”Kerjaan elu di kantor lancar-lancar aja?” Heru mulai membuka obrolan. Ia tak mengira Maya akan ikut bolos. “Lancar. Gua malah dipromosiin naik jabatan.” Maya menjawab dengan bangga. ”Kok bisa? Elu pacaran sama bos lu, ya?” Maya melotot. ”Sembarangan, gua ini memang berprestasi. Sistem jaringan komputer di kantor gua itu, yang ngerancang gua. Begitu juga dengan program Data Base karyawan. Pokoknya mereka cukup mengandalkan gua.” Maya berkata berapi-api. Membuat Heru semakin minder sebagai seorang laki-laki. ”Elu jago banget komputer. Kayaknya ngulik banget.” “Jago itu ayam, he he.” Gantian Maya yang melawak. Padahal Heru sudah mulai serius. ”Dari SD gua udah belajar komputer. Bokap gua dosen Informatika dan kakak gua juga bergerak di bidang IT. Pokoknya keluarga gua itu keluarga high-tech. Elu sendiri sampe nggak masuk, cuma buat ngelamun di sini, mikirin apa, mikirin negara?” Heru tersenyum tipis. Sebelumnya ia memang ingin bercerita dengan heboh kepada teman-temannya akan keberangkatannya besok. Hitung-hitung pamitan tetapi mendadak ia bungkam. Ia seperti ingin berlalu begitu saja. Maka itu ia tidak masuk ke kelas. ”Gua mau kerja di luar negeri, May. Besok gua berangkat.” ”Serius lu? Kerja di luar negeri? Jadi Pembantu?” Heru hampir tertawa, tapi memang ia akan jadi semacam pembantu. TKI juga sebutannya, yang identik dengan PRT alias Pembantu Rumah Tangga. Heru pun menarik nafas mencoba serius. Sebulan setelah liburan semester kemarin, gua ketemu temen gua waktu kuliah di perhotelan. Ia baru pulang dari bekerja sebagai Waiter di kapal pesiar di Amerika. Ia kelihatan sukses, dan gua tertarik ngedengerin pengalaman-pengalaman dia. Lalu dia ngasih alamat perwakilan agen rekruitmennya di Jakarta. Kantor pusat perusahaannya sendiri ada di Seattle, Amrik. Kebetulan memang ada walk in interview bahkan perwakilan HRD-nya dari Amerika akan datang untuk menyeleksi dan memberi wawancara langsung. Dengan sertifikat pengalaman job training waktu gua masih kuliah di perhotelan, ditambah surat pengalaman kerja palsu, gua nekad ke Jakarta. Buat persiapan wawancara, gua tinggal baca-baca ulang buku-buku perhotelan. Kalau bahasa Inggris, nggak usah ditanya, elu sendiri tau, conversation gua lumayan. Nggak nyangkanya, gua diterima. Gua juga masih bingung hampir enggak percaya. Proses keberangkatannya juga cepat. Mereka perusahaan besar. Kerjanya sangat professional. Perwakilan agennya di Jakarta dengan cepat mengatur dan mendampingi gua dalam setiap kepengurusan dokumen seperti ; Pasport, Seaman Book dan American Visa. Lalu tiga hari yang lalu kontrak resmi gua datang dari Amerika berikut tiket pesawat. Kontraknya satu tahun, besok gua harus berangkat ke Maroko karena kapalnya akan singgah di Casablanca.” Maya tertegun mendengarkan penjelasan Heru yang panjang lebar. ”Kok gua baru denger ya, anak-anak juga nggak ada yang cerita. Nggak mungkin elu belum cerita ke yang lain. Apalagi elu kan ember.” ”Belum sempet, ini gua baru cerita ke elu aja. Tadinya gua mau pamitan sama anak-anak dan dosen, sekalian mau ngurus surat cuti kuliah. Tapi setelah gua pikir-pikir, nggak usahlah, ribet ngurus surat cuti. Pamit ke anak-anak juga males, nanti malah pada minta traktir. Sekali-kali nggak usah heboh, menghilang dengan senyap. Biar nanti pada ngangenin gua. “Ge-er, emang elu siapa. Tapi sebaiknya pamitan sama kita. Kita ini sekelas udah lebih dari dua tahun. Paling nggak elu mesti urus surat cuti. Pergi tanpa keterangan lebih dari setahun bisa di drop out. Masak elu nggak sayang sama kuliahlu. Apa elu anggap semua ini nggak ada artinya,.. atau hanya main-main. Belagu banget lu kalau sampai berpikir begitu.” Maya terlihat sewot. ”Gua aja yang kuliah sambil kerja. Berangkat pagi pulang malam. Rumah, kantor dan kampus saling berjauhan, naik angkot ke sana kemari. Belum lagi tugas kuliah dicampur sama kerjaan kantor. Trus, physically, gua ini cewek. Fisik gua nggak sekuat cowok. Tapi bagaimana pun juga gua nggak akan ngorbanin kuliah. Gua sudah memulainya, dan gua harus mempertanggung jawabkannya pada diri gua dan pada orang tua yang sudah membiayai.” Heru semakin tertegun mendengar Maya bicara. Semakin kalut rasanya. Ia tidak bisa berkomentar apa-apa lagi, hanya terdiam bisu bak tempat sampah. ”Gua heran sama elu. Biasanya elu yang paling semangat dalam setiap ritme aktivitas kampus. Keberadaan elu, suka atau tidak suka cukup diterima mulai dari yang gaul sampai yang caur, bahkan kadang dirindukan. Masak sekarang elu mau pergi begitu aja kayak hantu. Datang nggak dijemput pulang nggak diongkosin.” Terdengar kembali suara anak-anak gaduh di dalam kelas. Mengusik lamunannya, semacam screen saver dalam monitor otaknya. “Tapi, ya udahlah. Nggak apa-apa kok kalau elu pingin pergi begitu aja. Mungkin memang lebih baik begitu, sehingga tidak ada memori yang tertinggal. Elu bisa melupakan semuanya dan konsentrasi pada pekerjaanlu di sana.” Omongan Maya mulai terdengar mengalun. Sewotnya sudah mulai reda. ”Hidup itu unpredictable, ya May. Kadang nggak bisa diduga. Segala sesuatu yang terjadi pada diri kita bukanlah suatu kebetulan. Semua sudah direncanakan, ini hanya soal waktu. Lagipula walau pun saya hanya sempat menimba ilmu sedikit di sini, saya yakin ilmu itu tidak akan sia-sia. Kecuali kalau saya memang bermaksud menyia-nyiakannya.” ”Semoga aja Her, semoga elu nggak menyia-nyiakannya. Lagipula, segala sesuatu atau peristiwa yang diciptakan untuk kita pasti ada maksud dan tujuannya, walaupun saat ini hanya terlihat sepele atau bahkan merugikan. Apalagi kuliah, walau ilmunya belum tentu kepake, paling nggak bisa membuat kita bertindak sistimatis dalam banyak hal. Maka itu, kalau ilmu kuliahlu pingin tetep kapake, di sana nanti cukup bekerja yang baik, sesuai aturan, sesuai prosedur. Efektif dan efisien. Jangan serampangan. Orang berilmu itu akan terlihat dari kestabilan emosi dan pembawaan dirinya, berkata dan bertindak sistimatis, tidak sombong, menghargai orang lain dan bertanggungjawab. Apalagi dunia kerja yang sesungguhnya tidak seperti pada saat kita magang. Konflik personal intern, temen makan temen sangat mungkin terjadi. Itu biasa. Cari aman dulu aja, sebisa mungkin tekan ego. Terus elu juga mesti tegar, nggak usah melo (melankolis), semua masalah tinggalin aja di sini, nggak usah ditengok lagi. Terakhir, karena elu orang baru dan kenyataannya elu memang sudah lama tidak berkecimpung di dunia perhotelan, adaptasi mungkin akan lama. Tapi apa pun yang terjadi, harus tetap sabar dan jaga emosi.” Heru terkesima mendengar penjelasan Maya. Ia memang dewasa juga cerdas. ”Nggak sia-sia kalau aku sempat naksir dia. Naksir doang. Lalu berkaca dan mundur teratur.” Heru tersenyum sendiri mengingat masa itu. Tak terasa waktu cepat berlalu. Ia justru semakin betah duduk di sana. Menikmati saat-saat terakhirnya di kampus. ”Mending balik aja yuk! Sekalian cari makan.” Maya berdiri pelan. Heru sendiri masih terlihat enggan untuk beranjak. ”Oke lah, tapi naik apa? Gua sekarang sudah nggak punya motor. Lagian, bukannya nanti elu dijemput cowoklu .” Maya menatap heran. ”Masak elu nggak tau? Gua kan udah putus lama. Sekarang gua jomblo. Tumben, lu nggak denger gosip selebriti.” Mereka berjalan di sorenya kampus. Melewati kelas-kelas, aula dan parkiran. Berjalan keluar meninggalkan kenangan. Kemudian menghentikan angkot jurusan Dago-Kebun Kelapa. Belum lama angkot kembali berjalan, pikirannya teringat akan surat yang ia buat untuk seseorang. ”Kalau nanti malam, dia pasti sudah ada di tempat kosnya. Lebih baik sekarang, mumpung dia belum pulang kerja. Kalau bisa jangan sampai ketemu dia.” Heru mulai agak panik, bingung harus berkata apa pada Maya. Angkot sudah semakin dekat tempat kosan Sekar. Ia harus turun! “May, sorry banget. Gua nggak bisa nemenin elu makan. Gua lupa ada janji sama temen, gua harus turun mumpung masih di sekitar sini.” Ia benar-benar merasa tidak enak dengan Maya. Maya menatapnya terkejut. Mata mereka berpandangan sangat dekat, duduk berdampingan dalam desakan penumpang. Heru hanya diam terpana, diafragma matanya membesar, merekam objek indah itu dengan kecepatan tinggi. ”Gimana sih. Bukannya ngomong dari tadi. Ya udahlah. Hati-hati aja. Inget kata-kata gua tadi. Selamat jalan. And come back save home.” Heru turun dari angkot. Melambaikan tangan pada Maya, melihatnya pergi bersama angkot yang kembali melaju. Ia mengambil sebuah buku dari dalam tas. Amplop itu masih terselip di dalamnya. “Kalau nggak mau ketemu Sekar, kenapa nggak dikirim aja dari sana. Tidak, kurang dramatis. Setelah di sana nanti, kirim lagi juga nggak ada masalah. Yang penting urusan di sini harus diselesaikan dulu.” Hatinya berdialog sendiri. Sesaat ia ragu untuk masuk ke area kos-kosan. Pintunya digembok, bagus. Berarti dia belum pulang. Cepat! Selipkan suratnya. Ia pun mengendap-endap mirip Scooby Do. ”Heru!” Suara nyaring membuatnya terloncat seketika. Jantungnya mau copot. Sekar berdiri di hadapannya. “Apa khabar, Her? Darimana? Nggak ada kuliah?” Sekar bertanya sambil mengeluarkan kunci dari tas. ”Eh, Iya. Dosennya nggak ada.” ”Gua di kamar sebelah, baru pulang juga, belum sempet buka pintu.” Sekar membelakangi Heru untuk membuka gembok. ”Sekar, gua nggak lama. Hanya mau kasih ini aja.” Sekar menoleh, melihat Heru menjulurkan sebuah amplop putih. ”Amplop apa ini?” Sekar terlihat bingung. ”Hanya surat. Elu baca aja, tapi gua harus buru-buru pergi.” ”Memang ada apa, kok pake surat-suratan segala. Surat dari siapa?” Dengan ragu Sekar meraih amplop itu. Heru tidak menjawab. ”Udah dulu ya. Sampai ketemu Sekar!” Ia tidak ingin mempermalukan dirinya lebih lama. Ia segera berbalik dan pergi. Berjalan menyusuri lorong-lorong area kosan Sekar untuk terakhir kalinya. Heru berjalan lunglai sambil menendang-nendang batu-batu kecil. ”Gila, besok aku sudah tidak ada di sini. Au revoir Bandung.” Pikirannya melayang mengulang kembali semua kenangan. Ia berjalan lunglai sambil terus menendang-nendang batu-batu kecil. Mungkin ini yang terakhir kalinya ia berjalan di lorong area kosan ini. Namun tiba-tiba saja lamunannya terhenti. Seseorang memanggilnya. Ia pun menoleh. Sekar berjalan cepat ke arahnya. Seketika itu juga jantungnya berdebar. Sekar berdiri di hadapannya dengan sedikit ngos-ngosan. Ia mencoba mengatur nafas. ”Gua nggak tahu harus ngomong apa. Hanya,..selamat jalan.” Heru terdiam menunggu. ”Tapi, kenapa? Sepertinya ada yang perlu kita omongin. Seharusnya” ”Sudahlah, jangan diterusin.” Heru memotong kalimat Sekar, membiarkannya menggantungkan tanda tanya. Karena hanya itu yang ia ingin kenang. ”Jaga dirilu baik-baik.” Ia memandang wajah ayu itu untuk yang terakhir, lalu berbalik cepat meninggalkannya tanpa berpaling lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN